Back to Kompasiana
Artikel

Umum

Neo Liberalisme = Neo Kolonialisme (2)

OPINI | 11 June 2009 | 06:00 Dibaca: 352   Komentar: 0   0

Melihat banyaknya komentar yang masuk, maka perlu sekiranya saya melanjutkan artikel ini. Karena cukup panjangnya tulisan ini. Dan untuk mengajak siapa saja untuk jujur pada diri sendiri lalu releksi dan merenungkan kembali hakekat penjajahan sehingga mampu berjuang bersama-sama melawan penjajahan. Karena tidak mudah menjelaskan dan menyadarkan diri kita semua dari penjajahan yang telah terlajur berkalang tanah menjadi memili menta terjajah. Begitulah sifat manusia, yang karena terlalu dijajah menjadi orang yang memiliki mentalitas penjajah dan mengagungkan-agungkan si Penjajah.

Orang yang terbiasa tertindas, mengalami perubahan mentalitas menjadi tidak sadar bahwa dirinya tertindas. Dan tidak mau dibebaskan dari penindasan. Karena sudah menikmati ketertindasan. Begitulah kata sosiolog Paulo Freire. Hanya sedikit dari manusia yang mampu secara cepat menyadari semua potensi yang ada dalam dirinya.

Pada jaman Belanda dulu, mengapa Indonesia begitu lama di jajah? Adalah karena banyaknya kelompok menengah atas yang tidak mau bersikap kritis terhadap penjajahan. Mereka terlena dan tertidur dari mimpi panjang penjajahan.

Kenapa begitu? Karena pertama, mereka menjadi bagian dari kelompok yang diuntungkan, misalnya menjadi pejabat atau orang kaya yang diuntungkan oleh sistem (bukan pengusaha yang berjuang dari nol). Kedua, karena mereka memiliki sifat yang sama dengan penjajah yaitu sifat suka menindas atau mengeksploitasi orang lain. Ketiga, karena mereka sudah terasing dengan dirinya sendiri, atau orang yang tidak sadar siapa dirinya dan apa tujuan hidupnya.

Ada 2 jalur perubahan yang perlu dipenuhi oleh Indonesia. Jalur pertama, yaitu jalur kultural dengan cara bagaimana secara individu rakyat Indonesia memiliki semangat yang tinggi untuk bangkit maju dan berkembang. Jalur Kedua, jalur struktural. Membenahi berbagai infrastruktur dan suprastruktur yang bisa mendorong kemajuan, bukannya malah menghambat.

Karena masalahnya, struktur dan sistem ekonomi Indonesia terkait dengan sistem global. Dan kemunduran dan kemiskinan Indonesia disebabkan oleh sistem global yang tidak adil. Jadi, Indonesia menjadi miskin karena dimiskinkan secara struktural.

Hanya sedikit manusia yang kemudian mampu bersikap kritis dan menjadi sadar dari tidurnya, lalu menyeruak bangun untuk berteriak “Aku ingin bebas dan merdeka!!!”

Begitulah juga pada zaman penjahan Belanda dulu, selama 350 tahun kita di jajah Belanda. Selalu ada aktifis atau pemimpin yang menyuarakan untuk melawan penjajah Belanda namun tidak mendapat dukungan dari rakyat. Karena banyak antek/begundal penjajah yang selalu mempengaruhi rakyat untuk menyalahkan kelompok anti penjajahan.

Misalnya Sultan Agung dan Pangeran Diponegoro. Para pemimpin seperti ini lahir karena sudah tidak kuat lagi melihat ketidakadilan yang terjadi.Sultan Agung dan Pangeran Diponegoro kalah justru juga karena kerjaan para antek dan begundal Belanda. Masih ingat bukan?
Pelajaran sejarah di SD tentang bagaimana Pangeran Diponegara dikhianati oleh salah satu panglimanya?
Antek dan begundal Belanda (para raja atau elit politik) saat itu juga bekerja keras meyakinkan rakyat bahwa hidup rakyat sudah lebih baik di bawah kerajaan Belanda.

Sudah ada pembangunan misalnya jalan Daendless jalan yang menghubungkan Jakarta dan Surabaya. Yang sebelumnya tidak ada. Dan sekian keberhasilan pembangunan yang lain. Dan mengajak rakyat untuk setia dan menganggap baik penjajah Belanda. Dan selalu mengajak rakyat untuk bisa nrimo (rasa menerima) akan nasib bangsanya, karena Belanda memang lebih maju dan unggul, sementara kita tidak. Sehingga Indonesia baru merdeka setelah 350 tahun dijajah oleh Belanda. Itupun karena Belanda kalah perang dengan Jepang, dan terpaksa menyerahkan Indonesia pada Jepang. Dan barulah rakyat Indonesia baru tersadarkan secara masif akan perlunya melawan penjajahan. Dan antek/begundal juga sudah tidak berani bicara atau memilih lari ke Belanda. Ingat bukan? Ada orang Indonesia yang mewakili kerajaan Belanda waktu perjanjian Linggarjati?

Akankah kita masih menunggu waktu yang lama lagi agar menjadi bangsa yang benar-benar merdeka dan merebut kedaulatan ekonominya?

Amerika memang baik, tetapi hanya baik kepada rakyatnya sendiri dan sekutunya. Sedangkan terhadap negara yang dijajahnya???

Marilah kita refleksi dan merenung akan gambaran nyata yang terlihat setiap hari di televisi, dengan mengembangkan sudut pandang yang lebih luas. Bukankah sudah sangat jelas bahwa ekonomi dunia sekarang ini berjalan secara tidak adil?

Masih sulit untuk menerimanya bukan???

Sabar, coba alau kita mau melakukan sedikit analisa, maka tampak sangat jelas bahwa Bangsa Indonesia sudah benar-benar kehilangan kedaulatan ekonominya. Ekonomi Negara dan bangsa Indonesia benar telah diatur sedemikian rupa untuk selalu menguntungkan Negara penjajah.
Misalnya PT Freeport di Papua, pernahkah kita tahu berapa sesungguhnya emas yang diambil setiap tahunnya? Adakah orang Indonesia yang bisa masuk ke Freeport dan mengaudit pendapatan emasnya? Yang setiap hari dikirim ke Amerika Serikat. Data informasi sementara yang ada mengatakan bahwa emas yang dikeruk oleh Freepot dari bumi Papua tiap tahun mencapai 100 Trilyun per tahun.
Tahukah anda? Dengan Uang 100 Trilyun, Indonesia bisa membangun jalan sepanjang 10.000 KM dengan standar nasional, sangat mulus dan berlantai beton. Sehingga seluruh daerah di Indonesia bisa terhubung oleh jalan itu.
Perusahaan mana dan negara mana yang diuntungkan??? Sudah tentu Freepot dan Amerika.
Apa untungnya buat Indonesia??? Hampir tidak ada bukan??? Kecuali 10% dari keuntungan bersih dikurangi limbah tambang, kerusakan hutan & alam serta rusaknya tatanan sosial dan masyarakat Papua.
Kalau tidak percaya, datanglah sendiri ke Papua, dan bagaimana perlakuan freeport terhadap penduduk asli. Benar-benar penjajahan, kawan!
Dan tentu saja, orang-orang yang diuntungkan, salah satunya orang Indonesia yang mendapat posisi penting di Freport akan berusaha matia-matian menjelaskan bahwa Freeport tidak bersalah, bahkan Freepot adalah perusahaan yang baik.
Padahal rata-rata orang Indonesia hanya menjadi pekerja kasar dan buruh kasar. Sementara jabatan elit perusahaan didominasi oleh orang-orang Amerika. Yang gajinya, 1 orang Amerika di sana, bisa ribuan kali lipat dari pekerja asal Indonesia.

Masihkah belum sadar bahwa itu adalah satu satu contoh dari fakta adanya penjajahan di negeri kita tercinta???

Dan apakah untuk mempelajari bahwa Indonesia sedang terjajah harus seorang pakar ekonomi?
Jangan begitu wahai kawanku, karena para pejuang kemerdekaan dahulu rata-rata juga bukan seorang ekonom. Pakar ekonomi dari Indonesia saat itu justru lebih banyak yang bekerja pada pemerintah Hindia Belanda. Mereka mungkin bukan antek, tetapi yang jelas mereka banyak yang tidak sadar bahwa mereka sebenarnya sedang bekerja dan mengabdi pada penjajah.Melihat banyaknya komentar yang masuk, maka perlu sekiranya saya melanjutkan artikel ini. Karena cukup panjangnya tulisan ini. Dan untuk mengajak siapa saja untuk jujur pada diri sendiri lalu releksi dan merenungkan kembali hakekat penjajahan sehingga mampu berjuang bersama-sama melawan penjajahan. Karena tidak mudah menjelaskan dan menyadarkan diri kita semua dari penjajahan yang telah terlajur berkalang tanah menjadi memili menta terjajah. Begitulah sifat manusia, yang karena terlalu dijajah menjadi orang yang memiliki mentalitas penjajah dan mengagungkan-agungkan si Penjajah. [More...]

Orang yang terbiasa tertindas, mengalami perubahan mentalitas menjadi tidak sadar bahwa dirinya tertindas. Dan tidak mau dibebaskan dari penindasan. Karena sudah menikmati ketertindasan. Begitulah kata sosiolog Paulo Freire. Hanya sedikit dari manusia yang mampu secara cepat menyadari semua potensi yang ada dalam dirinya.

Pada jaman Belanda dulu, mengapa Indonesia begitu lama di jajah? Adalah karena banyaknya kelompok menengah atas yang tidak mau bersikap kritis terhadap penjajahan. Mereka terlena dan tertidur dari mimpi panjang penjajahan.

Kenapa begitu? Karena pertama, mereka menjadi bagian dari kelompok yang diuntungkan, misalnya menjadi pejabat atau orang kaya yang diuntungkan oleh sistem (bukan pengusaha yang berjuang dari nol). Kedua, karena mereka memiliki sifat yang sama dengan penjajah yaitu sifat suka menindas atau mengeksploitasi orang lain. Ketiga, karena mereka sudah terasing dengan dirinya sendiri, atau orang yang tidak sadar siapa dirinya dan apa tujuan hidupnya.

Ada 2 jalur perubahan yang perlu dipenuhi oleh Indonesia. Jalur pertama, yaitu jalur kultural dengan cara bagaimana secara individu rakyat Indonesia memiliki semangat yang tinggi untuk bangkit maju dan berkembang. Jalur Kedua, jalur struktural. Membenahi berbagai infrastruktur dan suprastruktur yang bisa mendorong kemajuan, bukannya malah menghambat.

Karena masalahnya, struktur dan sistem ekonomi Indonesia terkait dengan sistem global. Dan kemunduran dan kemiskinan Indonesia disebabkan oleh sistem global yang tidak adil. Jadi, Indonesia menjadi miskin karena dimiskinkan secara struktural.

Hanya sedikit manusia yang kemudian mampu bersikap kritis dan menjadi sadar dari tidurnya, lalu menyeruak bangun untuk berteriak “Aku ingin bebas dan merdeka!!!”

Begitulah juga pada zaman penjahan Belanda dulu, selama 350 tahun kita di jajah Belanda. Selalu ada aktifis atau pemimpin yang menyuarakan untuk melawan penjajah Belanda namun tidak mendapat dukungan dari rakyat. Karena banyak antek/begundal penjajah yang selalu mempengaruhi rakyat untuk menyalahkan kelompok anti penjajahan.

Misalnya Sultan Agung dan Pangeran Diponegoro. Para pemimpin seperti ini lahir karena sudah tidak kuat lagi melihat ketidakadilan yang terjadi.
Sultan Agung dan Pangeran Diponegoro kalah justru juga karena kerjaan para antek dan begundal Belanda. Masih ingat bukan?
Pelajaran sejarah di SD tentang bagaimana Pangeran Diponegara dikhianati oleh salah satu panglimanya?
Antek dan begundal Belanda (para raja atau elit politik) saat itu juga bekerja keras meyakinkan rakyat bahwa hidup rakyat sudah lebih baik di bawah kerajaan Belanda. Sudah ada pembangunan misalnya jalan Daendless jalan yang menghubungkan Jakarta dan Surabaya. Yang sebelumnya tidak ada. Dan sekian keberhasilan pembangunan yang lain. Dan mengajak rakyat untuk setia dan menganggap baik penjajah Belanda.

Dan selalu mengajak rakyat untuk bisa nrimo (rasa menerima) akan nasib bangsanya, karena Belanda memang lebih maju dan unggul, sementara kita tidak.
Sehingga Indonesia baru merdeka setelah 350 tahun dijajah oleh Belanda. Itupun karena Belanda kalah perang dengan Jepang, dan terpaksa menyerahkan Indonesia pada Jepang. Dan barulah rakyat Indonesia baru tersadarkan secara masif akan perlunya melawan penjajahan. Dan antek/begundal juga sudah tidak berani bicara atau memilih lari ke Belanda. Ingat bukan? Ada orang Indonesia yang mewakili kerajaan Belanda waktu perjanjian Linggarjati?
Akankah kita masih menunggu waktu yang lama lagi agar menjadi bangsa yang benar-benar merdeka dan merebut kedaulatan ekonominya?

Amerika memang baik, tetapi hanya baik kepada rakyatnya sendiri dan sekutunya. Sedangkan terhadap negara yang dijajahnya???

Marilah kita refleksi dan merenung akan gambaran nyata yang terlihat setiap hari di televisi, dengan mengembangkan sudut pandang yang lebih luas. Bukankah sudah sangat jelas bahwa ekonomi dunia sekarang ini berjalan secara tidak adil?

Masih sulit untuk menerimanya bukan???

Sabar, coba alau kita mau melakukan sedikit analisa, maka tampak sangat jelas bahwa Bangsa Indonesia sudah benar-benar kehilangan kedaulatan ekonominya. Ekonomi Negara dan bangsa Indonesia benar telah diatur sedemikian rupa untuk selalu menguntungkan Negara penjajah.
Misalnya PT Freeport di Papua, pernahkah kita tahu berapa sesungguhnya emas yang diambil setiap tahunnya? Adakah orang Indonesia yang bisa masuk ke Freeport dan mengaudit pendapatan emasnya? Yang setiap hari dikirim ke Amerika Serikat. Data informasi sementara yang ada mengatakan bahwa emas yang dikeruk oleh Freepot dari bumi Papua tiap tahun mencapai 100 Trilyun per tahun.
Tahukah anda? Dengan Uang 100 Trilyun, Indonesia bisa membangun jalan sepanjang 10.000 KM dengan standar nasional, sangat mulus dan berlantai beton. Sehingga seluruh daerah di Indonesia bisa terhubung oleh jalan itu.
Perusahaan mana dan negara mana yang diuntungkan??? Sudah tentu Freepot dan Amerika.
Apa untungnya buat Indonesia??? Hampir tidak ada bukan??? Kecuali 10% dari keuntungan bersih dikurangi limbah tambang, kerusakan hutan & alam serta rusaknya tatanan sosial dan masyarakat Papua.
Kalau tidak percaya, datanglah sendiri ke Papua, dan bagaimana perlakuan freeport terhadap penduduk asli. Benar-benar penjajahan, kawan!
Dan tentu saja, orang-orang yang diuntungkan, salah satunya orang Indonesia yang mendapat posisi penting di Freport akan berusaha matia-matian menjelaskan bahwa Freeport tidak bersalah, bahkan Freepot adalah perusahaan yang baik.
Padahal rata-rata orang Indonesia hanya menjadi pekerja kasar dan buruh kasar. Sementara jabatan elit perusahaan didominasi oleh orang-orang Amerika. Yang gajinya, 1 orang Amerika di sana, bisa ribuan kali lipat dari pekerja asal Indonesia.

Masihkah belum sadar bahwa itu adalah satu satu contoh dari fakta adanya penjajahan di negeri kita tercinta???

Dan apakah untuk mempelajari bahwa Indonesia sedang terjajah harus seorang pakar ekonomi?
Jangan begitu wahai kawanku, karena para pejuang kemerdekaan dahulu rata-rata juga bukan seorang ekonom. Pakar ekonomi dari Indonesia saat itu justru lebih banyak yang bekerja pada pemerintah Hindia Belanda. Mereka mungkin bukan antek, tetapi yang jelas mereka banyak yang tidak sadar bahwa mereka sebenarnya sedang bekerja dan mengabdi pada penjajah.Melihat banyaknya komentar yang masuk, maka perlu sekiranya saya melanjutkan artikel ini. Karena cukup panjangnya tulisan ini. Dan untuk mengajak siapa saja untuk jujur pada diri sendiri lalu releksi dan merenungkan kembali hakekat penjajahan sehingga mampu berjuang bersama-sama melawan penjajahan. Karena tidak mudah menjelaskan dan menyadarkan diri kita semua dari penjajahan yang telah terlajur berkalang tanah menjadi memili menta terjajah. Begitulah sifat manusia, yang karena terlalu dijajah menjadi orang yang memiliki mentalitas penjajah dan mengagungkan-agungkan si Penjajah. [More...]

Orang yang terbiasa tertindas, mengalami perubahan mentalitas menjadi tidak sadar bahwa dirinya tertindas. Dan tidak mau dibebaskan dari penindasan. Karena sudah menikmati ketertindasan. Begitulah kata sosiolog Paulo Freire. Hanya sedikit dari manusia yang mampu secara cepat menyadari semua potensi yang ada dalam dirinya.

Pada jaman Belanda dulu, mengapa Indonesia begitu lama di jajah? Adalah karena banyaknya kelompok menengah atas yang tidak mau bersikap kritis terhadap penjajahan. Mereka terlena dan tertidur dari mimpi panjang penjajahan.

Kenapa begitu? Karena pertama, mereka menjadi bagian dari kelompok yang diuntungkan, misalnya menjadi pejabat atau orang kaya yang diuntungkan oleh sistem (bukan pengusaha yang berjuang dari nol). Kedua, karena mereka memiliki sifat yang sama dengan penjajah yaitu sifat suka menindas atau mengeksploitasi orang lain. Ketiga, karena mereka sudah terasing dengan dirinya sendiri, atau orang yang tidak sadar siapa dirinya dan apa tujuan hidupnya.

Ada 2 jalur perubahan yang perlu dipenuhi oleh Indonesia. Jalur pertama, yaitu jalur kultural dengan cara bagaimana secara individu rakyat Indonesia memiliki semangat yang tinggi untuk bangkit maju dan berkembang. Jalur Kedua, jalur struktural. Membenahi berbagai infrastruktur dan suprastruktur yang bisa mendorong kemajuan, bukannya malah menghambat.

Karena masalahnya, struktur dan sistem ekonomi Indonesia terkait dengan sistem global. Dan kemunduran dan kemiskinan Indonesia disebabkan oleh sistem global yang tidak adil. Jadi, Indonesia menjadi miskin karena dimiskinkan secara struktural.

Hanya sedikit manusia yang kemudian mampu bersikap kritis dan menjadi sadar dari tidurnya, lalu menyeruak bangun untuk berteriak “Aku ingin bebas dan merdeka!!!”

Begitulah juga pada zaman penjahan Belanda dulu, selama 350 tahun kita di jajah Belanda. Selalu ada aktifis atau pemimpin yang menyuarakan untuk melawan penjajah Belanda namun tidak mendapat dukungan dari rakyat. Karena banyak antek/begundal penjajah yang selalu mempengaruhi rakyat untuk menyalahkan kelompok anti penjajahan.

Misalnya Sultan Agung dan Pangeran Diponegoro. Para pemimpin seperti ini lahir karena sudah tidak kuat lagi melihat ketidakadilan yang terjadi.
Sultan Agung dan Pangeran Diponegoro kalah justru juga karena kerjaan para antek dan begundal Belanda. Masih ingat bukan?
Pelajaran sejarah di SD tentang bagaimana Pangeran Diponegara dikhianati oleh salah satu panglimanya?
Antek dan begundal Belanda (para raja atau elit politik) saat itu juga bekerja keras meyakinkan rakyat bahwa hidup rakyat sudah lebih baik di bawah kerajaan Belanda. Sudah ada pembangunan misalnya jalan Daendless jalan yang menghubungkan Jakarta dan Surabaya. Yang sebelumnya tidak ada. Dan sekian keberhasilan pembangunan yang lain. Dan mengajak rakyat untuk setia dan menganggap baik penjajah Belanda.

Dan selalu mengajak rakyat untuk bisa nrimo (rasa menerima) akan nasib bangsanya, karena Belanda memang lebih maju dan unggul, sementara kita tidak.
Sehingga Indonesia baru merdeka setelah 350 tahun dijajah oleh Belanda. Itupun karena Belanda kalah perang dengan Jepang, dan terpaksa menyerahkan Indonesia pada Jepang. Dan barulah rakyat Indonesia baru tersadarkan secara masif akan perlunya melawan penjajahan. Dan antek/begundal juga sudah tidak berani bicara atau memilih lari ke Belanda. Ingat bukan? Ada orang Indonesia yang mewakili kerajaan Belanda waktu perjanjian Linggarjati?
Akankah kita masih menunggu waktu yang lama lagi agar menjadi bangsa yang benar-benar merdeka dan merebut kedaulatan ekonominya?

Amerika memang baik, tetapi hanya baik kepada rakyatnya sendiri dan sekutunya. Sedangkan terhadap negara yang dijajahnya???

Marilah kita refleksi dan merenung akan gambaran nyata yang terlihat setiap hari di televisi, dengan mengembangkan sudut pandang yang lebih luas. Bukankah sudah sangat jelas bahwa ekonomi dunia sekarang ini berjalan secara tidak adil?

Masih sulit untuk menerimanya bukan???

Sabar, coba alau kita mau melakukan sedikit analisa, maka tampak sangat jelas bahwa Bangsa Indonesia sudah benar-benar kehilangan kedaulatan ekonominya. Ekonomi Negara dan bangsa Indonesia benar telah diatur sedemikian rupa untuk selalu menguntungkan Negara penjajah.
Misalnya PT Freeport di Papua, pernahkah kita tahu berapa sesungguhnya emas yang diambil setiap tahunnya? Adakah orang Indonesia yang bisa masuk ke Freeport dan mengaudit pendapatan emasnya? Yang setiap hari dikirim ke Amerika Serikat. Data informasi sementara yang ada mengatakan bahwa emas yang dikeruk oleh Freepot dari bumi Papua tiap tahun mencapai 100 Trilyun per tahun.
Tahukah anda? Dengan Uang 100 Trilyun, Indonesia bisa membangun jalan sepanjang 10.000 KM dengan standar nasional, sangat mulus dan berlantai beton. Sehingga seluruh daerah di Indonesia bisa terhubung oleh jalan itu.
Perusahaan mana dan negara mana yang diuntungkan??? Sudah tentu Freepot dan Amerika.
Apa untungnya buat Indonesia??? Hampir tidak ada bukan??? Kecuali 10% dari keuntungan bersih dikurangi limbah tambang, kerusakan hutan & alam serta rusaknya tatanan sosial dan masyarakat Papua.
Kalau tidak percaya, datanglah sendiri ke Papua, dan bagaimana perlakuan freeport terhadap penduduk asli. Benar-benar penjajahan, kawan!
Dan tentu saja, orang-orang yang diuntungkan, salah satunya orang Indonesia yang mendapat posisi penting di Freport akan berusaha matia-matian menjelaskan bahwa Freeport tidak bersalah, bahkan Freepot adalah perusahaan yang baik.
Padahal rata-rata orang Indonesia hanya menjadi pekerja kasar dan buruh kasar. Sementara jabatan elit perusahaan didominasi oleh orang-orang Amerika. Yang gajinya, 1 orang Amerika di sana, bisa ribuan kali lipat dari pekerja asal Indonesia.

Masihkah belum sadar bahwa itu adalah satu satu contoh dari fakta adanya penjajahan di negeri kita tercinta???

Dan apakah untuk mempelajari bahwa Indonesia sedang terjajah harus seorang pakar ekonomi?
Jangan begitu wahai kawanku, karena para pejuang kemerdekaan dahulu rata-rata juga bukan seorang ekonom. Pakar ekonomi dari Indonesia saat itu justru lebih banyak yang bekerja pada pemerintah Hindia Belanda. Mereka mungkin bukan antek, tetapi yang jelas mereka banyak yang tidak sadar bahwa mereka sebenarnya sedang bekerja dan mengabdi pada penjajah.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Optimistis Melihat Produk Lokal dari Pasar …

Asri Alfa | | 22 October 2014 | 19:36

Happy Birthday Kompasiana …

Syukri Muhammad Syu... | | 22 October 2014 | 18:24

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Ngaku Kompasianer Langsung Diterima Kerja …

Novaly Rushans | | 22 October 2014 | 07:36

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Calon Menteri yang Gagal Lolos …

Mafruhin | 13 jam lalu

3 Calon Menteri Jokowi Diduga Terlibat Kasus …

Rolas Jakson | 13 jam lalu

Suksesi Indonesia Bikin Iri Negeri Tetangga …

Solehuddin Dori | 13 jam lalu

Bocor, Surat Penolakan Calon Menteri …

Felix | 14 jam lalu

Fadli Zon dan Hak Prerogatif Presiden …

Phadli Hasyim Harah... | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Ketika Bidan Desa Tak Peduli, Nyawa Bayi …

Yohana Damayanti Ma... | 8 jam lalu

Judge …

Ayu Syahbana Surbak... | 8 jam lalu

Memilih Makanan Halal di Eropa …

Aries Setya | 8 jam lalu

Amplas …

Katedrarajawen | 9 jam lalu

Obama Dream atau Obama Nightmare ? …

Andi Firmansyah | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: