Kejujuran itu penting di mata Allah SWT. Berawal dari satu kalimat ini saya akan coba awali sebuah postingan perihal kejujuran ini, mumpung ini hari Jumat. Mengapa tentang kejujuran ?, karena postingan pada Jumat minggu lalu yang saya postingkan di post tagged ‘Obrolan ringan di hari Jumat’ dengan “judul Selingkuh itu Indah” dipostingkan disini, itu juga erat hubungannya dengan kejujuran.
Selain itu, berita-berita di surat kabar hari ini juga di postingan-postingan blog Kompasiana saat ini juga berhubungan dengan soal kejujuran. Apa iya ?
Pertama kita lihat dulu dari berita di surat kabar. Diberitakan telah diketemukan sedikitnya 2.160.031 pemilih ganda di DPT Pilpres (Daftar Pemilih Tetap yang terdaftar untuk hajatan Pilpres) untuk Propinsi Jawa Timur.
Waduh, banyak sekali, jumlah pemilih ganda ini sudah hampir separonya jumlah pemilih Jawa Timur. Dengan jumlah sebanyak ini, tanpa kampanye pun kandidat yang mengeset ini sudah pasti mengantungi 50% perolehan suara. Jika perolehan suara yang sudah dikantunginya itu cukup ditambahi dengan 1 suara saja (cukup tambah pemilih 1 orang saja) maka sudah pasti menang mutlak hanya dalam 1 putaran saja.
Walah…walah…walah…apa ini yang dimaksudkan postingan yang berjudul “Gosip Satu Putaran Ala Denny” yang dipostingkan oleh Rusdi Mathari disini .
Fakta data temuan ini seolah menjadi berkaitan erat dengan kekhawatiran yang dituliskan dengan judul “Operasi Inteligen Memenangkan SBY di Pilpres Putaran Pertama” yang dipostingkan disini . Peringatan Megawati soal Selingkuh di Pemilu pun bisa jadi akan menjadi semakin hari semakin menemukan justifikasinya.
Sebenarnya hal-hal yang misterius soal DPT ini nggak mengagetkan jika kita pernah membaca kasus serupa tapi tak sama untuk Propinsi Papua, yang pernah di postingkan di Kompasiana dengan judul “Di Balik Hasil Pemilu DPR 2009″ yang dipostingkan disini . Sungguh memprihatinkan, jika kejujuran soal DPT Pipres ini tidak dituntaskan maka justifikasi yang memperkuat prasangka Hasil Pilpres akan direkayasa akan semakin kuat bukti nyatanya.
Ya, kejujuran itu memang sangat penting dimana aspek esensial dan kevitalannya melebihi janji maupun visi misi program kerja. Semua menjadi tak ada artinya jika dimuali dengan sebuah ketidak jujuran. Memang aspek kejujuran adalah sebuah aspek yang seharusnya menjadi perhatian dari seluruh bangsa.
Ketidakjujuran akan mengundang murka-Nya dan azab-Nya, dimana di masa depan bukan tak mungkin berbagai macam bala bencana dan musibah serta cerita duka lara akan bisa menjadi beruntun dan bertubi-tubi menimpa tanah negeri tercinta ini. Kalau sudah begitu maka yang akan dirugikan adalah rakyatnya, harta benda dan raga bahkan nyawa rakyat bisa menjadi tumbalnya. Nilai kerugiannya, jika bisa dihitung rupiahnya, malahan bisa jadi akan jauh melebihi nilai penghematan yang katanya bisa diirit jika Pilpres berlangsung dalam satu putaran saja.
Soal kejujuran, jujur saja kita harus banyak belajar kepada presiden kita, waktu beliau dengan jujur mengucapkan “I Love United States with All its Faults. I consider it My Second Country” yang dipostingkan disini . Kita harus sepadan dalam memberikan apresiasi soal hal itu. Terlepas dari soal kita suka atau tidak suka, mendukung atau tidak mendukun, namun jangan kita tidak adil dalam memberikan apresiasi, karena subyektifitas akan membiaskan penilaian, kita harus jujur dan obyektif.
Selanjutnya coba kita kembali melihat apa yang ada di postingan Kompasiana, kemarin ada soal “SBY..Tidak Ada di TIME 100″ yang dipostingkan disini, yang menyangsikan kebenaran adanya nama presiden kita ada di daftar 100 orang paling berpengaruh di dunia menurut versi majalah Time. Wah, mudah-mudahan tulisan praduga ini tidak benar, walaupun ngaku penulis postingannya sudah lebih dulu ngecek dengan surfing di pagenya ‘The 2009 TIME 100 Finalists’ kata penulisnya memang tidak ada.
Kasihan presiden kita (andai yang disangka penulis artikel itu benar) karena ini bisa menjadi cerita berulang dimana presiden dikibuli bawahannya, seperti pada kasus bibit padi merk Super Toy yang ternyata super letoy itu. Memang para pendukung maupun stafnya sebaiknya harus jujur apa adanya, yang baik katakana baik dan yang buruk katakana buruk, jangan asal laporan yang bikin senang saja. Itu namanya para bawahannya rame-rame njlongkrongke Presiden, ini lebih jahat kadarnya dibandingkan mereka yang membelot secara terang-terangan.
Soal membelot, mungkin bisa meniru KH Abdul Wahid yang aktifis Majelis Dzikir Nurussalam SBY yang dipostingkan disini . Ketika hati sudah condong, tidak lagi main selingkuh-selingkuhan, terang-terangan menyatakan mengalihkan dukungannya ke rivalnya. Tidak mengenakkan memang bagi yang dibeloti, namun ini mungkin masih jauh lebih baik daripada membohongi presiden dengan berlagak bermuka dua.
Kejujuran, ya kembali lagi kejujuran, mungkin ini juga ada hubungannya dengan penilaian soal penampilan kandidat di Debat Capres yang kemarin malam ditayangkan. Ada surat kabar bertiras nasional yang memberikan penilaian Mega 61/2, SBY 7, JK 7. Tapi ada juga postingan di Kompasiana yang menilai Mega 5, SBY 51/2, JK 5. Namun ada juga situs warta online yang memberitakan kalau SBY yang paling banyak melihat kertas contekannya.
Penilaian memang subyektif masing-masing orang berbeda, karena bisa jadi dipengaruhi oleh bias kecondongan hati juga soal motivasi ingin mempengaruhi. Itu sah-sah saja, namanya juga usaha, berupaya dan ikhtiar adalah haknya manusia, sebatas tidak menghalalkan segala macam cara. Sejatinya, yang patut dikasihani itu justru para capresnya kalau timsesnya tidak mengatakan yang hal sebenarnya secara sejujurnya.
Boediono dibujuk Umroh oleh Tifatul Sembiring, presidennya PKS, yang oleh mas Nurul, salah seorang blogger handal Kompasiana, dipostingkan disini dan disini juga ada yang menarik untuk dibaca. Mengapa ?. ini masih ada hubungannya dengan kejujuran, yang tak hanya penting dalam relasi antar manusia, tapi juga soal kejujuran dalam relasi antara manusia dengan Pencintanya.
Niat itu tak bisa dipaksa-paksakan, ia tumbuh dari dalam kesadaran diri, ia akan tumbuh seiring dengan tingkat spiritualnya. Niat yang tidak tulus, dalam soal ibadah, akan menihilkan upaya meraih pahala dari-Nya. Amal itu ditentukan oleh niatnya, begitu kata ajaran agama. Manusia bisa dikelabui namun Gusti Allah tak akan pernah bisa dikelabui karena Dia langsung menilik ke dalam hati sanubari hamba ciptaan-Nya.
Ada suatu cerita, bahwa niat berbuat baik walau belum dikerjakan itu sudah mendapatkan pahala. Namun jika niat berbuat jahat jika diurungkan untuk dilanjutkan ke dalam tindak perbuatan maka itu belum dihitung sebagai sebuah dosa. Nah, siapapun yang punya niat berbuat jahat sebaiknya diurungkan pelaksanaannya agar tinta pena yang akan menuliskannya di buku amalan dosa belum terlanjur ditorehkan-Nya. …Innamal amalu bin niyyati wa innama likullimri’im ma nawa…
Ah, tak terasa waktu terus berjalan, mendekati waktu untuk sholat Jumat berjamaah yang merupakan kewajiban bagi laki-laki Muslim berusia akil baligh.
Ya Allah, luruskan niatku, luruskan tujuanku menuju rumah-Mu karena untukmu semata, agar langkahku dan tetesan keringatku itu menjadi bernilai ibadah yang semata niatku karena-Mu dan untuk-Mu semata. Amien.
Ayo buruan siap-siap, agar kita sudah bersimpuh didalam rumah-Nya saat azan dikumandangkan. Jangan perdulikan wartawan, entah itu wartawan media cetak, entah itu wartawan media televise, sebodo amat, nggak ada mereka pun kita juga tetap wajib sholat Jumat. Juga jangan perdulikan ada teman kantor kita yang melihat atau tidak perihal kesolehan kita dalam menjalankan ibadah sholat Jumat. Agar riya itu tak mengotori kebersihan dan kelurusan niat ibadah kita.
Jangan lupa untuk ucapkan dalam hati niat …usholli fardhal jum’ati.. yang kita lantunkan saat menjelang tangan kita terangkat sambil mengucap takbir, Allahuakbar. Resapi juga hakikat doa iftitah di awal rakaat pertama, sholatku ibadahku hidupku matiku… Lillahirobbilalamin.
Semoga Allah SWT menerima ibadah sholat Jumat berjamaah kita. Amien…Amien…Amien…Ya Robbalalamin 3x.
Selamat menunaikan ibadah sholat Jumat berjamaah.
Bulan Februari adalah bulan cinta dan kasih sayang. Begitu kurang lebih yang dirayakan banyak orang,
