Kompasiana
Jumat, 10 Pebruari 2012

Umum

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Msujaianhar

Ustadz Funky, Mahasiswa Pascasarjana UNJ Prodi Teknologi Pendidikan, Senang mengamati masalah sosial

Dicari, Pemimpin yang Tidak Menjual Bangsanya

OPINI | 14 June 2009 | 22:16 294 5 Nihil

Sepertinya kita harus mempunyai pemimpin sekelas Umar bin Khattab, yang merelakan kehidupan malamnya untuk berkeliling guna mencari tahu bagaimana kehidupan masyarakat yang ia pimpin, tidak langsung percaya dengan laporan anak buah, karena beliau sangat yakin, bahwa semua yang ia pimpin, kelak dimintai pertanggungjawaban. Hanya memiliki 2 lembar pakaian, jika satu dipakai, otomatis yang lain secepatnya dicuci. Tidak mempunyai istana yang megah, sehingga membatasi komunikasi dengan masyarakat.

Atau, kita harus memiliki pemimpin sekelas Umar bin Abdul Aziz, yang rela memakai pakaian yang paling murah dan sanggup tidak menggunakan fasilitas Negara untuk kepentingan keluarga, walau hanya sebatas lampu tempel. Jangankan untuk memanfaat fasilitas Negara yang lain, ketika menulis dan membaca laporan untuk kepentingan Negara di malam hari, umar memakai lampu seadanya, ketika putranya datang untuk bertanya, Umar langsung berkata “apakah kedatanganmu ini menyangkut kepentingan umat, atau kepentingan keluarga?” ketika anaknya menjawab, bahwa kedatangannya adalah kepentingan keluarga, Umar langsung mematikan lampu, dan berbicara dengan putranya dalam keadaan gelap. Dengan suara datar Umar menjelaskan, “lampu ini dibiaya oleh kas Negara, jika engkau berbicara untuk kepentingan Negara, maka lampu ini tidak kumantikan, namun jika untuk kepentingan di luar itu, maka aku matikan”.

Dua contoh diatas adalah sosok pemimpin yang mengabdikan dirinya untuk umat, menjadi pelayan bukan dilayani, menjadikan seluruh kepentingan umat diatas segalanya. Karena mereka sangat sadar, bahwa semua yang mereka pimpin, kelak harus dipertanggungjawabkan. Menuntun bangsanya, bukan menonton, mengajak keluar dari kebodohan, bukan membodohi, menjadi contoh untuk segalanya, bukan mencari selamat untuk selamanya.

Tutur kata, pola hidup, cara berpakaian dan seluruh tindak tanduk seorang pemimpin menjadi contoh bagi bangsa yang ia pimpin, ini adalah kewajiban yang melekat, tidak dapat diatur sesuai keinginan, hari ini selaku keluarga, maka mencari untung sebesar-besarnya untuk keluarga, besok menjadi pemimpin lagi, dan berbicara secara normatif.

Kita kehilangan contoh yang dapat dijadikan figure teladan, tidak lagi kita temukan pemimpin yang mengayomi untuk semua lapisan masyarakat, kita rindu sentuhan pemimpin yang adil untuk rakyat, kita putus harapan dari perbaikan yang datangnya dari pemimpin.

Jika hanya janji yang selalu diandalkan untuk menanamkan kepercayaan orang lain, bagaimana dengan masa lalu yang telah mereka perbuat. Terasa janji seperti pepesan kosong, walau tidak dapat dipegang, namun memberikan rasa senang sesaat.

Semua memberi janji memberantas kemiskinan, namun semakin hari hidup semakin sulit, harta Ibu pertiwi semakin terkuras, dari barang tambang hingga BUMN, dari masa lalu hingga kontrak selama puluhan tahun dimasa depan. Berlomba menarik simpati untuk dipilih, kemudian sibuk sendiri untuk 5 tahun ke depan.

Dicari, pemimpin yang tidak menjual bangsanya, baik secara materi maupun non materi. Dicari pemimpin yang dapat menaikkan harkat martabat bangsa, bukan hanya diam ketika bangsa ini dihina.


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


    CINTA PERTAMA

    Bulan Februari adalah bulan cinta dan kasih sayang. Begitu kurang lebih yang dirayakan banyak orang,


SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012