Back to Kompasiana
Artikel

Umum

Gufron

bekerja di Lembaga Kemanusiaan ESQ.

Revolusi Hijau

OPINI | 11 February 2009 | 06:41 Dibaca: 2518   Komentar: 2   0

Realino Discussion Club adalah wajib bagi warga penghuni asrama Realino, Yogyakarta. Minimum sebulan sekali, para penghuni asrama mahasiswa Realino Yogyakarta diajarain berdiskusi, memimpin rapat, memberikan presentasi, mengajukan pertanyaan, memberikan jawaban… pokoknya berdebat secara ilmiah dan terstruktur. Sebagai mentor adalah pengasuh asrama Realino romo Stolk (alm) atau romo Willenborg (alm) dan senior-senior Realino.

Salah satu topik diskusi RDC adalah Revolusi Hijau, yaitu program intensifikasi dan modernisasi dalam produksi pertanian, yang lebih dikenal dengan nama Proyek Bimas. Ini terjadi tahun 1968, saya masih kuliah di Teknik Kimia UGM. Revolusi hijau atau proyek Bimas adalah program pemerintah orde baru yang dimulai tahun 1968-an dimana para petani ‘dipaksakan’ untuk memakai benih hibrida, pestisida dan herbisida buatan pabrik Amerika seperti Monsanto dll. Tujuannya adalah untuk pertumbuhan produksi padi, ketahanan pangan dan swasembada pangan. Produksi padi memang bisa naik dari rata2 3 Ton/ha menjadi 6 sampai 8 Ton/ha.

Di Realino ada kelompok yang pro Revolusi Hijau mereka adalah penghuni Realino dari Fak Pertanian. Di Realino juga ada kelompok anti Revolusi Hijau, yaitu mereka yang punya latar belakang petani. Mereka adalah anak2 petani tulen, atau orang tuanya mempunyai sawah. Bapak-ibunya-pamannya-tetangganya-lingkungannya adalah petani lokal, yang bekerja disawah dan yang mempunyai lahan sendiri.

Pengetahuan mereka mempunyai ilmu cara-cara memproduksi pupuk organik sendiri secara tradisionil, membuat pestisida organik untuk melawan hama dengan menggunakan bahan2 asli setempat, sungguh luar biasa. Baru sekarang saya mengakui mereka itu jempol dan hebat. Ibu saya mempunyai sawah di Djuwana dan Regaloh, yang digarap oleh famili2nya ibu. Para petani tradisionil di Pati Djuwana dan di Jawa pada umumnya, mempunyai ilmu mengendalikan hama secara alami, bagaimana memelihara keseimbangan antara hama dan padi, bahkan teknik menumbuhkan padi/benih sendiri itu ada tata caranya. Sayang seribu sayang , kearifan ini dihancurkan oleh program revolusi hijau. Cara-cara bertani para petani kelompok tradisionil yang amat menjaga kelestarian dan kesimbangan alam pelan-pelan hancur. Kegiatan bertani diarahkan untuk memproses memproduksi komoditas seperti padi, kedelai, jagung agar menghasilkan lebih banyak, dan mengabaikan ekosistim.

Selama ribuan tahun, tanah di Pati Djuwana di Jawa Bali dan seluruh tanah air, telah ditanami berbagai macam tanaman dengan menggunakan teknologi budidaya tradisionil dengan landasan ekologis, yang berprinsip kepada keanekaragaman varietas, kekhasan ekologi lokal dan keseimbangan ekosistim. Aman dan lestari. Ada keseimbangan antar alam dan manusia, tidak ada kimia buatan pabrik yang “berdampak negatip”. Kesuburan tanah di pulau Jawa sangat dipelihara dengan memanfaatkan bahan alam lokal.

Kakek saya memiliki sawah yang luas berpetak-petak, yang diwariskan kepada ibu, banyak paman-paman saya di Djuwana adalah penggarap sawah yang berhasil. Mereka jagoan, mereka sangat ahli dalam mengatur siklus air, siklus hara, mereka pandai dalam menjaga kesuburan tanah, membuat pembenihan, melakukan penanaman, pemanenan, melawan hama melawan tikus dll dll yang kesemuanya untuk mempertahankan kemandirian kehidupan petani. Tanpa bantuan dari luar desa. Semua bahan baku ada didesa. Gratis. Setiap musim tanam, sebagian dari benih yang dipanen musim sebelumnya ditanamkan kembali oleh petani. Diladang sudah ada keseimbangan alami antara serangga predator dan hama, kesuburan diperkaya dengan pemasukan pupuk kandang, daun-daunan, sisa panen semuanya didapat dari lingkungan. Sumber daya alam dilestarikan bagi generasi berikut. Ada suatu lingkaran yang lengkap, ada siklus regenerasi yang berkesinambungan. Dan itu sudah terjadi selama ribuan tahun.

Waktu masih kecil saya sering ke Djuwana pergi ke sawah2 milik ibu dan mbah Minah yang sedang digarap paman. Varietas padi lokal yang masih ingat antara lain : Rojo lele (top), buyung, ketan kuthuk, gethok, leri, kenongo, rening, mainan, wantean, gropak dll dll wuahh .. lupa, pokoknya banyak lah. Disawah juga ditebar ikan yang akan dipanen beberapa waktu kemudian. Ikannya kecil-kecil tetapi menyenangkan, rasanya saya bangga kalau bisa ‘”nyerok” ikan. Kotor? Jangan ditanya.

Menjelang diskusi RDC, dengan topik anti Revolusi Hijau, saya beberapa kali pulang ke Pati lalu ke Djuwana untuk mencari “amunisi” untuk bahan diskusi, mencoba membawa dalih-dalih baru guna didiskusikan di RDC. Ramai dan seru sekali.


Saya percaya bahwa telah ribuan tahun petani kita bertani dan mampu menghasilkan tanaman padi dan palawija dengan baik. Petani kita punya budaya memupuk tanaman yang tradisionil, budaya melawan hama serangan wereng, melawan tikus, mosok mau diganti begitu saja dengan benih-benih hasil research, bahan-bahan kimia buatan pabrik. Dalam hati kecil saya melawan dan namun untuk bilang ‘tidak’ saya memerlukan alasan dan bukti2 yang saya peroleh dilapangan. Ilmu tradisionil itu masih dimiliki oleh paman2 saya yang petani asli dari Djuwana. Sekarang terbukti orang-orang gandrung kembali kepada pertanian organik..

Contoh obat tradisionil ini, antara lain
- Lamtoro. Daun lamtoro dan daun kacang-kacangan yang masih hijau dimasukkan ke karung dicampur dengan kotoran ternak lalu ditutup. Dimasukkan ke ember yang besar dengan perbandingan 1:2 (kalau ga salah), taruh batu agar karung terendam air, Biarkan selama 2-3 hari. Kalau mau dipakai, sampur dengan air semprotkan pupuk ini kesekitar tanaman, sekali sehari pada musim kemarau, tiga hari sekali pada musim hujan. Obat melawan serangan wereng yang ampuh.
- Sirsat atau mindi. Digunakan untuk melawan ulat grayak dan wereng, daun yang segar ditumbuk halus, campur air, disaring. Waktu mau dipakai campur air 1 : 20 dan disemprotkan.
- Paitan. Daun paitan direndam seminggu lalu airnya disiramkan untuk pupuk dan sekaligus obat anti hama.
- Mahoni. Adalah pestisida yang ampuh, daunnya bisa dipakai membasmi serangga pembuat lubang di tanaman padi.
Bahan-bahan baku ada disekitar kita, misal Koro pait, loncak, mahoni, mangkokan, manisah, mengkudu, nanas, nila, pacar, paitan dll dll.

 

 

Kami sengaja turun kedesa sekitar Realino, di Prambanan dekat candi mBoko, di Klaten, untuk mengumpulkan cerita2, formula2 membuat pupuk organik, formula2 membuat pestisida organik dan pengalaman di pesawahan2, sampai ke bibit unggul di desa.

Mereka yang pro Revolusi Hijau mempunyai bahan diskusi yang lengkap. Mereka menyebutnya “Program Bimas”.  Bahan diskusi diperoleh dari Dinas Pertanian dan dari Fakultas Pertanian UGM yang mendapat tugas dari Pemrintah sebagai “agent of change”. Proyek Bimas ini dananya banyak sekali, ber jut-jut lah … Dapat kredit dari World Bank, ADB dan IMF.

Di proyek Bimas ada program benih hibrida, subsidi pupuk, ada kredit pertanian,ada penetapan harga dasar gabah, ada Bulog, penanaman bibit seragam dan berbagai penyuluhan pertanian. Khusus penyuluhan di desa dikerjakan oleh para mahasiswa pertanian UGM, sebagai bagian dari mata pelajaran, dengan nilai kredit poin. Selama 3 - 6 bulan didesa sebagai penyuluh pertanian, para mahasiswa digaji oleh fakultas pertanian. Padahal hampir semuanya menginap dirumah pak Lurah tanpa mbayar sesenpun. Selesai Bimas, para mahasiswa (umumnya semester 6-7) menjadi lebih percaya diri. Ada beberapa yang kembali ke kampus membawa istri, yang dikawinin sewaktu kerja Bimas. Putrinya pak lurah, putrinya pak camat atau anak orang kaya di desa itu.

Di program Bimas, petani hanya dipandang sebagai obyek yang harus patuh pada penguasa. Hak petani untuk mengekspresikan sikap dan kehendak diabaikan. Begitu pula hak untuk menentukan produksi mau nanam apa atau memakai teknologi apa, bisa sirna begitu saja. Semua lenyap dan hanya ada satu aba-aba yaitu : Bimas. Titik.

Sistim tanam yang lama yaitu pemulihan tanaman, memelihara keanekaragaman genetik dan pengembangan kemampuan tanaman untuk memperbaharui tanaman itu sendiri, diganti dengan yang baru. Sistim tanam yang baru itu mengunakan teknologi seperti bibit “unggul hibrida” hasil dari riset center IRRI Philipines, petani diharuskan memakai pupuk kimia, insektisida, pestisida, hasil produksi pabrik.

Dahulu rakyat pedesaan diseluruh Jawa dan Bali, diharuskan mempunyai Penyuluh Lapangan. Bahwa penyuluh pertanian lebih berperan sebagai agen perusahaan kimia. Para penyuluh tidak memahami dan tidak mengerti tentang lingkungan hidup .. mereka hanya sebatas melaksanakan pekerjaan Bimas yang diberi gaji dan bonus. Mereka jago dalam mengelola usaha tani bukan mengelola ekosistim. Mereka melihat lahan pertanian sebagai pabrik.

Seingat saya, waktu RDC berlangsung, ada yang menjelaskan bibit padi unggul hibrida adalah benih “ajaib”. Artinya : pendek umur, tinggi hasilnya dan tahan penyakit. Itulah promosi dari pro Revolusi Hijau, dan sambil membagi-bagikan kaos dengan berbagai merk seperti Monsanto, Hydrasyl dll.

Waktu saya ke Djuwana, saya ceritain ke paman saya. Apa jawab paman saya ? Ngapusi. Yang dikatakan, benih hibrida “ajaib” itu benih yang tidak unggul. Mengapa ? Benih itu masuk kategori benih mandul. Benar-benar mandul. Karena benih padi dari hasil panen sebelumnya  tidak bisa ditanam kembali. Jadi benar-benar padi mandul. Seperti ayam broiler itu kan juga mandul, tetapi lihatlah dalam waktu 5 minggu ayam itu sudah bisa mencapai 1,5 kg beratnya. Sama dengan padi ini. Paman saya ini namanya Lik Darsuki (almarhum) menceriterakan kepada saya dengan sembunyi-sembunyi, karena takut dimarahin pak lurah.

Benih hibrida yang mandul ini haus dan rakus pupuk buatan, haus pestisida, haus dan rakus air. Benih “ajaib” dan mandul ini sangat tergantung obat-obatan dan rentan penyakit. Para penyuluh memperkenalkan sebagai hasil riset dari luar negeri (IRRI-Phillipines) untuk meningkatkan produksi, sehingga diharapkan akan meningkatkan kesejahteraan rakyat petani.

“Gombal”. kata paman saya. Setiap kali paman mau nanam padi harus beli benih, yang harganya mahal. Paman harus kredit, harus utang. Lho ?? “Mosok bibit saja harus beli, kan kebangetan”, katanya.

Saya bawa cerita ini ke RDC, dan Realino-wan yang pro revolusi hijau mengakui bahwa padi hibrida itu memang mandul. Kalau mau nanam para petani harus beli benih lagi. Kalau ga punya uang petani bisa kredit. Wah …. Saya menganggap bahwa Revolusi Hijau itu salah besar.

Padi unggul yang asli dari Jawa banyak dibawa ke IRRI Philipines, jumlahnya ada ribuan spesies padi. Merekalah yang menyimpan benih padi unggul Jawa asli. IRRI Philippines lah yang sekarang memiliki kekayaan Indonesia yang tak ternilai. Kekayaan yang dikumpukan selama ribuan tahun oleh petani nenek moyang kita diserahkan dengan cuma2 ke IRRI Philippines. Kita di Jawa hanya mempunyai sisa sedikit benih padi Jawa asli. Para petani di Jawa selalu diinstruksikan menanam benih padi hibrida hasil riset IRRI. Kasihan petani Indonesia .

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Catat, Bawaslu Tidak Pernah Merekomendasikan …

Revaputra Sugito | | 23 July 2014 | 08:29

Kado Hari Anak; Berburu Mainan Tradisional …

Arif L Hakim | | 23 July 2014 | 08:50

Jejak Digital, Perlukah Mewariskannya? …

Cucum Suminar | | 23 July 2014 | 10:58

Apakah Rumah Tangga Anda dalam Ancaman? …

Agustinus Sipayung | | 23 July 2014 | 01:10

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56


TRENDING ARTICLES

Film: Dawn of The Planet of The Apes …

Umm Mariam | 5 jam lalu

Seberapa Penting Anu Ahmad Dhani buat Anda? …

Robert O. Aruan | 5 jam lalu

Sampai 90 Hari Kedepan Belum Ada Presiden RI …

Thamrin Dahlan | 8 jam lalu

Membaca Efek Keputusan Prabowo …

Zulfikar Akbar | 8 jam lalu

Prabowo Lebih Mampu Atasi Kemacetan Jakarta …

Mercy | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: