Di surat pembaca Majalah TEMPO minggu ini ada tulisan dan protes menarik. Penulisnya, Didi Irawadi mengungkapkan bagaimana Mega berbicara dalam “Mega Blakblakan Berbicara” di SCTV 10 Juni 2009 secara sangat tidak simpatik. Sayangnya, saya memang tidak menyaksikan sendiri tontonan itu. Dalam acara itu, ternyata Megawati berujar kepada para mahasiswa, “Kok, cita-citanya hanya menjadi wartawan?”
Waduh, saya rasa calon presiden yang satu ini memang betul-betul kebangetan. Kata “hanya” menjadi wartawan memang sungguh melecehkan. Menurutnya, apa ya profesi yang sangat jauh lebih mulia dari wartawan? Atau, serendah apa dan tidak berartinya sih profesi wartawan?
Dulu, ketika Inten Suweno yang jelita itu menjadi Menteri Sosial, pernah juga ia dengan sombongnya mengecilkan arti wartawan. Di depan wartawan Istana, ketika membicarakan soal pakaian seragam anak sekolah di kawasan terpencil, seorang wartawan mengatakan alangkah baiknya kalau dana seragam itu dipakai untuk membeli buku-buku lebih dahulu. Lalu katanya, “Kalian wartawan dulu belum memakai seragam sekolah ya? Pantas saja jadinya cuma wartawan!”
Atas tutur kata pedas Inten Suweno itu, rekan-rekan wartawan di Istana merasa tersinggung dan menjadi sangat tidak respek lagi kepadanya. Saya sendiri pun sempat menulis surat pembaca di koran secara terbuka tentang hal ini. Saya juga angkat telefon menghubungi Bob Hasan, kenalan baik Inten, dan menceritakan kejadian ini. Bob Hasan, saat itu juga seakan tak percaya apa yang diucapkan Inten.
Sekarang, sekian belas tahun kemudian, kejadian berulang. Tetap meluncur dari mulut soerang wanita. Dan terpandang di mata orang banyak. Megawati mungkin lupa, BM Diah yang dipercaya pemerintahan jadul untuk melanglang buana ke luar negeri mengatasnamakan negeri ini, adalah seorang wartawan handal. Ibu Herawati Diah, wanita cerdik yang sudah sepuh, super pandai, yang sekarang masih rajin mengikuti banyak acara meski bertongkat, tetap ‘otaknya jalan’ mengikuti naluri kewartawanannya. Belum lagi Adam Malik yang sempat menjadi atasan Ali Alatas. Siapa dia? Semua orang tahu Adam Malik si kancil cerdik itu adalah seorang wartawan. Ali Alatas yang menjadi terkenal ke pelosok dunia itu juga sempat menjadi kuli tinta pada masa yang lalu.
Rosihan Anwar, pak gaek bijak yang sampai detik ini masih menulis apa saja yang ia tangkap sehari-hari di mata dan telinganya, adalah seorang wartawan senior yang sangat tajam dan cermat pengamatan dan analisisnya. Susanto Pujomartono, wartawan eks Tempo dan eks pemimpin redaksi The Jakarta Post , sempat menjadi seorang duta besar di Rusia yang dihormati banyak orang. Belum lagi Assegaf yang setelah selesai menjadi duta besar, ia kembali memimpin media besar di Indonesia. Eks wartawan koran Detik ada juga lho yang sempat pula menjadi menteri. Toeti Adhitama yang sungguh cerdas dan disegani banyak pejabat Indonesia, sampai nenek-nenek begini tetap berjiwa wartawan. Belum lagi Toeti Kakialatu eks Tempo yang otaknya encer buanget, dan sempat meraih gelar lagi di Universitas Indonesia saat anak-anaknya dulu menjelang remaja.
Megawati banyak sekali lupa rupanya. Mungkin beberapa tim suksesnya juga ada yang wartawan pandai, yang salah satunya bahkan berasal dari majalah berita mingguan terkenal. Bondan Winarno pria mak nyus yang kini rajin berwisata kuliner dan sangat cerdas itu, juga seorang wartawan. Apalagi kalau kita tengok Goenawan Mohammad yang disegani sastrawan, budayawan dan politikus. Bukankah ia puluhan tahun adalah wartawan dan membawahi sekian ratus wartawan pada media yang sangat terkenal di Indonesia? Iwan Piliang, yang kini mati mabok sedang memperjuangkan nasib David almarhum di Singapura demi harga diri Indonesia, juga muasalnya adalah wartawan.
Kalau saya sekarang mengamati adik-adik saya seperti Rossi Silalahi, Najwa anak Quraish Shihab, Uni Lubis, bangga betul saya! Mereka begitu sigap, tangkas dan terukur sekali saat tampil di layar kaca. Juga tutur katanya yang sungguh akademis, dengan gramatika bahasa yang baik, bukan sebagaimana biasanya bertutur kata gaya emak-emak yang mudah tersulut, nyolot, dan nyinyir.
Dalam acara Kick Andy, Megawati diwawancarai oleh seorang pria berambut keriting yang sangat cerdik dan punya wawasan tinggi. Ya, Andy Noya yang ‘ngocol’ itu juga bermuasal dari seorang wartawan koran terkenal, sebelum ia beralih ke dunia elektronik. Bukan rahasia umum ketika ditanya ini-itu oleh Andy Noya, yang diwawancara begitu keteteran dan memberikan jawaban yang membuat para pemirsa mencubit-cubit bantalan kursi di rumahnya masing-masing sangking gregetan…
Wartawan zaman kini, rasanya tak akan diterima kantor media mana pun apabila tidak keluar dari perguruan tinggi sembari menenteng ijasah. Minimal S1 harus mutlak sudah diraih. Bukan hanya “S3″ lho.. ( SD, SMP, SMA ). Semoga kita semua sepakat, bahwa profesi apa pun, apabila ditekuni dengan baik dan berada di jalur Allah yang diberkahi, tentu masing-masing akan sama tinggi derajatnya. Menjadi wartawan adalah pilihan hidup. Dan bukan warga kelas tiga di bumi Indonesia ini. Megawati, tolong jangan menghina wartawan dong…
Bisnis kuliner menjamur dimana-mana. Bila Anda pernah menikmati hidangan atau masakan yang unik atau pernah
