Umum
Lihat Profil    Jadikan teman    Kirim Pesan
Pria metropolis dan kurang atletis yang lahir di Hari Kamis ini hanyalah seorang blogger narsis, kerap berpakaian necis serta menghindari hal yang najis-najis. Lelaki Berkumis tipis ini juga menggemari kue pukis dan sayur buncis. Sangat jarang meringis karena senantiasa memamerkan senyum manis yang selalu bikin hidung gadis kembang kempis. Begitu kepingin berwisata ke Paris, meski hanya sekedar pipis dibawah gerimis. Lelaki kelahiran Makassar,9 April 1970 ini, tinggal di Cikarang bersama istri dan kedua buah hatinya, Rizky dan Alya. Menulis dan ngeblog adalah sebuah aktifitas bagi dirinya un...
Merangkai Hari Di Perumteks
Amriltg
|  25 Mei 2009  |  09:40
239
7
Nihil.

perumteksmaros-resize.jpg

Saya dan adik-adik berpose di Perumteks tahun 1985

INILAH kisah saya tentang Perumteks alias Perumahan Tripleks.

Disanalah saya, dirumah dinas berdinding tripleks itu, bersama ayah, ibu dan ketiga adik saya, Budi, Yayu dan Yanti, merangkai hari demi hari lebih berwarna serta bermakna mulai tahun 1983-1999. Rumah yang kami tempati tepat berada dibelakang kantor ayah saya di Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih VI (BPSB) Kabupaten Maros yang berjarak sekitar 30 km dari kota Makassar. Secara berderet, disamping rumah kami, ada rumah rekan kerja satu kantor ayah saya Pak Balambang dan Pak John sekeluarga. Juga sama-sama bermukim Perumteks

Saya masih ingat betul bagaimana ayah membangun rumah kami dulu. Sejak kepindahan kami dari Bone-Bone, kami sementara bermukim dirumah paman (adik kandung ibu saya), Miki Igirisa yang ketika itu bekerja di Dinas Pertanian Kabupaten Maros. Kantor ayah, Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih VI memang masih relatif baru memulai operasi dan kegiatan pertamanya di Maros.

Karena proyek pembangunan rumah dinas pegawai masih cukup lama, bersama dua orang rekan kerjanya (Pak John dan Pak Balambang), ayah memutuskan mengajukan proposal membangun rumah dinas yang berlokasi tepat dibelakang kantor. Usulan itu disetujui namun karena budget terbatas, ayah beserta Pak John dan Pak Balambang memutuskan membangun rumah dengan dinding dari tripleks saja. Luas rumah Perumteks kami itu sekitar 150 meter persegi, sedikit lebih besar dari rumah Pak John dan Pak Balambang.

Maka demikianlah, Perumteks pun dibangun. Pihak kantor membebaskan ayah mendesain sendiri rumah sesuai budget pembangunannya. Kurang lebih 6 bulan pembangunan Perumteks dilaksanakan. Kami resmi menempati rumah Perumteks hasil desain amatir ayah saya sekitar pertengahan tahun 1983 setelah kurang lebih setahun kami “menumpang” dirumah Paman Miki.

Sungguh, saya sangat takjub saat pertama kali memasuki rumah kami yang baru di Perumteks. Meski saya sudah beberapa kali datang kesana saat rumah kami sedang dikerjakan, namun ketika memasuki rumah sederhana berkamar tiga ini, saya tak bisa menyembunyikan kekaguman saya. Dinding tripleks itu dicat dengan pelitur sehingga warna kayunya mengkilat saat ditimpa cahaya. Eksotis!. Khusus dibagian dalam, khususnya diruang keluarga, dicat dengan warna putih. Anda bisa melihat sebagian dari interior dalam Perumteks kami di posting ini.

Bersama Budi, saya menempati satu kamar sendiri dibagian depan, ayah dan ibu dikamar samping sementara kedua adik perempuan saya dikamar belakang. Kamar mandi berada terpisah dari bangunan induk dan tepat dibelakang rumah kami, hamparan sawah terbentang. Setiap siang, semilir angin sawah–tentu dengan bau tanah yang khas–bertiup lembut melalui kisi-kisi jendela kamar belakang kedua adik perempuan saya. Menembus hingga keruang keluarga dan menebarkan rasa adem, menyejukkan dan mendamaikan hati. Kami tak perlu memasang kipas angin disiang hari yang panas karena tiupan angin sepoi-sepoi dari arah sawah sudah cukup melenakan. Disamping rumah kami masih ada area tanah yang cukup luas dan dimanfaatkan oleh ayah berkebun, melanjutkan hobi beliau saat masih di Bone-Bone dulu.

Ayah dan ibu juga memilih perabotan yang “senada” dengan type rumah kami. Kursi dan Meja serta rak Rotan. Jadi terlihat lebih serasi dan harmonis, apalagi dipadukan dengan hasil pelitur dinding tripleks. Saya masih ingat, menjelang lebaran tiba, kami senantiasa menjalankan “ritual” mengecat perabotan rumah serta dinding tripleks rumah dengan pelitur. Baunya begitu khas dan seketika rumah kami terlihat cemerlang karenanya.

Bersama tetangga kami, keluarga Pak Balambang dan Pak John, kami menjalin hubungan yang akrab. Merekapun sudah cukup memahami “kelakuan aneh” saya, mengetik tulisan ditengah malam yang mungkin menganggu kenikmatan tidur. Saya terkadang jadi rikuh sendiri saat disapa Pak Balambang ketika kebetulan berpapasan dengannya. “Lagi nulis apalagi nih?”, tanya tetangga terdekat kami itu sambil tersenyum.

Hal yang paling saya ingat adalah tradisi ketika merayakan Lebaran dan Natal. Saat kami merayakan Idul Fitri, kami memanggil keluarga Pak John dan Pak Balambang ikut bergembira bersama menikmati hidangan makanan hasil olahan ibu saya. Begitu pula sebaliknya, ketika Natal tiba, kami sekeluarga diajak makan bersama dirumah Pak Balambang dan Pak John. Yang unik adalah, biasanya kami diajak makan tengah malam ketika misa malam Natal mereka selesai, dan caranya sangat mudah. Tinggal mengetak-ngetok dinding tripleks rumah kami saja (maklumlah kami memakai satu dinding yang sama). “Oii..Makan..oii..ayo..makaan!!,” demikian teriak Pak Balambang yang memang hobi membanyol itu. Serentak kami sekeluarga tertawa mendengarkan isyarat “menyenangkan” dan memang sudah ditunggu-tunggu itu.

Kami menempati rumah di Perumteks hingga tahun 1999, ketika ayah saya pensiun. Keluarga kami pindah ke rumah sendiri di Perumahan Bumi Antang Permai yang berjarak sekitar 25 km dari Perumteks. Sayang, saya tidak sempat mengucapkan kata perpisahan pada rumah kami yang sangat berkesan itu karena sudah merantau ke Jakarta sejak tahun 1995. Saat ini, rumah kami di Perumteks dihuni oleh Pak Yudi, (karyawan BPSB VI) sekeluarga.

Ah..jadi rindu rasanya kembali ke Perumteks!


Sebarkan Tulisan:
Tanggapan Tulisan
Honny
25 Mei 2009 11:22
0

Masa lalu menjadi kenangan yang tak terlupakan dan sekaligus kebanggaan terhadap sosok ayah-ibu yang sepertinya tidak pernah lelah berbuat sesuatau untuk kita anak-anaknya.
Salut untuk sang ayah yang dengan ulet berhasil membangun tempat berteduh walaupun sangat sederhana.Saya yakin mas Amril pasti sangat respek dengan beliau disamping ibu tentunya.
Salam Kompasiana

25 Mei 2009 11:26
0

Sebuah cerita otobiografi yang menarik di tengah-tengah hingar-binar capres dan cawapres.

Salam Blogger Kompasiana
Omjay

25 Mei 2009 11:26
0

Kenangan masa kecil memang terlalu indah untuk dilupakan. Pasti banyak kenangan dibalik dinding tripleks, seandainya saja mereka bisa bercerita. Sudah napak tilas ke rumah tersebut? Barangkali ada banyak teman lama yang masih tinggal di sana. Daeng ATG, terima kasih telah berbagi.

Frans

linda
25 Mei 2009 11:37
0

Kesederhanaan masa lalu adalah kekayaan bagi masa mendatang. Kaya mental, kaya budi, kaya daya tantang menghadapi hidup.
Kebersahajaan bukan berarti tak ada cinta yang segunung, kekompakan dan tali kasih yang perekatnya tak tergoyahkan..
Masa lalu adalah harta yang sungguh mahal , mengharukan, membanggakan dan kenangan yang sangat sungguh tak ternilai…..

25 Mei 2009 12:45
0

Sebuah Kenangan manis yang tak pernah terlupakan bersama adik adik, orang tua dan handaitolan tetangga, sebuah kenangan yang patut menjadi catatan sebuah kehidupan, saat menyebutkan Maros, saya juga terkenang saat dinas di Sumsel, tepatnya di puskesmas Maros, kenangan yang tak terlupakan ada pasien yang membayar pengobatan yang kami berikan dengan sebakul roma ( Roti Maros ), sungguh nikmatnya dengan berbagai cita rasa, yang paling saya suka yang berisi selai nanas, bila kami mendapatkan roti roti tersebut di praktek hari sabtu, pasti saya dan seluruh staf puskemas tamasya ke air terjun bantimurung yang sangat jernih dan indah dengan kupu kupu yang berterbangan disana sini dan tak lupa juga menelusuri lorong gua mimpi,…….ah jadi kangen dengan situasi 15 tahun yang lalu, sebuah kenangan manis yang tak pernah terlupakan dan pastinya suster dan bidanku pasti membawa kapurung dengan sayurnya, juga ikan asin plus sambalnya yang super pedas, kalau sudah kelojotan karena kepedasan aku biasanya langsung nyebur mandi di air tejun dan mandi sepuasnya, dengan telanjang dada tanpa malu malu, kadang sering juga berjumpa dengan para pasien yang berobat ke puskesmas kami, wah dokter bisa jadi tarzan juga ya menemani para kera kera di bantimurung. Ah…jadi ingin kesana lagi. Daeng Amril.T G, bisa saja nih membawa aku kembali dengan keindahan masa pengabdianku di Maros, jadi ingat orang tua angkatku Daeng Patampa dan Ibu Andi tappa, ih…, jadi sedih, semoga mereka diberi usia yang panjang dan kesehatan yan baik, sehingga aku masih bisa menemuinya untuk sekedar mencium tangan dan menikmati masakannya yang istimewa ikang bakar Bolu dengan sambel kacang tomatnya….,ah jadi ngiler nih. Salam

25 Mei 2009 12:46
0

Sebuah Kenangan manis yang tak pernah terlupakan bersama adik adik, orang tua dan handaitolan tetangga, sebuah kenangan yang patut menjadi catatan sebuah kehidupan, saat menyebutkan Maros, saya juga terkenang saat dinas di Sumsel, tepatnya di puskesmas Maros, kenangan yang tak terlupakan ada pasien yang membayar pengobatan yang kami berikan dengan sebakul roma ( Roti Maros ), sungguh nikmatnya dengan berbagai cita rasa, yang paling saya suka yang berisi selai nanas, bila kami mendapatkan roti roti tersebut di praktek hari sabtu, pasti saya dan seluruh staf puskemas tamasya ke air terjun bantimurung yang sangat jernih dan indah dengan kupu kupu yang berterbangan disana sini dan tak lupa juga menelusuri lorong gua mimpi,…….ah jadi kangen dengan situasi 15 tahun yang lalu, sebuah kenangan manis yang tak pernah terlupakan dan pastinya suster dan bidanku pasti membawa kapurung dengan sayurnya, juga ikan asin plus sambalnya yang super pedas, kalau sudah kelojotan karena kepedasan aku biasanya langsung nyebur mandi di air tejun dan mandi sepuasnya, dengan telanjang dada tanpa malu malu, kadang sering juga berjumpa dengan para pasien yang berobat ke puskesmas kami, wah dokter bisa jadi tarzan juga ya menemani para kera kera di bantimurung. Ah…jadi ingin kesana lagi. Daeng Amril.T G, bisa saja nih membawa aku kembali dengan keindahan masa pengabdianku di Maros, jadi ingat orang tua angkatku Daeng Patampa dan Ibu Andi tappa, ih…, jadi sedih, semoga mereka diberi usia yang panjang dan kesehatan yan baik, sehingga aku masih bisa menemuinya untuk sekedar mencium tangan dan menikmati masakannya yang istimewa ikang bakar Bolu dengan sambel kacang tomatnya….,ah jadi ngiler nih. Salam dari kami di Purwokerto

iskandarjet
26 Mei 2009 20:12
0

kalau soal hunian atau tempat tinggal, saya juga punya kenangan pahit yang manis rasanya. yah, apalagi kalau bukan soal gusuran kuningan yang, kata orang manis banget lantaran harganya selangit, tapi bagi kita orang jakarta yang dipinggirkan oleh kepongahan swasta, tetap jadi pahit selangit apapun harga tanah yang dibayar.

dan sekarang, tempat saya lahir, main gundu dan main layangan sambil berenang di genangan air coklat bekas hujan jadi tempat paling mahal dengan aneka gedung perkantoran.

dan salah satunya, ada mbak novri di sana.. hehe…

btw, selamat buat mbak linda yang udah punya gambar avatar di kolom komentar… tar!

piss ah!

Tulis Tanggapan Anda
Guest User
Copyright 2008 - 2010