Back to Kompasiana
Artikel

Umum

Purwalodra

Saya, M. Eko Purwanto, yang memiliki namapena Purwalodra. Kegiatan saya sehari-hari Menulis. Saya sangat senang selengkapnya

Jalan Pikiran dan Jalan Jiwa

OPINI | 29 April 2009 | 01:24 Dibaca: 194   Komentar: 0   0

Pembuktian adanya jalan fikiran dan jalan jiwa memang tidak semudah menetapkan jalan lurus atau berbelok. Metode pembuktiannya memerlukan pengalaman, pengetahuan dan bersinerginya lima indra yang kita miliki. Ketika kita menggunakan akal dari fikiran kita untuk memilih, maka fikiran kita selalu merujuk kepada pengalaman, pengetahuan dan semua indra kita. Namun, banyaknya pengalaman hidup kita mengharuskan kita bertindak dan melakukan seuatu tanpa pengalaman, tanpa pengetahuan dan tanpa bekerjanya kelima indra kita, sehingga tindakan untuk mengambil keputusan hanya mengandalkan keyakinan semata.

Sebagai contoh, sekarang ini banyak para caleg mengalami depresi mental yang berat, bahkan yang saya ketahui ada caleg yang sampai berani bunuh diri segala. Dari kasus para caleg inilah saya terusik untuk menjlentrehkan sedikit tentang apa itu jalan fikiran dan apa sih jalan jiwa, agar kita-kita yang belum sempat depresi ini bisa memilih mana jalan yang terbaik untuk kita lalui, dalam rangka menjalani hidup yang cuma sebentar ini.

Seperti yang telah saya katakan pada tulisan-tulisan saya sebelumnya, bahwa keyakinan tanpa dibumbui pengalaman, pengetahuan dan bersinerginya panca indra merupakan keyakinan yang lemah. Tetapi keyakinan yang berdasar kepada pen-galaman, pengetahuan dan panca indera merupakan keyakinan yang sempurna. Dengan demikian, keyakinan manusia yang baik adalah keyakinan yang berdasarkan kepada pengalamannya, pengetahuannya dan panca inderanya. Makanya wajar-wajar aja, kalau sekolah atau pendidikan adalah sarana untuk membangun pengalaman, pengetahuan dan wadah untuk mengasah panca indera kita, demi lahirnya keyakinan yang kuat, ya paling tidak, keyakinan untuk mendapatkan pekerjaan yang baik sesuai keinginannya, dan pada akhirnya adalah keyakinan untuk menjadi manusia Indonesia seutuhnya.

Apabila pengalaman, pengetahuan dan indra-indra seseorang tidak mampu membangun keyakinan, maka orang tersebut dikatakan sebagai orang yang tidak percaya diri. Orang-orang yang tidak percaya diri adalah orang yang paling lemah di dunia, karena apa yang diniatkan, diinginkan dan dicita-citakan akan sulit terwujud. Lain halnya, jika seseorang yang memiliki kepercayaan diri tinggi, ia akan mampu merubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, ia akan mampu menciptakan sesuatu yang belum ada menjadi ada, dan banyak lagi yang lainnya. Namun, tidak kecil tantangan yang dihadapi oleh orang-orang yang memiliki kepercayaan tinggi, tantangan yang paling berat adalah dirinya sendiri. Mampukah seseorang konsisten dengan keyakinannya tersebut ? sementara orang-orang yang tidak percaya diri menghalang-halanginya agar keyakinannya hancur.

Menurut pengalaman, seseorang yang memiliki keyakinan tinggi, jarang sekali membicarakan keyakinannya terhadap keinginan, rencana, dan cita-citanya, kepada orang lain. Karena kepercayaan diri untuk menjalani hidup yang belum diketahui (baca diyakini) adalah misteri yang paling indah di dunia ini. Jika apa yang kita lakukan sudah diketahui ending-nya, maka apa yang kita lakukan itu hanya bernilai rutinitas belaka. Makanya banyak orang-orang bijak melakukan pekerjaan tanpa kepentingan apapun, tanpa berharap hasil secara material (baca financial) apapun. Sehingga apa yang dilakukannya akan bernilai ikhlas, dan apa yang dihasilkannya bernilai keberserahan kepada Allah Swt.

Dari uraian singkat diatas, saya bisa menarik benang merah terhadap judul yang telah saya tentapkan, bahwa ketika kita mempercayai sesuatu yang belum kita ketahui namun terus kita ikhtiarkan maka kita telah menempuh jalan jiwa. Dan ketika kita mempercayai dan melakukan sesuatu yang sudah kita ketahui (dalam fikiran), maka ini yang saya sebut sebagai jalan fikiran.

Jalan fikiran dan jalan jiwa, menurut saya adalah sama-sama baik, namun kekuatan jalan fikiran lebih rendah daripada jalan jiwa. Kemampuan untuk mewujudkan keinginan menjadi wujud yang fisik lebih kuat dengan jalan jiwa. Para ahli psikologi, kesadaran menggunakan jalan fikiran hanya memiliki kekuatan 12 % saja, sementara kekuatan untuk menggunakan jalan jiwa dalam merealisasikan keinginan, kekuatannya mencapai 88 %. Lalu bagaimana kita bisa mengatakan bahwa jalan yang kita lalui itu jalan fikiran dan bagaimana pula kita mengatakan bahwa jalan yang kita gunakan adalah jalan jiwa ?

Untuk mengetahui mana jalan fikiran dan mana jalan jiwa, sangatlah sederhana. Ketika kita melakukan pekerjaan atau menginginkan sesuatu untuk terwujud dalam hidup kita, adakah kepentingan dan harapan kepada pekerjaan dan keinginan kita, di sana ?, kalau masih ada maka jalan yang kita lalui adalah jalan fikiran. Kemudian, ketika kita melakukan pekerjaan atau menghendaki sesuatu hadir dalam hidup kita, tanpa kepentingan dan harapan apapun, kecuali keberserahan kepada Allah Swt, dan bisa tetap fokus dalam menyelesaikan pekerjaan yang kita lakukan, maka inilah yang saya sebut sebagai jalan jiwa.

Jadi kata kunci untuk mengetahui mana jalan jiwa dan mana jalan fikiran terletak kepada nilai-nilai keikhlasannya dan keberserahannya. Lalu, apa konsekwensi dari penggunaan kedua jalan tersebut ?. Mudah saja, konsekwensi ketika kita menggunakan jalan fikiran adalah depresi, pada saat kepentingan dan harapannya tidak kesampaian. Namun penggunaan jalan jiwa tidak memiliki konsekwensi apapun, selain terciptanya realitas hidup yang damai dan wujud keinginan secara fisik.

Nah, kalau sekarang ini kita menyaksikan banyak sekali caleg mengalami depresi, gara-gara perolehan suaranya tidak menenuhi target satu kursi, bisa kita pastikan bahwa mereka hanya menggunakan jalan fikiran saja, tidak menggunakan jalan jiwa. Tapi buat para caleg yang depresi pun tidak perlu kuatir kok, karena sebentar lagi KPU mau membentuk Lembaga Trauma Nasional (LTN) untuk menampung dan memberikan konsultasi cuma-cuma kepada para caleg yang mengalami depresi mental tersebut.

Bekasi, 23 April 2009.

Oleh Purwalodra

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Deng Xiaoping dan Diplomasi Tiongkok …

Aris Heru Utomo | | 23 August 2014 | 09:52

Pihak Jokowi-JK Sudah Tepat Bila Mengadopsi …

Abdul Muis Syam | | 23 August 2014 | 03:40

Mana Gaya Manajemen Konflik Anda? …

Pical Gadi | | 23 August 2014 | 07:51

Cara Merawat “Suami” Kedua …

Mbak Avy | | 23 August 2014 | 10:09

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58


TRENDING ARTICLES

Dapatkah MK Dipercaya? (2) …

Pecel Tempe | 13 jam lalu

Mulianya Hamdan Zoelva, Hinanya Akil Mochtar …

Daniel H.t. | 15 jam lalu

Ada Foto ‘Menegangkan’ Ibu Ani …

Posma Siahaan | 16 jam lalu

Mempertanyakan Keikhlasan Relawan Jokowi-JK …

Muhammad | 16 jam lalu

Pesta Perkawinan Mewah, Apa Ngaruh dalam …

Ifani | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: