Back to Kompasiana
Artikel

Umum

Irsupardi

peduli adalah kunci aksi adalah bukti peduli tanpa aksi adalah hampa aksi tanpa peduli adalah buta selengkapnya

PKS : The Next Target Perpecahan

OPINI | 26 May 2009 | 10:33 Dibaca: 274   Komentar: 1   0

Tragis memang melihat partai-partai peserta pemilu, hampir semua berujung pada perpecahan. Di tubuh PPP ada dua kubu, yakni Ketua Umum PPP Suryadharma Ali yang merapat ke kubu PDIP, sebaliknya Ketua MPP PPP Bachtiar Chamsyah ingin berkoalisi dengan Partai Demokrat. Sedangkan PAN, Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir menjalin komunikasi intensif dengan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto. bagian lain, ada sejumlah elite yang dimotori oleh Amien Rais yang ingin agar PAN merapat ke Partai Demokrat. Mengapa para elit politik sulit duduk bersama dan mengurangi tuntutan diri dan perasaan paling benar serta merasa mendapat dukungan dari bawah?

Ini ungkapan pak amien tahun 2002 (http://www2.kompas.com), “Masyarakat akan berpikir, kalau dengan sesama partai saja begitu, apalagi dengan yang di luar. Kalau pecah dalam organisasi yang lebih kecil seperti partai, bagaimana bisa mengurus negara dengan sistem administrasi yang lebih besar,” . Lebih jauh, Amien mengatakan, perpecahan terjadi karena banyak politisi partai yang belum mantap memegang kode etik. Beliau pun mengikuti pola perpecahan mengejar kekuasaan.

Beberapa catatan dari para pengamat politik bisa memberikan gambaran apa terjadi :

Catatan Djibril Muhammad : “Kalaupun parpol yang tidak berkonflik, itu hanya tinggal menunggu waktu saja. para politisi kebanyakan disamakan bukan kerena idealisme dan platform partai. Tapi karena kesamaan tujuan menggapai kekuasaan. Ketika kesamaan kekuasaan terhambat, terang Umar, maka diggunakanlah cara-cara agar memperlancar menggapai kekuasaan.” (http://www.inilah.com)

Pengamat politik LIPI Syamsuddin Haris, “Pasti ada hubungannya dengan pilihan-pilihan politik menjelang pilpres. Masing-masing pihak memiliki perbedaan penafsiran terhadap pilihannya yang terbaik bagi partai untuk berkoalisi,” “Permasalahan ini karena masing-masing elite berjalan sendiri-sendiri. Sikap elite tersebut tidak dilandasi oleh kesepakatan bersama,” Padahal, lanjut dia, inisiatif yang dibangun oleh seorang ketua umum atau elite partai lainnya seharusnya dibicarakan lebih dulu dalam suatu mekanisme rapat di internal partai, sehingga sikap tersebut hakikatnya merupakan mandat partai, bukan keinginan pribadi elite. Sikap elite partai yang cenderung mengutamakan kepentingan pribadi di atas kepentingan partai, sehingga akhirnya memicu perpecahan.¬† “Ini menunjukkan masih rendahnya kualitas partai di Indonesia,” (http://www.mediaindonesia.com)

Maswadi Rauf, Guru Besar FISIP Universitas Indonesia “Perpecahan partai politik yang disebabkan oleh konflik antarpara petinggi partai di Indonesia adalah sebuah fenomena yang menyedihkan, meskipun konflik di kalangan elite partai politik adalah hal biasa karena kita tidak bisa menghilangkan pertentangan dan perbedaan pendapat di antara para tokoh partai.

Yang membuat konflik itu berbahaya adalah ketidakmampuan elite partai untuk menyelesaikan konflik di kalangan mereka sendiri, sehingga konflik itu berkembang menjadi perpecahan partai. Masing-masing pihak yang berkonflik menganggap pendapat dan sikapnya benar, sehingga menyulitkan usaha-usaha untuk mencari penyelesaian secara damai. Yang amat sering terjadi adalah konflik tersebut meruncing sehingga terbentuk dua kelompok yang berkonflik yang tetap mempertahankan pendapat masing-masing, dan perpecahan partai menjadi tidak terelakkan. (http://www.suarakarya-online.com)

Sekarang muncul di bawah gerakan menentang sikap pembesar PKS yang berkesan sudah kehausan akan kekuasaan. Sikap menentang kembalinya JK ke SBY, sikap menolak boediono. Kemungkinan kalau SBY menang nanti masalah pembagian menteri. Sikap ini cukup memberikan warna tersendiri bagi konstituen PKS. Disamping itu terlihat dari pernyataan yang sangat mempolitisi nilai-nilai agama untuk kepentingan partai. Misalnya pemaksaan fatwa golput haram yang dimotori HNW. Gerakan penentangan ini muncul dari kalangan elit yang terpinggirkan oleh sikap-sikap para pembesar. Suatu saat bisa muncul juga menjadi bibit perpecahan. Terlepas dari eksternal atau internal, yang jelas haus kekuasaan dan rasa memiliki dukugan dari bawah menjadi energi positif untuk perpecahan. Akankah PKS bisa duduk bersama?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Transjakarta vs Kopaja AC, Pengguna Jasa …

Firda Puri Agustine | | 31 October 2014 | 12:36

Kenapa Orang Jepang Tak Sadar Akan Kehebatan …

Weedy Koshino | | 30 October 2014 | 22:57

Juru Masak Rimba Papua Ini Pernah Melayani …

Eko Sulistyanto | | 31 October 2014 | 11:39

Green Bay dan Red Island Beach, Dua Pesona …

Endah Lestariati | | 31 October 2014 | 11:47

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Hasil Evaluasi Timnas U-19: Skill, Salah …

Achmad Suwefi | 5 jam lalu

Kabinet Jokowi Tak Disukai Australia, Bagus! …

Aqila Muhammad | 5 jam lalu

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | 6 jam lalu

Pencitraan Teruus??? …

Boyke Pribadi | 7 jam lalu

Kabinet Kerja Jokowi-JK, Menepis Isu …

Tasch Taufan | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Potret Negeriku Saat Ini …

Surat Yasin | 8 jam lalu

Menyusun Anggaran Keuangan dan Menerapkannya …

Pakar Investasi | 8 jam lalu

Serendipity [3] …

Septi Yaning | 8 jam lalu

Akhh… …

Ando Ajo | 8 jam lalu

Merokok Lantaran Terinspirasi Publik Figur …

Faried Rijalulhaq‚Ą... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: