Kompasiana
Jumat, 10 Pebruari 2012

Umum

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Taufik H. Mihardja

Dulu wartawan peliput politik nasional dan internasional. Sekarang sehari-hari ikut 'ngurusin' harian Kompas, Kompas.com, dan Kompas TV.

Ada Lho, “Tim Sukses” Ujian Nasional

OPINI | 22 June 2009 | 13:53 1289 9 Nihil

Akhir pekan kemarin saya bertemu saudara-saudara dan teman-teman. Sudah lama nggak ngumpul-ngumpul dan ngobrol kesana-kemari dengan mereka. Pembicaraan pun lalu sampai ke topik ujian nasional. Biasa, kita tanya anakmu sudah lulus atau belum, anakmu meneruskan kuliah di mana, dan sebagainya.

Ada satu hal yang membuat saya agak kaget selama ngobrol itu, yakni pengungkapan tentang rahasia mengapa kelulusan ujian nasional itu bisa 100 persen di satu sekolah tertentu. Padahal sekolahnya biasa-biasa saja, bukan unggulan, sehingga menurut logika paling tidak ada satu-dua orang yang tidak lulus UN.

Di Jakarta saja, ada SMA yang siswanya tidak 100 persen lulus, padahal begitu banyak tempat les tambahan belajar.  Ini sekolah di kampung, yang tidak ada tempat lesnya, kok anak-anaknya bisa lulus 100 persen. Bukan saya hendak merendahkan mutu sekolah di kampung.

Setelah saya selidiki, melalui tanya jawab tersamar, ternyata menurut seorang kawan yang berprofesi sebagai guru SMA, kesuksesan itu berkat intervensi TIM SUKSES. Ia sendiri adalah salah satu anggota TIM SUKSES itu. Tugas Tim Sukses adalah bagaimana caranya agar anak didik di sekolah mereka “lulus” UN. Kebetulan yang kita omongkan SMA, bukan SMP.

Caranya, “Ya kita isiin. Gampang kok!” Begitulah komentar bu guru SMA itu. Kalau tidak ada tim ini, katanya, berapa puluh anak yang akan tidak lulus. Bahkan menurut dia, sekolah-sekolah yang anak didiknya banyak yang nggak lulus itu, itu berarti telah menerapkan UN secara murni, tanpa TIM SUKSES.

Saya jadi bertanya-tanya, berapa banyak SMA yang menerapkan TIM SUKSES ini? Belum lagi berapa banyak SMP, yang mungkin menerapkan “sistem” serupa?

Saya lalu membayangkan, anak-anak itu belajar selama tiga tahun di SMA untuk pada akhirnya mendapatkan secarik kertas tanda “kelulusan penuh kepalsuan”. Di satu sisi, ini berarti suatu bentuk ketidakadilan dilihat dari sisi siswa yang selama ini benar-benar giat belajar untuk mencapai kelulusan murni. Sebab, ada kawannya yang tidak perlu belajar keras, tidak lulus, ternyata lulus juga.

Menurut teman saya itu, kalau anak didiknya tidak lulus, itu tidak hanya akan berakibat buruk bagi siswa, tetapi juga bagi citra sekolahnya. Ya ampyun! Lalu untuk apa UN itu? Saya juga jadi tidak bisa membayangkan berapa ratus ribu anak-anak akan tinggal kembali di kelas III di seluruh Indonesia kalau kita menerapkan UN itu secara murni, tanpa tim sukses itu? Pusing!

Karena pusing itu, saya tidak mau panjang lebar lagi, sebab saya sendiri sedikit pro, tetapi banyakan kontra terhadap penerapan UN ini. Pro, karena itu memang bisa mengukur prestasi anak-anak secara umumnya (paling tidak anak saya sendiri). Kontra, karena kenyataannya tidak semua SMA memiliki standar pengajaran sama, sehingga pemaksaan UN hanya akan mendorong tindakan  koruptif seperti di atas.

Saya memang khawatir lama-kelamaan UN itu tidak berwibawa bukan karena mutunya menjadi lebih rendah, tetapi karena dia tidak akan berhasil mengukur apa-apa, kecuali membuka ruang seluas-luasnya bagi pencapaian prestasi (angka-angka) “dengan menghalalkan segala cara” itu tadi.


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User



SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012