Back to Kompasiana
Artikel

Umum

Tony Mardianto

Saya hanya seorang rakyat pinggiran

Perjalanan Panjang Sri Sultan HB X Menuju RI 1

OPINI | 08 March 2009 | 03:45 Dibaca: 478   Komentar: 8   0

Sosok Sultan Hamengku Buwono X yang lahir dengan nama Bendoro Raden Mas Herjuno Darpito pada tanggal 2 April 1946 belakangan ini menjadi pusat berita berbagai media massa di Tanah Air. Itu bukan karena gelar Sultan yang dimilikinya tetapi terkait dengan pencalonan dirinya sebagai Capres 2009 apabila nantinya ia lolos dalam penjaringan Capres dari Partai Golkar.

Dari sisi kemampuan intelektual, lelaki lulusan Fakultas Hukum UGM ini sangat mumpuni. Pengalaman menata Kraton Ngayogyakarta dan Jabatan Gubernur DIY yang disandangnya sejak 3 Oktober 1998 cukup menambah

wawasan Sri Sultan HB X untuk memimpin negeri ini.
“Manusia berencana, tapi Tuhan yang menentukan,” perkataan ini sangat tepat untuk diresapi oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X. Betapa tidak, karena peta politik nasional khususnya yang berkaitan dengan kandidat Capres 2009 beberapa hari terakhir ini mengalami perubahan yang sangat signifikan. Perubahan itu cenderung menyulitkan posisi Sri Sultan Hamengku Bowono X.

Beberapa ganjalan yang akan menghadang langkah sang deklarator Ciganjur ini di antaranya:
- Majunya Jusuf Kalla dalam arena Capres 2009
- Keputusan MK tentang penolakan Capres independen
- Jangkauan kharisma Sri Sultan Hamengku Buwono X
Putusnya koalisi Golkar-Demokrat yang ditandai dengan majunya Jusuf Kalla dalam kontes Capres 2009 merupakan pukulan telak bagi Sri Sultan HB X. Walau pada prakteknya Capres yang akan diusung Partai Golkar harus melalui mekanisme “penjaringan” namun secara nyata hampir dapat dipastikan bahwa Jusuf Kalla sebagai Ketua Umum partai politik berlambang pohon beringin ini akan keluar sebagai pemenangnya. Dan hal itu juga berarti hilangnya “Kereta Kencana” Sri Sultan HB X untuk menduduki singgasana RI-1.
Kondisi hilangnya kesempatan untuk maju sebagai Capres yang diusung Partai Golkar bukan akhir langkah Sri Sultan Hamengku Buwono X untuk maju sebagai Capres 2009. Maju sebagai Capres Independen merupakan langkah alternatif terbaik bagi Sri Sultan untuk maju dalam Pilpres 2009 nanti. Tetapi ternyata dewi keberuntungan belum memihak pada diri Sri Sultan HB X. Keputusan MK tentang penolakan Capres Independen makin menambah panjang daftar duri yang akan mempersulit langkah Sri Sultan Hamengku Buwono X untuk menjadikan dirinya pemimpin Republik ini.

Dua sandungan di atas merupakan penghambat eksternal perjalanan Sri Sultan HB X menuju Istana Negara. Sedangkan dari sisi internal kharisma Sri Sultan masih bersifat regional. Hal ini berbeda dengan ayahandanya (almarhum) Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Sri Sultan Hamengku Buwono IX memulai perjuangannya sejak masa Revolusi Kemerdekaan. Cakupan perjuangannya sudah bersifat nasional. Sehingga nama besar Hamengku Buwono IX sudah akrab di telinga masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Tidak heran bila Presiden Soeharto merasa perlu untuk didampingi oleh Hamengku Buwono IX dalam memimpin negeri ini.

Kharisma Hamengku Buwono X baru mencakup DIY secara khusus dan secara maksimal di Pulau Jawa. Untuk daerah-daerah di luar Pulau Jawa kharisma Hamengku Buwono X masih merupakan tanda tanya besar dan lebih cenderung ke arah korelasi negatif (dibaca: kurang kuat). Kondisi ini juga menjadi hambatan bagi Sri Sultan HB X.

Dari analisa di atas tampak bahwa perjalanan Hamengku Buwono X menuju Pilpres 2009 secara peta politik sangat sukar. Bahkan beberapa masukan telah menyarankan agar Sri Sultan HB X untuk maju sebagai Cawapres bukan sebagai Capres. Untuk kursi Cawapres masih terbuka kesempatan yang lebar bagi Sri Sultan. Banyaknya Capres yang masih bujangan (dibaca: tidak memiliki Cawapres) akan memperlancar langkah Sri Sultan Hamengku Buwono X untuk menjadi duet pemimpin Republik ini. Sama persis dengan posisi Hamengku Buwono IX saat pemerintahan Presiden Soeharto.

Semua keputusan kembali kepada sang Sultan. Tetap maju sebagai Capres dengan cara meminang partai kecil yang ada, atau turunkan target posisinya dari Capres menjadi Cawapres. Dan bila itu terjadi berarti Sri Sultan HB X telah menelan kembali ludah yang sudah dikeluarkan. Masih segar dalam ingatan kita saat beliau dilamar PDI Perjuangan untuk mendampingi Megawati dan saat itu secara tegas Sri Sultan mengatakan bahwa dia akan maju sebagai Capres, bukan sebagai Cawapres. (*)

Salam: Tony Mardianto

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemeriksaan di Bandara Sydney Ekstra Ketat …

Tjiptadinata Effend... | | 20 November 2014 | 18:49

Ayo! Berswasembada Pangan Mandiri dari …

Luce Rahma | | 20 November 2014 | 20:23

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40

Monas Kurang Diminati Turis Asing, Kenapa? …

Seneng Utami | | 20 November 2014 | 18:55

Belum Dapat Konfirmasi e-Ticket …

Kompasiana | | 16 November 2014 | 00:48


TRENDING ARTICLES

Islah DPR, Pramono Anung, Ahok, Adian …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

Putra Kandias, Kini Ramai Dibully Karena …

Djarwopapua | 7 jam lalu

Ahok, Gubernur Istimewa Jakarta …

Rusmin Sopian | 7 jam lalu

Keberanian Seseorang Bernama Jokowi …

Y Banu | 7 jam lalu

Kesalahan Jokowi Menaikan BBM …

Gunawan | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Manfaat Tersembunyi Dari Menulis yang Jarang …

Erwin Alwazir | 7 jam lalu

Kepak Sayap Guru Berkendara Aksara …

Ang Tek Khun | 7 jam lalu

Pintu Hatiku Telah Terkunci …

Doni Bastian | 8 jam lalu

Krisis Harga BBM Naik - Crisis by Design? …

Arnold Mamesah | 8 jam lalu

Stabilisasi Sistem Keuangan Dimulai dari …

Jeff Sinaga | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: