Berbeda dengan di Amerika Serikat, keberadaan koran di Indonesia masih relatif baik, meski ada sedikit penurunan pendapatan iklan. Artinya, sama sekali tidak ada perasaan bahwa krisis ekonomi akan menjadi amat destruktif kepada kita dalam waktu dekat ini. Apalagi, diasumsi bahwa pada semester dua 2009 ini, situasi akan membaik.
Dalam banyak hal, kita bahkan ingin selalu mengatakan “krisis itu tidak ada” supaya dalam mindset kita juga tidak terdapat virus krisis yang bisa membuat kita pesimistik. Selalu berpikiran optimistik, bahkan dalam beberapa hal, lebih baik, bukan?
Tetapi dalam ketiadaan perasaan pesimis dan keharusan kita berpikir optimis itu ada satu gap di tengahnya, yakni seberapa jauh kesiapan kita untuk bisa menghadapi situasi terburuk (worse case). Bagi koran, worse case-nya adalah penurunan drastis pendapatan dari iklan dan dari distribusi koran itu sendiri, sehingga tidak bisa menutup biaya pengeluarannya. Itu dari aspek finansial.
Worse case yang lainnya adalah ketika para kru di koran tersebut tidak lagi memiliki dana dan energi untuk melakukan inovasi. Inovasi tidak hanya meliputi bidang konten tekstual maupun visual, tetapi juga menyangkut langkah-langkah antisipatif atau langkah-langkah penyesuaian terhadap perkembangan teknologi mutakhir yang terus saja mendorong orang untuk memiliki makin banyak alternatif tentang cara membaca dan cara mendapatkan informasi.
Apa yang harus dilakukan koran, misalnya, ketika begitu banyak manusia di sini lebih gemar menonton daripada membaca? Apa yang harus kita lakukan ketika 80 juta orang memiliki HP, dan 30 juta orang pengakses internet? Apa yang harus kita lakukan ketika orang makin gemar bersosialisasi lewat Facebook, Twitter, Lingkedin, dll, baik melalui dunia maya, maupun melalui kopi darat (kopdar) di antara sesama pengguna situs jaringan sosial itu? Apa pula yang harus kita lakukan ketika semakin banyak anak muda menggemari games online sehingga salah satu situs games di Indonesia menempati posisi baik di situs pemeringkat Alexa.com, misalnya?
Sebagai catatan juga, telko merupakan satu di antara sedikit saja bidang bisnis yang dewasa ini membelanjakan iklan paling banyak. Yang lainnya adalah perumahan dan otomotif. Dengan demikian, perkembangan bisnis HP, misalnya, akan terus berkembang. Setelah heboh dengan Blackberry yang harganya cukup mahal itu, sekarang meluncur N97. Teknologi terus berkembang, makin bervariasi, demikian juga secara paralel jumlah penggunanya yang semakin meningkat. Dengan persaingan semakin ketat, diharapkan harga gadget juga makin terjangkau. Ingat, fenomena antre ratusan orang membeli HP Nexian yang murah di Indonesia Celullar Show pekan lalu?
Mengantisipasi fenomena seperti itu, The New York Times, misalnya, beberapa pekan lalu mengangkat seorang managing editor yang khusus menangani media baru ini. Tugasnya antara lain adalah “memasarkan” NYT ke dalam berbagai media baru yang berkembang begitu cepat tersebut. Sehingga, orang tidak harus membaca NYT hanya ketika memegang korannya atau memasuki onlinenya saja. Orang harus bisa masuk ke online NYT dari pintu-pintu lain yang tersedia di berbagai situs jaringan sosial tersebut. Artinya, kalau NYT itu adalah Roma, maka harus berlaku juga ungkapan “banyak jalan menuju NYT”.
Lee Abrams, CIO (Chief Innovation Officer) Tribune Company, secara gamblang memberikan “petunjuk”: If a newspapers’ brand is great, then strive to keep it great. The industry has this thing about looking backwards and protecting history instead of re-inventing itself.
Reinventing, seperti dikatakan di atas, tidak hanya harus didorong oleh perkembangan teknologi informasi, tetapi juga didesak oleh adanya kebutuhan tentang informasi yang sedalam dan seluas mungkin dari para pembacanya, penggemarnya, pencintanya. Dan, untuk mengetahui sejauh mana kita bisa menyelami pikiran pembaca, tentunya perlu dibangun suasana interaktif, bukan?
Lebih jauh dari itu, pada hari ini, pembaca, penggemar, dan pencinta koran kita bahkan merasa ingin terlibat dalam penyajian informasi itu. Ini antara lain dijelaskan dengan kehadiran blog-blog yang berkembang pesat di negeri ini. Mereka menulis apa yang mereka suka. Pembaca juga pada hari ini bahkan ingin terlibat untuk mengomentari suatu informasi (baik atau buruk) yang disajikan oleh koran. Maka aspek interaktif ini makin terbukti harus menjadi bagian keseharian sebuah koran modern.
Di sisi lain, para klien iklan (pengiklan) juga sekarang makin kencang tuntutannya, antara lain menyangkut model beriklan itu sendiri. Di dunia online, mereka tidak hanya memasang iklan banner, tetapi juga meminta layanan yang sifatnya rich media. Iklan diolah sedemikian rupa sehingga menjadi begitu entertaining dan bahkan interaktif. Artinya, inovasi juga harus dilakukan di lini bisnis koran itu.
Maka saya amat setuju dengan pernyataan Lee Abrams: Somehow, newspapers need to overcome the anti-innovation environment that plagues the entire media business. Mudah-mudahan saja yang dia sebut dengan entire media business itu hanya terbatas di Amerika Serikat saja, dan bukan di Indonesia.
Bagaimanapun upaya mencerdaskan bangsa harus tetap kita jaga dan terus kita tingkatkan, bukan? Dan, untuk itu kita harus melakukan dua hal: Improve dan Innovate! Tanpa kedua hal itu, koran akan benar-benar menjadi dying industry!
Salam Kompasiana
Bulan Februari adalah bulan cinta dan kasih sayang. Begitu kurang lebih yang dirayakan banyak orang,
