Back to Kompasiana
Artikel

Umum

Aris Heru Utomo

Tinggal di Beijing. Menulis lewat blog sejak 2006 dan akan terus menulis untuk mencoba mengikat selengkapnya

Hati-hati Penipuan Dibalik Promosi AOWA !!!

OPINI | 16 February 2009 | 00:59 Dibaca: 4614   Komentar: 12   0

Sabtu dan Minggu semestinya menjadi hari yang menggembirakan karena bisa sejenak rehat dari rutinitas kegiatan kantor. Sayang suasana akhir pekan kali ini terganggu oleh peristiwa kurang menyenangkan yang dialami istri saya. Awalnya saya agak enggan untuk menuliskannya disini, malu donk masa istri kena tipu diceritakan ke publik. Tapi setelah dipikirkan kembali dan menimbang-nimbang mengenai kemungkinan akan adanya korban-korban berikutnya, saya mencoba berbagi cerita mengenai kejadian yang menimpa kami.

Ceritanya dimulai ketika saya dan istri mengunjungi Mal Lippo Cikarang pada Sabtu 14 Februari 2009. Ketika melewati stan pameran AOWA, istri saya ditawari souvenir gratis oleh Sales Promotion Girl (SPG) yang mengaku bernama Silvi Riska. Mulanya istri saya menolak, tapi dengan alasan promosi, SPG tersebut terus merayu untuk tetap menerima souvenir tersebut dan meminta istri saya untuk sekedar mengisi data diri sebagai catatan pengunjung counter AOWA. Setelah itu si SPG lalu menawarkan undian untuk mendapatkan produk AOWA. Mereka meminta istri saya untuk memilih selembar kupon dan mengatakan kalau beruntung istri saya bisa saja mendapatkan secara gratis salah satu produk AOWA yang sedang mereka pamerkan seperti kompor induksi listrik, oven dan vacuum cleaner sebagai hadiah gong xi fa cai.

Ketika kupon yang dipilih istri saya berisi gambar kompor induksi listrik, para SPG yang bertugas pura-pura terkejut dan mengatakan bahwa istri saya sangat beruntung. Tidak semua orang bisa mendapatkan hadiah langsung secara gratis seperti kompor induksi listrik. Untuk itu SPG Silvi Riska dan kemudian menyusul SPG yang mengaku benama Yuli Patriani akan menelpon ke kantor pusatnya untuk mengkonfirmasi apakah memang istri saya berhak mendapatkan hadiah tersebut, apalagi mengingat hadiah yang diterima cukup besar yang menurut mereka seharga 8 juta rupiah.

Istri saya kemudian dihubungkan dengan telepon ke kantor pusat mereka. Setelah berpura-pura melakukan verifikasi, kemudian orang yang di kantor pusat menyatakan bahwa istri saya merupakan orang ke-14 yang berhak menerima hadiah tersebut dari 20 hadiah yang mereka sediakan. Setelah itu beramai-ramai para SPG dan beberapa sales lainnya mengucapkan selamat kepada istri saya dan kembali mengatakan istri saya sebagai orang yang sangat beruntung.

Mendengar akan mendapat kompor induksi listrik gratis, istri saya tentu saja senang. Namun buru-buru saya mengingatkan istri saya bahwa dalam dunia usaha, tidak ada yang gratis di dunia ini. Selain itu saya juga mengatakan kepada kedua SPG AOWA tersebut bahwa kalau ada pembayaran-pembayaran, apapun bentuk dan alasannya, kami tidak akan mengambil hadiah tersebut. Karena sebenarnya kami tidak membutuhkan benda-benda tersebut. Dengan senyum penuh arti mereka mengatakan bahwa tidak akan ada pembayaran apapun untuk hadiah tersebut.

Sampai disini saya masih menemani istri, tapi karena pada saat yang bersamaan saya harus menemui seseorang, maka istri saya tinggalkan sejenak. Namun betapa kagetnya ketika kembali sekitar 30 menit kemudian ternyata kartu kredit istri saya sudah didebet sebesar 6 juta rupiah yang katanya diminta atas bujukan SPG AOWA untuk membayar 2 produk elektronik lain yang sepaket dengan kompor induksi listrik yang diberikan yaitu water based vacuum cleaner dan ufo convention oven. Ternyata hadiah gratis kompor induksi listrik hanya sekedar pancingan untuk membeli paksa produk lainnya.

Menyaksikan hal tersebut di atas, saya sadar ternyata istri sudah terbujuk dan tertipu oleh para SPG AOWA dan ketika meminta untuk membatalkan transaksi mereka bilang tidak bisa. Dana dari kartu kredit sudah masuk dan tidak bisa ditarik kembali. Ketika saya tetap ngotot agar mereka mengembalikan uang kami, dengan sinis mereka meminta kami menghubungi customer service mereka yang beralamat di AOWA Indonesia, Ruko Eksklusif Blok H/21, Pantai Indah Kapuk.

Dengan dongkol akhirnya kami membawa 3 buah produk AOWA tersebut. Betapa tidak, kami terpaksa membeli barang yang sebenarnya tidak kami butuhkan dan harganya sangat mahal. Ya karena termakan bujuk rayuan dan iming-iming hadiah terpaksa harus membayar sedemikian mahal barang-barang tersebut.

Setibanya di rumah saya cek produk-produk AOWA di internet. Betapa terkejutnya saya ketika halaman-halaman pertama Google justru banyak menampilkan kekecewaan korban akibat penipuan yang dilakukan oleh tenaga pemasaran AOWA dibanding produk itu sendiri. Dari penelusuran Google, setidaknya sejak tahun 2004 telah berlangsung penipuan di balik promosi AOWA seperti yang terjadi di Bandung, Jakarta dan Tangerang.

Dari para korban yang menuliskan kekecewaan disini, disini, disini dan disini, ternyata modusnya sama seperti yang saya alami yaitu: dilakukan di Mal, memancing korbannya dengan iming-iming souvenir dan hadiah besar, bersikap ramah dan memberikan pujian, berlagak menghubungi kantor pusat, dan membujuk konsumen untuk mendebet kartu kredit guna membayar produk yang dikatakan sebagai satu paket dari hadiah yang didapat.

Herannya, meski praktik seperti itu sudah berlangsung lama, tetapi tidak ada teguran dari lembaga seperti YLKI atau edukasi kepada masyarakat untuk menghindari praktik-praktik penipuan seperti yang dilakukan AOWA. Sehingga tidak mengherankan banyak korban yang terus berjatuhan.

Saya berharap agar pihak yang berwenang seperti kepolisian dapat menghentikan kegiatan promosi semacam itu. Kasihan para korban yang tertipu dan terpaksa membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Kalau distributor AOWA ingin mempromosikan dan menjual produk-produknya, lakukanlah dengan baik tanpa harus membodohi konsumen. Kalau barang produk AOWA memang baik, teruji mutunya, dan benar keasliannya, saya yakin konsumen yang membutuhkannya akan mencari produk AOWA.

Untuk para konsumen agar kiranya juga lebih berhati-hati untuk tidak terayu bujukan para sales AOWA. Kalaupun ingin membeli barang yang ditawarkan, pertimbangkan tingkat kebutuhan, mutu dan harga barang yang ditawarkan. Hati-hati jangan sampai barang yang dikatakan buatan Jepang tersebut ternyata buatan China dan bisa didapat dengan harga yang lebih murah serta tidak jelas kualitasnya.

Untuk para tenaga sales dan distributor AOWA yang kebetulan membaca tulisan ini, bicaralah jujur dengan hati nurani saudara apakah promosi yang anda lakukan benar? Apakah saudara tidak merasa berdosa melakukan promosi yang membodohi dan mengelabui konsumen? Apakah demi mengejar setoran, saudara bersedia melakukan apapun asal produk yang ditawarkan terjual?

Akhir kata, saya berharap apa yang dialami istri saya tidak terulang pada pembaca yang budiman.

ARIS HERU UTOMO

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bergembira Bersama Anak-anak Suku Bajo …

Akhmad Sujadi | | 17 September 2014 | 05:23

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48

Jokowi Menghapus Kemenag atau Mengubah …

Ilyani Sudardjat | | 17 September 2014 | 13:53

Menempatkan Sagu Tidak Hanya sebagai Makanan …

Evha Uaga | | 16 September 2014 | 19:53

5 Hal yang Perlu Dipertimbangkan dalam …

Hendra Makgawinata | | 17 September 2014 | 19:50


TRENDING ARTICLES

Ternyata Gak Gampang Ya, Pak Jokowi …

Heno Bharata | 13 jam lalu

Bangganya Pakai Sandal Jepit Seharga 239 …

Jonatan Sara | 14 jam lalu

Invasi Tahu Gejrot …

Teberatu | 15 jam lalu

Percayalah, Jadi PNS Itu Takdir! …

Muslihudin El Hasan... | 17 jam lalu

Yang Dikritik Cuma Jumlah Menteri dan Jatah …

Gatot Swandito | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Hujan Gol Warnai Kemenangan AS Roma dan …

Febrialdi | 7 jam lalu

“Tarian” Ahok dengan Derek …

Bhayu Parhendrojati | 8 jam lalu

Kita dan Lingkungan Hidup …

Alfarizi | 8 jam lalu

Gara-gara Anak Mencuri,Suami-Istri Dipecat …

Andi Akhmad Yusuf | 8 jam lalu

Memahami Cara Kerja Jurnalis …

Sugiyanto Hadi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: