Artikel

Umum

Jusuf Kalla

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Nama :Drs H Muhammad Jusuf Kalla Lahir :Watampone, 15 Mei 1942 Agama :Islam Jabatan Kenegaraan: Wakil Presiden RI (2004-2009) Menko KESRA Kabinet Gotong Royong (2001-2004) MENPERINDAG Kabinet Persatuan Nasional (1999-2000) Pendidikan : Fakultas Ekonomi, Universitas Hasanudin Makasar, 1967 The European Institute of Business Administration Fountainebleu, Prancis (1977) Organisasi 2010 - Sekarang : Chairman Centrist Asia Pacific Democrats International (CAPDI) 2009 - Sekarang : Ketua Umum PMI 2000 - sekarang : Anggota Dewan Penasehat ISEI Pusat 1985 - 1998 : Ketua Umum...

Nikmatnya Pulang kampung…


OPINI | 21 March 2009 | 15:27 Dibaca: 1202   Komentar: 21   Nihil

Saya mem-posting tulisan ini pada saat baru tiba di Palembang, Setelah melalui perjalanan selama hampir 3 jam dari Makassar ke Palembang melalui udara. Kalau berbicara tentang Kota Makassar, tentu bagi saya agak erbeda dengan kota lain yang biasa saya kunjungi. Kota Makassar adalah sesuatu yang istimewa bagi saya. Mulai dari saat masih menjabat Menteri, sampai dengan Menjadi Wapres setiap berkunjung ke daerah timur saya selalu menyempatkan diri untuk singgah di Makassar. Saya memang selalu rindu dengan Makassar. Selalu saja ada energi dan daya yang seakan selalu menarik saya untuk selalu singgah ke Kota itu. Kota yang telah mengajarkan saya banyak hal. Sebuah Kota di mana ada banyak manusia yang mencintai saya dengan sepenuh hati. Makanya, saya selalu tak tahan jika meninggalkan kota dalam dalam waktu lama.

Belum genap sebulan terakhir kali saya menjejakkan kaki di tanah Makassar, Pada Jumat sore kemarin 20 Maret 2009, saya kembali berkunjung ke Kota itu, Untuk melakukan beberapa hal, selain menghadiri Kampanye Terbuka Partai Golkar, dan beberapa agenda silaturahmi lainnya, saya juga harus melakukan kewajiban saya sebagai warga negara yakni menyetorkan SPT ke kantor pajak setempat. Sedari dulu semenjak punya Nomor Pokok Pajak saya selalu menyetor SPT di Kota ,Makassar. Selain sudah menjadi kebiasaan, juga tentu pengusaha lain selalu menunggu saya menyetor duluan, barulah mereka berbondong-bondong ikut menyetorkan, Maka tidak heran kalau semenjak beberapa itu sejak beberapa Tahun belakangan Nama saya selalu nomor urut satui sebagai penyetor SPT.

Selain itu, saya juga perlu bersilaturahmi dengan salah satu orang yang paling berjasa dalam kehidupan saya, yaitu Bapak Yasin Limpo, ayahanda tercinta dari Syahrul Yasin Limpo (Gubernur Sulawesi Selatan). Pak Yasin adalah guru bagi saya, mata air pengetahuan bagi saya. Mengajarkan saya untuk tetap berjalan tegak meski kaki sedang rapuh, mengajarkan saya menatap matahari dan tidak silau. Pada tahun 60-an waktu itu saya masih aktivis HMI dan senat, setiap ingin membahas permasalahan politik saya selalu ke rumahnya dan mengobrol sampai jauh malam.

Memang begitu banyak kenangan Indah setiap berkunjung di Kota Makassar, kenangan bagaimana kelembutan dan kasih sayang seorang Ibu yang melahirkan dan mendidik saya untk menjadi pribadi yang ikhlas, dan seorang bapak yang menurunkan ketegasan dan keberanian kepada saya. Semua kenangan indah bersama mereka kembali terbersit di hadapan saya ketika berziarah ke makam Ibu, bapak saya, Hj. Atirah Bin Muhammad dan H. Kalla Bin Tuppu. yang dimakamkan secara berdampingan.

Selain kenangan Indah, juga ada bayangan kepedihan dan penderitaan yang saya saksikan ketika mengunjungi korbang kebakaran, yang terjadi tidak lama setelah kedatangan saya di kota anging mamiri. 256 Rumah hangus terbakar, 333 Kepala keluarga dengan lebih dari 1300 jiwa menjadi terlantar. Saya melihat dari daftar sumbangan mereka, belum begitu banyak pihak yang menyumbang, mungkin karena Parpol lebih sibuk kampanye. Untuk itu saya atas nama diri pribadi langsung menandatangani cek senilai 100 juta untuk mereka, dan memerintah ketua DPD I Golkar untuk meringankan beban mereka. Sembari kita akan relokasi mereka ke Rusunami yang akan saya bangun tidak lama lagi.

itulah sejuta warna kenangan yang saya rasakan di kota makassar, sebuah kota yang pernah menjadi kota dunia, yang terbesar setelah Romawi, sebuah komunitas masyarakat yang selalu dipenuhi dengan gelora semangat, maka tak heran apabila ia berhasil mempersembahkan pertempuran laut terhebat sepanjang sejarah VOC bercokol di Indonesia. Semangat itu masih ada, itu yang saya lihat pada saat kampanye terbuka di lapangan karebosi beribu-ribu masyarakat, berduyun-duyun tanpa memperdulikan panasnya sengatan matahari yang membakar kulit, Hanya untuk meyakinkan diri bahwa bersama Golkar kita bisa maju.

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: