Panitia upacara Tawur Agung Tahun Saka 1931, Rabu (25/3) menertibkan fotografer-fotografer yang tidak bisa diarahkan secara lisan melalui pengeras suara oleh pembawa acara. Foto oleh: Kristupa Saragih
Ada pengalaman menarik ketika hunting foto di upacara Tawur Agung berkaitan dengan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1931 di Candi Prambanan, Yogyakarta. Umat Hindu Yogyakarta dan sekitarnya beramai-ramai menghadiri upacara suci agama Hindu ini. Rangkaian upacara Tawur Agung, sejatinya, memang menarik. Mulai dari rangkaian prosesi mengelilingi Candi Prambanan hingga simbolisasi ogoh-ogoh.
Bagi peminat fotografi, upacara Tawur Agung menjadi subyek foto yang menarik. Saking menariknya, jumlah fotografer yang memotret upacara ini meningkat dari tahun ke tahun. Tahun 2003, saya sempat hadir untuk memotret upacara ini di Prambanan, dan jumlah fotografer hanya segelintir saja. Tapi tahun 2009, di tempat yang sama, saya lihat ada hampir seratus fotografer yang memotret. Latar belakang mereka beragam, mulai dari pelajar dan mahasiswa hingga pehobi amatir dan profesional serta pewarta foto.
Tahun ini, panitia upacara sudah menyediakan satu tenda khusus untuk tempat berkumpul wartawan dan fotografer. Tapi, namanya fotografer, tentu tak akan betah didiamkan dan akan selalu berusaha mencari sudut-sudut pemotretan yang menarik. Akhirnya, upaya lokalisir tak efektif dan para pemotret pun menyebar ke banyak tempat.
Kerap kali posisi para pemotret tak mengindahkan para umat yang sedang beribadah. Padahal mustinya kita menyadari bahwa kekayaan Indonesia adalah kebhinekaan, termasuk keindahan hidup beragama yang rukun dan damai. Sebagai umat non-Hindu, tentu sudah selayaknya jika kita menghormati upacara yang sedang berlangsung, termasuk menghormati para umat Hindu yang sedang beribadah.
Sejatinya sebuah upacara agama, tentu ada beberapa proses suci yang musti dihormati. Sama seperti prosesi suci saat shalat, kebaktian dan misa. Alangkah indahnya suasana, jika kita menempatkan diri sebagai umat yang sedang beribadah dan ingin bersembahyang khusyuk. Kita sadar bahwa kehadiran orang lain yang tidak sedang bersembahyang bisa berpotensi mengurangi kekhusyukan tersebut.
Terkadang kita kerap kali menafikan unsur toleransi, tepa selira dan respek dalam bertugas dan berkarir. Tugas fotografer menjadi tak mulia lagi jika dalam proses memotret malah menginjak-injak etika dan mengingkari kesucian sebuah upacara suci agama. Toh, semua tanda dan rambu sudah dibuat panitia dan ada peringatan lisan dari pembaca acara melalui pengeras suara.
Kehadiran kita sebagai fotografer di sebuah acara sebenarnya merupakan kesempatan penting untuk memetik keuntungan. Fotografer bisa belajar banyak hal menyangkut subyek yang difoto, dan ini merupakan esensi penting sebuah kerja fotografi. Hal belajar tersebut termasuk mempelajari secara ringkas seluk beluk upacara yang sedang berlangsung. Syukur-syukur jika bisa mempelajari arti simbolisasi-simbolisasi yang dihadirkan dalam upacara tersebut.
Fotografi mustinya dimanfaatkan sebagai wahana belajar, dengan motivasi memperkaya diri dengan berbagai pengetahuan. Muaranya adalah mental yang dewasa, intelektualitas yang matang, dan kebijaksanaan yang kritis. Tanpa mental, intelektualitas dan kebijaksanaan maka niscaya fotografi hanyalah hasil rekaman kamera yang hampa dan tak membawa kebaikan bagi harkat hidup manusia.
Bulan Februari adalah bulan cinta dan kasih sayang. Begitu kurang lebih yang dirayakan banyak orang,
