Kompasiana
Jumat, 10 Pebruari 2012

Umum

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Bocahndeso

Seseorang pria yang bukan termasuk golongannya rakyat 'Jelita', hanya seorang rakyat 'Jelata' saja, yang suka iseng, yang suka mengisi waktu nganggurnya untuk menghibur dirinya dengan membaca dan menuliskan uneg-unegnya yang dipostingkan di blog komunitas : Kompasiana, Politikana, serta di milis-milis yahoogroups.com : Forum Pembaca Kompas, Mediacare, Media Umat, Ekonomi Nasional, PPI-India, Indonesia Rising, Nongkrong Bareng Bareng, Wartawan Indonesia, Zamanku, Eramuslim, Sabili, Mencintai Islam, Syiar Islam, dengan nickname rifkyprdn@yahoo.com

Mengambil Iktibar dari acara pertemuan Dua Presiden, pak Ahmadinejad dengan pak SBY

OPINI | 17 June 2009 | 16:20 475 4 Nihil

Postingan saya kali ini –mohon maaf- hanya merupakan daur ulang dari tulisan yang pernah saya tulis pada 10 Mei 2006 yang telah silam. Namun saya kira tulisan itu ada hubungannya dengan situasi saat ini, yang ternyata ada juga postingan perihal iktibar yang bisa diambil hikmahnya dari peristiwa terpilihnya kembali Ahmadinejad dihubungkan dengan keinginan dari sementara pihak yang terkesan kok jadi sangat menggebu-gebu ambisinya untuk memperpanjang masa jabatannya. Bahkan -kata beberapa orang kenalan saya- terkesan tak merasa cukup puas jika hanya sekedar menang saja. Ingin lebih dari itu, menang mutlak hanya dalam satu putaran saja.

Maka untuk mencapai itu bisa jadi dimungkinkan tak hanya cukup dengan publikasi saja, mungkin saja juga disertai digelontorkannya sejumlah besar dana (paling tidak dana untuk biaya iklan ?) agar tercapai tujuannya, pelaksanaan Pilpres cukup hanya berlangsung dalam 1 putaran saja, sesuai kehendak dirinya.

Postingan yang saya maksudkan itu dapat dibaca di Kompasiana dengan judul ‘Belajar dari Iran : Pilpres Dua Putaran’ yang ditulis oleh Khusni Mustaqim. Jika ingin membaca bolehlah mengklik disini.

Kembali ke soal tulisan postingan daur ulang yang saya maksudkan, kebetulan saya jalan-jalan (istilah kerennya orang kota itu surfing, begitu kali ya ?) menemukan kembali jejak tulisan itu di blognya kang Ade Bachtiar. Eh rupanya saudara saya ini (maaf ya kang Ade, kita memang belum pernah berkenalan apalagi ketemu kopdar, tapi saya telah lancang menyebut akang sebagai saudara) ternyata masih menyimpan tulisan itu di blognya (makasih ya kang Ade) jika anda ingin membaca tulisan itu langsung ke blognya bolehlah mengklik disini.

Untuk menyingkat waktu dan ceritanya, maka ijinkanlah saya mengcopy pastekan saja tulisan itu. Selamat membacanya dan selamat menikmatinya bagi yang menyukainya. Salam Kompasiana buat semua pembaca.

Tulisan daur ulang selengkapnya :

Presiden Republik Islam Iran, Ahmadinejad, sangat prihatin menyaksikan ketidakberdayaan bangsa Indonesia yang pasrah menghadapi tindakan penjarahan negara-negara asing yang dimotori perusahaan-perusahaan negara maju, terhadap kekayaan alam Indonesia.

*

‘INDONESIA DIJARAH ASING’


Presiden Republik Islam Iran, Ahmadinejad, prihatin dan menyangkan bangsa Indonesia bersikap tidak berdaya dan pasrah menghadapi penjarahan bangsa asing terhadap kekayaan alam. Padahal, sebagai bagian terbesar umat Islam di dunia, bangsa Indonesia seharusnya mampu mendukung perjuangan menentang kemungkaran dan menegakkan keadilan.

Kami telah melihat sosialisme dan marxisme ternyata gagal memberikan solusi pada masalah-masalah dunia. Kini liberalisme dan demokrasi yang diusung negara-negara Barat seperti Amerika Serikat, juga gagal karena implementasinya menggunakan standar ganda,” jelas Ahmadinejad,” kata Ahmadinejad saat mengunjungi kantor PP Muhammadiyag dan PB NU, di Jakarta, Jumat (12/5)

Menurut Ahmadinejad, tanggungjawab umat Islam sangatlah jelas, yakni menciptakan keselamatan dunia beserta seluruh isinya.

”Indonesia sangat potensial mengemban tugas itu, karena memiliki sumber daya yang besar, termasuk jumlah umat Islam sebagai penduduk mayoritas,” ujarnya.

Tidak Optimal.

Namun ia sangat prihatin setelah menyaksikan keadaan bangsa Indonesia kini. Potensi sumber daya manusia dan alam yang dimiliki tidak dapat dioptimalkan untuk mewujudkan tujuan mulia.

Saya menyayangkan ketidakberdayaan bangsa Indonesia yang pasrah menghadapi tindakan negara-negara asing yang dimotori perusahaan-perusahaan negara maju, mengeruk kekayaan alam Indonesia,” ungkap Ahmadinejad.

Ia yakin, perdamaian dan keadilan sejati hanya bisa terwujud di dunia ini dengan menampilkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Iran akan menjadi negara yang terdepan menghadapi tekanan-tekanan Barat,” ujarnya.

Mengenai hubungan kerjasama antara Indonesia dan Iran, Ahmadinejab menyatakan, bukan hanya aspek budaya, pendidikan, pariwisata, bea cukai, energi, dan teknologi. Tetapi, bisa meliputi seluruh aspek yang berpengaruh bagi perdamaian, kemanusiaan, dan meningkatkan kemaslahatan warga kedua negara.

Ahmadinejad juga mendukung keutuhan atau integrasi wilayah Republik Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Ia menandaskan, tidak akan pernah menerima gerakan separatisme seperti di Papua.

Sementara Ketua Umum PB NU, KH Hasyim Muzadi, mengemukakan, dalam pertemuan dengan Ahmadinejad, meminta Iran menjadi pelopor pengembangan wacana keislaman yang produktif. Paling tidak, Iran menjadi pihak untuk mendamaikan konflik akibat perbedaan aliran keagamaan.

(Sumber : Ahmmadinejad Prihatin Indonesia Dijarah Asing, Republika, Senin, 15 Mei 2006).

*

‘PRESIDEN SBY dan PRESIDEN MAHMOUD AHMADINEJAD’


Presiden Republik Islam Iran semenjak hari Rabu tengah malam kemarin, mengadakan kunjungan ke Indonesia, dan direncanakan akan mengadakan pembicaraan bilateral dengan Presiden Republik Indonesia. Pertemuan antara Presiden Mahmoud Ahmadinejad dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu mengagendakan pembicaraan mengenai peningkatan kerjasama antara kedua negara di bidang kebudayaan, ekonomi, energi, kepabeaan, dan investasi.

Presiden SBY dan Presiden Ahmadinejad ini memiliki kesamaan dimana keduanya merupakan Presiden yang terpilih secara demokratis, dan keduanya sama-sama meraih dukungan suara yang besar dalam pemilihan Presiden sebagai modal dasar yang besar bagi legitimasi kekuasaannya.

Kedua Presiden ini juga memiliki kesamaan yang sama-sama mempunyai komitmen yang kuat untuk membangun negaranya, dan sama-sama mempunyai tekad yang kuat dalam memperjuangkan kebijakannya, serta sama-sama mempunyai keteguhan sikap demi tercapainya tujuan dari programnya, serta sama-sama pemberani dalam membela negaranya.

Presiden Ahmadinejad dalam rangka memajukan sektor energi nuklirnya bagi kebutuhan negaranya demi kesejahteraan rakyatnya, sampai-sampai bertekad kuat untuk terus melanjutkan kebijakannya walau diintimidasi oleh Amerika Serikat, dan teguh sikapnya dalam mempertahankan kemandirian negaranya, serta begitu pemberaninya sehingga tak ragu menghadapi resiko perang menghadapi Amerika Serikat dalam sengketa energi nukirnya itu.

Presiden SBY demikian juga, dalam rangka memajukan sektor energi migasnya bagi kebutuhan negaranya demi kesejahteraan rakyatnya, sampai-sampai bertekad kuat untuk terus melanjutkan kebijakannya menaikkan harga eceran BBM berlipat-lipat kali walau diprotes rakyatnya, dan teguh sikapnya dalam menyerahkan pengelolaan sumur minyak blok Cepu kepada perusahaan minyak Amerika Serikat, serta begitu pemberaninya sehingga tak ragu untuk menghadapi resiko perang menghadapi Malaysia dalam sengketa blok Ambalat.

Kedua Presiden ini juga sama-sama memimpin sebuah negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam.

Hanya dalam beberapa hal, Presiden Mahmoud Ahmadinejad seharusnya tak segan dan tak malu untuk banyak belajar kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Belajar, bagaimana caranya agar mayoritas penduduknya kretif dan mampu melakukan kreasi baru dalam beragama. Belajar, bagaimana caranya agar negaranya mendapatkan pujian dari Menteri Luar Negeri Amerika Serikat karena dinilai sebagai negara berpenduduk mayoritas Islam yang moderat. Belajar, bagaimana caranya agar berlaku ramah terhadap pengaruh kebudayaan barat. Belajar, bagaimana caranya agar pemerintahannya tak melakukan intervensi pelarangan terhadap penerbitan majalah Playboy yang merupakan salah satu majalah lifestyle peradaban barat yang berasal dari Amerika Serikat.

Belajar, bagaimana caranya agar pemerintahnya mampu untuk senantiasa bersikap ramah terhadap kemauan politiknya Amerika Serikat. Belajar, bagaimana caranya agar pemerintahannya tak ragu untuk menghukum penjara para ulama yang dituduh sebagai dalang teroris.  Belajar, bagaimana caranya agar pemerintahnya tak pernah menunda waktu untuk mengeksekusi dengan tembak mati ditempat bagi mereka-mereka yang baru disangka sebagai pelaku teroris dari kelompok yang dinilai sebagai Islam Fundamentalis.

Belajar, bagaimana caranya agar pemerintahnya dapat menunda waktu untuk mengeksekusi hukuman mati bagi mereka-mereka yang telah divonis pengadilan sebagai pelaku teroris dari kelompok agama bukan Islam.

Namun, Presiden Mahmoud Ahmadinejad dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga harus saling mengingatkan, agar masing-masing harus mulai bersiap-siap. Jika dalam pertemuan itu, Presiden SBY gagal membujuk Presiden Ahmadinejad agar bersikap lunak serta menuruti kemauannya Amerika Serikat. Maka Presiden Mahmoud Ahmadinejad harus mulai bersiap, bagaimana akan bersikap dan bagaimana akan bertindak jika sebentar lagi negaranya diserang dan dirinya di-Saddam-kan oleh Amerika Serikat.

Demikian juga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga harus mulai bersiap, bagaimana akan bersikap agar tak dinilai berpihak kepada Iran dan tak melukai hati Amerika Serikat, namun terlihat seolah tak sependapat dengan kesewenang-wenangan Amerika Serikat sekaligus terlihat seolah peduli dan berempati terhadap nasib Iran disaat negara itu diinvasi oleh Amerika Serikat.

Wallahu’alambishawab.


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User



SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012