

Beli pulsa sudah masuk dalam anggaran belanja keluarga.
Sejak kapan? Bagi banyak orang, setidaknya dalam kurun satu dekade terakhir. Sejak perangkat komunikasi menjadi semakin personal: hampir semua orang punya ponsel, disusul dengan meluasnya penggunaan internet broadband prabayar, yang menargetkan pengguna muda. Membeli voucher atawa beli pulsa adalah kebutuhan sekunder atau sudah sejajar dengan dengan sandang, pangan dan papan?
Kedai voucher kini jumlahnya lebih banyak dibanding warung rokok. Di lorong kecil pun ada penjual pulsa. Anak-anak mengubah rajukannya menjadi ”Ma, beliin pulsa dong!” dan bukan lagi sekadar minta uang jajan untuk beli kembang gula. Remaja kian betah di kamarnya, dan hmm, coba diintip, mereka asyik ber-SMS, ngobrol di ponsel dan terkikik-kikik dalam dunianya yang ceria.
Ini artinya, kebutuhan komunikasi seluler yang meningkat pesat, membuat banyak keluarga menganggarkan biaya komunikasi berdasarkan jumlah anggota keluarga. Dihitung saja bila di sebuah keluarga kelas menengah, kakek, nenek, bapak, ibu, kakak, adik, pak sopir, baby sitter (yang menjaga adik bayi agar bisa dipantau dengan mudah) dan pembantu, masing-masing punya ponsel.
Tentu, “beli pulsa” tidak tercantum dalam daftar belanja saat ke pasar atau ke supermarket, bersanding dengan sabun cuci, bawang merah, cabe keriting, ayam potong dan sikat gigi. “Beli pulsa” juga lebih khas dibandingkan utility bills sebuah rumah tangga, yang umumnya terdiri dari tagihan air, gas, listrik dan telepon rumah. Katakanlah, bila sebuah keluarga memiliki tiga anak yang masing-masing memiliki ponsel dan aktif menggunakan internet, –meski kedua orang tuanya mendapat tunjangan komunikasi di kantor– keluarga ini tetap harus menyiapkan biaya komunikasi bagi ketiga anak tersebut (dan terkadang juga untuk mertua).
Tak ada masalah bila uang senantiasa tersedia. Biaya komunikasi melejit, tak jadi soal. Untuk keluarga kaya ya ya ya (pakai echo nih untuk menggambarkan kayanya mereka) mau menelepon ke Antartika berjam-jam pun tak apa. Yang soal adalah mereka yang berkantong cekak. Jangan heran bila sempat mencuat berita, ada Bantuan Langsung Tunai (BLT) –yang dibagikan pemerintah sekitar dua tahun lalu untuk meringankan beban keluarga miskin setelah pencabutan subsidi BBM–, yang justru dibelikan pulsa oleh si penerima. Tak sedikit orang yang melakukan aksi hemat untuk pengeluaran lainnya, demi beli pulsa.
Saya juga menyaksikan hubungan kekeluargaan seorang teman yang berbasis “subsidi pulsa”. Ia seorang kakak yang telah mapan, dan harus senantiasa tabah menghadapi cobaan, menerima SMS adik-adiknya yang isinya sama: “Help. Krmn pulsa, pls. 50rb jg tak apa.”
Saat segala macam communication gadgets sudah ada di genggaman, tak ada salahnya sesekali menghitung berapa sebenarnya anggaran komunikasi kita? Berapa persen dari anggaran itu yang bisa dimasukkan sebagai investasi produktif, dalam arti menunjang pekerjaan dan mendorong kreativitas Anda? Dan adakah beban komunikasi pihak lain yang juga masuk dalam tanggungan Anda?
Tapi yang menarik perhatian saya beberapa hari ini adalah bagaimana “beban biaya komunikasi” di sebuah keluarga diselesaikan dengan sangat khas. Ya, seperti seorang kakak yang memberi subsidi pulsa kepada adik. Mertua yang (dengan isyarat tertentu) membebankan tagihan ponselnya kepada menantu. Cucu yang merayu nenek dan kakeknya membelikan pulsa tambahan, karena jatah dari Mama dan Papa tak cukup. Ini tidak saya temukan di negara maju, tentu saja.
Yang membuat saya menulis catatan pendek ini, juga karena teringat seorang teman Jepang yang mengajukan pertanyaan serupa: “kenapa seorang kakak harus membelikan pulsa untuk adiknya? kalau adiknya banyak bagaimana? Kan itu ponsel milik si adik, masak si kakak yang harus susah?”
Si Jepang yang besar dalam didikan individualisme yang sangat tinggi jelas tak bisa memahami bagaimana orang Indonesia yang sangat komunal memiliki jiwa saling tolong menolong dan gotong royong yang tinggi, termasuk dalam mentraktir pulsa. Di sebuah keluarga besar, ada dermawan pulsa dan banyak fakir pulsa (umumnya ya pelajar dan mahasiswa yang belum bekerja, dan pengangguran tapi memiliki ponsel dua hehehe)
“Orang Indonesia tuh, makan gak makan yang penting kumpul. Dan ya di era komunikasi, makan gak makan, yang penting si Kakak beliin pulsa….”
Begitulah.
Ly

Saya pernah baca tulisan dari seorang Ibu, bahwa di kantor tempatnya bekerja, ada resepsionis yang suka ganti-ganti HP dengan jenis HP keluaran/edisi baru. Sementara si Ibu ini, tidak pernah ganti-ganti HP walaupun gajinya jauh lebih tinggi dari si resepsionis. Ternyata untuk gaya hidup seperti itu, si resepsionis harus rela tidak makan siang atau hanya minum vegeta untuk makan siang hehehe.Lucunya juga HP nya sering tidak ada pulsanya.Mangan Ora Mangan..Sing Penting Bergaya…Kalau kata orang Makasssar, Gayana Ji !!! hehehe
+1
-1
Rahardjo 
Mbak Liliy salam kenaal……
Memang kemajuan TI membuat perobahaan dalam menyusun anggaran, mbak belum menceritakan bagaimana seorang PRT bergaya dengan hpnya, kadang2 ada yang minta tambahan gaji sekian ribu untuk anggaran pulsa dengan alasan biar gampang berkomunikasi dengan juragannya ya memang masuk akal permintaan PRT itu. bahkan pengemispun ada yang berhp, jadi yang mensubsidi pulsa ya kita2 ini
Malah belakangan ini babbysitters cucu saya dibelikab Blackberry hanya untuk memonitor kegiatan anak asuhnya disekolah, setiap gerak difoto/direkam terus kirim ke fb dikantor atau dirumah, ya itulah kemajuan TI mbak mesti berdampak pada anggaran …… mangan ra mangan yo pulsa …….salam
+1
-1

Saya pernah mengalami hal mirip tulisan ini, meskipun bukan cerita yang sama. Ketika itu saya baru bisa mengaktifkan YM di ponsel. Saking serunya ber-YM pulsa terkuras tanpa sadar. Apa boleh buat ada kebutuhan lain yang tersisihkan demi mengisi HP dengan pulsa (memang hanya 25 ribu- 50 ribu)..Tapi kalau sekarang dipikir kembali rasanya bodoh sekali menyisihkan kebutuhan lain demi pulsa untuk ber-chatting lewat ponsel…
Terima kasih ceritanya yang mengena, Mbak..
+1
-1
Guest User