Umum
Lihat Profil    Jadikan teman    Kirim Pesan
Pria metropolis dan kurang atletis yang lahir di Hari Kamis ini hanyalah seorang blogger narsis, kerap berpakaian necis serta menghindari hal yang najis-najis. Lelaki Berkumis tipis ini juga menggemari kue pukis dan sayur buncis. Sangat jarang meringis karena senantiasa memamerkan senyum manis yang selalu bikin hidung gadis kembang kempis. Begitu kepingin berwisata ke Paris, meski hanya sekedar pipis dibawah gerimis. Lelaki kelahiran Makassar,9 April 1970 ini, tinggal di Cikarang bersama istri dan kedua buah hatinya, Rizky dan Alya. Menulis dan ngeblog adalah sebuah aktifitas bagi dirinya un...
Love at The First Voice
Amriltg
|  30 Mei 2009  |  08:00
345
7
Nihil.

kupu-kupu.jpg

DALAM sejarah percintaan saya dari masa remaja di SMA hingga menyelesaikan kuliah, saya termasuk orang yang gagal melakoni indahnya romantisme itu. Saat masih SMA, seorang kawan yang memiliki reputasi sebagai playboy sekolah, malah sempat menjuluki saya sebagai “lelaki bego” dalam urusan percintaan. Kata dia, saya sudah memiliki segalanya sebagai seorang “Pemuda harapan Pemudi” dan sungguh sangat disayangkan saya tidak memanfaatkan potensi itu untuk menggaet seorang gadispun sebagai kekasih hati.

Sebagai seorang Ketua OSIS di SMA Negeri I Maros periode 1988-1989, memiliki tampang yang tidak jelek-jelek amat, menjadi pasukan inti Paskibraka tingkat Kabupaten serta selalu menyandang nilai terbaik di jurusan A-1 (Fisika) yang ketika itu dianggap sebagai “jurusan angker”, saya memang memiliki kesempatan yang “cukup besar” dengan menggunakan seluruh pesona dan kharisma yang saya miliki untuk, paling tidak, dapat berkencan dengan gadis “kembang”-nya sekolah. Tapi saya tidak melakukan itu. Saya lebih memilih berkonsentrasi belajar dan beraktivitas di OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah).

Sebenarnya, peluang selalu saja ada. Malah, beberapa gadis yang “naksir” sempat menitip salam mesra untuk saya. Seorang gadis bahkan secara terang-terangan mengirim surat cinta buat saya yang dititipkan lewat kawan satu kelas saya. Tapi lagi-lagi, saya tidak menanggapinya secara serius.

“Kamu punya kelainan seksual kali ya?. Atau jangan-jangan kamu salah sunat dulu. Masa’ tidak ada satu gadispun di sekolah ini jadi pacarmu?” tukas kawan saya yang playboy itu gregetan.

Saya terkekeh pelan. Saya tak memiliki kecenderungan transeksual sedikitpun, bagi saya dengan taraf pemikiran soal cinta antar dua insan berbeda jenis yang lugu dan inncoent (untuk tidak secara tega menyatakannya : bego :D ) hubungan kemesraan dengan pacar hanya akan menghambat aktifitas belajar dan beraktualisasi saya di OSIS.

Mengurus kedua kegiatan itu saja sudah bikin repot, apalagi ditambah urusan cinta-cinta-an yang justru bisa berpotensi membuat puyeng kepala terutama ketika sang pacar ngambek gara-gara jablai (jarang dibelai), jayu (jarang dirayu), Jaja (jarang dipuja) atau Jatir (Jarang ditraktir) :D

“Hati-hati lho..kamu bisa kena “karma” atas keangkuhanmu yang menyebalkan dan mengecewakan ini, ” ancam kawan saya tadi serius. Saya cuek dan menganggap “kutukan” kawan saya tadi hanya angin lalu belaka. Sikap saya tetap tak berubah : “No time for Love!“. Dan sayapun kembali tenggelam dalam keasyikan berorganisasi serta belajar.

Selepas SMA dan memasuki jenjang Universitas, preferensi saya tentang cinta pada wanita mendadak berubah. Saya kok ya tiba-tiba naksir berat pada teman satu sekolah saya dulu. Barangkali itu karena aktifitas saya di OSIS sudah tak ada lagi setelah saya beralih status jadi mahasiswa . Dan kini mendadak panah cinta dewi amor itu menancap tepat di hati ketika saya melihat gadis itu melintas anggun di koridor kampus. Saya tak menunggu lebih lama untuk menyapanya dan mengobrol akrab beberapa saat kemudian sampai akhirnya pulang bareng ke Maros naik pete-pete (atau angkot) dari kampus UNHAS Tamalanrea.

“Syukur deh, kamu akhirnya menyadari kebegoanmu selama ini dan kembali ke jalan yang benar,” canda si Playboy tadi saat saya menceritakan “gonjang-ganjing” hati saya itu kepadanya. Lebih lanjut–sesuai kapabilitas dan kompetensinya– ia memberikan advis-advis strategis kepada saya bagaimana menaklukkan cewek pujaan hati. “Tatap matanya dalam-dalam, rayulah dia setinggi mungkin dan jadilah selalu pendengar yang baik bagi setiap keluhan ataupun omelannya,” kata kawan saya tadi menyodorkan kiat-kiat “berpacaran yang baik dan benar”. Saya hanya manggut-manggut.

Ternyata tidaklah sesulit yang saya duga sebelumnya. Reputasi saya sebagai “selebriti” sekolah sudah cukup memukau dia sebelumnya. Dan konon, ia sudah memendam perasaan suka pada saya lebih dulu. Tapi masih malu-malu. Segalanya menjadi lebih mudah saat saya “menembaknya” menjadi pacar. Dia hanya mengangguk tersipu dan menampilkan senyum manis yang membuat hati saya porak-poranda karenanya. Maka jadilah kami sepasang kekasih yang saling menyayangi dan merindukan satu sama lain.

Tapi, berselang 3 bulan kemudian, “kelakuan” saya kumat lagi. Aktifitas di senat mahasiswa dan himpunan begitu menggoda saya untuk terjun kembali didunia organisasi. Saya mendapatkan kembali “dunia” yang pernah hilang, yang pernah begitu saya senangi dan akrabi sewaktu di SMA dulu. Apa boleh buat, jadwal pacaran pun kacau balau jadinya.

Karena begitu egois menuruti kemauan sendiri, saya jadi mengabaikan si “dia” dan memilih bercengkrama bersama kawan-kawan sesama aktifis kampus. Bahkan terkadang dimalam minggu yang seharusnya menjadi jadwal “apel” ke si “doi” saya habiskan bersama kawan-kawan dikampus merintis dan mengerjakan tabloid mahasiswa “Channel 9″ Fakultas Teknik UNHAS. Saya sangat menikmati dan larut didalamnya.

Saya akhirnya menyadari kekeliruan fatal itu saat menerima surat darinya. Sepucuk surat yang isinya sungguh membuat batin saya sangat terpukul : dia memutuskan cinta secara sepihak. Bukan main paniknya saya ketika itu. Tapi semua sudah terlambat. Upaya rekonsiliasi yang saya lakukan selalu menemui jalan buntu. “Silahkan kamu bercinta dengan cara kamu sendiri. Dan tidak dengan saya!”. Begitu bunyi suratnya yang kemudian saya abadikan dalam cerpen berjudul “Wisuda” yang dimuat di Harian Fajar Makassar, 2 Oktober 1994.

Pengalaman itu menyisakan trauma sangat mendalam di hati saya. Kawan saya yang playboy kembali membubuhkan label “lelaki bego” di jidat saya. Dia yang sudah berganti pacar keempatbelas kali itu memborbardir saya dengan omelan. “Kamu itu mesti belajar untuk tidak egois dan toleran. Lihat akibatnya. Jadi hancur lebur kan’ hubungan cintamu. Ini karena ulah kamu sendiri. Pokoknya mulai sekarang, terserah kamu sajalah, mau pacaran kek, mau ngurusin organisasi kek, mau kelaut kek, aku gak peduli. Jangan pernah coba-coba minta nasehatku lagi!,” cecar kawan saya itu dengan amarah meluap. Saya menghela nafas panjang. Pasrah. Pilu. Luka.

Hari-hari berikutnya, saya mengubur dalam-dalam kisah cinta yang kandas itu dengan “menceburkan” diri secara total di berbagai aktifitas organisasi mulai dari senat mahasiswa, himpunan mahasiswa hingga penerbitan kampus. Prinsip “No Time for Love” kembali saya pegang teguh. Beruntunglah, saya bisa berdamai dengan masa lalu dan pelan-pelan melupakan trauma menyakitkan itu. Saya berhasil lulus dengan predikat alumni terbaik Jurusan Teknik Mesin UNHAS untuk masa wisuda September 1994 dan tentu segudang pengalaman bergelut di organisasi kemahasiswaan.

Saat mulai memasuki dunia kerja tahun 1995, saya berusaha untuk tetap fokus mengerjakan tugas-tugas saya sebagai staff produksi di PT.Kadera-Ar Indonesia di Pulogadung. Dan tentu melupakan segala tetek bengek soal cinta.

Sampai kemudian, suatu sore di tahun 1996, kawan saya satu angkatan di Teknik Mesin UNHAS, Sri Lisanti, menelepon ke kantor. Ia bermaksud memperkenalkan (mungkin lebih tepat me-“mak-comblangi”) salah seorang teman kantornya kepada saya. Saya sempat kaget. Kayaknya kawan saya itu sudah cukup prihatin melihat kondisi saya yang jomblo. Saya menyanggupi tawarannya. Sri lalu menceritakan (tepatnya “mempromosikan) kawannya pada saya. “Namanya Sri Lestari. Sama-sama Sri juga seperti namaku. Dia kawan dekatku dikantor dan kayaknya cocok deh buat kamu. Besok saya atur untuk bicara langsung ya?,” kata Sri Lisanti. Saya hanya mengiyakan dan menunggu keajaiban apa gerangan yang bakal terjadi nanti.

Diwaktu yang sama keesokan harinya, saya menelepon kantor Sri Lisanti dengan degup jantung berdetak kencang. “Nahh..ini dia nih..langsung bicara ya?” ucap Sri Lisanti diujung telepon dan seperti mengalihkan gagang telepon yang dipegangnya. Dan disana, saat ucapan pertama terucap dari bibir Sri Lestari–wanita yang kini jadi ibu bagi kedua anak saya–seketika badai besar bagaikan melanda hati saya. Suaranya jernih dan punya daya pukau luar biasa. Mendamaikan. Menentramkan. Saya terpesona dan luluh. Sungguh, seketika saya merasa jatuh hati pada suara pertama!.

Saya sempat melongo ditelepon karena terbuai rasa kagum sampai kemudian tersadar saat terdengar suara cekikikan diujung telepon. “Woii..ngapain kamu disana?. Jangan bengong gitulah, temanku sampai bingung lho. Ngomong dong! Ngomong!”, goda Sri Lisanti. Saya gelagapan dan malu.

Entah kenapa, saya seperti mendapatkan isyarat tersembunyi yang menyatakan dia, Sri Lestari, wanita diujung telepon itu akan menjadi belahan hati saya kelak. Untunglah beberapa saat kemudian, ketegangan itu mencair dan sayapun–secara intens –lalu melakukan “serangan-serangan” romantis pada wanita bersuara menawan itu. Saat berjumpa langsung pertama kali secara wujud fisik seminggu kemudian, saya langsung tertarik. Ternyata ia tidak hanya memiliki suara yang meluluhkan hati tapi juga paras yang mampu menggetarkan jiwa.

Kami akhirnya resmi menikah 10 April 1999 setelah menjalani masa pacaran kurang lebih 3 tahun.

Catatan : Foto by A.W.Masry


Sebarkan Tulisan:
Tanggapan Tulisan
Abuga
30 Mei 2009 13:15
0

hik. hik.. hik………..

terharu juga membaca tulisan bung amri. tulisan nostalgia sebagai pelipur lara di antara berjubelnya postingan politisiana.

melihat riwayat anda berkutat di organisasi dan membaca kemampuan anda lewat dunia blog seharusnya anda sudah berdiri sejajar dengan anas urbaningrum, budiman sudjatmiko atau prio budi santoso. mungkin anda memilih jalan lain untuk berjuang memajukan bangsa ini dan untuk itu selamat deh……..

umur saya di atas anda tetapi say abanyak belajar dari tulisan-tulisan anda. tetaplah menulis dan berbagi dengan sesama.

ngomong-ngomong jk-win juga khan???

salam

Novrita
30 Mei 2009 13:18
0

ooo gitu ya… first love at first voice….
Kalo yang seperti kisahnya mas AMril sih bagus ya. Boleh ditiru…
Hanya harus hati2 juga.. Jangan2 kalo yang lain ngikutin dengan rayuan suara yang merdu mendayu padahal status udah gak single lagi… Eiiittsss, musti dilarang..

Selamat ya…. Meski dibilang kurang jago mengejar wanita (masa cari pasangan aja sampe temennya yang prihatin dan mencarikan calon), tapi akhirnya… dapat kan sang wanita idaman.
Kata orang Jawa ‘Lakone menang keri’ atau ’sang jagoan biasanya menang di akhir’
He he….. kawan kita ini rupanya musti dikompor2in dulu ya…
Salambuat istri ya…

wijaya kusumah
30 Mei 2009 13:27
0

Ihi,,,ihi,, jadi malu deh aku. Ternyata temanku yang satu ini adalah pria yang sangat romantis. Sampai-sampai saya baru tahu kalau ternyata perlu comblang juga ya untuk bisa mencari jodoh, hehhehe…..

Salam Blogger Kompasiana
Omjay

amril
30 Mei 2009 15:12
0

@ Mas Abuga

Terimakasih atas komentar dan sanjungannya. Saya jadi tersipu-sipu, Mas. Soalnya saya masih merasa kemampuan saya masih jauh dibawah dari nama-nama hebat yang disebutkan. Tapi memang setiap orang pasti memiliki pilihan tertentu untuk memaknai hidupnya, termasuk saya yang mungkin memilih menjadi blogger jelata, membagi kisah kisah sederhana hidup saya, siapa tahu memberikan manfaat bagi pembaca

Terimakasih ya mas menjadi pembaca setia tulisan saya

JK-WIN? Jelas dong Daeng Battala pasti ikut mendukung.. hehehe

@ Mbak Novrita

Hehehe.. iya dong sekarang karena sudah beristri tentu modus operandi itu mesti dilarang.
Wah..analoginya pas bener..Jagoannya menang terakhir…Thanks ya Mbak

@ Om Jay

Ya..begitulah Om, beginilah memang nasib saya punya tampang marinir hati maya rumantir, punya wajah punk tapi hati pink…hehehe

16 Februari 2010 04:13
0

Ternyata love at the first voice lebih dahsyat daripada love at the first sight ya? hehe

Salam

16 Februari 2010 05:23 via Mobile Web
0

Ternyata kisah cintanya Pak Amril penuh Lika Liku ya,,
Mudah2an yg sekarang bisa langgeng, sampai ajal memisahkan,,

9 Juli 2010 16:02
0

itulah cinta, penyakit yang tidak pernah seorang pun ingin terlepas darinya, yang tertular tak ingin diobati dan yang menderita tak ingin disembuhkan.

pada dasarnya cinta itu tidak ada, cinta merupakan relasi kuasa dimana hubungan2 yang dijalin dlm mekanisme cinta adalah mekanisme untuk saling menguasai antara satu pihak kepada pihak lain, dan itu didasari oleh motif2 kepentingan dibaliknya. Motif yang paling sederhana adalah karena menginginkan harta dan kenikmatan seksual.

Tapi kenapa salah satu bentuk relasi kuasa yang dinamakan cinta ini tidak pernah berhenti digemari? karena kuasa cinta telah menguasai dan mendisiplinkan jiwa raga seorang pencinta, sehingga mereka terjangkit dan sakit namun tak ingin diobati dan disembuhkan.

Tulis Tanggapan Anda
Guest User
Copyright 2008 - 2010