Back to Kompasiana
Artikel

Umum

Pepih Nugraha

Gemar catur dan mengoleksi papan/bidak catur. Bergabung dengan Harian Kompas sejak 1990, hari-hari diisi membaca, selengkapnya

Muasal Nama Tak Sekadar Ngasal! (…Bandung-Tasik PP -Bag 7)

OPINI | 05 February 2009 | 00:30 Dibaca: 1487   Komentar: 10   0

Opak Linggar di Rancaekek, Bandung/by Pepih Nugraha

Opak Linggar di Rancaekek, Bandung/by Pepih Nugraha

MENGAKHIRI perjalanan saya selama dua hari Bandung-Tasikmalaya pulang pergi pekan lalu, sebelum masuk ke Tol Cileunyi, tepatnya di Rancaekek, saya menemukan “pemandangan baru” di pinggir sebelah kiri jalan menuju Bandung. Mengapa saya sebut pemandangan baru? Sebab beberapa tahun sebelumnya, pemandangan itu belum ada. Uniknya, pemandangan itu baru ada di sebelah kiri ruas jalan.

Apa gerangan pemandangan baru itu? Tidak lain dari adanya kios-kios baru yang menjual penganan khas Sunda berupa opak, kolontong, dan raginang. Pemandangan yang mencolok di sana adalah; pada hampir semua kios tertulis OPAK LINGGAR.

Ini dia kata kuncinya: Opak Linggar!

Lalu saya menepikan kendaraan dan bertanya kepada salah satu tukang opak, kolontong dan raginang. Ia bernama Asep, sementara satu pria lagi yang membantu melayani bernama Dudi. “Ieu mah rerencangan,” kata Asep memperkenalkan temannya. Saya bertanya apa arti kata “Linggar” di sini. “Oh, nama itu diambil dari nama daerah ini, yaitu Linggar. Ini Desa Linggar, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung,” kata Asep dalam bahasa Sunda yang langsung saya indonesiakan.

Asep dan Dudi penjual Opak Linggar/by Pepih Nugraha

Asep dan Dudi penjual Opak Linggar/by Pepih Nugraha

Jadi nama Linggar yang dipadukan dengan opak menjadi “Opak Linggar” itu sebenarya berasal dari nama daerah? Ahaaaa…. imitasi yang menawan dari para penjual opak di sini, termasuk Asep dan Dudi tentunya! Saya teringat ada Ubi Cilembu, Peuyeum Bandung, Soto Tasik, Dodol Garut, Bika Ambon, Empek-empek Palembang, Duren Bangkok, dan seterusnya. “Opak Linggar,” pikir saya. Saya tanya lagi Kang Asep mengapa hanya opak saja yang diambil, tidak kolontong atau raginang. Asep dengan enteng menjawab, “Kapanjangan teuing atuh namina, Pa, pami disebat hiji-hiji mah,” katanya (Namanya kepanjangan kalau disebut satu persatu!) . Saya menahan senyum, “Benar juga!”

Ubi Cilembu Kang Wawan di Tanjungsari, Sumedang/by Pepih Nugraha

Ubi Cilembu Kang Wawan di Tanjungsari, Sumedang/by Pepih Nugraha

Penyair besar William Shakespeare boleh saja mengabaikan “apa arti sebuah nama”. Saya pikir, nama menjadi amat berarti bagi para enterpreneur-enterpreneur tangguh dan kreatif ini. Mereka sekaligus menciptakan “merek” dan ikon baru bagi daerahnya sendiri, yang belum tentu mereka patenkan. Kalau nama “Opak Linggar” menjadi terkenal dan menjadi sebuah kesatuan nama, tidak mungkin orang lain menandinginya dengan “Opak Jakarta”, misalnya.

Beberapa bulan sebelumnya, saat mudik sehabis lebaran lewat Sumedang, saya juga bertemu Kang Wawan penjual Ubi Cilembu (fotonya saya sharing di sini). Saat lewat di jalan alternatif Wado, saya juga menemukan sejumlah pom bensin unyil karena ukurannya sangat mungil, tidak seperti pom bensin pada umumnya. Ini bentuk kreativitas lainnya!

Pom bensin Unyil di Wado, Sumedang/by Pepih Nugraha

Pom bensin Unyil di Wado, Sumedang/by Pepih Nugraha

Bagi masyarakat Sunda, penganan yang semuanya kebetulan terbuat dari nasi ketan itu bukan barang aneh. Opak disajikan bisa digoreng atau disangray menggunakan media pasir bersih yang panas membara. Demikian juga kolontong. Raginang atau biasa disebut juga renginang diperlakukan berbeda dari opak dan kolontong, yakni digoreng. Raginang tidak bisa dibakar atau disangray! Yang membedakan opak dan kolontong di Linggar, keduanya beraroma manis. Kolontong yang biasanya manis karena diolesi gula merah, di Linggar ia dibiarkan “telanjang” dan langsung disangray saja karena gulanya sudah terlebih dahulu dicampur saat menumbuk opak itu.

Itu sekilas teknis pembuatannya. Tidak usah terlalu detail. Sebab yang terpenting dari tulisan ini adalah, betapa orang-orang ini sangat kreatif menciptakan trend baru dalam perniagaan rakyat. Mereka ciptakan saja istilah “Opak Linggar” dengan bebas, toh tanpa harus dibeli. Bayangkan, opak, kolontong, dan raginang yang selama ini hanya bisa minder di dalam keler, tiba-tiba menjadi komoditas yang seksi, yang ditawarkan langsung di depan mata. Para pengendara yang menuju Bandung dan melewati Desa Linggar, Rancaekek ini, dipaksa menghentikan kendaraannya.

Kemasan blek maupun plastik siap dijadikan buah tangan/by Pepih Nugraha

Kemasan blek maupun plastik siap dijadikan buah tangan/by Pepih Nugraha

Memang tidak terlalu mahal untuk ukuran “uang Jakarta”. Satu blek (kaleng) kolontong yang manis, dihargai Rp 55.000. Sementara yang menggantung di plafon dan menarik perhatian orang lewat itu dijual Rp 10.000 per bungkus plastik transpran. Jika Anda bingung membeli oleh-oleh dari Bandung, kenapa tidak coba saja Opak Linggar ini? Dijamin kembali lagi deh… (maaf bukan iklan), sebab itulah yang saya rasakan sendiri.

Opak Linggar, tinangtu kuring bakal nepungan anjeun deui!” gumam saya. Ingin tahu artinya? Ini dia: “Opak Linggar, pastilah daku akan menemuimu kembali!” Ah, seperti kepada kekasih saja! (Selesai)

Citizen Journalism Project/by Pepih Nugraha

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | | 25 October 2014 | 17:32

ATM Susu …

Gaganawati | | 25 October 2014 | 20:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 11 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 13 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 14 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 15 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Fakta & Rahasia Saya Tentang Buku …

Indria Salim | 12 jam lalu

Hanya Tontowi/Liliyana di Final Perancis …

Sapardiyono | 12 jam lalu

Pilih Steak Sapi New Zealand Atau Ramen …

Benny Rhamdani | 13 jam lalu

Upacara Adat Satu Suro Kampung Adat Cirendeu …

Sandra Nurdiansyah | 13 jam lalu

50 Yacht Luar Negeri “Serbu” …

Mustafa Kamal | 14 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: