Back to Kompasiana
Artikel

Umum

Perang Israel-Palestina

OPINI | 09 January 2009 | 12:57 Dibaca: 5508   Komentar: 40   0

DI akhir pekan ini, saya berkumpul dengan beberapa teman, meok, makan enak dan omong kosong. Sesaat ngobrol ngalur ngidul, sekelabat terlihat di TV ada pembahasan tentang perang yang tengah berkecamuk yaitu antara Israel dengan Palestina.

Biasa, Negara kita memang banyak dihuni para komentator yang piawai diberbagai bidang, mulai dari sepakbola dunia sampai dengan ahli perang.  Sayangnya ya itu tadi, kita masih terbatas kepada berkomentar saja.  Tim sepakbola kita di Asia tenggara saja sudah tidak masuk hitungan  begitu juga kalau bicara perang, mungkin Negara kita adalah Negara yang paling lemah perlengkapan militernya.  Negara kita Negara yang cinta damai, sehingga tidak memerlukan peralatan perang, barangkali.

Kembali tentang perang Israel dan Palestina yang begitu banyak dibahas dan didiskusikan. Sebenarnya yang sedang terjadi itu bukanlah perang, akan tetapi lebih tepat disebut sebagai penyerbuan Israel ke Jalur Gaza.   Masalahnya adalah sangat sederhana.  Perang adalah rangkaian pertempuran dari dua pihak yang memiliki kekuatan militer yang relatif seimbang. Dalam Oxford Concise Dictionary disebutkan bahwa perang atau war adalah state of armed conflict between different countries.

Jadi, perang itu adalah satu konflik bersenjata.  Sedangkan yang terjadi seperti Israel melawan Hamas atau Palestina, kurang enak untuk disebut sebagai perang, karena yang terjadi bukan konflik senjata, karena Hamas tidak punya senjata atau jauh dari sebanding baik jenis maupun jumlah senjata nya.

Dengan demikian, maka penyerbuan Israel ke  jalur Gaza, sama sekali tidak bisa dianalisa sebagai suatu perang.  Keadaannya cukup jelas, dengan kekuatan yang sangat jauh dari berimbang, maka Israel dapat menentukan apa saja.  Dengan peralatan militer yang berteknologi mutakhir, Israel bukanlah lawannya Palestina, itulah yang terjadi.  Kekuatan perang Israel, tidaklah mungkin dapat dilawan oleh Hamas, betapapun semangat pantang menyerah yang dimilikinya.  Israel dapat mem-bom semua sasaran terpilih di jalur Gaza, bahkan sampai membidik rumah kediaman para tokoh Hamas, tanpa gangguan apapun.

Hal ini karena Hamas tidak memiliki radar atau satuan anti serangan udara atau sistem pertahanan udara.   Israel dapat melakukan sekehendak hatinya, dia bisa menyelesaikan perang dalam satu minggu atau dalam satu bulan, karena posisinya yang kuat dan berperan sebagai penyerbu yang berhadapan dengan Hamas yang tidak memiliki apa-apa kecuali roket-roket berkaliber kecil.  Jadi dalam hal ini, sudahlah, tidak usah dikomentari lagi, keadaannya sudah sangat jelas. Hamas tidak mungkin bisa memenangkan “perang” ini.  Perang tidak bisa dimenangkan hanya dengan bermodal beberapa roket dan semangat belaka. Seluruh dunia bersimpati, hampir semua mengutuk, karena Israel memang sepantasnya harus dikutuk!

Akan tetapi, tidak ada satu Negara pun yang langsung turut serta menuju medan perang untuk bertempur membantu Palestina melawan Israel.

Berikut mari kita melihat dari sudut pandang yang berbeda.  Apabila kita dapat melihat dari luar dunia, maka akan segera kelihatan betapa bodohnya umat manusia di bumi ini.  Mereka saling menghancurkan, saling membunuh, kemudian datang bantuan yang membangun kembali reruntuhan perang dan juga tim yang mengobati korban yang terluka.  Yang membunuh dan melukai serta merusak materi yang ada, adalah manusia, dan sejalan dengan itu yang membangun kembali, mengobati, membantu pemulihan bekas-bekas peperangan juga manusia.

Bagaimana manusia ini? Mengapa mereka mengerjakan itu ? lebih aneh lagi kejadian itu terjadi berulang-ulang. Perang dan saling menghancurkan, kemudian berdamai dan membangun bersama-sama lagi.  Mereka merusak dan kemudian memperbaiki lagi sendiri.   Semua menjadi tidak jelas maksud dan tujuannya. Pernahkah kita semua, wahai manusia memikirkannya sampai jauh seperti ini? Kenapa kita membunuh manusia lainnya sementara dalam waktu yang bersamaan juga membangun manusia seutuhnya?  Mengapa kita mendukung yang satu dan sekaligus mengutuk yang lainnya, yang semuanya adalah bernama manusia yang katanya adalah bersaudara.

Robert Greene, dalam salah satu bukunya mengatakan : Life is endless battle and conflict. Mungkin inilah jawabannya, walaupun sama sekali tidak memuaskan.

Maka selesailah makan enak dan omong kosong di akhir pekan ini yang membahas tentang Israel dan Palestina.  Selamat berakhir pekan.

Jakarta 9 Januari 2009

CHAPPY HAKIM

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Airin Menjawab Kritik Kinerja [HUT ke-6 Kota …

Gapey Sandy | | 26 November 2014 | 07:09

Situ Bungur dalam “CMORE” (HUT …

Agung Han | | 26 November 2014 | 07:13

Waduh! Denda 5000€ Untuk Rumah Bercat …

Gaganawati | | 26 November 2014 | 19:06

The Hunger Games-Reality Show? …

Iwan Permadi | | 26 November 2014 | 17:39

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Maaf Anang, Aurel Tak Punya Suara dan Aura …

Arief Firhanusa | 7 jam lalu

“Tamatan Malaysia” Rata-rata Sakit Jiwa …

Pietro Netti | 7 jam lalu

“Operasi Intelejen” Berhasil …

Opa Jappy | 7 jam lalu

Golkar Perlu Belajar ke PKS …

Puspita Sari | 7 jam lalu

Ini Kata Menpora Terkait Gagalnya Timnas …

Djarwopapua | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Saya Dirayu Aguk, Sang Penulis Haji …

Wening Tyas Suminar | 7 jam lalu

Kisruh di Partai Golkar, KMP Pun Terancam …

Adjat R. Sudradjat | 7 jam lalu

Let’s Moving On …

Tonggo Nababan | 7 jam lalu

Indonesia: Tim Medioker Asia Tenggara …

Agung Buana | 7 jam lalu

Gen Bahasa …

Zakiyatul Muti'... | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: