Back to Kompasiana
Artikel

Umum

Astree Hawa

Change world with love

Ratusan Warga Mendadak Baca Puisi

OPINI | 19 March 2009 | 11:25 Dibaca: 217   Komentar: 0   0

Ratusan warga di Kab. Kuningan mendadak antusias membaca puisi, di taman kota. Kendati tidak dengan suara lantang, mereka mengekspresikannya dengan senyum, mengerutkan jidat dan mata menerawang. Tersirat, kehausan akan dunia sastra yang di jaman sekarang mulai tergerus dengan persoalan-persoalan ekonomi. Sehingga ada semacam penantian panjang sahara.

Buku antologi puisi karya sepuluh penyair Kuningan yang diberi judul puisi belum rampung kutulis hari ini. Kesepuluh penyair itu diantaranya Udi Rosadi, Djo Subagdja keduanya mukim di Jakarta. Dede Sukmadi Dukat, mukim di Bandung. Asep Budi Setiawan, Aan Sugianto Mas, Djudjun Djuanda, Ury Syam, Dodo Suwondo, Yusfatansi Ubaya (almarhum) dan N.Ding Masku tinggal di Kabupaten Kuningan.

Jejak rekam perpuisian di Kab. Kuningan, yang ditemukan tanpa sengaja berupa catatan-catatan kecil di era 1970-an. Ampir sama dengan saat terjadinya pertumbuhan puisi di tingkat nasional. Di tahun itu, khususnya di Kuningan dunia sastra telah tumbuh bak jamur di musim penghujan. Anak-anak muda bukan lagi “hemaprodit” peradaban,” ucap N. Ding Masku penyair paling muda.

Namun, sambungnya, tumbuh dalam suasana kebatinan berkesenian yang tidak ditemukan lagi di jaman reformasi seperti sekarang ini. Ini sebuah tonggak sejarah yang perlu diselamatkan sebagai identitas orang-orang daerah dalam memberikan warna terhadap kesusastraan nasional. Pemikiran seperti itu terus “menggelinding” mencari muara yang paling pas untuk berlabuh.

Kendala merealisasikan sebuah buku antologi puisi “keroyokan” sering dialami. Pasalnya pemilik puisi tidak berdomisili lagi di Kabupaten Kuningan. Ada yang tinggal di Jakarta dan Bandung. Contohnya, Djo Subagja, yang sudah betah di Jakarta dan sibuk dengan pekerjaannya sebagai direktur keuangan Jasa Marga, sampai saat ini belum ada timing yang tepat untuk bertemu.

Tidak kalah menariknya, masih kata Ding Masku, ketika catatan puisi ditemukan tapi orangnya sudah meninggalkan alam fana seperti Yusfatansi Ubaya atau Abu Ubaidah. Begitu pun yang lainnya telah sibuk dengan pekerjaannya. Sehingga konsentrasi terbagi-bagi. Lebih parah lagi mengalami penyakit “lupa” teramat panjang, hampir dua belas tahun lebih. Sejak perencanaan awal 1996.

“Ujug-ujug” motivasi itu timbul kembali setelah dunia kesusastraan di Kabupaten Kuningan semakin tenggelam ke titik nadir. “Jika tidak sekarang, kapan lagi diterbitkan?” ucap Ury. Mungkin lontaran seperti itulah salah satu pemicunya. Padahal kesempatan untuk “ngariung” semakin melebar, namun berkat kenekatan yang entah sudah keberapa kali tersia-siakan.

“Hasil perjuangan itu, akhirnya antologi Puisi Belum Rampung Kutulis Hari Ini, merupakan antologi keroyokan penyair Kuningan menemukan muaranya. Memang puisinya belum rampung, dan entah sampai kapan rampung ditulisnya? Mudah-mudahan bisa dijadikan motivasi baru bagi generasi muda Kuningan untuk melanjutkan kiprah kesusastraan di daerah. Serta mampu memberikan warna terhadap kesusastraan nasional,” harapnya.***

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Agnezmo Masuk Final Nominasi MTV EMA 2014, …

Sahroha Lumbanraja | | 16 September 2014 | 19:37

60 Penyelam Ikut Menanam Terumbu Karang di …

Kompas Video | | 16 September 2014 | 19:56

“Penjual” Perdamaian Aceh …

Ruslan Jusuf | | 16 September 2014 | 17:33

Musim Semi di Australia Ular Berkeliaran …

Tjiptadinata Effend... | | 16 September 2014 | 15:54

Ibu Rumah Tangga, Profesi atau Bukan? …

Mauliah Mulkin | | 16 September 2014 | 13:13


TRENDING ARTICLES

PKS Pecundang Menolak Pilkada Langsung …

Damang Averroes Al-... | 4 jam lalu

Jusuf Kalla Sebaiknya Belajar dari Ahok …

Relly Jehato | 6 jam lalu

Wanda Hamidah Bukan Ahok …

Mawalu | 8 jam lalu

Ini Kepemimpinan Ala Jokowi …

Sjahrir Hannanu | 8 jam lalu

Anomali Ahok: Pahlawan atau Pengkhianat? …

Choirul Huda | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: