Seorang pembaca setia Kompas, namanya Anna, mempertanyakan kenapa ada sebuah artikel di Kompas print, yang sebelumnya sudah ia baca di Kompasiana.
“Pertanyaan saya: Apakah ini kebijakan Kompas untuk menampilkan tulisan itu? Bukannya tulisan yang sudah dipublish di media apapun, termasuk blog, tidak boleh dimuat di media lain lagi?”
Pertanyaan lainnya yang diajukan adalah:”Atau, penulis yang mengirimkan tulisan itu setelah dimuat di blog
Kompasiana? Dan, Kompas tidak tahu hal itu? Mohon menjadi periksa akan hal ini karena demi kebaikan Kompas juga.”
Menanggapi hal ini tentu saya bersama Kang Pepih berusaha menelusurinya, yang akhirnya mendapat jawaban. Yakni bahwa si penulis mengirimkan ke dua alamat, yakni ke print dan ke Kompasiana. Teman2 di print rupanya tidak membaca bahwa tulisan itu sudah muncul di Kompasiana.
Saya tidak akan menceritakan siapa yang bersangkutan, tetapi dari pengalaman ini memang sebaiknya kita mengambil hikmahnya.
Hikmah pertama, kita senang bahwa para penulis di Kompasiana ternyata juga berkaliber untuk menjadi penulis di Kompas print. Para blogger di Kompasiana bukan sembarang blogger, tetapi mereka adalah para penulis handal dengan muatan yang bermutu, yang tampaknya memang berguna untuk kepentingan umum.
Hikmah kedua, “kesalahan pemuatan tadi” memberikan keyakinan bahwa someday siapapun bisa menjadi penulis artikel untuk Kompas print, yang sangat ketat seleksinya itu. Bayangkan setiap hari pada editor opini di Kompas print harus memilih tiga dari 150 artikel yang datang. Itu bukan pekerjaan yang mudah, bukan?
Di tengah kesibukan memilih artikel itu, tentu tidak semua mata editor dapat memelototi artikel apa saja yang sudah dimuat di mana pun. Karena itu, sering kali juga ada artikel yang sama dimuat di dua koran. Hal-hal yang merupakan kesalahan teknis ini selalu saja sulit dihindari. Namanya juga kerja harian.
Berangkat dari keadaan seperti itu, saya ingin mengimbau temen2 blogger untuk tidak membiarkan editor Kompas melakukan kesalahan dengan memuat artikel secara dobel. Artinya, kalau memang artikel itu dikirim ke Kompas print, kita harus menunggu sampai ada konfirmasi bahwa itu akan dimuat, atau sampai sudah dimuat. Kalau tidak, silakah ajukan penarikan artikel.
Seandainya artikel yang sama akan dikirim ke Kompasiana, kita juga harus sudah confirmed bahwa artikel itu tidak akan dimuat di print. Caranya banyak. Dengan email, semuanya beres, bukan?
Imbauan ini penting untuk diperhatikan teman2 karena sekali melakukan kesalahan serupa biasanya penulis tersebut lalu ditandai (lebih lembut daripada kata diblacklist). Kalau sudah diblacklist, agak lama untuk kembali masuk daftar sebagai penulis. Kecuali, kalau ada hal-hal yang sifatnya sangat istimewa.
Sebetulnya sekarang sedang memang ada wacana untuk menarik bloggers ke Kompas cetak, dalam rangka mempererat hubungan bathin antara Kompas sebagai lembaga dengan para pembacanya, para pencintanya, komunitasnya. Namun hal itu belum tuntas. Masih dalam pembahasan. Jadi teman2 harap sabar menanti!
Jadi sekali lagi, please untuk kebaikan kita bersama, kirimkanlah artikel atau tulisan Anda ke satu alamat saja: Kompasiana atau Kompas. Bahwa suatu saat tulisan di Kompasiana ada di Kompas print, biarlah kami dari pihak Kompas print yang memilihnya.
Pada kesempatan ini pula saya ingin menyatakan terima kasih kepada para penulis setia Kompasiana. Semoga tulisan-tulisan temen2 semakin berbobot, makin berguna bagi semua pihak pencinta Kompasiana. Apalagi dalam waktu dekat Kompasiana akan hadir dengan wajah baru, mudah-mudahan hal itu akan makin memberikan energi yang lebih besar bagi kita untuk tetap berkarya.
Salam…
Bulan Februari adalah bulan cinta dan kasih sayang. Begitu kurang lebih yang dirayakan banyak orang,
