Kompasiana
Selasa, 07 Pebruari 2012

Umum

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Yulyanto

http://yulyanto.com

Komentar Pembaca Kompasiana: Yulyanto

OPINI | 10 October 2008 | 09:51 322 2 Nihil

SEPERTI sudah dijanjikan sebelumnya, setiap komentar atas postingan apapun yang kami nilai menarik, berhak tampil dalam postingan tersendiri di halaman muka Kompasiana. Dengan demikian, tulisan tidak semata dari penulis Kompasiana, tetapi juga diramaikan serta diperkaya oleh para pembaca Kompasiana itu sendiri. Di bawah ini kami postingkan satu komentar dari pembaca setia Kompasiana yang juga blogger, Yulyanto:

Weleh-weleh, kang Pepih sudah mulai menjadi pemerhati ekonomi juga sekarang?

Jika kondisi perekonomian dunia, khususnya krisis financial di Amerika Serikat (AS) tak kunjung membaik bukanlah hal yang mustahil, kekhawatiran mas Pepih terhadap kemungkinan terdepresiasinya rupiah menuju level Rp. 15.000 per dollar AS (bahkan lebih) akan kembali terjadi, seperti krisis moneter yang melanda negeri kita pada tahun 1997 silam.

Saat ini negara AS sedang membutuhkan banyak dollar untuk membantu mengatasi kemacetan liquiditas sektor finansialnya, sebagai efek dari anjloknya “subprime mortgage” pada sektor properti yang kemudian berlanjut pada “prime mortgage” dan bangkrutnya beberapa perusahaan raksasa dalam bidang keuangan dan investasi seperti Lehman Brothers dan Merril Linch.

Meningkatnya demand terhadap dollar AS dipastikan akan membuat pasar finansial yang memperdagangkan dollar AS kewalahan akibat supply yang semakin menipis. Akibat lanjutannya adalah akan berlaku “hukum ekonomi”, dimana jika demand yang meningkat tidak dibarengi dengan ketersediaan supply yang mencukupi, maka harga akan melonjak naik hingga batas tertinggi yang tidak bisa diprediksikan.

Upaya Bank Indonesia (BI) dengan menaikkan acuan tingkat suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) atau yang lebih populer disebut dengan istilah “BI-rate” menjadi 9.5% untuk menekan laju inflasi, juga akan berkorelasi negatif terhadap pertumbuhan iklim investasi dan sektor riil.

Naiknya “BI-rate” akan berdampak terhadap kenaikan tingkat suku bunga deposito dan kredit perbankan, akibatnya banyak investor pasar modal memindahkan dana mereka ke deposito-deposito serta instrumen perbankan lainnya yang dianggap lebih menguntungkan ketimbang berinvestasi di pasar modal.

Terkait dengan kekhawatiran akan terjadinya krisis moneter jilid II sebagaimana disampaikan oleh kang Pepih, adalah merupakan sebuah “keniscayaan” dan realita yang akan kita hadapi jika kondisi perekonomian global semakin terpuruk. Mengedukasi masyarakat untuk “mencintai rupiah” rasanya sudah tidak cukup ampuh untuk mengurangi para penumpuk dollar di negara kita.

Memang tidak semudah yang kita bayangkan, karena jika melihat dari sisi teoritis dimana untuk mengukur tingkat pendapatan nasional (salah satu indikator ekonomi) secara sederhana digunakan konsep sebagai berikut: Y=C+I+G+(X-M), dimana C menggambarkan “pengeluaran konsumsi”, I menggambarkan “pengeluaran investasi”, G merupakan “pengeluaran pemerintah”, X merupakan nilai “ekspor” dan M merupakan nilai “impor”. Gampangnya, untuk meningkatkan pendapatan nasional adalah cukup dengan meningkatkan konsumsi dan investasi di masyarakat dan pemerintah, kemudian juga dengan menggalakkan sektor ekspor dan menekan laju impor.

Praktisnya agak sulit memang, karena biasanya “praktis tak seindah teoritis”, tapi paling tidak kita dan pemerintah bisa lebih realistis untuk kembali mempertimbangkan solusi klasik untuk terus menerus menggalakkan pengembangkan sektor-sektor pada Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dengan orientasi ekspor (X) yang lebih terencana, dimana akan berdampak langsung terhadap peningkatan pendapatan nasional karena mendatangkan cadangan devisa bagi negara.

Selain itu, dengan sumber daya alam yang kita miliki saat ini rasanya tidak terlalu sulit (jika mau) bagi kita untuk mengurangi ketergantungan impor (M) produk dari negara lain, yang pada akhirnya juga akan mengurangi pengeluaran cadangan devisa yang kita miliki untuk meningkatkan pendapatan nasional.

Pastinya: “BERSAMA KITA BISA”…………..


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User



SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012