Back to Kompasiana
Artikel

Umum

Musthofabisri

saya Musthofa Bisri, 24 Tahun, berdarah Madura kelahiran 29 April 1985 di sebuah desa terpencil selengkapnya

Tajdinun Nikah

OPINI | 17 April 2009 | 09:30 Dibaca: 1016   Komentar: 4   0

Ketika lagi sibuk bantu istri memasak, tiba-tiba poncel saya berdering, dilayar ponsel nomor yang memanggil tidak tercantum, biasanya saya tidak mau mengangkat. Tapi rasa penasaran saya akhirnya menggerakkan jemari saya untuk menekan tombol jawab.

Suara diujung telephone langsung menyapa akrab, tapi saya tidak kenal suara ini, saya potong pembicaraannya, saya tanya siap dia. “ini Adel,” jawabnya.

Pikirannya saya langsung begitu saja tahu siapa yang berbicara diujung telephone siang itu, satu-satunya Adel yang saya kenal adalah teman dan senior saya sewaktu masih nyantri di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Madura, enam tahun lalu.

”Ada apa? Tumben nelpon,” Tanya saya kemudian.

”Nanti malam ada acar dirumah, selepas sholat Magrib, datang ya, penting, saya perlu kamu,” jawabnya. Saya langsung mengiyakan undangan itu, telephone ditutup.

Seharian itu saya hanya leyeh-leyeh di rumah, makan, nonton, ngopi dan sesekali godain istri dan anak saya yang baru berusia enam bulan. ia tampan sekali, tidak mirip bapak atau ibunya. He…he…, ketika beberapa tetangga melihat anak saya, sering mereka nyeletuk, apakah Rama itu anak orang lain, yang mungkin tertukar di sewaktu melahirkan di rumah sakit. “Enak saja” gumamku dalam hati. Celetukan semacam itu tidak soal, karena waktu melahirkan di rumah sakit Ibnu Shina ramadan lalu, istri saya hanya sendirian dan saya menemaninya, jadi Rama adalah anak kami.

Tanpa terasa hari merangkak senja, ketika adzan maghrib berkumandang, istri sedikit merengut, ketika saya pamir keluar memenuhi undangan Adel, usai sholat magrib, ”makan dulu, saya sudah masakin,” kata Ima istri saya.

”Nanti malam saja, saya diundang Adel, saya sudah janji mau datang,” jawab saya. Sambil menyalakan motor Thunder kesayangan saya.

Rumah Adel tidal jauh dari rumah saya, masih satu kecamatan, hanya beda daerah. Tidak lebih dari setengah jam, sampai juga di rumah Adel, tapi rumah itu sepi, hanya ada beberapa sepeda motor parkir di halaman. ”katanya ada selamatan, kok sepi,” gumam saya dalam hati.
Adel tidak menyambut saya, ia hanya menyuruh saya masuk dengan suara lantang dari dalam rumah. Rupanya didalam, sudah ada Kamil, teman saya dan Adel sewaktu nyantri di Al-Amien. Usai bersalaman dan bertukar kabar, Adel memberi tahu saya bahwa ia dan istrinya akan melakukan tajdidun nikah atau memperbaharui nikah, acar akan dilangsungkan di rumah seorang habib, namanya Habib Mahmud, yang selama ini menjadi penasehat spiritual Adel. Saya dan Kamil diminta menjadi saksi.

Berlaksa pertanyaan langsung tumbuh di kepala saya, kenapa harus memperbaharui nikah, pikiran saya langsung melayang ke beberapa bulan sebelumnya, tepatnya sekitar November 2008. Ketika itu, di kalangan keluarga saya, beredar gosip bahwa Adel dan istri pisah rumah, setelah beberapa kali bertengkar hebat, bahkan gosipnya, kata telak sempat dilontarkan pada sang istri. Saya jadi mengerti kenapa penikahan mereka diperbaharui.

Magrib berlalu, isya mnjelang, kami memutuskan berangkat ke rumah Habib Mahmud, setelah sampai, si Habib rupanya sudah menunggu, setelah berbasa-basi.Habib Mahmud meminta Adel dan istrinya saling berhadapan. Saya dan kamil diminta duduk disamping Habib Mahmud.

Habib Mahmud meminta Adel mengikuiti perkataannya, begitu juga istri Adel, yang saya tangkap perkataan yang dibimbing Habib Mahmud berisi permintaan maaf baik dari sang suami kepada istri dan istri kepada suami. Ucapan maaf itu pakai bahasa indonesia, dengan dialek bahasa Banjar yang sangat kental.

Setelah Adel dan istrinya berikrar saling memaaafkan, akad nikah pun dimulai, perwalian sang istri hanya ditegaskan lewat selembar surtat yang ditulis sang ayah lengkap dengan tannda tangnnya. Berbekal itu, Habib Mahmud, membimbing Adel mengucapkan akah nikah yang kedua kalinya dengan istri yang sama. Acara berjalan lancar sampai selesai.

Saya tertegun dan berfikir keras, usai menyaksikan tajdidun nikah teman saya ini, saya berfikir tentang ilmu pernikahan yang sempat saya pelajari di pesantren dulu, saya jadi tahu, kenapa pernikahan Adel haru di perbaharui, penyebabnya karena dia pernah mengucapkan talak 1 kepada sang istri yang telah memberi satu orang putri yang imut sekali, pipinya tembem kayak bakpau.

Usai acara, Habib Mahmud mengatakan sekaligus berpesan bahwa seorang suami jangan mudah mengucapkan kata talak kepada istri, meski sedang terjadi pertengkaran hebat dan yang tidak kalah penting jangan sampai memukul istri. Rosullah dalam sebuah hadisnya, Kata Habib Mahmud, memang memperbolehkan memukul istri tapi bahan yang lunak, seperti satu batang lidi, tujuannya pun bukan untuk menyakiti tapi mendidik.

”gak boleh memukul bagian wajah istri,” kata Habib. Menurut Habib, kalau suami mengatakan telak, walaupun niatnya hanya main-main hukumnya tetap sah. Sehingga nikahnya harus diperbaharui agar lebih berkah.

Lebih jauh, Habib Mahmud menjelaskan, memperbaharui nikah atau dalam bahasa arab disebut Tajdidun Nikah, diperbolehkan untuk talak kategori dan satu dan dua, sementara untuk talak tiga tidak boleh diperbaharui.

Tapi kalau ada pasangan yang sudah talak tiga, namun ingin rujuk kembali, maka, Kata Habib Mahmud, si istri harus dinikahi dulu oleh orang lain atau disebut Mahallul dan harus berhubungan badan.

Setelah itu, mahallul boleh menceraikan istrinya, untuk kemudian bisa dinikahkan dengan suami yang telak menceraikannya dengan talak tiga tagi. ”Rugi donk dan enak jadi jadi mahallu”.

Diluar toa masjid dan musholla mengumandang adzan isya’, kami pamit pulang dan melanjutkan perjalanan ke Belauran untuk makan coto makasar, anggaplah sebagai upah saya dan kamil sudah mau menjadi saksi. Selama makan, saya melihat sinar bahagia di wajah Adel dan istrinya, mereka lebih saling perhatian dan semoga begitu sampai punya cucu kelak. Wassalam…..

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Lebaran di Jerman dengan Salad …

Gitanyali Ratitia | | 29 July 2014 | 16:53

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Visa on Arrival Turki Dihapus? …

Sifa Sanjurio | | 29 July 2014 | 06:03

Memilih Tempat yang Patut di Kunjungi, Serta …

Tjiptadinata Effend... | | 29 July 2014 | 19:46


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 28 July 2014 23:45

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 28 July 2014 22:40

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 28 July 2014 21:13

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 28 July 2014 18:24

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 28 July 2014 13:56

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: