
Nama :Drs H Muhammad Jusuf Kalla Lahir :Watampone, 15 Mei 1942 Agama :Islam Jabatan Kenegaraan: Wakil Presiden RI (2004-2009) Menko KESRA Kabinet Gotong Royong (2001-2004) MENPERINDAG Kabinet Persatuan Nasional (1999-2000) Pendidikan : Fakultas Ekonomi, Universitas Hasanudin Makasar, 1967 The European Institute of Business Administration Fountainebleu, Prancis (1977) Organisasi 2010 - Sekarang : Chairman Centrist Asia Pacific Democrats International (CAPDI) 2009 - Sekarang : Ketua Umum PMI 2000 - sekarang : Anggota Dewan Penasehat ISEI Pusat 1985 - 1998 : Ketua Umum...
Dibaca: 975
Komentar: 18
Nihil
Banyak orang yang menganggap bahwa Program BLT adalah salah satu program kontraversial yang saya canangkan. Ada yang menilai BLT tidak mencapai sasaran, tidak logis, menghamburkan banyak uang, karena begitu banyak uang yang diberikan tapi tidak menolong masyarakat. bahkan ada satu kandidat Presiden yang mengatakan bahwa itu mendidik bangsa menjadi pengemis program BLT itu, dan meminta dana yang sedemikian banyak itu lebih bagus kalau diputar saja untuk mensejahterakan Masyarakat.
yang Perlu saya luruskan di sini adalah jika melihat dari sejarahnya, pada saat pemerintah ingin menaikkan BBM pada tahun 2005 lalu, hal yang sangat mengganjal dalam pikiran saya adalah bagaiman caranya saat BBM dinyatakan naik, tidak menimbulkan masalah di tingkat bawah. Karena pada saat kita itu kita tidak punya waktu banyak yakni hanya sebulan, maka saya mengambil kebijakan memberikan uang tunai secara langsung, kepada masyarakat yang kurang mampu, dan itu dilakukan secara dengan kenaikan harga BBM. Saat itu semua pada bingung memikirkan teknisnya ditambah lagi waktu yang semakin mepet. Kemudian Bank Dunia datang untuk memberikan ide-ide dan saran. ewaktu rapat di kantor saya mereka minta waktu setahun pelaksanaannya. saya langsung bilang ke mereka ” You pulang saja, karena saya ingin melaksanakannya dalam waktu sebulan, saya tidak butuh anda!!”,
Dan Alhamdulillah semua kita rancang sendiri, kita libatkan kantor Pos, BPS, dan dalam waktu sebulan 10 kota selesai didata. Dan langsung kita jalankan bersamaan dengan kenaikan harga BBM. Terbukti itu meringankan bebang masyarakat, dan itu kemudian menjadi program nasional, menjadi bagian dari jaringan pengaman sosial, yang kita buat, seperti PNPM, keluarga harapan dan sebagainya. Kalau ada yang mengatakan “kenapa dana tersebut tidak diputar”, justru sebenarnya kita memutar dana tersebut dalam bentuk program yang lain. Kalau masalah memutar dana, sebenarnta itu konsep yang sudah lama sekali di Indonesia. Pada masa Orde Baru kita sudah mengenal ada program Inpres Desa tertinggal, tapi terbukti di lapangan dana tersebut tidak berputar di masyarakat, tapi hanya di kalangan tertentu. Jadi masih mending BLT karena langsung sampai ke tangan masyarakat.
Karena pada saat BBM dinaikkan, berarti daya beli masyarakat miskin di daerah pasti turun, jadi harus kita berikan uang tunai, yang sumber dananya diambil dari pembelian BBM dari orang yang mampu atau subsidi silang namanya, dan terbukti sangat efektif. Seandainya hal tersebut tidak dilakukan maka bisa ricuh saat kenaikan BBM waktu itu.
Dan jangan lupa sudah banyak negara yang mulai belajar sistem cash Transfer seperti : Taiwan, Mexico, bahkan Amerika, saat ini Partai Republik meminta supaya Cash transfer segera dijalankan, untuk mengurangi beban masyarakat pada saat krisis yang menurun daya belinya, itu semua karena dia mencontoh Indonesia. Bahkan Mesir dan Malaysia sampai harus mengutus menterinya untuk datang belajar tentang bagaimana caranya menaikkan BBM tanpa menimbulkan huru hara sosial.
Jadi jangan lihat bahwa itu akan menjadikan rakyat terbiasa mengemis, tapi kalau tidak dijalankan efeknya akan jauh lebih berbahaya. Dalam prinsip ekonomi salah satu cara mengatasi apabila ada kesulitan daya beli di masyarakat, maka dana harus segera ditransfer ke masyarakat, agar mereka b isa belanja dan ekonomi bisa berjalan lagi.