Back to Kompasiana
Artikel

Umum

Pahlawan Demokrasi Indonesia

OPINI | 15 May 2009 | 06:08 Dibaca: 455   Komentar: 1   0

Ada yang mengartikulasikan pahlawan dari asimilasi kata “paha” dan “lawan” dengan argument, dalam perang paha lawan menjadi sasaran tembak, sehingga sesiapa yang dalam perang tertembak pahanya dan mati jadilah ia pahlawan. Ada juga yang mengartikan pahlawan dari penggalan kata “pahala” dan “wan” artinya orang yang banyak mendapat pahala karena pengorbanannya untuk bangsa dan Negara, dan kemudian orang itu meninggal dunia walau tidak di medan perang.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Peraturan Presiden Nomor 33/1964 disebutkan bahwa Pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani. Sesuai kriteria-kriteria tertentu ada beberapa gelar kepahlawanan di negeri dan Negara kita: ada Pahlawan Kemerdekaan, ada Pahlawan Revolusi, ada Pahlawan Nasional. Ada yang memberi gelar pahlawan pendidikan bagi Ki Hajar Dewantara, dan gelar pahlawan tanpa tanda jasa untuk penyebutan dan penghormatan bagi guru. Yang tidak mengenakan adalah sebutan Pahlawan Bakiak bagi seorang suami yang sangat takut pada isterinya dan selalu di bawah perintah isterinya.

Beberapa waktu lalu DPR membahas RUU yang mengatur pemberian gelar pahlawan dan mengatur pemberian penghargaan lain berbentuk Medali seperti Bintang Kemanusiaan bagi Pejuang Hak Asasi Manusia dan Bintang Kerakyatan bagi Pejuang Demokrasi. Dalam RUU tersebut diperkenalkan istilah Pahlawan Nasional Indonesia sebagai penyederhanaan istilah-istilah Pahlawan Perintis Kemerdekaan, Pahlawan Kemerdekaan, Pahlawan Kemerdekaan Nasional, Pahlawan Kebangkitan Nasional, Pahlawan Nasional, Pahlawan Revolusi, dan Pahlawan Ampera.

Dalam aturan resmi Indonesia, Pahlawan Nasional Indonesia adalah: (1) warga negara RI yang gugur dalam perjuangan-yang bermutu-dalam membela bangsa dan negara, dan (2) warga negara RI berjasa membela terhadap bangsa dan negara yang dalam riwayat hidup selanjutnya tidak ternoda oleh suatu perbuatan yang membuat cacat nilai perjuangannya.

Tidak semua orang dengan serta merta mendapat gelar pahlawan. Gelar Pahlawan Nasional Indonesia diberikan kepada mereka yang berjasa kepada Negara Republik Indonesia dan mereka yang berjuang dalam proses untuk kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Hingga 10 November 2006, tercatat 138 tokoh yang ditetapkan Pemerintah Indonesia sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

Sesungguhnya ruh demokrasi telah menjadi pilihan bangsa Indonesia sejak prakemerdekaan. Sejak zaman Diponegoro hingga SB-Yudhoyono praktik-praktik demokrasi dapat ditemukan pada tataran RT/RW hingga tataran Negara ketika akan memutuskan atau menetapkan kepemimpinan masyarakat. Ruh itupun secara jelas dan tegas dimuat sebagai dasar Negara; Permusyawaratan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.

Di era orde lama kita mengenal demokrasi terpimpin. Di era orde baru diterapkan demokrasi pancasila. Reformasi adalah suatu eupora mengkritisi sistem demokrasi Indonesia yang selama dua era yang dibungkus oleh kepentingan strategis pemimpin (sang presiden). Di awal reformasi gambaran demokrasi Indonesia sudah nampak lebih cerdas dari demokrasi dua orde sebelumnya. Sebagaimana kita lihat indahnya style demokrasi yang diamalkan oleh Poros Tengah. Kemenangan poros tengah yang bukan mayoritas pemeroleh suara/kursi legislatif pada lobi-lobi politik di parlemen 1999-2004 menunjukkan bahwa pemenangan “lobi” demokrasi bukan sekedar bersandarkan pada arogansi suara/kursi akan tetapi sudah bergeser pada kecantikan “kebenaran” argumen (lobi). Aktor dan action Poros Tengah cukup aspirastif, cukup titis dan mentes sehingga cukup mengedukasi sebagai tontonan sekaligus tuntutan demokrasi.

Style politik kepentingan SBY yang senang mengakomodasi semua kelompok dengan dalih pembenaran untuk kepentingan bangsa dan negara telah memudarkan kecerdasan demokrasi,terasa bahkan chaos. Semua partai mendekat karena yakin akan kebagian kue pemerintahan bahkan bebesar pengharapan untuk mendapatkan tahta wakil presiden dengan dasar pertimbangan prosentase pemerolehan suara/kursi. Akal sehat ditinggalkan, argumen yang cantik berbalut kebenaran sudah tidak tampak memoles lobi-lobi inter dan lintas partai. Dalam pengamatan penulis, style SBY ini merupakan titik krusial yang menjadi blunder tidak enaknya demokrasi untuk ditonton apalagi dijadikan tuntunan. Bahkan Taufik Kemas saja dibuat terkapar (KO) di MMC gara-gara kecapekan (bingung) memikirkan (goaling) lobi (dilamar jadi wapres) SBY lewat HR.

Terbersit dalam benak penulis, perlunya diwacanakan sesiapa yang pantas dianugerahi gelar atau bintang jasa Pahlawan Demokrasi. Bagiku sulit untuk memilih dan memilin kata-kata yang tepat untuk melukiskan sosok Pahlawan Demokrasi. Bagiku Pahlawan Demokrasi adalah sesiapa (aktor politik) yang memiliki kesalehan politik yang secara ikhlas (sabar) mampu mengkontribusi kecantikan demokrasi Indonesia sehingga dinamika demokrasi Indonesia menjadi menarik untuk tontonan, menarik untuk tuntunan, dan menarik untuk pemenuhan kajian akademik. Andakah itu ?, Kitakah itu ?, atau Siapakah Pahlawan Demokrasi Indonesia menurut Saudaraku ?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Yuks Jadi Tongsis Reporter… …

Imam Suwandi | | 23 December 2014 | 00:56

Skandal Pekerja Apple, Mana Suara Pemerintah …

Fandi Sido | | 23 December 2014 | 09:17

Belajar Setia dari Tentara Suriah atau Lebih …

Abanggeutanyo | | 23 December 2014 | 05:27

Empat Modal PSSI Berprestasi di 2015… …

Achmad Suwefi | | 23 December 2014 | 07:07

Voluntourism Blog Competition: Berikan Aksi …

Kompasiana | | 08 December 2014 | 19:03


TRENDING ARTICLES

Fachri Hamzah Ucapkan Selamat Natal dan …

Gunawan | 3 jam lalu

Penyelidikan Korupsi RSUD Kota Salatiga …

Bambang Setyawan | 12 jam lalu

Akankah Nama Mereka Pudar?? …

Nanda Pratama | 14 jam lalu

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 15 jam lalu

Hebatnya Ibu Jadul Saya …

Usi Saba Kota | 16 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: