Back to Kompasiana
Artikel

Umum

Eko Sutrisno Hp

Blogger Jogja, Cikarang Bekasi, owner Mie Sehati (http://miesehati.com).|. Anggota komunitas TDA, Blogger Cikarang-Bekasi, Kompasiana dan Komunitas selengkapnya

Mimpi Pengusaha Cikarang Melawan Krisis Moneter

OPINI | 16 March 2009 | 13:07 Dibaca: 460   Komentar: 9   0

Hingga akhir Pebruari kemarin, gelombang PHK terus menghantui para pekerja. Angkanya sudah mendekati 40 ribu orang dan masih mungkin akan terus bertambah bila kondisi perekonomian tidak juga membaik.

Saat ini, mari kita lupakan angka itu, ada tugas besar di hadapan kita. Seperti kata teman yang begitu jeli menangkap setiap peluang yang ada, “di sekeliling kita ini terdapat banyak sekali peluang, pertanyaannya adalah, apakah kita mau mengambilnya, karena kita pasti mampu mengambilnya”

“Kalau kita mulai melihat isi rumah kita, maka ratusan peluang langsung muncul di depan kita”

“Ambil contoh, kita makan sehari tiga kali, maka peluangnya adalah berjualan makanan, karena semua orang butuh makan dan tidak semua orang mampu memasak makanan untuk mereka makan”

“Kalau kita lihat tagihan listrik kita, maka peluang juga segera muncul. Apa salahnya sambil kita membayar tagihan listrik, kita bayarkan juga tagihan listrik tetangga-tetangga kita. Tidak semua tetangga kita punya waktu untuk menyempatkan diri antri di loket”

Gagasan-gagasan yang muncul dari berbagai diskusi di milis CIkarang Baru, mungkin tidak melihat pada angka-angka PHK itu, tetapi semangat membuka lapangan kerja baru, semangat belajar berbisnis dengan baik, justru yang mungkin mendasari diskusi itu.

Ketika akhirnya draft rencana usaha [BP] dari UB.CiMarT mulai di”lempar” ke milis, maka mesin kegiatan UB CiMartpun mulai dipanaskan. Mesin sudah dihidupkan dan para aktifis calon pengusaha baru itupun mulai memposisikan dirinya di tempat pijaknya masing-masing.

Kalau Belanda mengenal Total Football, maka begitulah pemanasan yang dilakukan mesin UB CiMarT ini. Dirut langsung terjun memimpin survey produk utama yang akan dikelola.

Aku yang memang dari awal mencanangkan untuk ikut membantu kegiatan seksi usaha, meskipun posisiku di Dewan Pengawas, ikut menjadi gembalaan pak Dirut, belajar survey produk dan belajar mencium bau “bisnis” dalam setiap hal yang dijumpai di jalan.

Sepanjang jalan dapat kuliah gratis dari pak Dirut, sehingga perjalanan 120 km terasa dekat dan tanpa rasa kantuk. Pak Dirut justru yang kulihat beberapa kali menguap [akhirnya aku tahu bahwa pak Dirut kekurangan oksigen, karena tidak sempat makan sebelum berangkat survey].

Akupun menyopir sesuai etika berkendara yang kubaca di beberapa buku Safety Driving [meskipun kadang-kadang masih mau "lari kenceng" di jalan yang sempit, he...he..he...].

Pelajaran yang bisa dipetik dari survey produk beras ini antara lain adalah :

  1. Bila bisnis sudah berjalan dengan baik, maka pembeli yang akan mencari penjual dan bukan sebaliknya
  2. Ada peluang menjual beras murah dan bermutu tinggi, kalau kita bisa menyadarkan masyarakat bahwa beras berwarna gelap lebih bermutu dibanding beras yang berwarna putih
  3. Model pembelian padi dari petani ternyata bermacam-macam, demikian juga model pengelolaan beras dari penggilingan.
  4. Tidak semua penggilingan mau mengantar beras, ada harga franco pengambilan di lokasi penggilingan dan ada franco penerimaan di lokasi pembeli.
  5. Silahkan ditambahin sendiri, untuk memperkaya hasil survey ini.

Kalau kita terlalu takut menghadapi krisis ekonomi, maka kita telah menggunakan sebagian energi kita untuk memikirkan krisis itu. Alangkah baiknya energi itu kita pakai untuk memikirkan hal yang lebih bermanfaat, misalnya bagaimana membuka peluang usaha baru.

Akan lebih bermanfaat lagi kalau ide-ide itu disampaikan ke UB.CiMarT, sehingga bisa direalisasikan pada kelompok calon pengusaha yang begitu bersemangat untuk membangun Indonesia dari sisi perekonomian rakyat.

Mari bergabung dengan UB.CiMarT untuk menuangkan ide dan melaksanakan ide membangun perekonomian Rakyat Indonesia.

Selamat berusaha dengan baik untuk orang yang baik secara baik-baik.

Insya Allah manfaat. Amin.

Start dari Puspita VII Montana [foto by tamuku]

source gambar [lain] : kliping KOMPAS

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Trik Licik Money Changer Abal-abal di Bali! …

Weedy Koshino | | 20 August 2014 | 23:31

Dahlan Iskan, Sosok Tepat Menteri Pertanian …

Felix | | 21 August 2014 | 09:47

ISIS Bunuh Wartawan Amerika dan Ancam Obama …

Ansara | | 21 August 2014 | 10:03

I See All Evil, I Hear All Evil, I Report …

Agustulastyo | | 21 August 2014 | 12:32

Haruskah Semua Pihak Menerima Putusan MK? …

Kompasiana | | 21 August 2014 | 10:31


TRENDING ARTICLES

Pelajaran dari Sengketa di MK …

Jusman Dalle | 3 jam lalu

Hebat, Indonesia Paling Menjanjikan Sedunia! …

Firdaus Hidayat | 5 jam lalu

Jangan Sembarangan Pelihara Ayam di Amerika …

Usi Saba Kota | 5 jam lalu

Menanti Komitmen Prabowo …

Adrian Susanto | 6 jam lalu

Aset Penting “Dikuasai”, SDA …

Hendrik Riyanto | 8 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: