Kompasiana
Jumat, 10 Pebruari 2012

Umum

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Taufik H. Mihardja

Dulu wartawan peliput politik nasional dan internasional. Sekarang sehari-hari ikut 'ngurusin' harian Kompas, Kompas.com, dan Kompas TV.

Mesir yang Hebat, Brazil yang Berpengalaman

OPINI | 16 June 2009 | 10:32 973 5 Nihil

Saya nggak kuat untuk berkomentar di Kompasiana ini tentang pertandingan bola Piala Konfederasi antara Mesir dan Brazil. Bayangkan hanya dalam tempo setengah perjalanan, 4 gol tercipta. Satu oleh Brazil, dibalas satu oleh Mesir, lalu Brazil melesakkan 2 gol.

Tapi yang mencengangkan, pada paruh kedua, Mesir melesakkan 2 gol. Sehingga, permainan menjadi imbang 3:3. Kalau Kaka tidak memasukkan gol terakhir, Mesir-Brazil akan tetap seri. Pertandingan berakhir dengan angka 4:3 untuk kemenangan Brazil.

Sebagai warga negara berkembang, dan ini mungkin kecenderungan karakter kewartawanan saya juga,  saya cenderung mendukung Mesir karena ia adalah bagian dari “masyarakat kecil” dibandingkan dengan Brazil yang dalam dunia sepak bola merupakan “warga elite, warga kehormatan,” dunia. Meskipun saya menghormati sosok Kaka yang santun, ganteng, tidak macam-macam (maksudnya nggak pernah masuk ke warta gosip di TV kita yang marak itu).

Mesir melawan Brazil seolah-olah yang papa melawan yang kaya. Anak ingusan melawan seorang guru. Seorang tak berpengalaman melawan orang yang sudah makan asam garam. Apalagi bisa disebutkan di sini hanya untuk mengontraskan antara yang satu dengan lawannya.

Menurut saya kemajuan Mesir dalam persepakbolaan internasional sungguh mencengangkan. Hebat. ia bisa mengimbangi lawan yang berpengalaman. Permainan yang diperlihatkan M Zidan dan kawan-kawan menyuguhkan atraksi yang tidak kalah dengan permainan samba Brazil.

Apalagi dalam pertandingan ini, dua gol Brazil dilesakkan dari tendangan bola mati, bukan melalui permainan bertarung di depan gawang.

Nah, biasalah. Ketika kita melihat tetangga kita maju pesat, ada perasaan iri di dalam hati. Seperti kita iri menyaksikan kemajuan Malaysia, bukan?

Pertanyaannya, Indonesia bagaimana ya?

Setiap kali kita ngomong tentang sepakbola, pikiran kita selalu mengatakan “ga maju-maju”. PSSI kita hanya menang bertanding dengan Kamboja. Untuk menjadi juara di ASEAN saja susahnya setengah mati. Meski Liga Indonesia marak, tetapi ketika mereka disuruh bertanding ke luar, tetap saja kalah awu.

Pikiran saya jadi melambung-lambung gak keruan. Misalnya, bagaimana ya kalau ada pihak-pihak tertentu (termasuk APBD pemerintah daerah) membiayai beberapa anak yang berbakat untuk sekolah bola di Inggris atau di Spanyol. Ya gak? Siapa tahu bisa tercipta Kaka-kaka yang lain di sini. Dan, banyak seandainya-seandainya yang lain.

Seandainya Kompasiana bisa membiayai mereka? Mau juga, sih. Tapi ini kayaknya masih tetap menjadi mimpi besar …

Salam Kompasiana


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User



SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012