Back to Kompasiana
Artikel

Umum

Arsitektur Warteg !

OPINI | 03 April 2009 | 21:38 Dibaca: 725   Komentar: 0   0

Pasti pernah makan di “warteg”, kan ? Warung Tegal adalah nama generik untuk semua warung makanan yg tempatnya bisa nyempil di ujung gang atau di jalan manapun. Beberapa “warteg” yg beramai – ramai jualan di suatu area juga sering disebut sbg food court amigos – agak minggir got sedikit. Resmi ataupun tidak resmi mereka selalu ada di sudut-sudut kota. Dimanapun di seluruh Indonesia pasti ada bentuk-bentuk warung spt ini. Entah itu di pasar, trotoar jalan, di gang buntu, dsb.

Tanpa disadari mereka sudah menjadi penanda kota dan merupakan tipe arsitektur yg setiap hari terlihat di depan mata, dianggap biasa, dibutuhkan, dicari, sekaligus siap dibuang bila sdh habis manisnya. Inilah ideologi “warteg” kita. Mereka ditandai dengan ruang usaha bermodalkan meja saji kayu dan bangku panjang. Jangan tanya konsep ruang kpd mereka. Buat mereka, konsep ruang melampaui teori ruang arsitektur. Ekonomi kreatif telah mereka lakukan jauh – jauh hari. Paling tidak kreatif menyiasati ruang usaha yg terbatas dan jarang tersedia layak bg mereka. Ada pedagang yg cukup bermodalkan gerobak dorong & terpal utk membuat ruang. Beberapa lagi mengambil sudut di gang, lalu pasang terpal lagi (terpal tenda biru & orange adalah their favorites !). Atau ada juga yg benar-benar memiliki ruang usaha dlm arti yg sesungguhnya – artinya ada dinding, lantai, dan ceiling seperti sewa di kios kecil.
Saya mengamati (bukan penelitian loh yaa !) ada sekitar 5 tipe “warteg” (pada tulisan ini kita sebut saja “warteg” utk kemudahan katagori) yg biasa terlihat :
1. “Warteg” yg asli.
Benar-benar warung yg sejarahnya dikelola oleh pendatang dari Tegal, dan menjual makanan, minuman utk pekerja kuli, bangunan, buruh, dsb. Bila dilihat ciri utamanya mereka menjual 5 – 10 jenis makanan olahan matang yg siap saji ala fast food. Konsepnya Anda datang, lihat, pilih, dan siap makan ! Inilah konsep “warteg”, yg akhirnya jadi sebutan generik seperti sebutan pralon utk semua jenis pipa, padahal Pralon sebenarnya adalah merk dagang pipa PVC. Lokasi “warteg”nya sendiri bisa berupa di kios kecil, atau ruang beratap terpal di pinggir jalan.
2. Warung ala gerobak K5.
Yang berikutnya ialah gerobak di pinggir jalan ala K5. Yg termasuk dalam katagori ini sbg contoh ialah : gerobak gado-gado, mie ayam, ketoprak, soto mie, gerobak minuman, gerobak sate, soto, dan teman-teman gerobak mereka yg setipe. Trotoar adalah lokasi favorit. Sedangkan bagi yg mobile mereka bisa keliling kampung, tinggal didorong. Gerobak mereka juga dgn cepat bisa memobilisasi diri bila tramtib datang. Tinggal gulung “ceiling” terpalnya dan langsung cabut. Ruang yg tercipta bisa muncul kapan saja, dimana saja, temporer, dan semi-permanent. Fleksibel sekali warung katagori ini, asal kuat ngedorong !
3. “Warteg” gadungan.
Sama seperti “warteg” asli, hanya yg dijual masakan Solo, Sunda, Tongseng, atau masakan siap saji lainnya seperti pecel ayam, bebek goreng, atau Gudeg Jogja. Konsepnya penyajian agak berbeda dgn “warteg” asli karena : pertama pasti yg jual bukan orang Tegal (he he he he). Kedua beda konsep penyajiannya yg ala fine dining jadi bahan mentah harus disiapkan & dimasak dulu baru disajikan ke pelanggan. Misalnya pada warung Tongseng. Atau ada juga siih yg siap santap juga sprti Gudeg. Intinya “warteg” yg penjualnya bukan orang Tegal dan bukan makanan siap saji, melainkan yg hrs dimasak / digoreng dulu juga sy kelompokan dlm katagori ini.
4. Warung Padang.
Ini juga merupakan katagori “warteg” hny asalnya dari pedagang masakan Padang. Masakannya ialah masakan kebangsaan Indonesia, sbb di bagian Indonesia manapun pasti ada warung Padang. Mulai dari Sederhana, Garuda, hingga Padang Bistro, atau yang seperti saya maksudkan di warung Padang ala K5 pinggir jalan. Konsep hidangan merupakan masakan matang siap saji dan disajikan di display kaca di atas meja atau etalase warungnya. Warung spt ini suka disebut Padang doaang siih biasanya.
5. “Warung Burger”.
Di bbrp pinggir jalan Jakarta juga ada warung keren jual burger yg punya sebutan cool : Booth Stand atau Non Permanent Stalls.
Nah, warung ini lebih keren sbb yg dijual juga burger. Dengan desain yg lebih kelihatan hari ini, modern, dan ditata dgn grafis tulisan penanda warung yg lebih casual, & eye catching mereka juga sdh menjadi kelompok warung – warung tadi yg menempati ruang usaha di tengah kota.

Aldo Rossi mengatakan bhw arsitektur dan kota muncul krn terjadinya perubahan yg alamiah oleh krn adanya kebutuhan (cek di buku The Architecture of The City hal 35). Sebagai contoh rumah pertama kali berfungsi sbg sheltered – pelindung krn adanya upaya utk adaptasi iklim & lingkungan tempat manusia berada, tidak memusingkan gaya, atau nilai estetika apapun. Maka goa sbg tempat tinggal pun jadi. Adanya kebutuhan manusia maka arsitektur itu tercipta. Arsitektur bukanlah gambar dan gedung. Arsitektur ialah upaya manusia beradaptasi mengatasi kebutuhan ruangnya. Entah itu ruang tinggal, ataupun ruang usaha. Karena itu utk mengerti tipe arsitektur kita harus juga melihat ke sisi belakang sejarah terciptanya. Dalam skala besar kita bisa melihat keberadaan kota, sedangkan dalam skala kecil bisa kita lihat yaa si “warteg” tadi. Bila pemerintah dan arsitek punya perhatian thd ruang usaha mereka maka kita bisa melihat potensi ekonomi yg bergerak di level marjinal dan menjadi penanda kota yg khas bagi kota. Akhirnya “warteg” tdk lagi jadi obyek penderita saja, tapi penampil di panggung kota yg layak tayang dan dilirik.

Gambar hanya alat penyampai pesan. Ia merupakan kode komunikasi arsitek. Sbgi contoh, utk melihat tipe arsitektur “warteg yg asli” sbgi kode arsitektur bisa dilihat dari makna simbolis yg selalu muncul sbg penandanya. Contohnya kita mulai dari elemen proyeksi tampak. Yg muncul ialah bukaan kayu tanpa kaca dan pintu dari bilah papan. Ruang memberi makna filosofis bhw “warteg” terbuka bagi siapa saja. Lalu di sisi dalam kita bisa catat adanya meja display kaca aluminum dan bangku kursi panjang utk orang duduk beramai-ramai. Nempel antar pelanggan dan jarak dimensi privasi yg tidak terbentuk, dan membuat semua yg makan berdempetan, memberi cermin bhw manusia itu setara, tdk ada perbedaan kelas, dan butuh makanan utk hidup, bukan sebaliknya. Bila kode-kode tadi sudah kita catat sbg penanda yg khas maka sebetulnya tinggal selangkah bagi arsitek sbg perancang utk siap mere-definisikan atau dgn kata lain merancang wujud (shape) baru bagi “warteg” agar lbh estetis agar lbh diperhatikan oleh regulator, shgg mereka gampang tdk terpinggirkan lagi.

Dari hal yg sederhana ini, “warteg” sbg ruang usaha & salah satu bentuk khas ruang usaha asli di berbagai kota Indonesia bisa kita coba maknai lagi kemungkinannya dari sisi estetis perancangannya. Ini merupakan tantangan bagi arsitek dan arsitektur kota itu sendiri. Sehingga tdk ada alasan lagi mereka ditolak & digusur. Kalau tertarik, silahkan mencoba makan di “warteg” ya anak-anak ! He he he he he he he………….

Dari seorang “warteg” Lover.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perjalanan Malam Hari di Jalur Pantura …

Topik Irawan | | 24 July 2014 | 15:41

“Telitinya” Petugas PT KAI dalam …

Iskandar Indra | | 24 July 2014 | 16:25

Indonesia Bikin Kagum Negara Tetangga …

Apriliana Limbong | | 24 July 2014 | 20:51

Berlibur Sejenak di Malaka …

G T | | 24 July 2014 | 15:51

Permohonan Maaf kepada Ahmad Dhani …

Kompasiana | | 24 July 2014 | 20:27


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: