Kompasiana
Jumat, 10 Pebruari 2012

Umum

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Jusuf Kalla

Nama :Drs H Muhammad Jusuf Kalla Lahir :Watampone, 15 Mei 1942 Agama :Islam Jabatan Kenegaraan: Wakil Presiden RI (2004-2009) Menko KESRA Kabinet Gotong Royong (2001-2004) MENPERINDAG Kabinet Persatuan Nasional (1999-2000) Pendidikan : Fakultas Ekonomi, Universitas Hasanudin Makasar, 1967 The European Institute of Business Administration Fountainebleu, Prancis (1977) Organisasi 2010 - Sekarang : Chairman Centrist Asia Pacific Democrats International (CAPDI) 2009 - Sekarang : Ketua Umum PMI 2000 - sekarang : Anggota Dewan Penasehat ISEI Pusat 1985 - 1998 : Ketua Umum...

Saya Ingin Debat Bukan Kelompencapir…

OPINI | 25 June 2009 | 11:11 8165 135 Nihil

Debat politik adalah jawaban dari kekurangan Iklan politik dalam menciptakan masyarkat yang well informed dan well educated secara politik. Mengingat Iklan Politik cenderung terlalu menyederhanakan isu politik, merendahkan dan meremehkan proses demokrasi, seharusnya argumen politik terdiri dari ”pernyataan dan pembuktian”, sementara iklan politik hanya merupakan pernyataan saja. Maka di sinilah dibutuhkan debat, agar masyarakat bisa menilai mana kandidat yang berpengalaman dan benar-benar mengetahui persoalan bangsa ini, atau mana kandidat yang “Instant”.

Selain itu debat debat rakyat bisa mengetahui visi dan misi kandidat baik berupa konsep maupun program kandidat dalam waktu singkat. Debat akan menggiring kita untuk mampu memaparkan program realistis menyangkut isu-isu publik sesuai dengan nilai politik yang diusungseperti pemberantasan korupsi, perbaikan ekonomi, kemandirian bangsa, penegakan hukum dan masalah pertanian yang tidak hanya normatif namun lebih realistis.

Debat juga tidak sekadar pentas untuk mengadu kemampuan dalam beretorika, tetapi juga mengukur kemampuan kandidat tentang apa saja yang akan dilakukan bila mereka nantinya terpilih menjadi presiden. Selain itu kandidat juga dituntut mampu memberikan gambaran sejauh mana program-program yang diperdebatkan bisa diaplikasikan dalam masyarakat.

Namun demikian jika melihat format debat di Trans TV yang lalu saya menganggapnya kurang mampu memberi ruang. Masing-masing kita tidak boleh berbicara kalau tidak dipersilahkan, ataupun bertanya kepada kandidat lain dalam bentuk adu argumen dan sebagainya sehingga debat yang diharapkan bisa menjadi pendidikan politik bagi masyarakat kelihatannya lebih mirip kelompencapir.

Terus terang saya sangat terbebani dengan format debat seperti itu. Saya tidak bisa melakukan imrovisasi dan tidak bisa langsung menyanggah. Selain itu tema yang diangkat terlalu mikro, terlalu detail sehingga terkadang saya tidak enak untuk menyaggah pak SBY karena kita sama-sama bertanggung jawab karena sama sama masih memerintah.

Maka untuk itu, debat capres malam nanti saya lebih menginginkan format debat yang lebih keras, di mana kita adu gagasan. Adu konsep, bukan lagi ditanya persoalan-persoalan yang sebenarnya itu urusan Dirjen dan Menteri. Maka dari itu saya minta maaf kalau debat capres kemarin sangat monoton, jangankan anda, saya juga bosan dibuatnya. Sedikit sedikit, iklan inilah yang terlalu, sebuah media pendidikan politik bagi masyarakat dikomersialisasikan, padahal sebenarnya sudah ada anggaranya.


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User



SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012