Umum
Lihat Profil    Jadikan teman    Kirim Pesan
Sampai sekarang masih setia sebagai dosen UI. Sudah sekitar tiga tahun bantu-bantu di Kadin Indonesia. Digembleng sebagai peneliti, tapi sekarang tak sempat lagi, paling banter berikan gagasan dan arahan. Berharap lebih mencurahkan waktu untuk lebih banyak menulis. Gemar minum kopi, terutama kopi luwak dan caramel frappucino-extra double shoots-avogato style. Lahir di Bandung, 6 November 1959.
Sisi Lain Pak Boed yang Saya Kenal
Faisal Basri
|  14 Mei 2009  |  18:37
39160
457
Belum ada nilai.

Saya pertama kali mengenal Pak Boed pada akhir 1970-an lewat buku-bukunya yang enak dibaca, ringkas, dan padat. Kalau tak salah, judul-judul bukunya selalu diawali dengan kata ”sinopsis,” ada Sinopsis Makroekonomi, Sinopsis Mikroekonomi, Sinopsis Ekonomi Moneter, dan Sinopsis Ekonomi Internasional. Kita mendapatkan saripati ilmu ekonomi dari buku-bukunya yang mudah dicerna.

Pada suatu kesempatan, Pak Boed mengutarakan pada saya niatnya untuk merevisi buku-bukunya itu. Mungkin ia berniat untuk menulis lebih serius sehingga bisa menghasilkan buku teks yang lebih utuh. Kala itu saya menangkap keinginan kuat Pak Boed untuk kembali ke kampus dan menyisihkan waktu lebih banyak menulis buku. Karena itu, ia tak lagi berminat untuk kembali masuk ke pemerintahan setelah masa tugasnya selesai sebagai Menteri Keuangan di bawah pemerintahan Ibu Megawati.

Pak Boed dan Pak Djatun (Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Menko Perekonomian) bekerja keras memulihkan stabilitas ekonomi yang “gonjang-ganjing” di bawah pemerintahan Gus Dur. Hasilnya cukup mengesankan. Pertumbuhan ekonomi mengalami peningkatan terus menerus. Di tengah hingar bingar masa kampanye seperti dewasa ini, Ibu Mega ditinggalkan oleh wapresnya, dua menko, dan seorang menteri (Agum Gumelar). Ternyata perekonomian tak mengalami gangguan berarti. Kedua ekonom senior ini bekerja keras mengawal perekonomian. Hasilnya cukup menakjubkan. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan keempat 2004 mencapai 6,65 persen, tertinggi sejak krisis hingga sekarang.

Selama dua tahun pertama pemerintahan SBY-JK, perekonomian Indonesia mengalami kemunduran. Tatkala muncul gelagat Pak SBY hendak merombak kabinet, sejumlah kawan mengajak Pak Boed bertemu. Niat para kolega ini adalah membujuk Pak Boed agar mau kembali masuk ke pemerintahan seandainya Pak SBY memintanya. Agar lebih afdhol, kolega-kolega saya ini juga mengajak Ibu Boed. Mungkin di benak mereka, Ibu bisa turut luluh dengan pengharapan mereka. Akhirnya, Pak Boed menduduki jabatan Menko Perekonomian. Mungkin sahabat-sahabat saya itu masih terngiang-ngiang sinyal penolakan Pak Boed dengan selalu mengatakan bahwa ia sudah cukup tua dan sekarang giliran yang muda-muda untuk tampil. Memang, Pak Boed selalu memilih ekonom muda untuk mendampinginya: Mas Anggito, Bung Ikhsan, Bung Chatib Basri, Mas Bambang Susantono, dan banyak lagi. Semua mereka lebih atau jauh lebih muda dari saya.

Interaksi langsung terjadi ketika Pak Boed menjadi salah seorang anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN). Saya ketika itu anggota Tim Asistensi Ekonomi Presiden (anggota lainnya adalah Pak Widjojo Nitisastro, Pak Alim Markus, dan Ibu Sri Mulyani Indrawati). Ibu Sri Mulyani memiliki jabatan rangkap (jadi bukan sekarang saja), selain sebagai anggota Tim Asistensi juga menjadi sekretaris DEN. Pak Boed tak pernah mau menonjolkan diri, walau ia sempat jadi menteri pada masa transisi.

Sikap rendah hati itulah yang paling membekas pada saya. Lebih banyak mendengar ketimbang bicara. Kalau ditanya yang “nyerempet-nyerempet,” jawabannya cuma dengan senyuman. Saya tak pernah dengar Pak Boed menjelek-jelekkan orang lain, bahkan sekedar mengkritik sekalipun.

Tak berarti bahwa Pak Boed tidak tegas. Seorang sahabat yang membantunya di kantor Menko Perekonomian bercerita pada saya ikhwal ketegasan Pak Boed ketika hendak memutuskan nasib proyek monorel di Jakarta yang sampai sekarang terkatung-katung. Suatu waktu menjelang lebaran, Pak Boed dan sejumlah staf serta, kalau tak salah, Menteri Keuangan, dipanggil Wapres. Sebelum meluncur bertemu Wapres, Pak Boed wanti-wanti kepada seluruh stafnya agar kukuh pada pendirian berdasarkan hasil kajian yang mereka telah buat. Pak Boed sempat bertanya kepada jajarannya, kira-kira begini: “Tak ada yang konflik kepentingan, kan? Ayo kita jalan, Bismillah …  Keesokan harinya, saya membaca di media massa bahwa sekeluarnya dari ruang pertemuan dengan Wapres, semua mereka berwajah “cemberut” tanpa komentar satu kata pun kepada wartawan.

Adalah Pak Boed pula yang memulai tradisi tak memberikan “amplop” kalau berurusan dengan DPR. Tentang ini, saya dengar sendiri perintahnya kepada Mas Anggito.

Ada dua lagi, setidaknya, pengalaman langsung saya berjumpa dengan Pak Boed. Pertama, satu pesawat dari Jakarta ke Yogyakarta tatkala Pak Boed masih Menteri Keuangan. Berbeda dengan pejabat pada umumnya, Pak Boed dijemput oleh Ibu. Dari kejauhan saya melihat Ibu menyetir sendiri mobil tua mereka.

Kedua, saya dan isteri sekali waktu bertemu Pak Boed dan Ibu di Supermarket dekat kediaman kami. Dengan santai, Pak Boed mendorong keranjang belanja. Rasanya, hampir semua orang di sana tak sadar bahwa si pendorong keranjang itu adalah seorang Menko.

Banyak lagi cerita lain yang saya dapatkan dari berbagai kalangan. Kemarin di bandara Soekarno-Hatta, setidaknya dua orang (pramugara dan staf ruang tunggu) bercerita pada saya pengalaman mengesankan mereka ketika bertemu Pak Boed. Seperti kebanyakan yang lain, kesan paling mendalam keduanya adalah sikap rendah hati dan kesederhanaannya.

Dua hari lalu saya dapat cerita lain dari pensiunan pejabat tinggi BI. Ia mengalami sendiri bagaimana Pak Boed memangkas berbagai fasilitas yang memang terkesan serba “wah.” Dengan tak banyak cingcong, ia mencoret banyak item di senarai fasilitas. Kalau tak salah, Pak Boed juga menolak mobil dinas baru BI sesuai standar yang berlaku sebelumnya. Entah apa yang terjadi, jangan-jangan mobil para deputi dan deputi senior lebh mewah dari mobil dinas gubernur.

Kalau mau tahu rumah pribadi Pak Boed di Jakarta, datang saja ke kawasan Mampang Prapatan, di belakang Hotel Citra II. Kebetulan kantor kami, Pergerakan Indonesia, persis berbelakangan dengan rumah Pak Boed. Rumah itu tergolong sederhana. Bung Ikhsan pernah bercerita pada saya, ia menyaksikan sendiri kursi di rumah itu sudah banyak yang bolong dan lusuh.

Bagaimana sosok seperti itu dituduh sebagai antek-antek IMF, simbol Neoliberalisme yang bakal merugikan bangsa, dan segala tuduhan miring lainnya. Lain kesempatan kita bahas tentang sikap dan falsafah ekonomi Pak Boed. Kali ini saya hanya sanggup bercerita sisi lain dari sosok Pak Boed yang kian terasa langka di negeri ini.

Maju terus Pak Boed. Doa kami senantiasa menyertai kiprah Pak Boed ke depan, bagi kemajuan Bangsa.


Sebarkan Tulisan:
Tanggapan Tulisan
Mas Bodeng
14 Mei 2009 18:49
0

Ini baru cerita betul, dan saya sangat yakin kebenarannya karena setau saya sudah dua orang di KOMPASIANA yang bercerita seperti ini. Emang orang Indonesia pikirannya jelek melulu, gimana mau maju kalo begitu……..

14 Mei 2009 18:53
0

Pak Faisal, mohon diberikan juga masukan kepada kita tentang pandangan ekonomi kerakyatan menurut Pak Boed. Karena kita sering mendengar kabar miring tentang pemikiran Pak Boed yang tidak berpihak kepada kerakyatan. Kita tidak ingin menerima asumsi orang terhadap sikap dan pendirian Pak Boed terhadap pengembangan negeri ini (yang bisa jadi memberikan pendapat yang menjatuhkan).

Kesederhanaan dan orang yang tidak banyak bicara telah sering kita dengan, namun sikap tegas didalam mengambil keputusan dan analisa beliau terhadap ekonomi secara langsung, jarang kami dengar. Mohon bantuannya.

Terima kasih.

14 Mei 2009 18:58
0

Tulisan Anda menambah sympathie saya pada Anda mas Faisal, meski tdk mengenal Boediono inperson, tapi hasil kerjanya terasa pada rakyat, pengusaha kecil. Negara ini butuh negarawan yang ahli,lebih daripada politician yang memperjuangkan golongan,dan masalah kemiskinan adalah diatas semua golongan, dan banyak membuat lingkaran setan dinegeri ini.

ferry
14 Mei 2009 19:00
0

Dear Pak Faisal Basri yang saya hormati dan Panuti,

Memang banyak informasi yang beredar saat ini yang cenrung memojokkan Pak Boed, mungkin termasuk saya yang bodoh dan picik ini, karena masalah informai yang datang ke saya agak jauh dan amat kurang tentang sosok Pak Boed… Jujur saja, informasi yang memojokkan Pak Boed ini di hembuskan ke saya melalui pembicaraan-pembicaraan informal, kebanyakan informasinya dari orang-orang Partai, yang salah satunya Partai yang sudah lama beredar. Sekadar informasi tambahan, saat ini saya memang masih menjadi anggota Partai, yang mana kebijakkannya juga tidak sepaham dan tidak sejalan dengan Partai Pemenang Pemilu Legislatif 2009 ini.
Dalam beberapa hari ini, sejak ada seliweran angin yang berhembus, kalau Pak Boed akan diusung menjadi CaWaPres yang akan mendampingi SBY - CaPres. saya banyak mencari informasi lebih banyak lagi tentang Pak Boed, termasuk informasi yang yang barusan saya baca dari Pak Faisal Basri ini.
Setelah membaca tulisan Pak Faisal Basri ini “Pak Boed yang saya kenal” saya agak mendapat pencerahan. Mudah-mudahan, mimpi dan keinginan saya atas negara ini untuk bisa maju kedepannya, sama dengan mimpi dan harapan Pak Faisal basri yang saya sungguh hormati dan saya panuti; dan juga mimpi dan harapan semua warga lainnya.

Sekali lagi, terima kasih banyak Pak Faisal Basri, atas informasi dan pencerahannya…!

Salam dari saya

Ferry

widodo lestari
14 Mei 2009 19:13
0

Tulisan Pak Faisal ini sungguh menyejukkan. Integritas Pak Faisal Basri tidak dapat dikesampingkan sehingga tidak mungkinlah kalau tulisan itu hanya sekedar untuk mendapatkan perhatian dari pemenang percaturan politik sekarang ini. Bravo Pak Faisal.

Saya juga tidak tahu, apakah mereka yang menolak Pak Boed dengan alasan neo-lib bener-bener paham pemikiran Pak Boed? Jangan-jangan mereka juga antek kapitalis yang karena duet Pak Boed-Sri Mulyani kemarin mendapatkan kesusahan?

Sedih juga rasanya Pak Boed yang sederhana dan santun itu ditolak melalui demo besar-besaran, dengan spanduk seragam di banyak tempat. Politik memang tidak mengenal hati!

Sapariah
14 Mei 2009 19:14
0

Figur Boediono memang orang yang baik. Dia rendah hati, sederhana…….so sweet…….

Kehebohan sekarang ttg tuduhan Boediono antek IMF, kapitalis itu lebih pada ungkapan orang yang sudah kena korban ‘politik’.

Banyak yang meributkan masalah kapitalis, neo liberalisme, masalah besar lain yang ada seakan dilupakan: capres-cawapres Pelanggar HAM. Nah, kalau yg ini waspadalah, waspadalah. Dan jauhilah!!!!

Andre
14 Mei 2009 19:24
0

Bung Faisal,
mdh2an tulisan bung ini dapat membuka mata orang2 yg sirik,sok tahu dll. dan juga meyakinkan
masyarakat bahwa pilihan pak SBY tepat adanya. Ngomong2 saya juga mengusulkan bung Faisal
sebagai DirJen Pajak,pengganti pak Darmin,atau sebagai salah satu posisi di kabinet yad,salam.

Vivian
14 Mei 2009 19:28
0

wow…sungguh pribadi yang mengesankan.
Terima kasih infonya pak Faisal, semoga pilihan pak SBY ini adalah keputusan yang tepat dan terbaik.
Maju terus Indonesia!!

edi
14 Mei 2009 19:29
0

Malam pak Faisal,
Terima kasih atas cerita tentang pak Boediono…., yang tentu saja tidak semua orang mengenal/mengetahui pak Boediono lebih dekat.
Hingar bingar politik sekarang ini membuat orang menjadi sok tahu (padahal tidak tahu sama sekali). Pak Boediono sebagai menko ekuin dan gubernur bi….. mereka2 tidak ada komentar2 spt itu, begitu pak Boediono terpilih sebagai cawapres…., barulah keluar komentar2 yang sok tahu, bahkan “dilengkapi” dengan demonstrasi segala….
Kami tunggu pencerahan2 berikutnya mengenai pak Boediono, salam.

Andi Masri
14 Mei 2009 19:38
0

Tulisan bung Faisal ini seakan membenarkan pandangan saya yg orang awam dan jauh dari pak Boediono ini bahwa beliau ekonom yang santun, lebih banyak bekerja daripada cuma bicara saja, tapi yang saya sayangkan kenapa beliau mau diajak mencalonkan diri jadi wapres, akan lebih banyak manfaatnya bila beliau berada diposisi yang benar2 membutuhkan keahliannya seperti saat ini, we need the right man on the right place, biarlah politik diurus oleh orang lain saja, Pak Boediono tetap mengurus masalah ekonomi Indonesia.

Muhammad Noer
14 Mei 2009 19:44
0

Terima kasih atas tulisan ini Pak Faisal. Terus terang saya tidak mengenal Pak Boediono termasuk sepak terjangnya. Tapi melihat penampilan dan cara berbicaranya saya melihat beliau orang yang sederhana.

Insya Allah merupakan pilihan yang tepat bagi bangsa.

14 Mei 2009 19:53
0

Seorang sahabat mengirim SMS pada saya mengatakan kehadiran Pak Boed membuat dia kembali optimistik tentang negeri ini setelah sebelumnya nyaris putus asa. Mungkin ia berlebihan. Semoga saja kita semua makin tergerak untuk lebh banyak berbuat.

Saya berusaha untuk menulis terkait dengan tuduhan Neolib yang melekat pada Pak Boed.

Terima kasih banyak atas komentar-komentarnya.

ari sukmayadi
14 Mei 2009 20:03
0

Sy heran dengan komentar2 yang ada.
Sy bukan pendukung SBY, tapi komentar2 yang ada terlalu berlebihan memojokan SBY dan justru suatu saat akan dengan mudah dipatahkan oleh SBY.
Pemilihan Boediono, apa yang salah dengan dia ?
Kalau betul2 menjadi antek asing, mana paparan buktinya ?
Kalau memang benar, kenapa baru ribut sekarang ?
Ketika dipilih sebagai Menko Ekonomi pada saat reshufle, kenapa tidak ada yang ribut ?
Ketika dipilih menjadi Gubernur BI, kenapa tidak ada yang protes ?
Yang ada malah pujian dan dukungan.
Bukankah ketika orang berhasil menjalankan tugasnya, wajar kalau diberikan kepercayaan yang untuk posisi yang lebih tinggi ?
Apalagi orang tersebut tidak ambisius.

ison
14 Mei 2009 20:05
0

terimakasih mas faisal atas info tentang pak boed. tuduh2an terhadap pak boed yang dilancarkanoleh segelintir orang memang luar biasa zhalimnya. saya membaca tuduh2an tersebut terkadang bertanya juga dalam hati apa iyaa seperti yang dituduhkan. pak boed juga tak menanggapi. tapi setelah mas faisal ungkapkan the real character dari pak boed..ya iyalah..orang pak boed itu enggak kemaruk dengan jabatan. mungkin2 malah bersyukur kalo tidak terpilih. duh..ya Allah selamatkan negeri kami ini ….perkenankanlah dan tujukilah kami agar dapat memilih pemimpin yang jujur dan amanah. amin

edi
14 Mei 2009 20:10
0

@sapariah
Betul banget tuh….., bagi bloger kompasiana yang punya info jelas dan akurat mengenai cawapres yang terkait dengan pelanggaran HAM untuk menulis sejelas2nya dan selengkap2nya di KOMPASIANA.

Yta Gultom
14 Mei 2009 20:11
0

Dear Faisal,
Saya merasa ‘feeling’ saya betul…. kenapa para anggota DPR berkomentar miring mgn issue pak Boed akan ‘dipinang’ menjadi cawapres….. Ternyata selama ini beliau “anti” memberi amplop kepada mereka….. Biarkan saja mereka ribut2 dan juga para politisi yg merasa “tak diajak bicara” itu saling menggerutu…. rakyat sudah bosan dengan ‘acting’ seperti itu…. Rakyat hanya ingin hidupnya aman, anak2 bisa sekolah, bisa makan 3 x sehari …..
Insya Allah kalau Allah berkehendak, pak Boed akan bisa meneruskan perjuangannya membawa Indonesia menuju negara yg lebih baik…. sebagai seorang wakil presiden…. Amiinn…

ari sukmayadi
14 Mei 2009 20:18
0

Permasalahan lain yang diungkap oleh partai2 “islam” yang memprotes pemilihian Boediono adalah karena menganggap Boediono tidak mewakili umat. Emangnya umat yang mana sih ? Apakah ada legitimasi khusus bahwa pengurus partai2 “islam” itu dianggap mewakili umat ?
Hal lainnya adalah faktor Jawa- NonJawa.
Kenapa harus selalu dipermasalahkan faktor yang satu ini ?
Semakin dipaksakan adanya faktor Jawa-NonJawa, ya semakin susah kita menghayati kebhinekaan kita.
Kalau pengamat tidak banyak mempermasalahakn faktor “SARA”, saya kira pemilih pun tidak terlalu banyak yang mempermalahkan

Wahid Supriyadi
14 Mei 2009 20:18
0

Yth Bung Faisal, cerita anda menarik sekali dan saya pun pernah mengalaminya. Ketika penempatan pertama saya di KBRI Canberra (1990) saya sempat menjabat Act. Kabid Konsuler merangkap Protokol. Saya terkejut ketika diberitahu oleh staf bahwa Pak Boed (kalau tidak salah ketika itu beliau menjabat sebagai salah seorang pejabat senior di Bappenas)datang ke Konsuler dan antri untuk lapor diri. Saya segera keluar menemui beliau dan menanyakan mengapa tidak memberi tahu KBRI kalau beliau mau datang ke Canberra dan KBRI dapat menjemput beliau. Beliau dengan santun menjawab itu urusan pribadi karena mau menemui anaknya yang belajar di Canbarrea dan beliau patuh dengan aturan yang berlaku. Itu juga yang membuat saya tak habis pikir kalau beliau dituduh sebagai antek IMF. Saya ketemu Bung di Melbourne (mungkin Bung lupa) dan sekarang di Abu Dhabi.

Salam.

Lambok Tambunan
14 Mei 2009 20:24
0

Bagaimana Indonesia bisa maju, setara dengan bangsa lain, kalo mental para pemimpin partai masih memiliki sifat iri, dengki dan hanya memikirkan kepentingan pribadi/partai dan bukan memikirkan kemajuan bangsa, maju terus SBY-BOEDIONO, Bapak-bapak pasangan yang tepat…

reza kurnia
14 Mei 2009 20:30
0

hebat pak budiono,,,,,
maju terus ALLAH SWT bersama kita,,,,

Yudhistira Abyasa
14 Mei 2009 20:32
0

mmm…

hartanto
14 Mei 2009 20:35
0

Sebagai bekas muridnya di sekitar tahun 90-an (tepatnya lupa tapi kira2 tahun 93-94) mungkin sangat subyektif kalau saya ikut memuji kepribadian Pak Bud. Namun semua yang disampaikan Bank Faisal dan teman-teman di atas bukan merupakan sanjungan atau suatu pujianbelaka. Pak Bud, tepatnya Pak Budiono, Mec. biaya biasa beliau dipanggil di kampus (untuk membedakan dosan2 lain yang kebetulan nama depannya sama) merupakan sosok yang sangat diperlukan dalam tim ekonomi, selain Ibu Sri Mulyani dan beberapa ekonom muda lainnya. Namun demikian sebagai awan, saya masih belum bila melihat posisi yang terbaik untuk Pak Bud apakah tetap di tim ekonomi seperti sekarang ini atau berada di posisi Wapres. Mohon pencerahan dari dari teman-teman yang lebih memahami…..

Rahardjo
14 Mei 2009 20:36
0

Mas Faisal ……
Betul sekali apa yang mas faisal tulis mengenai Pak Boediono, tahun 1970an saya sempat menjadi mahasiswanya beliau mengajar makroekonomi, pembawaannya dari dulu tidak berobah kalem dan menyejukan, 10 tahun kemudian saya bertemu beliau dipesawat dari yogya-jkt tak disangka masih ingat saya dulu mahasiswanya , malah meledek wah mas sudah menjadi pejabat ya.
Karena di-bujuk2 koleganya itulah Pak Bud mau menjadi menteri Keuangan, walau sudah didahului/ disalip sama bekas mahasiswanya yaitu Fuad Bawazir menjadi Menteri Keuangan jaman Pak Harto dan Bambang Sudibyo menjadi menteri keuangan ketika Presidennya Bu Mega, mungkin beliau2 ini tahu persis Pak Boediono…. trims Mas …..salam

Irianto
14 Mei 2009 20:39
0

Yang terhormat Mas Faisal Basri
Saya tidak mengenal Pak Boed secara pribadi, begitu juga dengan mas Faisal Basri. Saya membaca tulisan anda yang penuh dengan rasa hormat, kagum, kepada Pak Boed sungguh itu dapat kami jadikan harapan akan datangnya nurani dalam pemerintahan SBY kedepan. Referensi yang saya punya hanya anda yang saya lihat di tv atau tulisan2 mas Faisal buat sungguh sebuah kejujuran yang mulai langka.
Terima kasih.

Puad Hasan Dipaleksana
14 Mei 2009 20:39
0

Klarifikasi dari seorang sekaliber Faisal Basri yang kredibel dan memiliki integritas memang diperlukan sebagai penyeimbang –bahkan counter– atas berita dan informasi yang mencitrakan negatif pada Pak Boediono. Di tengah tarik-menarik politik antar parpol, dan kompetisi dalam pilpres, tentu sisi-sisi yang selama ini jarang / tidak diketahui publik sangat penting diungkapkan bukan sebagai ‘kampanye pencitraan’ namun lebih sebagai penyampaian informasi yang obyektif.

Terima kasih Pak Faisal…

Arif
14 Mei 2009 21:01
0

Tudingan miring & demontrasi bisa jadi sengaja ditunggangi oleh kepentingan politik dari “mereka” yang merasa akan semakin sempit kesempatan untuk menikmati sebagian kenikmatan falilitas & berbagai macam tunjangan dari “duit rakyat” yang mereka terima selama ini bila pak boed terpilih nanti. Negara ini butuh sosok yang tegas & peduli akan nasib bangsa ini, bukan orang yang mengatasnamakan rakyat tapi tidak berpihak pada rakyat…tapi itulah politik..terlalu tipis sekat antara hitam dan putih…
Bravo pak boed…maju terus…

Edo Segara
14 Mei 2009 21:07
0

Faisal Basri sealiran dengan Boediono, jadi jelas aja mendukung Boediono. Siapa tau dengan mendukung kan dapet jatah menteri ato apa kek? Betul gak Bang Faisal? He3..

Salam,
Edo Segara

Ali Yathas
14 Mei 2009 21:17
0

sebagai pribadi sy jg salut dgn prestasi dr pak budiono, kasusnya mungkin hampir sama dgn pak habibie, sama2 ahli dibidangnya tp ketika masuk didunia lain yaitu politik ceritanya akan lain, betullah komentar salah satu teman diatas, pak budiono adalah the right man in the wrong place. mengingat jabatan wapres adalah jabatan politis, paling pas memang pak budiono jadi ketua BI or menko perekonomian. ini pandangan pribadi.

wassalam

rianty
14 Mei 2009 21:18
0

terima kasih pak faisal. pak faisal analisisnya tajam dan jarang memuji orang. jadi sekali memuji saya lumayan percaya :D saya sebagai orang awam ekonomi sangat menanti tulisan pak faisal tentang ‘neolib’ dan hubungannya dengan pak boediono. makhluk apa itu neolib, kenapa dibenci, dan apakah memang neolib yang dilaksanakan di saat yang tepat dengan orang-orang jujur, integritas dan profesional tinggi bisa lebih pro-rakyat, daripada jargon ekonomi kerakyatan yang dilaksanakan oleh orang-orang yang melanggar ham dan masih sarat KKN? looking forward.

irfin basoeki
14 Mei 2009 21:19
0

pak faisal,

saya sangat setuju dengan pandangan pak faisal mengenai sosok pak boed yang sederhana ini. saya yakin apabila duet sby-boediono terpilih, ekonomi rakyat kita juga akan jauh lebih baik. dunia keuangan menyambut baik pasangan ini. ever onward pak boed.

emha makmur
14 Mei 2009 21:33
0

ya.. kita ini sering berfikir curiga dulu. kalau ada orang mau naik tingkat eh dibilangnya ndak pantes. ndak tahu politik lah, tak mewakili ummatlah. apa betul? mbok dilihat dulu rekam jejaknya. lihat dulu lebih dekat dan kau akan tahu (kata serina). baru berkomentar dari pada nanti malu…

harry
14 Mei 2009 21:38
0

jujur sblm baca tulisan mas faisal sy sempat goyah ttg pa budiono krn pikiran saya partai2 koalisi akan tinggalkan demokrat dan mgkin bisa bikin runyam diparlemen,tp skrg saya jd pendukung penuh sby-budiono…….klo bisa tulisan mas faisal disebarluaskan,jdnya masyarakat yg sama skali blm tau pa budiono tp udah nilai jelek beliau(termasuk saya sebelumnya)…buat pa budiono maju terus,tetaprendah hati!

Indrajaya
14 Mei 2009 21:52
0

Saya juga gak ngerti tuduhan PKS bahwa Pak Boed tidak mewakili umat, umat mana sih. Pak Boed ini contoh terbaik bagaimana orang Indonesia seharusnya hidup, sederhana, prihatin. Karena selain itu adalah sikap hidup yang baik, juga karena masih banyak rakyat yang kurang makan dan banyak pengangguran yang hidupnya SENIN-KEMIS.

RUDI
14 Mei 2009 22:12
0

Lha iya……….si Amin Rais dari dulu memang biang kerusuhan di negeri ini.Maju terus Pak Budiono.

Poppy Oktaviani
14 Mei 2009 22:21
0

Tak kenal maka tak sayang..trims dgn infonya smoga dgn perkenalan tak langsung via p’ Faisal kami dpt mengenal pak Boediono……

Muhammad Zain
14 Mei 2009 22:21
0

syukran katsiran buat pa’ Faisal Basri.
saya merasa sangat bersalah sekali setelah membaca artikel ini, karena barusan sya menulis komentar disebuah rubrik yang isinya ketidak setujuan saya atas pilihan pa’ SBY yang jatuh pada Pa’ BOED yang dalam dunia politik kurang begitu kelihatan kinerjanya . tapi dibalik itu ternyata sifat tawadhu’ nya, tidak sombong dan baik hati yang bikin saya jatuh hati kepada beliau, selain itu belau memeng layak untuk membenahi perekonomian negeri kita yang tercinta ini yang sedang i obok - obok negara lain.
MAJU TERUS SBY-BOED!

Tee
14 Mei 2009 22:25
0

Yth. Bung Faisal:
Saya sama bingungnya. Orang2 yg berkomentar miring ttg Pak Boed itu : bego, zalim, takut dirugikan (ga dapet proyek sampingan), atau gelo ya? Tulisan bung Faisal sebaiknya digetok-tularkan.

aan rahman
14 Mei 2009 22:34
0

makasih Pak Faisal atas tulisan ini.

Saya sendiri mengalami menjadi anak didik beliau di FE UGM…dengan ciri guyonan yang khas (selalu memanggil nama Agus dan Dewi…alasannya karena beliau yakin di tiap angkatan mahasiswa dan mahasiswi dengan nama itu….bukan karena hafal…hehehehe…)

Saya yakin Pak Boed mampu menjawab segala tantangan dan permasalahan ekonomi negeri ini….semua butuh proses dan saya yakin Pak Boed mampu….baik secara keilmuan maupun moral….

Salam….

ade
14 Mei 2009 22:35
0

terima kasih mas faisal atas tulisan ini…terima kasih untuk mengenalkan saya denga sosok sederhana ini.

Effendi Widjaja
14 Mei 2009 22:41
0

Terima kasih Pak Faisal untuk tulisan ini. Ini sungguh menyejukkan dan membuat saya tidak bimbang lagi untuk memilih SBY-Boediono sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI yang mendatang….Hidup Indonesia Raya!!!

AntiLiberal
Mimit
14 Mei 2009 22:51
0

And he’s my lecturer :)
Never absent, never comes late, never disappointed his unknown-student, even he have to teach every Saturday!

Selalu dengan gayanya yang sopan, rapi, dan sederhana, dia tetap memukau mahasiswanya.

anaratida
14 Mei 2009 22:53
0

wah jadi inget waktu ambil kuliah pak Boed di kelas perekonomian indonesia…waktu itu beliau udah jadi menko tapi masiih aja sempet2nya ngajar…klo dibandngkan gaji dosen ama gaji menko kayak bumi dan langit kan..tpi pak boed masih juga bersedia ngajar walapun gag penuh…
klo ngajar tutur katanya itu beraturan…dan sempat dulu saia bertanya kepada beliau dan beliau pun engga memandang pertanyaan saia itu “cemen”…
pernah saia nulis artikel pertama kali yang ide dasarnya itu saia dapat dari kuliah beliau…dan ternyata langsung dimuat di KOMPAS…hehe
wah, pokoknya beliau itu inspiring banget…
dan kalo pak boed itu dibilang anteknya IMF itu salah besar…engga pernah dalam kelas beiau memuja2 IMF…
yang ada pak bud itu mengajarkan untuk menjadi seorang NEGARAWAN…

yah walaupun begitu saia secara pribadi lebih mendukung jika pak boed tetep di BI…

Asep Mulyana
14 Mei 2009 22:54
0

semoga indonesia lebih baik!

fail
14 Mei 2009 22:56
0

mengutip kompas.com
saya kira kita jangan terjebak dengan sosok seseorang,
tapi apa yang dilakukan dia terhadap negeri yang kita cintai ini
masukan untuk teman2 pembaca:
sumber kompas.com Plus Minus Boediono dan Sri Mulyani

boediono adalah salah satu pejabat yang menyalurkan BLBI, memberikan rekapitulasi perbankan Rp 420,6 triltun sebagai APBN terbebani Rp 50-60 trilyun/tahun sampai dengan tahun 2003.
*salah satu pejabat yang menjual perbankan nasional yang direkap sehingga saat jatuh tempo 2033 pemerintah harus membayar total sekitar Rp 1900 trilyun
*pada 19 Juli 2007 nyatakan pemerintah tidak menerapkan konsensus Washington(liberalisasi perbankan pada 19 Juli 2007.). (belakangan Presiden SBY mengakui pemerintah menerapkan konsensus tapi dengan penyesuaian

hati-hati, dengan apa yang anda lihat
kalau kita mau tau orang tinggal bersamanya selama satu minggu apa yang dia lakukan siang, mala, pagi dan siang lagi
mudah2an kita bisa objektif

14 Mei 2009 23:03
0

Ternyata sangat banyak yang tahu sisi-sisi lain dari Pak Boed. Yang saya ketahui, sedikit belaka. Bagi sahabat-sahabat yang pernah mengambil matakuliah yang diasuh Pak Boed, tentu makin menambah keyakinan bahwa Pak Boed percaya sekali atas kemampuan yang muda-muda. Betulkah sesekali Pak Boed mengundang dosen-dosen muda untuk mengisi kelasnya karena mereka lebih menguasai materi tertentu tersebut ketimbang Pak Boed sendiri?

Kalau suka guyon, rasanya saya tak pernah disuguhi tuh. Rugi saya.

Aryadilagha
14 Mei 2009 23:14
0

Buat pak Faisal, terimaksih atas pencerahannya, membaca tulisan bapak membuat hati saya terenyuh dan malu, malu sama pak Boed, malu sama diri sendiri. tapi jujur saya kesal dengan orang2 yang demo di TV, menolak pak Boed dengan alasan inilah itulah, padahal saya yakin mereka gak ngerti apa2, mereka hanya budak tunggangan korban politik, jelas sekali karena spanduknya sama persis. saya berharap Bapak mau berbicara di TV, memberi pandangan terhadap pak Boed dan mampu meng-counter isu yang gak jelas, isu yang membutakan, isu busuk dari para politisi busuk, karena saya yakin, TV lebih banyak di tonton oleh orang Indonesia di banding mereka menyempatkan baca koran atau Kompasiana ini. saya hanya ingin semua orang yang berpandangan negatif terhadap pak Boed bisa menemukan titik cerah seperti saya sekarang ini. sekali lagi saya ucapkan terimakasih, saya tunggu tulisan bapak berikutnya tentang azas ekonomi Pak Boed. Bravo pak SBY-Boediono.

salam

aryadilagha

NUG
14 Mei 2009 23:16
0

MEMANG BENAR BENAR SANTUN KOK ORANGNYA…..

rahmat
14 Mei 2009 23:25
0

aku pernah nulis komentar tentang pak budiono, yang agak norak, bahwa pilihan sby terhadap budino merupakan awal kegagalannya menggapai kepemimpinan kedua di indonesia, setahu ku budiono penganut paham ekonomi pasar, yang pastinya lawan dari paham ekonomi kerakyatan, dengan info yang di sampaikan bang faisal tentang sisi lain budiono, aku jadi bingung sendiri? apakah termasuk PKI ( Pemuda Kurang Informasi) atau pemuda yang sangat nasionalis buta? semoga bang faisal menunutun rakyat awam tentang budiono lebih jelas lagi…

Harry
14 Mei 2009 23:27
0

Kita seharusnya bangga mempunyai putra bangsa sekaliber P’ Boediono, kemampuan beliau membawa bangsa kita melewati krisis merupakan suatu sumbangsih yang luar biasa besarnya. Walaupun tidak pernah berkoar kita dapat lihat sosok beliau yang nasionalis, jika mau di institusi dunia apakah IMF ataupun Wordbank beliaupun akan diterima dengan baik.

Sayangnya dunia politik kita yang hanya memikirkan kepentingan pribadi ataupun partai yang dengan tega mengobok-obok beliau.

Untuk percepatan negara kita dalam menghadapi globalisasi kita memang membutuhkan sosok beliau dan teamnya supaya jangan ketinggalan jauh dari negara lain.

Bung Faisal semoga anda terus membantu negara kita dengan tulisan-tulisan yang bermutu.

Terimakasih.

Mahasiswa FEB UGM
14 Mei 2009 23:50
0

suatu ketika saya kerja kelompok di kampus hari sabtu pagi. Kebetulan kami duduk di dekat pintu utama kampus tempat biasa tamu atau dosen datang dan memarkirkan mobilnya. Dari kejauhan datang mobil genio tua sekitar taun 90an tengah berwarna biru. Kemudian parkir kebetulan tidak jauh dr tempat saya duduk. Tanpa disangka, saat itu langsung keluar Pak Boediono. Datang sendiri tanpa sopir ato mobil mewah. Saya dan teman” pun langsung kaget karena tidak menyangka yanga saat itu seorang Menko datang dengan kesederhanaanya untuk mengajar di kampus. Beliau pun melihat kami semua dan menyapa dengan senyum ramah, tidak ada cerminan bahwa dia adalah menko yg harus diperlakukan spesial. Sejak saat itu saya yakin bahwa dia orang spesial. Saya mendukung penuh beliau jika menjadi Cawapres SBY nanti.

bhawika
14 Mei 2009 23:57
0

sosok pak budiono seperti yang diceritakan pak Faisal memang mengagumkan..
tapi maaf sya ingin bertanya, haruskah beliau jadi wakil presiden?
ataukah lebih baik tetap di BI seperti yang disebut anaratida di atas..?
mungkin pak Faisal tidak membahas tentang hal ini, hanya membeberkan sosok asli Pak Boediono, untuk menepis tusuhan miring yang gencar selama ini

theta
15 Mei 2009 00:06
0

setujuuu mari kita dukung sby-boediono, netral, profesional, teknokrat, nonparpol, santun, sederhana, loyal, pintar. yg komen negatif otaknya udak didoktrin, kalo disuruh jelasin neoliberalisme juga kaga ngarti.

Adi Hs
15 Mei 2009 00:25
0

Bang Faisal,
Kredibilitas pak bud sebagai ekonom memang tidak diragukan lagi, berbasis makroekonomi proliberalisme , dosen yang handal, sederhana, dan segudang lagi kelebihannya. Tapi bang, kita harus ingat ini panggung politik ( panggung sandiwara “kata ahmad albar” ), penuh dengan perkalian dan pembagian yang tidak terprediksi pembilang dan penyebutnya. Sementara yang rakyat butuhkan adalah terciptanya iklim politik yang adem, iklim perubahan ekonomi yang berbasis kerakyatan (mikro) yang dapat mengantarkan perubahan bangsa dari keterpurukan.
Kita bisa ingat pada masa sebelumnya dimana para ekonom kita masuk kedalam lingkaran panggung politik maka kepekaan, keperdulian, kesederhanaan, bahkan pengetahuannya (ilmu) akan pudar digilas roda politik. Semakin bersahajanya seorang tokoh maka akan semakin sulit dia untuk memerankan peran aktor dipanggung politik. Karena pembilang dan penyebutnya tidak jelas dan tidak sesuai dengan teori buku, teori ekonomi, teori matematika, atau apa sajalah yang ada di literatur. Rakyat sudah capek, letih……. . Abang, lihat saja baru dicalonkan sudah terjadi demo mahasiswa, penolakan dan komentar2 negatif dari berbagai elemen masyarakat. Berarti film belum diputar, aktornya sudah babak belur dan tentunya penonton kecewa.
Salam dari Medan.

ronny
15 Mei 2009 00:34
0

Alhamdulillah…..terima kasih bung faisal atas ceritanya….saya jadi merasa plong dan lega sekali setelah selama ini merasa was2 dan khawatir thdp pak boed yg selama ini hanya dinilai org dari luar tanpa pernah melihat kedalam (Astaghfirullahaladzim) (maafkan saya)

Mimit
15 Mei 2009 00:39
0

Betul Pak Faisal. Pak Boediono pernah menghadirkan asistennya yang tentu saja lebih muda. Asisten beliau ini adalah dosen yang datang dari Universitas Indonesia. Kalo tidak salah namanya Ariwibowo.

Abi Hasantoso
15 Mei 2009 00:39
0

Sewaktu habis jadi menteri di zaman Ibu Mega dan belum ditarik Pak SBY masuk kabinet lagi, saya pernah ketemu Pak Boed sedang menemani istrinya berbelanja sayur-mayur dan lauk-pauk di sebuah supermarket di kawasan Sudirman. Saya sempat menyapa dan ngobrol sebentar dengan beliau. Pak Boed selalu tersenyum, meski ia disapa seseorang yang baru ia kenal saat itu juga. Tidak seperti mantan pejabat tinggi lainnya, ketika meninggalkan supermarket itu, Pak Boed cukup naik Toyota Kijang tua keluaran tahun 1996.

Kesan saya, Pak Boed itu merupakan pribadi yang sederhana dan bersahaja….

Saya pikir, Pak Boed pantas jadi wakil presiden…. Sayangnya, presidennya bukan Sri Sultan Hamengkubuwono X…. :P

Nendy
15 Mei 2009 01:17
0

ass. wr wb. sungguh luar biasa, mgkn sebagai jalan tengahnya, Pak Boed kita rayu utk tetap berkenan menutun bangsa. Tidak harus dengan menjadi cawapres, yg justru malah menimbulkan banyak kontroversi. Yg mungkin malah sekarang membuat beliau tdk berkenan. Maka beliau perlu kita dorong untuk meneruskan kontribusi dan perjuangannya di Posnya saat ini

Mimit
15 Mei 2009 01:18
0

Untuk AntiLiberal,

Itu artikel tahun 2007. Apakah sudah tahu perkembangannya sampai tahun 2009?

ZaZa
15 Mei 2009 01:57
0

sudahlah, biarkan saja SBY berpasangan dengan Boediono. semua itu tentu sudah dipertimbangkan dengan baik oleh SBY. mungkin beliau berpikir bahwa Boediono memiliki keunggulan dalam bidang ekonomi. Sesuatu yang tidak terlalu dimiliki SBY…
boleh jadi pasangan ini akan saling melengkapi. semoga sukses SBY-Boediono!!!

Landung S.
15 Mei 2009 02:05
0

Halo Saudara Faisal, banyak terima kasih! Halo saudara-saudara yang lain, kita tahu ini musimnya kampanye (negatif?) untuk pilpres. Nah … sebagian politisi kita masih suka banget tuh berkampanye dengan menjelek-jelekkan orang lain, pihak lain. Dan dari dulu perpolitikan Indonesia kayaknya sering gaduh dengan teriakan-teriakan agar rakyat waspada terhadap hantu-hantu gentayangan yang berbahaya. Misalnya “kekuatan laten PKI”, “negara Islam”, “negara sekuler”, “antek nekolim”, dan sekarang “neolib”, “antek IMF”. He he … maling teriak maling sudah biasa terjadi di antara kita. Jadi … biasa-biasa sajalah, jangan gampang percaya, jangan gampang kebakar. Kita gunakan akal sehat dan nurani masing-masing.

edy syahputra
15 Mei 2009 02:06
0

Mas, tolong juga disharing visi dan pendapat beliau terhadap ekonmomi kerakyatan. juga tolong disampaikan ketegasan dan kecepatan beliau dalam mengambil keputusan…kita butuh pemimpin yg jelas komitmennya untuk percepatan peningkatan kesejahteraan rakyat, petani, nelayan, buruh, pengusaha kecil, umkm dsj….bukan sekedar orang pintar saja. pemimpin yg berpihak kepada rakyat yg kita butuhkan !

herwinanta
15 Mei 2009 02:07
0

terimakasih dgn penjelasan pak faisal sy yakin kok dgn terpilihnya pak boediono menjadil wakil presiden pak beye untuk itu sy akan berdoa dan memberikan suara untuk pasangan ini dan juga sy akan meminta pada temen2 supaya memilih pak sby dan pak boediono.sy percaya kok ama keterangan pak faisal tentang pak boediono sy pun belum kenal aja sy sdh bisa menebak kalau beliau adalah seseorang yg baik,santun,tdk banyak bicara kerjanya bagus,sederhana dan bersih dari kasus apapun.tolong kepada rakyat indonesia jgn salah pilih,pilihlah pasangan yg sdh cocok untuk memimpin 2009-2014,trimakasih

zul
15 Mei 2009 03:08
0

Gaji 150jt sebulan , kursi di rumah bolong dan lusuh? ga masuk akal.
Ini kan Propaganda orang2 nya SBY, antara lain : Hatta dan Faisal Basri.

Jangan Termakan Politik Pencitraan SBY dan PD !

Baca ini:
http://nusantaranews.wordpress.com/2009/03/24/fakta-fakta-tersembunyi-sby-jk-3-utang-negara-membengkak-1667-triliun/

gus mario
15 Mei 2009 05:06
0

Saya juga setuju dengan semuanya. Memang orang Indonesia kayaknya banyak yg iriiii ajah…..partai bagus2 eh ujung2nya suka menghujat. Malah saya pernah saksikan di salah satu stasiun TV yg mengatakan, dari kolong jembatan mana Boediono ? Masya Allah…saya jd gemes denger kata2 itu, itu keluar dari seorang petinggi partai yang notabene dikatakan partai putih yang diunggulkan loch. Hayo kita rame2 pilih SBY-Boediono……Siap pak SBY..maju terus…

Arief
15 Mei 2009 05:15
0

Ah partai2x itu ternyata orientasi cuman kekuasaan doang, nggak ada yg bener2x mikir demi kemajuan negara.

dyah arum muninggar
15 Mei 2009 05:59
0

Saya sangat trenyuh membaca tulisan mas Faisal Basri..dihari begini ternyata msh ada pejabat yg seperti itu; Saya percaya bahwa pak Boed memang orang baik, itu terlihat dari aura yg memancar keluar lewat wajah beliau yg slalu tersenyum tulus tanpa di buat2;

HAEMSIDIK
15 Mei 2009 06:11
0

Trima kasih pak Faisal Basri…saya sangat respek dengan informasi ini….dan saya yakin benar bahwa tulisan ini meyakinkan saya dan yang mengembar gemborkan antek IMF adalah dukungan parpol tertentu…dan saya tidak habis fikir dengan pendapat para oknum yang haus kekuasaan dan saya yakin Pak Boed sebagai diregent tim ekonomi di pemerintahan yang akan datang….dan wajar saat ini wapres dipegang oleh orang yang jujur dan bersih serta tidak ada kepetingan pribadi…tentu pak Boed bukan pengusaha kan…! bravo pak Boed

Jauhari
15 Mei 2009 06:38
0

Semoga yang HITAM tetap HITAM sehingga kelihatan dan yang PUTIH tetap PUTIH biar semakin terang dan hati hatilah diantara keduanya ada daerah ABU ABU yang kita perlu untuk bisa memilah2nya ;)
5th bukan masa yang pendek…

arwan
15 Mei 2009 06:52
0

@Zul
yuk kita sowan ke rumah pak boediono, main2 aja, sekalian silaturahmi… gpp kan?
kita minum kopi atau teh ngobrol sama pak boediono.

toh beliau pasti menerima dengan hangat dan senyum tidak mengatakan sibuk,

Ade
15 Mei 2009 06:53
0

Untuk Antiliberal:

Duh, Kwik didengerin.. Menuduh Budiono pernah patuh pada IMF, lah dia sendiri apa?
Anda pasti belum pernah lihat LoI dg IMF yang ditandatangani Pak Kwik selaku Menko Ekuin?

15 Mei 2009 07:03
0

Alhamdulillah, ada pak faisal yg menulis sosok pak boed…………………..

15 Mei 2009 07:13
0

Bung Faisal,

Terima kasih atas tulisannya, saya jadi lebih tahu tentang pribadi Pak Boediono.
Anda rupanya masih menyimpan cerita tentang apa yang terjadi dengan diskusi antara Pak Boediono beserta staffnya dan Wapres tentang monorel. Kenapa tidak diceritakan saja?, harapannya warga kompasiana bisa lebih paham apa yang menjadi alasan Pak Boediono di satu sisi dan Wapres di sisi yang lain. Pak JK kan juga warga Kompasiana, sehingga kesempatan baginya untuk memberikan klarifikasi lewat Kompasiana pasti tak akan dilewatkannya.

Tulisan Bung tentang paham ekonomi yang dianut Pak Boediono ditunggu.

Terima kasih dan salam Kompasiana

yasi
15 Mei 2009 07:17
0

terima kasih atas infonya.
Saya tak mengenal secara pribadi dengan pak Boediono maupun pak Faisal. SBY dan Boediono sudah melakukan yg terbaik semampu mereka selama ini untuk negara.
Semoga beliau berdua diberikan hikmat oleh Tuhan Yang Mahakuasa utk memimpin dan membangun Indonesia.

izal
15 Mei 2009 07:27
0

Tulisan yang sangat menarik, Pak Faisal. Semoga Pak Boed bisa menjadikan indonesia lebih baik..Amin…Ditunggu tulisan selanjutnya tentang Pak Boed…

dudi
15 Mei 2009 07:31
0

yang begini ini yang patut diapresiasi. kebanyakan berpolitik, jadi dikit dikit curiga.. selalu sisi negatif yang didahulukan untuk menjatuhkan lawan politik.

bagi saya mah, siapapun capres dan cawapres-nya gak penting.. yang penting bisa jaga amanat rakyat.

MasDepan
15 Mei 2009 07:32
0

Bangsa ini butuh figur yg memiliki sosok rendah hati, dng artikel ini mudah2an semua orang akan semakin optimis bahwa SBY-Boed bisa menjadi Pemimpin yg memiliki visi-misi LEBIH BAIK dari pemerintahan masa lalu. makasih buat artikelnya pak Basri..

ozi
15 Mei 2009 07:57
0

saya terharu dengan apa yang disampaikan tentang pak Budiono. kita memerlukan pempimpin seperti pak Budiono yang bersahaja dan berdedikasi tinggi. pasangan yang ideal dan serasi pak SBY dengan Pak Budiono.

surya
15 Mei 2009 08:06
0

Bung Faisal,
Terima kasih banyak atas tulisannya.
Ditunggu lanjutannya tentang pengamatan atas ide-ide ekonomi dari pak Budiono.
Kalau pengamatan atas bung Rizal Ramli gimana?
Agak heran juga, kalo rata-rata ekonom mengusung visi kemandirian, lah kok bangsa ini tidak mandiri-mandiri ya?

salam,
Surya Sumpeno
***

Bela Kusumah
15 Mei 2009 08:11
0

Saya sendiri pernah mewawancarai Pak Djatun (Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Menko Perekonomian) dan Ibu Sri Mulyani di Melbourne. Saya betul-betul terkesan dengan sikap dan tindakan ke dua tokoh yang sangat dihormati oleh dunia Internasional. Pak Djatun juga sangat “down to earth” sedangkan Ibu Sri tegas dan profesional, berani mengambil langkah perombakan. Tentang Ibu Sri yang dituduh lebih memihak IMF, sebenarnya tidak benar, karena waktu saya lontarkan pertanyaan itu, Ibu Sri menyangkal tuduhan itu. sebagai pakar ekonomi justru sebuah tanggung-jawabnya duduk di lembaga Moneter ikut mengawasi tranparansi dan kredibelitas lembaga itu. jadi bukan berarti memihak.
Saya kira dengan masuknya Pak Boedi sebagai wacapres, saya yakin tim ekonomi SBY akan lebih kompak dengan Ibu Sri apa lagi dibantu para pakar ekonomi muda seperti Mas Anggito dan Bung Chatib Basri ( yang saya kenal di Melbourne dulu - memihak ekonomi rakyat )

edy
15 Mei 2009 08:17
0

Perubahan konsepsi tentang presiden dan wakil merupakan kombinasi nasionalis dan agamis atau jawa dan luar jawa saya pikir bagus sepanjang memang punya kemapuan yg dibutuhkan negara saat ini.. informasi (terutama tentang pak boediono) yg benar sangat diharapkan,bkn pertombangan politis tapi murni kebutuhan negara, maju terus pak Boed

scampage
15 Mei 2009 08:17
0

makasih pak buat infonya, semoga bisa menjadi pencerahan

Herman
15 Mei 2009 08:23
0

Terimakasih Pak..! saya sebelumnya blm tahu mengenai pak Boed.. kita sedikit tahu dari artikel Bpk.

tony sohibul
15 Mei 2009 08:29
0

semoga Allah swt..
Memberi pencerahan ke pada para elit politikus yg berusaha menjatuhkan nama baik pak boed.
Maju terus SBY-boediono..rakyat pasti memilih yg terbaik

abu farrell
15 Mei 2009 08:30
0

sangat menyentuh… penuh inspirasi… apalagi yang menceritakanya Pa Faisal…

maju terus pa Boediono….. trima kasih pa Faisal..

ilham
15 Mei 2009 08:33
0

Baru paham,
Pantes banyak orang yang anti sama beliau.. Rupanya, mereka terancam dengan hal positif yang ada pada beliau..
Trims infonya Kang..

Jen
15 Mei 2009 08:38
0

Salam Kenal Pak Faisal,

Adalah benar , kita membutuhkan figur-figur pemimpin yg arif,jujur, wibawa dan bersahaja..Mengapa kita selalu berpikir negatif ? bagaimana bisa maju bangsa ini kalau yg di pikir selalu negatif? Kita yakin bahwa Pak SBY telah mempertimbangkan dgn matang figur wakil yg akan memdampinginya.

Kapan Bapak akan tampil di TV One lg untuk memberikan comment nya ttg bapak Boediono…….

Salam

Rezi
15 Mei 2009 08:38
0

Terima kasih bang Faisal… badan saya langsung merinding ketika selesai membaca tulisannya, saya kira karya nyata dan sikap rendah hati adalah 2 item yang harus dimiliki oleh calon pemimpin indonsia.

Sapta
15 Mei 2009 08:43
0

Terima kasih,bung Faisal atas cerita yg telah disampaikan..hanyan saja saya jd bertanya-tanya…kenapa bung Faisal dengan semangatnya menulis “sisi positif” pak Boed? Semoga memang semata-mata demi kepentingan bangsa juga, bukan karena kepentingan pribadi dan golongan tertentu!
Biar tulisan bung Faisal memang betul-betul objektif..sebaiknya dituliskan juga “sisi negatif” dari pak Boed juga..karena saya yakin bahwa setiap manusia pasti memiliki kedua sisi tersebut. Beranikah bung Faisal menuliskan kedua sisi tersebut? Biar rakyat lebih yakin akan apa yang telah bung Faisal tulis…sehingga kesan bung Faisal memiliki kepentingan akan tereliminisir!

ahmad rifai
15 Mei 2009 09:05
0

Terima kasih Bung Faisal atas tulisannya yang menarik
Tulisan mengenai tuduhan Neolib yang melekat pada Pak Boed saya tunggu kehadirannya.

Skaia
15 Mei 2009 09:05
0

Tulisan yang sangat menarik dan menyentuh hati, Pak Faisal. Saya tidak pernah mengenal Pak Boediono sebelumnya, dan baru mengenal sosok beliau melalui tulisan anda ini. Anehnya, kok rasanya tidak terlalu mengagetkan ya? mungkin karena ke- humble-an beliau yang memang sudah terpancar secara eksplisit… tentunya disamping kompetensi beliau dibidangnya yang memang sudah tidak diragukan lagi.

Saya pribadi juga merasa optimis, Insyaallah, pasangan Pak SBY dan Pak Boed ini membawa berkah untuk menjadikan Indonesia yang lebih baik.

budhi santoso
15 Mei 2009 09:07
0

Terima kasih Pak Faisal, Semoga pilihan Pak SBY benar2 tepat dan bisa membawa Indonesia maju, berdaulat, adil dan makmur seperti cita2 luhur pendiri Republik ini. Maju terus Pak Boed!

Azis Firdaus
15 Mei 2009 09:09
0

Terima kasih informasinya bang fasial.

Suatu gebrakan saya kira saat ini, ketika partai-partai pemenang pemilu legislatif 2009, berlomba-lomba membentuk koalisi. ujung2nya koalisi adalah mebagi kekuasaan sehingga ada teritorial tertentu yang pejabat lain atau menteri lain bahkan antara presiden dan wapres tidak boleh mencapuri. sehingga pembagian kekuasaan ini menjadi bagian dari mesin uangnya parpol.
pilihan SBY kepada boediono, adalah suatu gagasan baru tentang perpolitikan Indonesia, yang ditanggapi negatif oleh para parpol. kekhawatiran terhadap boediono sebagai bagian integral dari IMF, perlu diklarisifikasi oleh SBY dan Boediono sehingga masyarakat tidak gundah gulana. beberapa fugnsionaris partai mengatakan kekhawatirannya pada pemeritnahan nanti ketika presiden dan wapres terpilih bukan dari kalangan partai, ketika mengajukan RUU atau dalam melaksanakan pemerintahannya akan mendapat tekanan2 dari anggota legislatif.
PErnyataan semacam ini ini ada 2 kemungkinan:
1. Pernyataan sikap kecewa dengan berbagai retorikanya. sehingga menempatkan diri pada posisi yang seolah2 mengancam.
2. hanya menyadari bahwa pres dan wapres adalah bagian dari keuntungan dan kepentingan bagi partai, bukan untuk kepentingan rakyat.

semoga SBY bisa konsisten bersama Boediono.

M. Azis Firdaus

dewa99 ( dedi.juanda )
15 Mei 2009 09:18
0

Bung Faisal seprang pakar ekonom yang mumpuni di Indonesia telah menilai sosok Pak Boed, artinya sebagai seorang profesional dibidang ekonomi yang pendapatnya sangat netralitas dan penuh dengan pengalaman dibidangnya. Saya sebagai anak bangsa hanya bisa mendo’akan semoga beliau-beliau selalu diberikan kesehatan dan kemudahan serta kelancaran dalam mengemban amanah yang cukup berat dalam membangun Bangsa dan Negara Indonesia yang kita cintai ini, semoga Allah SWT selalu meridhoi setiap langkah dan perbuatannya, Amien. Wassalam Dedi.juanda Tim Echo Provinsi Banten.

satria
15 Mei 2009 09:33
0

Ucapan yang jujur dari sosok kritis Faisal Basri
Kebetulan saya dari Blitar, adik kelas jauuuuuh bgt Pak Boed di SMA 1 Blt.
Saya banyak mendengar kesederhanaan dan kecerdasan sosok Pak Boed dari guru akutansi di SMA (Bu Sjamsiah klo ngak salah namanya).
Kebetulan Bu Sjamsiah ini tetangga dan sahabat karib Pak Boed di SMA 1 Blt.
Beliau sering bercerita mengenai pribadi Pak Boed di sela waktu mengajarnya,
pada saat itu Pak Boed masih menjadi Menko di masa Megawati. ada sedikit cerita beliau yang saya selalu ingat mengenai Pak Boed.
Pak Boed berasal dari keluarga yang sangat sederhana, begitu sederhananya beliau hampir tidak bisa melanjutkan ke bangku kuliah karena masalah biaya. tetapi karena dukungan sahabat, guru dan kecerdasannya yang menonjol di bangku SMA, beliau akhirnya melanjutkan pendidikannya di FE. UGM.
Dari background itulah beliau tahu benar bagaimana penderitaan rakyat (karena pernah mengalaminya), sangat paham melakukan perbaikan ekonomi yang sustainable (pertumbuhan ekonomi yang masih poitif ditengah hantaman krisis adalah salah satu buktinya).
Sehingga tiba-tiba sekarang santer terdengar issue beliau adalah sosok yg anti ekonomi kerakyatan, pro kapitalisme /neoliberalisme (meski yang koar2 belum pasti tahu apa artinya itu). ngak lebih dari ulah politikus-politikus busuk (meski mengaku putih bersih) yang rebutan cari kekuasaan dan mengkavling-kavling Republik ini untuk segelintir golongannya saja.
Sudah muak bung rakyat dengan intrik-intrik kotor dan pembunuhan karakter seperti ini.
Badai krisis ganas terjadi diluar sana, perlu kesatuan langkah dalam mengatasinya, bakal karam negara kita kalau orang-orang seperti itu terus diberikan peluang.

15 Mei 2009 09:34
0

Pak Faisal, saya menunggu postingan bapak yang lainnya. Saat diskusi di Kompas.com bapak pernah bertanya kepada saya mengenai kemungkinan Boediono sebagai cawapres yang saya postingkan di Kompasiana 28 April, jauh-jauh hari sebelum koran mainstreaim meributkannya. Saya waktu itu “membocorkan” rahasia darimana saya memperoleh kabar Pak Boed bakal dipilih SBY selaku cawapres. Yang saya salut, Bapak tidak melecehkan tulisan/postingan saya itu, bahkan cenderung mempercayainya. “Saya tahu Pak Boed dipilih SBY sebagai cawapres dari Kompasiana,” kata Bapak saat itu kepada teman-teman. Terus terang, saya tersanjung dengan pernyataan Pak Faisal yang santun itu. Bahwa prediksi saya kemudian menjadi kenyataan, barangkali itu feeling saya sebagai waartawan yang pernah cukup lama meliput dunia politik tanahair. Terima kasih atas sharing-nya!

Nandang
15 Mei 2009 09:34
0

Kalau mau tahu rumah pribadi Pak Boed di Jakarta, datang saja ke kawasan Mampang Prapatan, dekat Hotel Citra II. Kebetulan kantor kami, Pergerakan Indonesia, persis berbelakangan dengan rumah Pak Boed. Rumah itu tergolong sederhana. Bung Ikhsan pernah bercerita pada saya, ia menyaksikan sendiri kursi di rumah itu sudah banyak yang bolong dan lusuh.
Bagaimana sosok seperti itu dituduh sebagai antek-antek IMF, simbol Neoliberalisme yang bakal merugikan bangsa, dan segala tuduhan miring lainnya.
Betul tuh kang, ada partai yang ngakunya berazaskan islam belum apa-apa udah su’uzon sama pak budiono. Terimakasih atas infonya & ditunggu info yang lain tentang pak boediono.

klutjcy
15 Mei 2009 09:42
0

Sekitar akhir tahun 2001,di bandara schipol (amsterdam) dalam rangka boarding time to singapore.aku duduk di belakang bangku pak faisal basri dan memperhatikan dengan penuh kekaguman,karena siapa sangka dia adalah seorang pakar ekonomi yg berjiwa ksatria tetapi penampilannya sangat jauh dari glamour dan angkuh.tapi sebaliknya sangat santun dan sederhana,hingga saat ini moment tsb tak pernah kulupakan walau hanya sekedar melihat dan tak bertegur sapa karena tiada keberanian tuk menyapanya.dalam diriku,aku berfikir apalah artinya seorang TKI di mata beliau tapi aku punya keyakinan kalau beliau memang seorang sangat berbudi dan berkompeten di bidangnya.

Adhi
15 Mei 2009 09:44
0

Terima kasih Pak Faisal, saya setuju sekali dengan penilaian Anda. Saya juga mengagumi beliau meskipun tidak kenal dekat, hanya beberapa kali bertemu saat rapat di kantor menko. Saya juga menyayangkan penilaian2 parpol2 yang merasa jatah mereka diambil dengan terpilihnya Pak Budiono sebagai cawapres.
Hanya patut disayangkan karena rasanya Pak Budiono akan dapat lebih berperan dengan posisi sebagai ekonom, baik yang sudah beliau lalui seperti sebagai Menko, Menkeu ataupun saat ini sebagai Gubernur BI. Tak perlu diragukan kredibilitas beliau sebagai ekonom, maupun sebagai person yang ramah dan sederhana. Hanya ketakutan saya apabila beliau menjadi wapres maka semua kemampuan beliau tak akan banyak berguna karena sebagai wapres bukan beliau sebagai pengambil keputusan (kecuali saat wapresnya JK, decision makernya dia, dan semua menteri lapor ke dia hehehe). Semoga Pak Budiono tetap dapat berkiprah untuk negara ini, dalam posisi apapun beliau nantinya. Negara ini butuh orang2 seperti Pak Budiono.

15 Mei 2009 09:45
0

Terimakasih atas pencerahannya pak!
Mudah-mudahan saja persepsi masyarakat bisa berubah setelah melihat tulisan ini…..

Salam,
http://www.yulyanto.com

uyungs
15 Mei 2009 09:49
0

sungguh suatu upaya mulia untuk memberikan kesaksian yang benar tentang pribadi Pak Boed ditengah-tengah hujatan lawan2 politik SBY, apalagi pandangan ini datangnya dari salah seorang pengamat yang konsisten mengkritik pemerintah. sungguh tulisan ini sangat perlu disebarluaskan terutama agar dibaca temen-teman dari PKS. terima kasih pak Faisal Basri.

eddy_batuna
15 Mei 2009 09:51
0

terima kasih, informasinya pak faisal basri, ini membuat kami tahu lebih dalam sosok pak boediono. pak faisal basri, bisakah bapak menjelaskan perbedaan antara ekonomi neo liberal dengan ekonomi kerakyatan…… karena bagi kami orang awam saat ini banyak mendengar berita2 tsb tapi tidak tahu apa maknanya……

nats, di bandung
15 Mei 2009 09:51
0

Air mata saya menetes membaca tulisan bang Faisal ini. Sebetulnya, selain bang Faisal, selama ini sdh cukup banyak berita dan pengakuan orang2 tentang sisi kehidupan pak Budiono. Dia sangat sederhana, rendah hati, tidak neko neko, tulus dan ikhlas.
Tuhan maha besar, maha rahman dan maha rahim. Tanpa pernah bermimpi sedikitpun jadi wapres, rupanya Tuhan , Allah yang maha kuasa, memberi ganjaran kepada pak Budiono menjadi orang nomor dua di negeri ini, atas segala ketulusan dan kesederhanaannya. Selamat pak Bud, Kiranya anda bisa melanjutkan pengabdian kepada bangsa dan negara. Nggak usah hiraukan semua nada nada miring tentang anda. Percayalah kepada hati kecil anda.

Ahmad Sahidah
15 Mei 2009 10:01
0

Membaca cerita Mas Faisal tentang kesederhanaan seorang calon sedikit memupus keraguan tentang sosok Pak Boed. dan berharap cemas apakah beliau bersedia untuk mewujudkan sikap tawadhu dan ketegasannya ketika menjabat sebagai wakil presiden, Insyaallah. Amin.

Sudirman
15 Mei 2009 10:01
0

luar biasa sekali, saya tahu integritas pak faisal basri dan saya percaya indonesia akan lebih baik bila orang2 seperti pak faisal dan pak boediono mau menyuarakan kebenaran…

kebetulan saya kenal banyak kalangan di depkeu dan mereka pun menilai pak boediono sama seperti penilaian pak faisal basri ini…

terimakasih pak faisal basri atas tulisannya ini yang sangat mencerahkan…
ditunggu tulisan2 berikutnya ya pak…

mahassiwa PWK UGM
15 Mei 2009 10:07
0

Awalny saya mengagumi sosok ak Boed namun dengan pemberitaan miring yang saya sering dengar di media, saya agak ragu terhadap integritas Pak Boed.
Melihat tulisan ini saya kembali percaya dengan integritas beliau.
Semoga beliau terpilih dan dpat memimpin bangsa ini ke arah yang lebih baik.

Edi Qemint
15 Mei 2009 10:07
0

Sosok Boediono yg bisa dilihat adalah cermin kesederhanaan & kebersahajaan. Sebagai Pemimpin jika tidak punya ciri-ciri tersebut jelas akan mudah terjebak pada cara berfikir Egoism. Entah apa yg menjadi acuan para Politikus dalam melihat, menentukan dan memilih bakal/calon Pemimpin yg selalu berbalik dengan cara berfikir umat.
Bung Faisal….sangat memungkinkan jika anda menyuarakan ciri-ciri sosok manusia seperti ini yg dibutuhkan bangsa Indonesia untuk menjadi Pemimpin. Banyak pemimpin yg Baik…tapi belumlah Hebat jika tidak memiliki ciri-ciri seperti diatas.

dharsc
15 Mei 2009 10:38
0

Maju terus!! ciptakan design baru ekonomi kerakyatan!!

Wiryono
15 Mei 2009 10:42
0

Bang Faisal mari tegakkan kebenaran. Anda telah memulai membuka kebenaran itu. Galang kekuatan agar kebenaran tegak. Tak perlu membenci yang menjelek - jelekkan. Cukup berikan realitas agar masyarakat yang belum tahu tidak teracuni. Maju terus Pak Budiono … . Maju terus Bang Faisal !!!!

Haris Fauzan
15 Mei 2009 10:46
0

Pak Faisal Basri yang berbahagia, terima kasih atas tulisan Bapak tentang Pak Boed yang cukup mengesankan. Saya percaya testimoni Bapak. Namun demikian, mudah-mudahan Bapak termasuk orang yang akan mengawal Pak Boed ketika menjadi Wakil Presiden. Sebagus apapun orang yang akan menjadi Presiden dan Wakil Presiden, kita tidak boleh terlena. Setidak-tidaknya ini adalah bahan baku yang baik untuk Indonesia di masa mendatang. Selanjutnya, tergantung proses produksi selama 5 (lima) tahun ke depan. Mudah-mudahan, bahan baku yang baik berpadu dengan teknologi produksi yang baik akan menghasilkan Indonesia lebih baik.

Andhika
15 Mei 2009 10:48
0

Terimakasih atas pencerahan dari bapak Faisal..

Kepada Bpk. Boed, sebagai sesama abdi masyarakat, saya salut dan hormat dengan sikap & integritas Pak Boed didalam memajukan bangsa ini..

Semoga saya yang masih keroco ini, bisa menjadikan pak Boed sbg panutan saya didalam menapaki langkah menuju masa depan Indonesia yang lebih baik..

Salam hormat buat Pak Boed..

hanry
15 Mei 2009 10:51
0

Orang orang yang suka dengan “status quo” sekarang ini adalah orang-orang yang telah menikmati kemapanan secara ekonomi (gaji besar, bisnis lancar, tunjangan besar, etc). Tapi sadarkah anda bahwa semua kenikmatan yang didapat segilintir orang tersebut harus dibayar oleh seluruh penduduk Indonesia dan mungkin sebagian hutang yang didapat dengan menjual kekayaan alam dan harga diri bangsa. Jika anda bilang pertumbuhan ekonomi meningkat kenapa jumlah penduduk miskin tidak berkurang. Pasti ada yang salah dengan sistem ekonomi yang kita anut sekarang. Dan saya termasuk yang menolak ekonomi yang ada sekarang dan para pembawanya.

odicahyo
15 Mei 2009 10:52
0

saya terharu membaca ringkasan cerita mengenai diri Pak Boed yang sudah langka ini… Saya tunggu lanjutan kisah ini Pak Faisal…!

Agustinus Eddy T. Wibowo
15 Mei 2009 10:52
0

Membaca kesan Bung Faisal Basri tentang Pak Boediono, saya setuju 100%. Kebetulan saya adalah salah satu mantan mahasiswa Fakultas Ekonomi yang sangat beruntung mendapatkan kesempatan diajar Pak Boediono sekitar tahun 2001. Panggilan terkenal beliau di FE UGM adalah Pak Boed Mec (sesuai dengan gelar Master beliau M.Ec, karena di FE UGM juga terdapat Pak Boed yang lain). Mata kuliah yang beliau ajarkan tahun 2001 adalah Perekonomian Indonesia. Satu hal yang masih sangat kental di ingatan saya adalah bagaimana beliau mengajar dengan gaya bercerita yang sangat runtut, seperti mendongeng, membuat para mahasiswanya termasuk saya bisa sangat menikmati mata kuliah beliau. Perkembangan ekonomi Indonesia sejak awal orde baru hingga awal reformasi beliau ceritakan dengan sangat baik dan enak di dengar, tanpa membawa catatan, tanpa buku, tanpa slide, dan minim catatan di white board. Angka-angka indikator perekonomian yang begitu banyak bisa beliau sampaikan dengan tepat tanpa melihat catatan. Suka senyum dan kalem termasuk 2 pembawaan beliau yang sangat terlihat. Mengenai kesederhanaan beliau, Bung Faisal sangat benar, saya juga pernah melihat sendiri, beliau datang ke kampus untuk mengajar dengan mobil yang masih saya ingat waktu itu, sedan Toyota Corona warna hitam tahun 1988 dengan kondisi luar yang terlihat sangat biasa. Mobil yang sangat sederhana untuk ukuran beliau dengan segala jabatan yang pernah diembannya. Maju terus Pak Boed …….

Ferdyansyah
15 Mei 2009 10:58
0

Sebenernya kalo dibilang pak boed antek IMF dan antek neo liberalisasi itu pasti bisa langsung dibantah,tidak lazim bilang kalo dia itu antek-antek hal semacam itu,ada segelintir orang maupun ekonom yang bilang seperti itu nampaknya sebagian besar dibumbui oleh sentimen pribadi yang tidak berpijak pada objektifitas.
Apa karena pak boed lulusan Wharton yang dimana itu adalah didikan barat dan teramat kental dengan aroma-aroma liberalisme?menurut saya tidak. Dia tipe orang yang bisa berpikir jernih bagaimana meramu berbagai teori-teori ekonomi dari berbagai aliran sehingga ujungnya menghasilkan kemakmuran bagi rakyat senegrinya.
Dilema saat ini adalah bahwa dia tidak mempunyai basis politik. Sesuatu yang menurut pandangan saya tidak perlu dibesar-besarkan. Terlihat jelas bahwa mayoritas kita terlalu mengedepankan aspek politik dalam pemerintahan, ini sesuatu yang tidak benar. Hubungan Politik dan Ekonomi seperti hubungan Fisika dan Matematika, tak akan pernah dapat dipisahkan.

Siang ini Pak Boed akan mendeklarasikan dirinya bersama SBY di SABUGA Bandung.
Dia ke Bandung dengan menaiki Kereta.

15 Mei 2009 10:58
0

tulisan bung faisal sangat orisinil dan memberi perspektif beda dari apa yang sedang berkembang di media belakangan ini. tulisan ini sangat pantas diangkat menjadi headline kompas.com http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/05/15/10221414/Sisi.Lain.Pak.Boed.yang.Saya.Kenal...

artinya, tulisan lain di kompasiana punya berpeluang untuk masuk ke headline KOMPAS.com, bahkan mungkin akan dimuat di kompas cetak.

makasih bung faisal atas sharingnya, bravo buat kompasiana….

Yono
15 Mei 2009 10:58
0

Saya termasuk orang yang paling setuju bilamana cawapres SBY adalah Boediono.
Seperti yang telah diceritakan oleh bung faisal dan teman-teman lain yang telah bertemu Pak Boediono bahwa beliau memang saangat sederhana.
Maju terus pak Boed semoga dengan hadirnya pasangan SBY-Boediono Indonesia lebih baik….
Allahu Akbar…………

warsono
15 Mei 2009 11:03
0

Sy pun heran dengan pemimpin2 bangsa ini yang suka men ‘”judge” dan mencari kesalahan2.
Pak Boed begitu low profile nya dan lepas dari conflict interest masih sj ada yang meragukan kemampuannya. Hai politikus2 sadarlah kalau memang anda sama2 berniat memajukan bangsa ini.Coba intropeksi diri sendiri. Doaku semoga pak SBY dan Pak Boed bisa mewujudkan bangsa ini menjadi lebih maju dan sejahtera. Selamat pak Boed.

mm.rahman
15 Mei 2009 11:05
0

pak faisal…

terimakasih sudah memperkaya informasi saya…. semoha allah membalas lebih baik…
tentang pak boed, sudah saatnya buat semacam list untuk mendaftar pejabat kita yang berkarakter baik, sederhana, karena mereka kan makhluk minoritas di tengah riuhnya hedonisme pejabat….

Nusantaraku
15 Mei 2009 11:09
0

Terima kasih atas sharing Sisi Lain Pak Boed, membuka wawasan.
Namun, bagaimana jika Pak Faisal lebih menekankan pembahasan mengenai ekonom yang diterapkan pak Boediono?
Karena apa saya baca, lebih pada personal profil.
Bagaimana kasus BLBI? Penjualan saham BCA ke Farallon?
Bukankah John Pilger ataupun John Perkins secara tersirat mengatakan pembangunan ekonomi Indonesia semu? Pertumbuhan ekonomi tinggi, sebenarnya pasar modal yang tinggi sedangkan realnya tidak seperti itu. Disparitas kaya dan miskin semakin tinggi.
Setiap orang memiliki sisi lain. Itu pasti. Tapi, ada sisi lain juga yang harusnya kita cermati.
Trims

Popoi Naibaho
15 Mei 2009 11:11
0

dari penjelasan bung Faisal diatas menguatkan feeling saya selama ini bahwa Pak Boediono itu orangnya “sederhana dan pekerja”. Partai maupun pihak/orang lain yang mengecam apalagi dengan isu antek IMF,etc tanpa memberi bukti yg kuat adalah pembodohan bahkan mungkin fitnah. Saya gerah dengan yg berkembang dewasa ini “semacam standard” bahwa “calon presiden/wapres harusnya jawa-non jawa, nasional-religius”, menurutku adalah pemikiran yg “tradisional”, yg tidak percaya dengan perubahan bangsa ini.

an alchemist
15 Mei 2009 11:15
0

Bukankah sebaiknya kita tidak memilih karena kaitan emosional?

Saya akui Pak Boediono bersahaja, santun, dan jauh lebih baik daripada banyak pejabat saat ini. Gaya hidup dan etos kerjanya patut diteladani. Tapi ada banyak sosok bersahaja dengan paham dan solusi ekonomi yang jauh lebih merakyat dibandingkan langkah-langkah tim ekonomi saat ini (yang mana Pak Boediono menjadi salah satu pokoknya)… bukan hanya Pak Boediono.

Alan Greenspan juga relatif “bersahaja” (dalam standar pejabat AS). Tapi beliau terlibat dalam pengembangan bubble economy hingga muncul krisis saat ini, dan mengakuinya.

Jadi hati-hati, jangan sekedar hubungan emosional.

Yang menjadi persoalan adalah mengapa perekonomian Indonesia kini tidak mencerminkan konstitusinya sendiri (Pasal 33 UU 45)

widiartono
15 Mei 2009 11:15
0

Informasi yang penting dan langka tentang Pak Boed, mudah-mudahan kehadiran Pak Boed dalam posisi yang lebih strategis ini membuat langkah perbaikan ekonomi kita semakin efektif, namun yang terpenting adalah optimisme kita yang dipicu oleh kehadiran Pak Boed, niscaya apabila seluruh bangsa optimis, maka mimpi-mimpi kita menjadi bangsa yang lebih baik dan maju akan terwujud. Maju terus Pak Boed, terima kasih Pak Faisal..

rina
15 Mei 2009 11:18
0

Saya kurang sreg dengan pak SBY di periode pertama memimpin negeri ini karena memilih seorang wapres dari kalangan pedagang, saya berpikiran pastilah akan banyak mengalami “conflict of interest” termasuk juga beberapa menterinya seperti aburizal bakrie, namun dengan dipilihnya pak BOEDIONO sebagai cawapres pada pemerintahan ke dua mendatang,saya sangat berbesar hati karena beliau akhirnya memilih seorang yang saya yakini dapat memberikan contoh kesederhanaan(yg sebenarnya) pada para pejabat negara. Khusus untuk Pak SBY mohon tidak mudah menitikan air mata lagi jika anda terpilih sebagai pemimpin NKRI periode ke 2 mendatang, yang saya sangat harapkan adalah kepekaan Bapak dalam merespons keadaan ,seperti kasus lumpur lapindo, yang mudah2an pada periode pemerintahan mendatang bapak jangan terjebak pada perasaan “ewuh pekewuh” pada pihak lain ,agar keadaan spt kasus lapindo tidak berulang pada pemerintahan anda ke 2.wassalam

theopiluss
15 Mei 2009 11:21
0

Gimana yah…
Kebanyakan dari kita itu hanya terima berbagai informasi berdasarkan isu-isu atau gosip yang berlabel “katanya”. Katanya si A itu orangnya si anu, katanya si B itu antek kelompok itu atau negara anu. Negara itu hanya ingin mendikte negeri kita dengan bantuan anu, lalu si B itu pro negara itu…
Semua hanya katanya, lalu siapa, dan bagaimana orang yg diisukan itu tidak ada yg memberi informasi dg jelas, jadi… sudah waktunya jika seseorang yang ingin/dicalonkan untuk menjadi pemimpin di republik ini dapat diketahui latar belakangnya dengan jelas sehingga rakayat tidak salah pilih orang yg akan dipercaya untuk memimpin negara ini untuk lima tahun ke depan…

salam

Dedy Mawardi
15 Mei 2009 11:23
0

Tidak ada yg haram buat Budiono maju sebagai cawapres dan tidak pula haram bagi pemikiran Neo-Liberal. Kenapa musti takut dengan neo-lib? yang seprti apa ekonomi kerakyatan itu? Apakah rakyat indonesia sudah jauh dr kemiskinan dg dipimpin oleh orang2 yg gembar-gembor ttg ekonomi kerakyatan. Isu anti Budiono merupakan kepandiran atau kebodohan 2 partai politik yg berbasis islam dalam melihat suatu perubahan. Yang jelas SBY mencoba berupaya memberi janji perubahan di bidang ekonomi dg berduet dg Budiono.

Ismail
15 Mei 2009 11:27
0

Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed… Maju Terus Pak Boed…

Anab Afifi
15 Mei 2009 11:28
0

Bapak Faisal. Tulisan Bapak selalu menampilkan perpektif yang berbeda. Demikian juga pemikiran-pemikiran Bapak. Seperti pengalaman saya dulu (pada th 90) saat masih kuliah dan nyambi jadi reporter ketika kesulitan mencari narasumber ekonom yang mau berbicara soal Palestina, dan ternyata Bapak memberikan argumentasi dan pemikiran yang mengejutkan. Saya ingat senior Bapak di LPEM waktu itu bilang kepada saya:”Omong kososng”. Tapi Bapak menemukan hal yang “bukan omong kosong” dan menjadi perpektif tersendiri.

Tulisan bapak kali ini, ternyata Bapak juga membuktikan mampu menulis artikel yang story telling. Mengena dan memikat.

Di luar itu, terlepas apakah ada intensi khusus atau tidak, tulisan Bapak ini telah sukeses menjadi PR yang baik buat Pak Boed. Dan saya yakin begitu ampuh. Mengingat masyarakat Indonesia yang berciri melodramatis itu, pasti akan luluh.

Terima kasih
Salam
Anab Afifi

febianto
15 Mei 2009 11:28
0

thank pak FB,
sy ingin baca perspektif anda ttg arus pemikiran ekonomi dr cawapres kita ini. tks

Fajar Harapan
15 Mei 2009 11:29
0

Ass Bung Basri,
Memang di negeri ini banyak berita sampah yang dihambur-hamburkan.
Sedangkan kebaikkan sedikit yang mempublikasikan.
Sby berpikir siapa yang terbaik mendampingi dirinya dalam mengemban tugas berikutnya.
Sedangkan politisi pada umumnya berpikir apa yang bisa saya peroleh kemudian apa yang bisa diperoleh partai saya. Yang semestinya baik buat rakyat menjadi hal terlupakan/menjadi pemikiran berikutnya atau pun malah terlupakan.
Tapi mudahx2 an masih ada yang berjuang buat kepentingan rakyat dan bangsa.

Sekarang bukan orang saja yang menjadi masalah tapi fundamental pemikirannya arahnya kemana. Buku pegangannya apa?
Jadi orang dan arah pemikirannya kemana ini yang penting untuk memperbaiki ekonomi Indonesia saat ini.

Jadi Indonesia ini perlunya apa kalau lapar perlu makan direstoran dan kenyang sehat, klo Indonesia ini lagi pusing perlu kedokter dan apotik supaya sehat.
Atau perlu duax2nya makanan dan obat.

Ingat perbuatan kita semua tidak hanya berpengaruh terhadap kehidupan kita didunia saja tapi tanggung jawab diakhirat tidak bisa luput.
Wass,
Fajar H

agnes nurcahyono
15 Mei 2009 11:30
0

terima kasih bung faisal atas infonya tentang pak boedioni. ini bisa saya jadikan referense pelengkap saya. jujur, saya mengenal sosok pak boediono saat belajar ekonomi makro. kebetulan saya pake buku yang belia tulis. kesederhanaan dan rendah hati beliau lewat tulisan bung faisal semoga bisa membuka mata para politikus yang berkoar2 menyudutkan pak boediono.

Michael Adhi
15 Mei 2009 11:32
0

Terimakasih atas tulisannya Pak Faisal. Di tengah hingar bingar black campaign terhadap Pak Boediono, tidak ada yang menceritakan latar belakang sedikitpun tentang beliau. Terpilihnya Pak Bud sebagai gubernur BI sendiri sudah merupakan pencapaian karir ekonom tertinggi di Indonesia. Kemampuannya pasti tidak diragukan karena beliau memimpin lembaga keuangan tertinggi Indonesia. Perihal black campaign neo liberal saya rasa hanyalah sebuah wacana untuk menjatuhkan Pak Bud saja karena ada yang tidak kebagian “kekuasaan”.

Bila terpilih, semoga Pak SBY dan Pak Bud berhasil mengarahkan Indonesia ke negara yang benar-benar bersih. Setidaknya keluar dari 5 besar negara terkorup di Asia.

15 Mei 2009 11:35
0

Bung Faisal, tolong sampaikan salam hormat saya untuk pak Boed.
Ketika beliau diminta untuk jadi Menko pada jaman pemerintahan SBY-JK, pak Boed menolak. Hanya dengan alasan Negara Membutuhkan, maka pak Boed mau jadi menko Ekuin. Begitu juga ketika akan menjadi Gubernur BI. Sebelumnya pak SBY mencalonkan orang lain. Ketika mencapai situasi buntu, maka pak SBY terpaksa mencalonkan pak Boed untuk menjaid Gubernur BI. Ini artinya pak Boed adalah orang yag tidak meminta minta jabatan. Apakah ini bukan budaya Islam dan sesuai juga dengan hadist nabi yang menyatakan pilihlah orang yang tidak meminta jabatan dan tolaklah orang yang meminta jabatan. Sekali lagi, mohon disampaikan salam hormat saya untuk pak Boed.

Poltak
15 Mei 2009 11:37
0

Dari semenjak saya mahasiswa di FEUI saya kagum pada Pak Faisal Basri atas kecerdasan dan kesederhanaan yang saya saksikan dengan mata kepala saya sendiri. Sedikit dosen yang saya lihat punya integritas seperti beliau pada masa ini. Beliau bisa mensharingkan tulisan yg bermutu ini juga pasti karena kesederhanaan dan keperdulian beliau pada kepentingan bangsa. Yang nuduh macem2 pasti belom kenal siapa Pak Faisal ini. Maju terus Pak Faisal…

noer
15 Mei 2009 11:42
0

terima kasih atas tulisan bung faisal
sangat membantu kami mengenali sosok yang terlihat sangat santun dan tidak banyak bicara tapi sangat berdedikasi seperti pak bud

Rina Oei
15 Mei 2009 11:45
0

Bang Faisal, kalau seseorang mengetahui sesuatu yg baik mengenai orang lain yg kebetulan saat ini sedang “dipojokkan” adalah suatu tindakan yg mulia apabila orang yg mengetahui itu melakukan “pembelaan”. Sangat prihatin dengan sebagian rakyat Indonesia yg coba diberikan pemimpin yang baik tapi di fitnah, dipojokkan ….. maunya apa ya…… Indonesia ini sebenarnya bangsa yg luar biasa hebat tapi sayang berpuluh-puluh tahun dipimpin oleh pemimpin yang tidak benar….. Waktu beberapa th yg lalu, saya ditanya asalnya dari mana ? saya menjawabnya dari Indonesia tapi dengan hati yang sangat maluuuuu sekali, malu dengan tingkah polah orang2yg suka korupsi, teror & rakus….. tapi saat ini rasa malu itu berkurang…. dng sejujur-jujurnya saya katakan…..

Des1
15 Mei 2009 11:46
0

Terimakasih Pak Faisal atas tulisannya, semoga bangsa kita akan lebih berhati-hati dalam menerima info…Semoga era baru perpolitikan yang mengutamakan unggah-ungguh dan base on performance/profesionalisme akan segera tiba. Terlalu lama bangsa ini dibodohi oleh jargon2 kerakyatan/sosial yang mentok sampai ke titik wacana..

izzul w
15 Mei 2009 11:53
0

Trima kasih informasi ini krn terus terang kami belum mengenal pak Boed dg baik, bila saat ini banyak komentar negatif dari lawan politik yang tidak setuju, informaasi dari Bapak ini sangat berarti. Saya pikir seorang wakil presiden tidak ada keharusan dari partai Islam yang penting bagi saya orang yang beragama Islam. Yang dari partai Islam saja beberapa wakil rakyatnya masuk bui karena terbukti korupsi. Kapan bangsa ini maju bila perselisihan pendapat tidak dihadapi dengan kepala dingin. Jangan-jangan sebentar lagi ada istilah partai di Indonesia seperti taman kanak-kanak. Ramai di komentarnya saja tidak rama di kinerjanya.

Yudi
15 Mei 2009 12:00
0

Saya sendiri salut sama pak faisal basri, temen saya pernah naek bus bareng pak faisal :)

Ratna Kumala Hapsari
15 Mei 2009 12:01
0

Dear Pak Faisal Basri..

Terimakasih Pak atas tulisannya mengenai sisi lain Pak Boed…Saya bener-bener terharu saat membacanya. Kebetulan saya memang mengikuti berita-berita tentang Pak Boed sejak masa pemerintahan Gus Dur. Moga-moga tulisan Bapak menjadi pencerahan bagi bangsa Indonesia, supaya bisa menentukan arah perjalanannya 5 tahun ke depan. Apalagi saya yakin bahwa pilihan Pak SBY terhadap beliau bukanlah keputusan sesaat.
Saya betul-betul merasa duet SBY-Boed adalah duet yang rendah hati, tidak suka menjelek-jelekkan sesuatu yang sebenernya mereka tau itu jelek, tidak suka menonjolkan diri. Dan hal inilah yang paling penting dimiliki oleh seorang pemimpin bangsa.

Pembaca Blog
15 Mei 2009 12:10
0

Saya Sempat baca 15san respon dari tulisan ini, dah dari 15 yang saya baya tidak 1pun yang tidak setuju dengan tulisannya Bpk faisal, semoga yang baik jadi baik adanya

gerard
15 Mei 2009 12:31
0

Orang yang menolak Pak Bud untuk mencadi Cawapres adalah mereka yang rakus kedudukan.sperti Parti Pan, dan PKS. partai yang sangat rakus kedudukan. Partai model ini yang kalau duduk di pemerintah hanya memikirkan partai dan golongannya sendiri.Akhirnya Indonesia terpecah belah. Maju terus Pak Boed. Tidak udah mikiran orang-orang yang rakus kedudukan yanag dimotori oleh tokoh yang rakus spt amin rais

gerard
15 Mei 2009 12:36
0

IndonesiaButuh orang seperti Pak Boed. Benar sekali Pak Faisal. Orang seperti Pak Boed yang perlu kitadukung.. Maju terus Pak Boed,maju terus Indnesiaku. jangan hiraukan para perakus itu.

Kariaman
15 Mei 2009 12:37
0

Pak Faisal, terimakasih banyak informasinya. Saya memang sangat-sangat tak ada informasi apapun tentang Bapak Boediono. Saya malah takut sekali setelah tahu bahwa Boediono akan menjadi cawapres, bisa2 SBY jadi kandas jadi Presiden, karena Cawapresnya kandidat tanpa massa. itulah pikiran saya. Ini juga karena informasi yang kita dapatkan selama ini di harian2 Indonesia ini jarang yang menampilkan sosok2 dibalik keberhasilan ekonomi kita, informasi yang tidak seimbang. Yang kebanyakan diangkat adalah masalah siapa melawan siapa, siapa menang dengan siapa. Kepada Pak Basri jangan pernah berhenti memberikan informasi2 seperti ini, sehingga masyarakat Indonesia tidak menjadi masyarakat yang suka omdo dan ikut - ikutan saja menelan isyu2 yang dia sendiri pun sebenarnya sangat2 tidak tahu dan mengerti. So, Bravo.

Krisna
15 Mei 2009 12:39
0

Saya bangga Negara Tercinta ini masih memiliki PEJABAT sekualitas Pak Boediono.

Pejabat SANTUN, JUJUR dan PROFESIONAL, kalau beliau jadi PRESIDEN pun saya dukung…

gerard
15 Mei 2009 12:41
0

orang seperti pak Boed yang ditunggu-tunggu rakyat. makasih pak Faisal.

sencihan
15 Mei 2009 12:42
0

Bagus bang Faisal,setidaknya nanti bisa didorong agar pemerintahan kedepan tidak terpaku pada ‘akuntabilitas pada proses’ tapi lebih ‘akuntabilitas dari hasil pencapaian’ didalam mengukur kinerja pemerintahan agar bisa menjadi panduan untuk kinerja pemerintah didaerah-daerah. seorang kawan blogger (adhicahyono) sudah sedikit mengupas soal itu dalam postingan nya berjudul - TO MEASURE IS TO KNOW;Bagaimana Mengukur Performa Sebuah Pemerintahan?-.

Harry
15 Mei 2009 12:45
0

Terima kasih pak Faisal atas tulisannya, saya tunggu tulisan2 lain mengenai pak Boediono. Tulisan anda menambah keyakinan saya akan Indonesia yg lebih baik.

ihasan
15 Mei 2009 12:52
0

Bang Faisal,

thanks berat atas sharing diatas, sehingga kami bisa lebih mengetahui sosok calon pemimpin kita.
Dear kompas, please release the script on the dayly hardcopy

Ndri
15 Mei 2009 12:52
0

Mudah2an kesantunan,kesederhaan,keramah tamahan dapat mendukung Pak Boed untuk bekerja profesional menjadi Wapres (kalau terpilih). Saya juga awalnya tidak mengenal sosok Pak Boed ini, bahkan cenderung negatif, tapi setelah membaca cerita bang Faisal ini ada tambahan informasi a priori yang membuka pikiran saya.

Roki Panjaitan
15 Mei 2009 12:56
0

Tulisan Pak Faisal Basri tentang sosok Pak Boediono, sebuah kesaksian bahwa masih ada putera bangsa yang pantas menjadi teladan ditengah-tengah bangsa ini. Pantas Pak SBY memilih beliau untuk mendampinginya menjadi Calon Wakil Presiden pada PILPRES yang akan datang. Pemimpin yang rendah hati dan bersahaja( humble), akan melekat dihati masyarakat. Sosok Pak Boed sebagai begawan ekonomi, apabila kelak menjadi RI 2, kiranya mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia, ditengah krisis keuangan global saat ini. Pilihan Presiden SBY, yang memilih Cawapres seorang ahli ekonomi dan keuangan sudah tepat pada saat ini. Prediksi ahli-ahli keuangan dunia, bahwa pemulihan ekonomi dunia dari kehancuran sekarang ini masih membutuhkan waktu 3-5 tahun ke depan,bahkan eksesnya bisa puluhan tahun ke depan. Dalam situasi krisis ekonomi sekarang, CAWAPRES yang menguasai masalah ekonomi dan keuangan kita butuhkan. Pak Boed kami tunggu karya dan baktimu untuk bangsa ini.Terimakasih kepada Pak Faisal Basri, yang menuliskan sosok Pak Boed,sehingga masyarakat tahu sosok Calon Pemimpin Indonesia yang datang.

budi
15 Mei 2009 13:07
0

pada saat Pak Boed di usulkan jadi cawapersnya pak SBY, didalam hati saya rasanya kecewa ( gelo ) campur aduk dengan gremengan sendiri , lha kan ada banyak calon yang lain kenapa pilih Pak Boed yang nota bene orang non partai terus nantinya bagaimana cara menghimpun masa…maklum saya adalah penggemar tulen Pak SBY …. baru setelah baca “kompasiana” pagi hari ini hati dan mata saya menjadi terbuka kalau pilihan ini tepat adanya…. dan selama beberapa hari ini ternyata pikiran/jiwa saya di pengaruhi pemberitaan yang negatif ttg sosok pak Boediono….. oke “LANJUTKAN & BRAVO untuk duet SBY-BOEDIONO ” semoga rakyat indonesia makin makmur…..

Fathoni
15 Mei 2009 13:07
0

terima kasih sebelumnya bung Faisal,

saya memang belum tahu banyak tentang Pak Budiono, tetapi dengan pembawaannya, saya memang sudah cukup respect dengan beliau, kalem tetapi “berisi” dan jauh dari kesan ambisius. Tetapi untuk posisi beliau sebagai Cawapres dari Presiden SBY, saya kok agak kurang setuju ya? saya melihat justru mengerdilkan kewenangan beliau. maaf kalau saya terlalu awam dalam menganalisa. trims.

jelliarko
15 Mei 2009 13:10
0

Saya…………tenggorokan saya tercekat, lidah saya kelu, mata saya basah, bung Faisal Basri terima kasih atas cerita anda, tak disangka masih ada pejabat negara semulia itu pikiran dan tindakannya. Berkat Tuhan smoga mengiringi setiap langkahnya. Salam !

ari
15 Mei 2009 13:11
0

Terima kasih Mas Faisal. Membaca ulasan mengenai Pak Boediono sepertinya beliau adalah cerminan Mas Faisal sendiri. Sebagai orang awam di bidang ekonomi, bolehkah Mas Faisal menjelaskan apa yg didefinisikan sebagai ekonomi neo-liberal? apakah konsep ini yang juga sering kali dihujat oleh Bu Menkes kita? Lalu, apakah nanti tidak memancing kontroversi kalau ada Pak Boediono yang katanya pendukung neo-liberal dan bu Menkes yang anti? Mohon pencerahannya akan kemungkinan ini di kabinet selanjutnya. terima kasih

aseps2000
15 Mei 2009 13:16
0

Terima Kasih Bung Faisal Basri….

Fakta kecil ttg Pak Boed ini bisa menjadi penghilang dahaga tenggorokan saya terhadap berbagai tuduhan yg menyerempet ke fitnah kepada Pak Boediono.
Intinya bagi saya adalah…mau Neo-Lib atau Ekonomi Kerakyatan atau teori-2x Ekonomi yg lainnya yang penting rakyat Indonesia Sejahtera.

irfani
15 Mei 2009 13:18
0

Pak Budiono adalah Ilmuwan Ekonomi, yang sangat langka di Indonesia

Tia Srie
15 Mei 2009 13:23
0

Aku sampai nangis karena bangga Indonesia mempunyai manusia berkualitas seperti pak Boed.. ini sangat memacu saya untuk bisa lebih maju dan baik lagi.. semoga banyak pak boed lain di luar sana.. sehingga negara Indonesia bisa maju..

buya
15 Mei 2009 13:24
0

pak faisal , tolong berikan penjelasan yg sebenarnya ttg “siapa itu pak Boediono” kpd khalayak lewat berbagai media (baik TV, Radio, Surat Kabar,dll) jadi masyarakat bisa tahu dan sadar shg pemberitaan slm ini yg timpang/ berat sebelah bisa dikurangi.

H SURYA
15 Mei 2009 13:30
0

Salam Bang Faisal,

Bagus bangat info nya, tepat waktu dan benar. SBY sangat berani memilih Pak Boed, bukan dari partai. Itu artinya 5 tahun kedepan Indonesia harus 100% memperhatikan ekonomi kita, lupakan masalah politik dan jangan takut ancaman dan kritikan partai-partai lain, sudah jelas tujuan mereka tidak murni, hanya ingin dapat jatah kekuasaan. Berita negatif dan miring bisa saja menjatuhkan, namun yg penting saat ini, negara kita sedang berjalan ke arah yg lebih baik, mari dukung terus SBY-BOED, LANJUTKAN…!!! Orang yg berdosa sekalipun, Allah bisa maaf kan, kenapa kita tidak demikian. Saat ini tidak ada yg lebih baik, selain melanjutkan yg sudah ada, setelah 5 tahun kemudian, silahkan maju lagi, rakyat sudah lebih pintar, Hidup Indonesia, Indonesia Sejahterah, dan Indonesia Maju, wslm.

sofia
15 Mei 2009 13:31
0

seharusnya tulisan seperti ini diperbanyak agar makin banyak orang tahu pribadi cawapres yang low profile begini. mengingatkan saya kepada (alm) Mas Hugeng, mantan Kaplori yang superjujur. saya mulai menyesali pilihan di pileg kemarin karena ternyata partai yang saya pilih seperti cacing kepanasan… sore loser!

b. dayono
15 Mei 2009 13:34
0

Akhir-akhir ini, saya (dan mungkin sebagian rakyat Indonesia yang tidak mengerti politik) sungguh bingung dengan diskusi/obrolan/hujatan tiap hari di tv, koran, website, milis, dsb mengenai pak Boed ini. Kayaknya mereka tuh semua tahu betul mengenai pak Boed, ya perilaku, kehidupan, falsafah beliau sehingga dicap sebagai neo-lib dsb. Lalu ada demo segala. Wuihhhhh… sungguh luar biasa.
Terima kasih bung Faisal, semoga lebih banyak rakyat yang membaca tulisan ini.
Dan kepada pak Boed, pantang mundur Pak… !!!!

ganymede
15 Mei 2009 13:36
0

Membaca tulisan seorang Faisal Basri membuat saya percaya dengan integritas pak Boediono. Faisal Basri kita kenal sebagai sosok yang sangat konsisten, sejak sebelum menjadi sekjen PAN dan sesudahnya. Beliau ini yang menolak honor dari Depkeu dan mengembalikan yang sudah diterimanya tanpa sepengetahuannya. Dan pak Boediono, pasti sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Faisal Basri.

Unisa81
15 Mei 2009 13:48
0

Banyak sekali yang me-refer tulisan pak Faisal Basri ini….
saya cuma berharap, semoga aja jika beliau terpilih menjadi wapres, Indonesia menjadi lebih baik lagi… mengiingat tantangan ekonomi sangat berat saat ini…

Fajar
15 Mei 2009 14:16
0

Luar biasa. Pak Boed seharusnya menjadi panutan bagi para pejabat yg ada saat ini. Santun, sederhana, namun berilmu dan berprestasi. Mata saya basah saat membaca Pak Boed dijemput istrinya sendiri naek mobil pribadi mereka, yg nyetir istrinya. Saya ngebayangin kalo pejabat2 lainnya pasti udah dijemput sama para pengawal dan ajudannya dengan mobil mewah.

Saat membuat comment ini, sy buka detikcom dan ada foto2 Pak Boed naik kereta api untuk pergi ke peresmian Capres & Cawapresnya tanpa ada pengawalan…

Ada lagi gak sih pejabat tinggi yg sederhana seperti ini di Indonesia? sharing dong :)

djaka
15 Mei 2009 14:42
0

Bagi yang ingin tahu bagaimana pandangan ekonomi pak boediono, mungkin pertama kali bisa merujuk ke naskah pidato pengukuhannya sebagai guru bsar UGM tahun 2007. Di situ dia menyebutkan banyak hal mengenai apa yg harus dilakukan Indonesia ke depan di bidang ekonomi. Saya yakin, posisi wapres diberikan kepadanya oleh SBY sebagai tanda penghargaannya kepada ide itu supaya dijalankan.

nyoman
15 Mei 2009 14:57
0

say Yes to No-No

Charles Tobing
15 Mei 2009 14:59
0

Salam hormat Pak Faisal ,

Bapak dan Bp. Kwik Kian Gie merupakan idola saya dalam hal integritas dan moral dalam perekonomian. Justru karena itu saya merasa membutuhkan pencerahan lebih lanjut sehubungan dengan tulisan Bapak ini jika dikaitkan dengan artikel Bpk. Kwik yang berjudul “ Seminar Krisis Ekonomi Indonesia : Keberhasilan 53 Tahun Mafia Berkeley?” sebagaimana yang dimuat dalam http://www.koraninternet.com .

Mohon juga pencerahannya mengapa kebijakan yang diambil oleh Pak Budiono dan tim sangat mirip dengan 10 butir kebijakan neoliberalism sebagaiaman yang dirangkum dalam John Williamson’s Washington Consensus. Mohon pencerahannya juga jika ternyata pemahaman saya salah.

Saya pribadi berpendapat bahwa tidak ada relevansi ada cara dan gaya hidup seseorang dengan pandangan atau paham yang dianutnya bidang ekonomi. Dengan kata lain, tidak ada keharusan bahwa seorang neoliberalist harus terlihat flamboyant atau mewah maupun makmur dan sebaliknya tidak dapat disimpulkan bahwa seorang sosialis akan selalu terlihat sederhana.

Anyway, tanggapan ini semata-mata merupakan usaha untuk memperluas wawasan bukan untuk mendiskreditkan seseorang, karena sampai dengan hari ini dengan pertimbangan pribadi saya masih memilih untuk tidak memilih.

Salam

Rahardjo
15 Mei 2009 15:00
0

Saya yakin Fuad Bawazier (Hanura) dan Bambang Sudibyo (PAN) walau dua2nya lulusan Akuntan pasti akan mengiyakan tulisan mas faisal ini karena beliau2 adalah bekas mahasiswanya ….!

Sobar Hatta
15 Mei 2009 15:03
0

Bener banget Bang, Pak Boed selama ini yang saya kenal waktu ngajar di FE UGM. Orangnya rendah hati, ketika di kelas ditanya tentang issue atau hal yang menyinggung orang lain, beliaupun cuma senyum. Setiap akhir pekan ketika mau mengajar di UGM beliau selalu dijemput oleh istrinya dari bandara dan tidak pernah menggunakan pengawal. Bahkan suatu ketika pak Boed kehujanan ketiak mau mengajar turun dari mobil, satpam yang biasa siap siaga membawakan payung seperti untuk dosen lainya, pak Boed menolaknya. Bravo Pak Boed, kita butuh keteladanan seperti bapak. Cerita semua dosen-dosenku yang lain juga kebanyakan mengidolakanya di FE UGM.

Komang
15 Mei 2009 15:08
0

Thanks Pak Faisal Basri meski saya belum pernah ketemu langsung Sama Pak Boediono tapi melihat sosok dan pribadinya saya yakin dan percaya apa yang ditulis oleh Bapak Faisal Basri adalah benar adanya tanpa ada propaganda. Hari ini saya melihat Pak Boediono naik Kereta Api ke bandung. Dan saya melihat Demonstrasi yang dilakukan Mahasiswa adalah cuma emosi saja tanpa melihat dan membuktikan dulu kerja beliau. Lagian ini khan baru calon biarkan rakyat yang memilih kok malah kita yang repot-repot yang menolak khan lucu. Kasih kesempatan dulu Pak Boediono untuk membuktikan benar atau tidak beliau Antek Asing. Maju terus Pak SUSBUD (Susilo - Budiono). Buktikan bahwa Bapak bukan antek asing.

folorensus
15 Mei 2009 15:14
0

terima kasih atas ceritanya. Mungkin pak basri perlu cerita di televisi, untuk menghindari prasangka yang berlebihan dari teman2 yang lain

abdul SYAKUR
15 Mei 2009 15:33
0

Saya tidak begitu dekat dan kenal pak Boed apalagi kalau keterlibatannya dalam IMF de el el,
cuma yang saya tahu, Pak Boed hemat bicara, kalem, murah senyum.
Kalau masalah hasil kerja keuangan dan ekonomi, saya juga tidak begitu tahu presis, karena saya bukan ahli dalam hal keuangan dan ekonomi.

Namun saya membaca apa yang disampaikan oleh Mas Faisal Basri, INSYA ALLAH saya percaya.
Saya telah lebih banyak mengenal Mas Faisal Basri, ketimbang Pak Boed.
jadi kalau Mas Faisal Basri, memberikan deskripsi tentang Pak Boed seperti itu,
INSYA ALLAH Benar adanya.

Salam untuk Mas Faisal Basri
dan untuk kebangkitan ekonomi INDONESIA
Mohon Mas Faisal bisa bersama-sama Pak Boed dan ekonom2 Muda
BERSAMA untuk memajukan perekonomian BANGSA.

Kamandanu
15 Mei 2009 15:41
0

Allhamdulillah…akhirnya tercerahkan juga tentang sosok pak Boediono ini …dan itu melalui buah tangan pak Faisal basri orang yang tidak perlu diragukan kesahilan dan pemikirannya…
Saya bertambah salut saja dengan cerita pak faisal ini…,ternyata masih ada pejabat sekaliber pak Boediono ini …dinegeri ini…yang sekarang sangat-sangat jarang dijumpai….,pak Boediono ini seperti oase di negeri 1001 KKN ini.

friends
15 Mei 2009 15:57
0

sy ingat, ibu boed pernah cerita, dahulu sewaktu boediono menuntut ilmu di australia ambil S1 kl tdk salah, kl itu pak boediono mencari uang tambahan utk jajan dr mencuci piring di sebuah restoran di australia…mas faisal kan kenal bu boediono silahkan tanyakan langsung pd beliau..

MA Muhyiddin
15 Mei 2009 16:13
0

Betul Pak, saya sendiri heran kenapa begitu mudah makhluk-makhluk di Nusantara ini berfikiran dan berprasangka buruk. Celakanya lagi, penyakit menular yang bernama PERASAAN BENAR SENDIRI dan RASA PALING BENAR kian mewabah dimana-mana. Semua orang lupa pada penggalan-penggalan Kalimat Suci yang haqqul yaqien banyak yang menghapalnya luar kepala : (Q:49 (AL-HUJARAT): 10-13). Wahai Sang Maha Atas SegalaNYA. Tolonglah kami hamba-hambaMU yang kian terpuruk dalam keburukan prasangka dan tinggi hati. Jernihkan hati dan batin ini agar bisa menangkap sinyal kebenaran yang engkau kirimkan meskipun begitu samar dan tersamarkan oleh keangkuhan kami. Dan, berikanlah kepada kami pemimpin-peminpin yang benar-benar amanah, jujur, sederhana, cerdas, tegas, lugas, bijaksana dan baik hati. Amin.

ayahrazy
15 Mei 2009 16:14
0

saya tahu pa boediono dari buku2 ekonomi kuliah saya dulu, semenjak beliau ada dipemerintahan saya selalu berpendapat dia adalah seorang (ekonom) yg hebat sampai sekarang saya juga berpandangan begitu. Nah kalau beliau dipercaya SBY untuk mendampinginya sbg wapres bisa jadi Yang Maha Kuasa tau bahwa beliau memang mempunyai kapasitas dan kemampuan lebih yg bisa dia berikan bagi kemajuan bangsa ini.

nindityo
15 Mei 2009 16:35
0

jika bener apa yang dibilang bung faisal.. berarti Indonesia masih akan tetep ada minimal 5 tahun ke depan. ditengah para pejabatnya yang begitu HAUS KEKUASAAN.
semoga apa yang terbaik untuk Indonesia bisa terwujud

Yudi
15 Mei 2009 17:02
0

saya tidak mengenal Pak Boed, tapi dari paparan Mas Faisal di atas, rasa simpati saya semakin besar pada Pak Boed…Biarkanlah orang-orang partai itu berkata sesukanya dan menuduh Pak Boed adalah Antek Amerika, Neokapitalisme dan sebagainya…Maju terus Pak Boed, jangan takut sama orang-orang partai yang hanya mementingkan kepentingan kelompok…Mari dukung terus SBY-Beodiono!

sarwo edi
15 Mei 2009 17:25
0

Sebagai orang awam, saya merasakan bagaimana Pak Budiono melangkah respon begitu positip indikasi yang gampang dilihat adalah nilai tukar rupiah. Kita butuh Figur Pemimpoin yang sederhana, santun, tidak banyak janji, ahli dalam bidangnya dan ilmuwan, semoga Alloh SWT memudahkan Bapak SBY dan Budiono untuk memimpin bangsa ini.

sayyestobudianduk
15 Mei 2009 17:28
0

maaf, Pak Faisal, kalo Pak Boed seperti itu, it’s oke, akhlak pribadi beliau memang pantas diteladani. Tetapi, kita sedang mencari cawapres dan tidak sedang membicarakan calon tetangga samping rumah. Jauh lebih baik bila Pak Faisal membicarakan visi misi beliau di bidang ekonomi. Citra negatif bahwa Boediono neolib tidak cukup disanggah dengan tulisan bahwa beliau santun dan rendah hati.
Terima kasih.

erwin
15 Mei 2009 17:45
0

Pak Faisal, saya masukkan tulisan ini sebagai wall-post di facebook saya.. biar smua rekan saya tahu siapa sosok Boediono.

Budianto
15 Mei 2009 17:46
0

Disaat ini, keadaan apapun bisa berbalik 180 derajat. Kita bisa lihat dari dukungan partai yang tadinya legowo membiarkan capres SBY menentukan sendiri Cawapres yg diinginkan, tanpa perlu dari kader partai pendukung tersebut. Namun apa mau dikata, setelah nama itu muncul, kita bisa lihat apa komentar mereka. Beribu alasan bisa dibuat. Sulit rasanya untuk memilih yg jujur dan tulus. Rasanya lebih arif untuk tidak melihat janji mereka, nama partai mereka, dan apa yg ingin mereka perjuangkan, namun akan sangat mudah dan lebih relefan bila kita bisa memakai satu kategori pengukur, yaitu sepak terjang yg telah dilakukan, serta kesantunan dan kesederhanaan dari calon pemimpin yg akan kita pilih.

Jelas sekali dari penuturan yg mencerahkan dari pak Faisal yang pernah saya kagumi (ketika bapak keluar dari PAN) , pemimpin-pemimpin seperti Pak SBY dan Pak Boed, adalah sosok seorang pemimpin yg kita telah lihat sepak terjangnya, kesantunannya, dan kesederhanaannya.

Apalagi yg bisa kita nilai di jaman dan kondisi saat ini ?
ketika semua orang mengobral janji dan memoles diri, serta berteriak teriak yang paling idel dan jujur, justru bukankah kebalikannya, kita bisa menilai dari kesederhanaan mereka, kerendah hatian mereka, serta kesantunan dan sepak terjang yg selama ini telah mereka lakukan untuk bangsa dan negri ini.

Semoga apa yg pak Faisal ceritakan, bisa menjadi pentunjuk bagi kita yang peduli.

best regards..

afan
15 Mei 2009 17:46
0

nemu ini nih, binun, konfirmasi dong.
http://padang-today.com/?today=news&id=6100
[quote] Sumbar | Kamis, 14/05/2009 09:20 WIB
Faisal Basri: Boediono Tidak Pas Jadi Wapres
Irwan Suwandi SN - Padang Today [/quote]

AgusNaim
15 Mei 2009 18:08
0

pinter juga yah SBY nyari cawapres… Sayang, kok capresnya SBY sih… maaf pak, saya kok masih ga sreg kalo militer (meskipun mantan) memimpin negeri ini..
Maaf kalau agak negatip :D

risty