Back to Kompasiana
Artikel

Umum

Faisal Basri

Mengajar, menulis, dan sesekali meneliti.

Seandainya Indonesia …

OPINI | 17 June 2009 | 18:01 Dibaca: 1160   Komentar: 18   0

Sebagaimana perkembangan setiap makhluk hidup dan segala sesuatu yang menggunakan mesin penggerak pada umumnya, proses pembangunan berlangsung dengan pola menyerupai kurva S (huruf besar) rebah-kanan. Pada tahap awal perkembangan cenderung lambat, kemudian berangsur semakin cepat hingga mencapai kecepatan tertinggi seperti pesawat yang sedang tinggal landas. Setelah mencapai kecepatan puncak, perkembangan akan mencapai tahap stabil, dan akhirnya lambat laun melemah kembali. Demikianlah kira-kira pola perkembangan dari suatu proses pembangunan yang berlangsung “normal”.

Perbedaan di antara negara-negara yang mengalami pola perkembangan “normal” terletak pada kurva S yang kemiringannya berbeda-beda. Negara-negara yang berkembang lebih lambat ditandai oleh kurva S yang kemiringannya lebih landai, sedangkan yang perkembangannya cepat ditunjukkan oleh kurva S yang kemiringannya lebih curam.

Suatu transformasi yang berlangsung dengan kecepatan tinggi masih tergolong sebagai pola normal, hanya saja kurva S bergeser secara penuh ke kanan-atas.

Perkembangan yang tidak mengikuti pola normal bisa berbentuk seperti “anak tangga” atau kurva s (huruf kecil) yang terpatah-patah atau discontinuum. Pola anak tangga terjadi pada perkembangan yang dipaksakan ataupun meloncat (leap frogging), yakni tidak mengikuti setiap tahapan sebagaimana yang terjadi pada pola kurva S. Pola seperti ini berlangsung di China pada era Mao yang memicu Revolusi Kebudayaan dan di Iran pada era Shah Reza Pahlefi yang melahirkan Revolusi yang dipimpin oleh Ayatollah Khomeini. Sementara itu pola s terpatah-patah terjadi pada negara-negara yang perkembangannya tidak mulus karena kerap mengalami goncangan atau kekacauan seperti dialami sejumlah negara di Afrika dan Asia Selatan.

Indonesia pascakemerdekaan ternyata mengalami perkembangan yang discontinuum mengikuti pola s. Paling tidak Indonesia mengalami dua kali goncangan besar. Pertama adalah prahara politik yang terjadi pada tahun 1965-66 yang diikuti oleh pergantian rezim secara totalitas. Goncangan kedua adalah krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1997-98 yang juga diikuti oleh prahara politik yang membuat tumbangnya Presiden Soeharto. Krisis yang juga melanda beberapa negara di kawasan Asia Timur ini menghempaskan perekonomian Indonesia sangat dalam sehingga menimbulkan permanent output loss yang cukup besar. Negara-negara lain yang terkena krisis serupa (Korea, Thailand, dan Malaysia) tidak mengalami krisis separah Indonesia dan lebih cepat pulih sehingga hanya mengalami temporary output loss atau maksimal hanya mengalami permanent output loss yang relatif kecil.

Jarak antara kurva merah dan kurva hijau mencerminkan defisit institusi atau lack of institutions, sedangkan jarak antara kurva hijau dengan kurva terutus-putus berwarna biru mencerminkan kemerosotan akibat goncangan (shock), baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri.

Jika institusi kita kuat, maka goncangan hanya akan membuat kita mundur sedikit, tidak sampai terhempas seperti terjadi pada tahun 1965-66 dan 1998.

Seandainya institusi kita kuat, maka kita akan menapaki perjalanan pembangunan sesuai dengan kurva merah (peraga bawah) atau kurva hijau (peraga atas). Tingkat kesejahteraan rata-rata penduduk kita kira-kira akan setara dengan yang telah dicapai Korea Selatan, atau, paling tidak, Malaysia.

Insya Allah para petinggi negeri mendatang bisa membawa kita ke jalur yang “benar.”

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Real Madrid 1 – 0 Bayern Muenchen …

Arnold Adoe | | 24 April 2014 | 04:37

Pojok Ngoprek : Tablet Sebagai Pengganti …

Casmogo | | 24 April 2014 | 04:31

Rp 8,6 Milyar Menuju Senayan. Untuk Menjadi …

Pecel Tempe | | 24 April 2014 | 03:28

Sebenarnya, Berapa Sih Jumlah Caleg Gagal di …

Politik 14 | | 23 April 2014 | 14:46

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Prabowo Beberkan Peristiwa 1998 …

Alex Palit | 6 jam lalu

Capres Demokrat Tak Sehebat Jokowi, Itu …

Dini Ambarsari | 9 jam lalu

Salah Kasih Uang, Teller Bank Menangis di …

Jonatan Sara | 9 jam lalu

Salah Transfer di Internet Banking …

Ifani | 12 jam lalu

Hotman Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 21 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: