Back to Kompasiana
Artikel

Umum

Nur Tjahjadi

Bebas Berekspresi, Kebebasan Akademik, Bebas yang bertanggung jawab...

Abu Bakar Sidik ra

OPINI | 18 January 2009 | 11:31 Dibaca: 3172   Komentar: 13   0

SALAH satu buku yang sering menjadi sumber inspirasi saya adalah buku Hayatus Sahabah (Kisah2 Sahabat Nabi).  Buku aslinya dalam bahasa Arab, tetapi yang saya punya dalam bahasa Inggris, 3 jilid, saya beli ketika saya di Inggris, saya masih ingat harganya 15,00 poundsterling, masa itu 1 poundsterling masih RP 3500,- . Sekarang satu poundsterling sudah hampir Rp 20.000,00.  Buku ini juga sedang dipinjam teman, saya masih ingat orangnya.  Sudah hampir 5 tahun dipinjam, semoga aja gak hilang.

Abu Bakar Sidik radiallahu anhu (Allah ridho kepada dia) adalah sahabat Nabi yang paling banyak membantu perjuangan Nabi Muhammad saw.   Seluruh hartanya habis diserahkan kepada Nabi, untuk membangun “negara madani”.  Ketika Nabi tanya, apa yang kamu tinggalkan, untuk anak istri kamu?  Allah dan rasulnya, maksudnya dia tidak meninggalkan apa2 untuk anak istrinya.  Abu Bakar setelah itu hanya berpakaian karung goni, dengan lidi kurma sebagai penitinya.  Gelar asshidiq diberikan karena ia selalu berada dalam kebenaran.  Sidik artinya orang yang benar.

Melihat pengorbanan yang demikian besar, Allah SWT mengirim malaikat jibril as dengan serombongan malaikat yang berpakaian seperti Abu Bakar ra.  Nabi Heran, ada apa ini ?  Kata Jibril, Allah menyampaikan salam untuk Abu Bakar ra atas pengorbanannya.  Kami diperintah Allah untuk memakai pakaian seperti yang dikenakan Abu Bakar ra, bahkan seluruh penduduk langit, berpakaian seperti ini, mereka salut kepada Abu Bakar.

Meneteslah air mata Abu Bakar ra, terharu… Dzat yang maha Agung memberi salam, seluruh malaikat di langit  pun ikut salut, siapa yang tak terharu …  Tetapi tetap saja ia nya tak menjadi sombong.

Ketika sedang sendirian, menatap burung berkicau, ia sering berkata, “wahai burung, alangkah enaknya engkau, pagi2 pergi, makan sepuasnya, sore hari pulang dengan perut kenyang, tetapi apa yang engkau makan tidak akan dihisab (diperhitungkan halal tidaknya).

Lain waktu, Abu Bakar berucap kepada rumput, alangkah baiknya sekiranya aku jadi rumput saja, tidak perlu repot mempertanggung jawabkan segala perbuatan di dunia ini kepada sang Khalik nanti.

sebagai Orang yang sudah tidak mempunyai harta, ia masih ada rasa takut akan hari hisab (hari perhitungan), dimana tidak ada lagi jual beli pada masa itu, selain amal yang kita perbuat.

Ketika dilantik menjadi “Presiden”, Abu Bakar ra berpidato :

“Aku bukanlah orang yang terbaik di antara kalian, orang yang lemah (miskin) jika menghadapku akan menjadi kuat, insya Allah.  Dan, orang yang kuat (kaya), jika menghadapku akan menjadi lemah, insya Allah.” (maksudnya ia akan membela kepentingan orang2 yang lemah dan tertindas).

Setelah Abu Bakar ra menjadi khalifah, nenek tua yang biasanya ditolong Abu Bakar, berucap:  sekarang tidak ada lagi yang membantuku memerah kambingku.  Maka Abu Bakar langsung menjawab, aku masih akan menolong kamu memerahkan susu kambing.  Seorang presiden (baca : khalifah) masih mau melakukan hal begitu !  Sungguh lain sekali dengan presiden masa kini.

ia tidak banyak mengambil uang dari baitul maal, melainkan hanya sekedar keperluannya saja.

Alangkah indahnya, jika presiden  Indonesia yad meneladani apa yang dilakukan oleh Abu Bakar ra ini.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Supermaterial yang Akan Mengubah Wajah Dunia …

Rahmad Agus Koto | | 23 November 2014 | 11:02

Akrobat Partai Politik Soal Kenaikan BBM …

Elde | | 22 November 2014 | 21:45

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | | 23 November 2014 | 11:49

Nangkring dan Blog Reportase Kispray: …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 8 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 16 jam lalu

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 18 jam lalu

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00


HIGHLIGHT

Bagaimana Menjadi Penulis Opini, Kuliah …

Hendi Setiawan | 10 jam lalu

Di bawah Alunan Malam …

Arrizqi Titis Anugr... | 10 jam lalu

Cenderamata Kompasianival 2014 …

Mabate Wae | 10 jam lalu

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | 10 jam lalu

Benarkah Reformasi Birokrasi Harus Dipaksa? …

Efendy Naibaho | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: