Back to Kompasiana
Artikel

Umum

Mh. Samsul Hadi

Bergabung “Kompas” pada 2002, tiga tahun setelah memulai petualangan di ranah sepak bola. Meliput antara selengkapnya

Kroasia Menanti Reinkarnasi Generasi 1998

OPINI | 20 June 2008 | 05:00 Dibaca: 656   Komentar: 0   0

”SAYA meramu masakan dengan menu yang sama. Kami tumbuh berkembang, mempersiapkan diri dengan serius. Skuad tahun 1998 dipilih dan dianggap warga Kroasia sebagai tim bagus, dengan nama-nama Boban, Suker, dan lain-lain. Tim ini juga hebat karena memiliki Luka Modric, Srna, dan sebagainya. Kami selalu berbahaya kapan saja.”

 

Itulah kata-kata Pelatih Kroasia Slaven Bilic yang saya catat dalam jumpa pers seusai menundukkan Jerman 2-1 pada laga Grup B di Stadion Woerthersee, Klagenfurt, Austria, 12 Juni lalu. Di mata publik bola dunia, kemenangan Kroasia itu bisa jadi  mengejutkan. Jerman adalah tim raksasa sepak bola: juara Eropa tiga kali dan juara dunia tiga kali.

 

Namun, tidak bagi bagi tim Kroasia dan suporternya. Dua jam sebelum laga dimulai, lebih dari separuh tribun stadion penuh dengan warna kotak-kotak putih-merah khas atribut suporter Kroasia. Klagenfurt hanya tiga jam perjalanan mobil dari Zagreb, ibu kota Kroasia, mendorong mereka berbondong-bondong ke kota yang terkenal dengan Danau Woerthersee yang indah itu.

 

Selama kurang-lebih 94 menit pertandingan berjalan, Kroasia mempermainkan Jerman bak klub profesional melawan klub anak SSB (Sekolah Sepak Bola). Michael Ballack dan kawan-kawan dibuat mati kutu oleh Luka Modric. Seusai pertandingan, Pelatih Jerman Joachim Loew ”mengibarkan bendera putih”. ”Kami pantas kalah dan kami terima (kekalahan) itu,” katanya.

 

Dua tim tersebut, Kroasia dan Jerman, sama-sama lolos ke perempat final. Kroasia lolos setelah kemenangan 2-1 atas Jerman, bahkan sebagai juara grup. Kemenangan mereka berikutnya 1-0 atas Polandia, saat Kroasia turun dengan sembilan pemain cadangan, kian mempertegas betapa dahsyat kekuatan pasukan Bilic. ”Itu bukti tidak ada pemain lapis kedua dalam kesatuan ini,” ujar Ivan Klasnic, pencetak gol semata wayang Kroasia pada laga itu.

 

Jerman melaju setelah menang tipis 1-0 atas tim underdog Austria. Di perempat final, Jerman melawan juara Grup A Portugal yang juga sekali menelan kekalahan 0-2 dari tuan rumah Swiss. Kedua tim bertanding di St Jakob-Park, Basel, Jumat dini hari tadi. Siapa pun pemenangnya akan melawan pemenang perempat final, Kroasia versus Turki, di Ernst-Happel, Vienna, Sabtu dini hari nanti.

 

 

Mental turnamen

 

Di kancah percaturan sepak bola, tim Kroasia bisa dikata seperti ”anak yang baru tumbuh.” Sepak bola negeri itu diakui Badan Sepak Bola Dunia (FIFA) dan Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA) tahun 1992, setahun setelah Kroasia memisahkan diri dari Yugoslavia. Turnamen besar pertama mereka adalah Piala Eropa 1996 (Inggris).

 

Di penyisihan, Davor Suker dan kawan-kawan memukul Turki 1-0, menundukkan Denmark 3-0, dan kalah 0-3 dari Portugal. Kroasia lolos ke perempat final sebagai runner-up grup, di bawah Portugal. Di perempat final, Kroasia kandas 1-2 di tangan Jerman yang kemudian menjadi juara. Portugal juga terhenti 0-1 di hadapan Ceko.

 

Bagaimana dengan Piala Eropa kali ini? Kroasia, seperti telah disinggung, menghadapi Turki di perempat final. Melihat penampilan heroik anak asuhan Fatih Terim saat melumat Ceko 3-2 hanya dalam 15 menit setelah tertinggal 0-2, sinyal waspada disuarakan Pelatih Slaven Bilic. Di atas kertas Kroasia lebih favorit, tetapi kata Bilic, ”Mereka (Turki) punya kekuatan yang perlu diperhitungkan.”

 

Di turnamen ini, Turki dua kali menyulap situasi: dari tertinggal gol menjadi kemenangan. Pertama, saat menundukkan Swiss 2-1 di Basel, mereka tertinggal 0-1. Lewat gol Arda Turan menit ke-92, Turki unggul. Kedua, saat memukul Ceko 3-2 di Geneva. ”Pemain-pemain kami telah menunjukkan pada dunia tim macam apa kami ini,” ujar Terim seusai laga di tengah cuaca dingin Kota Geneva itu.

 

Kroasia maupun Turki sama-sama pernah membuat dunia terbelalak pada event yang sama, yakni Piala Dunia. Kroasia merebut peringkat tiga di Piala Dunia 1998, Turki juga meraih pemenang ketiga di Piala Dunia 2002. Namun, di ajang Piala Eropa kedua tim sama-sama mentok di perempat final: tahun 1996 untuk Kroasia dan tahun 2000 untuk Turki.

 

Dari segi kekuatan tim, permainan Kroasia lebih kompak, stylist, memiliki keseimbangan di semua lini, tajam dalam menyerang dan solid dalam bertahan, serta skill individu pemain yang merata. Mereka juga memiliki pelatih yang tak hanya penuh taktik, tetapi juga ”gaul” dengan para pemainnya. Bilic kabarnya biasa memainkan musik dengan gitarnya di sela-sela latihan tim.

 

Pemain Kroasia kebanyakan tumbuh dan dibesarkan di kamp-kamp pengungsian saat negeri mereka diserang pasukan Serbia. Lingkungan telah menempa mereka bermental tangguh, yang jika digabung dengan talenta alami anak-anak Balkan, menghasilkan permainan sepak bola yang cantik.      

Seperti turnamen-turnamen besar sebelumnya, faktor teknik belum cukup sebagai bekal berlaga. Tim-tim yang bertahan hingga babak terakhir umumnya memiliki mental bertanding dalam turnamen yang melelahkan. Kroasia memiliki semua itu meski level mental turnamen mereka belum sehebat Jerman atau Italia.  

 

Waspadai Italia

 

Pelatih Spanyol Luis Aragones awalnya berusaha menghindari Italia di babak hidup-mati. Namun, pihaknya tidak bisa menghindari tim juara dunia itu dan harus menghadapi skuad Azzurri di Ernst-Happel, Vienna, Minggu lusa. Pada uji coba Maret lalu, Spanyol memukul Italia 1-0, tetapi tim Matador tak pernah bisa menundukkan Italia dalam turnamen-turnamen besar, kecuali olimpiade.

 

Di Piala Dunia 1994, kedua tim itu bertemu di perempat final, yang dimenangkan Italia 2-1. ”Di babak perempat final, semua tim sulit, tetapi Italia bukanlah tim yang paling saya sukai untuk bertanding,” ujar Aragones. ”Mereka seperti sudah mati dan terkubur, tetapi kini mereka ada di perempat final.”

 

Begitulah Italia. Sempat kritis setelah dilibas Belanda 0-3 dan ditahan Romania 1-1, mereka bangkit, mengatasi Perancis 2-0, dan lolos ke perempat final. Ada anggapan yang beredar luas di kalangan penggila bola bahwa jika Italia sudah lepas dari situasi sulit, di situlah mereka biasanya sulit dihentikan.

 

Masih ingat di babak kedua Piala Dunia 2006 saat mereka hampir ditahan Australia tetapi lolos lewat penalti kontroversial atas aksi Fabio Grosso hingga mereka juara? ”Italia tahu cara menangani situasi-situasi bagus dan buruk. Sejarah mereka memperlihatkan, mereka punya pemain-pemain bertalenta hebat dan pekerja keras,” lanjut Aragones.

 

Pesan singkatnya, Italia wajib diwaspadai! Jadi, bagaimana formasi semifinal Anda: Portugal versus Kroasia dan Belanda versus Spanyol? Betapa semakin lengkap keindahan sepak bola Piala Eropa 2008 jika itu yang terjadi.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | | 25 October 2014 | 17:32

ATM Susu …

Gaganawati | | 25 October 2014 | 20:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 11 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 13 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 14 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 15 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Fakta & Rahasia Saya Tentang Buku …

Indria Salim | 12 jam lalu

Hanya Tontowi/Liliyana di Final Perancis …

Sapardiyono | 12 jam lalu

Pilih Steak Sapi New Zealand Atau Ramen …

Benny Rhamdani | 13 jam lalu

Upacara Adat Satu Suro Kampung Adat Cirendeu …

Sandra Nurdiansyah | 13 jam lalu

50 Yacht Luar Negeri “Serbu” …

Mustafa Kamal | 14 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: