Artikel

Umum

Pengalaman Kuliah di Jerman : Antara Rasa, Logika dan Fakta (1/2)


OPINI | 12 June 2009 | 23:20 Dibaca: 1957   Komentar: 14   Nihil

Dengan sedikit keberuntungan dan banyak kenekatan, saya bisa mewujudkan salah satu mimpi untuk mendapatkan pengalaman belajar di Jerman, tepatnya di Universitaet Karlsruhe. Universitas ini adalah salah satu universitas yang cukup disegani di Jerman dan bersama dengan dua universitas lain digelari universitas elit.

Awalnya adalah sebuah iklan di salah satu milist beasiswa yang menginformasikan adanya kesempatan untuk melanjutkan studi ke jenjang S-3 di salah satu pusat penelitian di kota Karlsruhe (forschungszentrum karlsruhe -semacam LIPI-nya Jerman). Tawaran yang diberikan memang sesuai dengan bidang yang saya inginkan dalam bidang karakterisasi material menggunakan sinar X. Tiga bulan setelah mengirimkan berkas lamaran, saya mendapat konfirmasi bahwa saya diterima di program yang saya lamar.

Karena gelar kesarjanaan hanya diberikan oleh universitas, maka saya pun wajib terdaftar secara legal di salah satu universitas di Jerman, dan dalam hal ini bos saya mendaftarkan saya di Universitas Karlsruhe. Di hari pertama kerja (di sini program s-3 dianggap sebagai kerja; yang artinya menerima gaji dan membayar pajak) saya mendapatkan informasi bahwa saya harus mengikuti dua praktikum di universitas. Saya boleh mengambilnya kapan saja dalam tiga tahun masa kontrak s-3 saya. Karena saya tidak memiliki bekal bahasa Jerman sedikit pun, saya memutuskan untuk mengambil praktikum ini di tahun kedua, dengan tekad kuat untuk mempelajari bahasa Jerman di tahun pertama.

Tekad tinggalah tekad. Dengan berbagai macam pembelaan diri, kemajuan bahasa Jerman saya hanya cukup untuk berbelanja di supermarket (yang sebetulnya uang lebih berperan dibandingkan bahasa verbal :p). Dengan sedikit motivasi lebih, saya ikut kursus bahasa Jerman sepulang kerja. Kemajuan memang ada, tapi tidak cukup untuk mengikuti perkuliahan.

Awalnya saya bersikap santai menghadapi dua praktikum ini. Toh sewaktu di Indonesia, praktikum organik artinya kerja di laboratorium 8 jam/minggu ; praktikum anorganik artinya kerja di laboratorium 4 jam/minggu selama satu semester. Berawal dari gosip kanan-kiri dengan sesama orang indonesia, kepala saya seperti ditonjok-tonjok begitu tahu bahwa praktikum organik di sini artinya bekerja 30-40 jam/minggu selama setengah semester + seminar + kuliah + presentasi. Sementara itu, praktikum anorganik artinya setengah dari beban praktikum organik. Artinya, selama 6 bulan saya tidak bisa mengerjakan tesis saya (yang sama sekali tidak berhubungan dengan kimia), dan berarti juga kehilangan penghasilan selama 6 bulan. Nah lho, masa mau puasa sih? Dalam keadaan super panik menghadapi masa depan yang sama sekali tidak cerah ini, mulailah saya kasak-kusuk dengan bos besar untuk bernegosiasi dengan pihak fakultas supaya diberi keringanan dari dua jerat praktikum ini.

Dengan berbagai kesibukan di pihak bos besar; setelah tak lelah-lelahnya setiap minggu selama tiga bulan mengingatkan bos besar untuk menghubungi pihak universitas, dimulailah pembicaraan antara bos si pemberi gaji dan dekan fakultas kimia. Dua alasan utama dikemukakan: (1) bahwa yang menggaji saya adalah pusat penelitian dan bukan universitas (secara fisik pun, pusat penelitian dan universitas berjarak kurang lebih 14 km) dan (2) maka tidak adil bagi pihak pemberi gaji jika saya harus menghabiskan waktu di universitas untuk melakukan praktikum yang sama sekali tidak berhubungan dengan topik s-3 saya. 3 bulan pun berlalu, dan akhirnya diputuskan bahwa saya cukup mengambil kuliah praktikum anorganik saja. Hore!!!

Masih dengan sikap setengah hati, saya mendaftarkan diri untuk ikut praktikum yang dibatasi maksimal untuk 30 orang pendaftar pertama. Dengan langkah yang sangat berat + rasa takut yang luar biasa, saya pun memasuki ruang perkuliahan. Di hari pertama itu saya dengan sengaja datang 1 menit sebelum waktu kuliah, dengan perkiraan bahwa murid-murid lain sudah ada di ruang kelas sehingga saya tidak perlu menatap murid-murid lain sewaktu menunggu di koridor sampai ruang kelas di buka. Bukan karena saya anti sosial, tapi sumpah..saya tidak tahu harus berkata atau bersikap bagaimana dengan kemampuan bahasa Jerman saya yang tidak lebih dari angka 1 dari skala 10. Saat itu, bekal mental yang saya bawa adalah sikap pasrah orang Indonesia: toh…kalau diikuti, waktu pasti berlalu.

Benar saja, saya tidak mengerti apa pun yang diucapkan pemimpin praktikum pada hari itu. Saya hanya mengerti, bahwa saya harus menandatangani daftar absen, dan dibagikan aturan main perkuliahan praktikum. Dari aturan main ini saya mengerti, bahwa mata kuliah praktikum terdiri dari 4 bagian : (1)kuliah tatap muka dosen-mahasiswa, (2) seminar dari dosen tamu, (3) presentasi dari mahasiswa dan (4)praktikum.

Tidak seperti di Indonesia yang dibagikan modul praktikum sehingga praktikan bisa membaca apa yang harus dilakukan selama percobaan, di sini yang diinformasikan hanyalah judul praktikum. Selanjutnya? Terserah Anda… atau hubungilah asisten yang bersangkutan. Kalau di Indonesia percobaan yang dilakukan adalah sama untuk kelas yang sama, di sini setiap kelompok harus menentukan sendiri urutan-urutan percobaan yang ingin dilakukannya. Aturannya sederhana : sintesis 9 jenis senyawa dalam 9 minggu. Bagaimana dan kapannya, silakan diputuskan sendiri. Setiap kelompok (terdiri dari 2 orang) memiliki tugas sintesis berbeda-beda.

Saya cukup beruntung untuk dimengerti bahwa saya tidak berbicara bahasa Jerman, jadi pemimpin praktikum meminta kesediaan peserta lain yang bisa berkomunikasi menggunakan bahasa inggris untuk menerima saya. Satu masalah memang terpecahkan, tapi saya sudah bisa menduga..dalam prakteknya akan tetap sulit dan ‘menyakitkan’

(bersambung)

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: