Dalam postingan kali ini saya akan mencoba memaparkan sedikit catatan serba sekilas tentang bagaimana cara dan metoda yang dijalankan oleh para petinggi PKS sehingga dapat membentuk sepasukan kader-kader militan yang sangat solid dan loyal serta taklid buta terhadap seabsurd dan sepragmatis apapun tindakan politik yang telah diputuskan oleh para petingginya.
Sebenarnya secara tersirat hal ini pernah saya tuliskan di sebuah postingan saya di Kompasiana dengan judul ‘Dibalik Inkonsistensi PKS’. Jika ingin membacanya silahkan klik di judul tulisan itu yang telah saya tulis dengan huruf bold atau klik di : http://public.kompasiana.com/2009/06/09/dibalik-inkonsistensi-pks/.
Metode jitu yang telah diterapkan para petinggi PKS adalah menjadikan pengajian yang biasa disebut liqo’, sebagai sarana indoktrinasi kader-kadernya. Majelis pengajian yang diadakan secara berkala per regional wilayah ini dipimpin oleh seorang murobi.
Disinilah kunci utama dari mekanisme pengendalian kehidupan berjamaah bagi para kadernya dilakukan. Sistim searah yang top down diterapkan, dimaksudkan agar para kadernya tidak memiliki kesempatan berfikir kritis dan berbeda, sehingga menihilkan potensi para kadernya untuk menentang para petingginya.
Para petinggi PKS juga telah menyusun suatu rambu-rambu yang akan mengamankan semua keputusan dan keinginan para pemimpinnya dapat berjalan dengan mulus dan mendapatkan dukungan total sepenuh jiwa dan raga dari para kader yang telah dibinanya melalui liqo’ tersebut.
Rambu-rambu tersebut diejawantahkan dalam suatu rukun leadership. Rukun tersebut mencakup : ta’at, tsiqoh (percaya), husnuzh-zhan, fiqhuddakwah, ijtihad, syura qiyadah (musyawarah pemimpin), zuhud, qona’ah fikriyah (kepuasan berfikir), jama’ah, bai’at.
Singkat kata, kepada semua kadernya dipahamkan untuk selalu qona’ah fikriyah terhadap apapun juga keputusan syura qiyadah. Jika ada diantara para kader itu berbeda pendapat dengan qiyadah (pemimpin) dan berani mengeritiknya, maka tak ayal lagi kader itu dianggap telah mencederai makna bai’at dan jamaah dan dianggap telah melanggar salah satu rukun bai’at yaitu ta’at.
Dan itu sangat berat implikasinya bagi kader yang dimaksudkan itu. Kritis yang dianggap melanggar bai’ah itu akan berkonsekuensi terhadap kehidupan berjamaah kader yang bersangkutan dikalangan rekan-rekan sekomunitasnya. Kader yang berani kritis itu akan dicap oleh murobinya maupun rekan-rekannya dengan cap negatif di soal kadar keislamannya.
Kader yang kritis harus bertabayyun dulu kepada murobinya tentang apa yang dikritisinya itu. Selanjutnya penjelasan murobinya itu harus disikapi dengan husnuzh-zhan, sehingga si kader yang kritis itu harus qona’ah fikriyah terhadap apapun penjelasan murobinya.
Hasil akhirnya, sebesar apapun kesalahan dan seabsurd apapun keteledoran dan sepragmatis apapun kemelecengan tindakan dan ijtihad para petingginya dalam menentukan garis kebijakan dalam lingkup dakwah dan politik, haruslah selalu dilihat oleh para kadernya dengan kaca mata husnuzh-zhan yang harus dipahami sebagai sebuah kearifbilahan dan kebijaksanaan serta kecerdasan dari hasil olah pikirnya para petingginya di majelis syuro.
Begitulah serba sekilas penjelasannya mengapa para kader PKS yang militan itu dapat tetap solid dan loyal serta taklid buta terhadap seabsurd dan sepragmatis apapun tindakan politik para petingginya. Hampir tak ada satupun kader yang berani menentang para petingginya, karena hamper tak ada satupun kader PKS yang berani mengambil resiko disisihkan dari pergaulan jamaah di komunitasnya. Sebenarnya ini bisa difahami juga, dulu waktu kita muda kita juga takut jika dianggap beda oleh teman se geng kita, karena itu kita takut disisihkan dalam lingkungan pergaulan di komunitas geng kita.
Itulah mengapa kita selalu menjumpai fenomena yang aneh dan absurd jika kita berkesempatan ketemu dan ngobrol-ngobrol dengan para kader PKS. Semua omongan dan pendapat diluar pendapatnya murobinya adalah salah, terjadi hegemoni tafsir kebenaran yang hanya tunggal saja sumbernya, hanyalah pendapat dari murobinya saja.
Mereka para kader yang mengaku paling Islami yang harus kita akui sebagai yang paling militan itu selalu mengagungkan kata tabayyun, ta’at, tsiqoh, husnuzh-zhan, fiqhuddakwah, ijtihad, syura qiyadah, zuhud, qona’ah fikriyah, jama’ah, bai’at.
Kita harus akui kehebatan model indoktrinasi dan pengendalian kehidupan berjamaah dari para kader PKS. Sayangnya itu semua seringkali hanya dijadikan alat bagi para petingginya untuk menjustifikasi semua keputusan dan keinginan para petingginya. Tak ada yang perlu ditakutkan oleh para petinggi PKS untuk bertindak seabsurd dan seambivalen serta seambiguitas apapun juga, karena hegemoni tafsir kebenaran adalah monopolinya para petinggi partainya.
Catatan pribadi saya, yang barangkali perlu kita renungkan bersama adalah benar belaka jika para kader PKS amat meyakini bahwa amat besar pahalanya jika salah seorang kader PKS ikhlas dan rela berkorban jiwa raga harta dalam memberikan kontribusi sesuai dengan nilai-nilai Islam dalam berdakwah bersama PKS.
Namun, perlulah direnungkan juga oleh kader PKS bahwa tentu menjadi amat besar pula dosanya jika salah seorang kader PKS ikhlas dan rela berkorban jiwa raga harta dalam memberikan kontribusi kepada PKS jika yang diperjuangkan oleh PKS itu bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
Mohon maaf bukan bermaksud menggurui namun ada satu catatan yang barangkali perlu untuk direnungkan oleh kader PKS, bahwa janganlah pernah dilupakan didalam rukun bai’at itu ada soal faham. Tapi bagaimana mau faham jika kita harus dipaksa qona’ah fikriyah, dan dipaksa harus selalu husnuzh-zhan terhadap apapun keputusan pimpinan, serta menentang pimpinan itu dianggap melanggar asas ta’at yg dicap negatif terhadap keislaman kita ?.
Mohon maaf juga (dengan mencoba merendah bagai bumi, saya mencoba tahu diri dan menyadari bahwa mungkin kadar keislaman saya ini sungguh tiada artinya dihadapan keislamannya para kader PKS yang sungguh teramat paling suci, dan saya sadari bahasa inggris saya terbatas hingga tak fasih lafalkan ‘ I Love United States with All its Faults and I consider it My Second Country ‘) bagi saya pribadi sudah teramat cukup bukti telanjang yang kasat mata serta telah terhidang didepan mata bahwa hari ini politik ala ‘Muawiyah’ telah nyata-nyata menjadi panglima dalam politik dakwahnya PKS.
(Untuk melatih lafal yang fasih ‘ I Love United States with All its Faults and I consider it My Second Country ‘ boleh dilihat di : http://public.kompasiana.com/2009/06/16/i-love-united-states-with-all-its-faults\-i-consider-it-my-second-country/ atau http://public.kompasiana.com/2009/06/16/mencari-tanah-air-berkaca-dari-bung-hatta-dan-sby/ )
Sekali lagi mohon maaf, itu mungkin karena saya yang kurang open mind dan jumudul ain wa quswatul qalbi saja, sehingga saya menjadi keras hati dan kepala batu seperti ini.
Akhirulkalam, teriring shalawat terunjuk kepada junjungan kita, manusia paling mulia, dimana Dia tak pernah sebelum dan sesudahnya menciptakan manusia semulia beliau yang maksum, Baginda Nabi SAW, Kanjeng Nabi SAW, Sayyidina Muhammad Rasulullah SAW, semoga doa saya diijabah oleh-Nya, sehingga para kader PKS dapat segera mewujudkan Kesejahteraan juga selanjutnya Keadilan bagi keseluruhan rakyat Indonesia dan wabil khusus kepentingan dakwah Islam di Indonesia.
Semoga tulisan ini bermanfaat, dan tulisan ini saya tutup dengan ucapan Salam Sejahtera Keadilan bagi seluruh pembaca Kompasiana.
Wallahualambishshawab.
Bulan Februari adalah bulan cinta dan kasih sayang. Begitu kurang lebih yang dirayakan banyak orang,
