Kompasiana
Jumat, 10 Pebruari 2012

Umum

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Aha

menulis adalah berpikir.

Meja dan Kursi, Ironi Pendidikan di Negeri Kita

OPINI | 22 April 2009 | 21:26 714 7 Nihil

Meja dan kursi adalah sarana pendidikan yang penting di sekolah karena dengan meja dan kursi itu para siswa bisa duduk manis mendengarkan guru mengajar. Harapannya, mereka akan jadi siswa pintar di kemudian hari. Syukur-syukur bisa menjadi Wakil Presiden seperti Pak Yusuf Kalla yang masih menyempatkan berdiskusi di blognya Kompas ini.
Masalahnya, ternyata meja dan kursi itu rumit ya urusannya. Harus ada anggaran dari negara, ditenderkan, diproduksi, baru bisa dikirim ke sekolah. Nah, para rantai birokrasi itu, meja dan kursi yang seharusnya dibuat dari kayu keras tetapi dalam banyak kasus hanya dibuat dari kayu lunak seperti sengon laut itu kadangkala menimbulkan masalah.
Dari Sukabumi, hari ini mengemuka masalah meja dan kursi itu. Rabu (22/4) siang, meja dan kursi Sekolah Dasar Negeri Cibolang ditarik lagi oleh pengusaha penyedia meja dan kursi untuk sekolah itu. Wartawan pun berbondong-bondong menyambangi sekolah. Wartawan masih mendapat gambar bagus ketika mebel itu dikeluarkan dari sekolah, dinaikkan ke pikap, dan diangkut meninggalkan sekolah.
Memang tidak ada tangisan murid yang kehilangan meja dan kursi itu, tetapi pemandangan siang tadi sungguh memilukan. Apalagi terdengar kabar kalau penyebab ditariknya meja dan kursi itu karena sekolah belum membayar kepada pengusaha. Lalu, tuduhannya tentu mengarah ke sekolah karena sejauh ini dana untuk pembelian meja kursi itu sudah diserahkan pemerintah ke sekolah.

meja dan kursi saat ditarik lagi dari SDN Cibolang, Gunung Guruh, Sukabumi, Jabar, Rabu (22/4)
Ternyata belakangan ada kabar lain yang menyebutkan, pengusaha penyedia mebel itu yang ingkar janji alias wanprestasi. Perjanjiannya menyebutkan bahwa pada 20 April seluruh meja dan kursi akan diantar oleh pengusaha itu ke sekolah dan sekolah melunasi pembayarannya. Kenyataannya, pengusaha baru mengirimkan 60 kursi sehingga sekolah tak bersedia membayar hingga tanggal yang disepakati.
Apapun masalahnya, siswalah yang menjadi korban. Mereka harus belajar di lantai sekolah menggunakan tikar. Ironis! Sekolah itu dan Jakarta hanya berjarak kurang dari 200 kilometer.
Di senayan, perebutan kursi juga sedang hangat-hangatnya. Apakah mereka yang akan menduduki kursi itu masih akan peduli dengan urusan kursi siswa-siswa SDN Cibolang. Ah, hanya mereka yang tahu….


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User



SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012