Back to Kompasiana
Artikel

Umum

Komentar SARA Andi Alfian Mallarangeng 2

OPINI | 05 July 2009 | 01:15 Dibaca: 475   Komentar: 9   0

Assalamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Berikut merupakan komentar-komentar dari saudara-saudaraku sebangsa dan se-tanah air mengenai tulisan saya tentang “KOMENTAR SARA ANDI ALIFIAN MALLARANGENG”.

Syamsuddin b usup:

Bung Bima, salam. Sependapat dengan anda agar beliau diminta mencabut pernyataanya dan minta maaf kepada masyarakat bangsa Indonesia khususnya masyarakat Sulawesi Selatan. Menurut hemat saya, pernyataan beliau ambigu dan kontradiktif, yaitu pernyataan antara capres/cawapres terbaik untuk dipilih adalah SBY-Budiono pada satu sisi, versus pernyataan beliau bahwa untuk orang Sulsel ada saatnya masing masing pada sisi lain.
Dalam konteks kehidupan demokrasi dengan sistem pemilihan umum sebagaimana diatur UUD 1945, maka logika “pilih yang terbaik” dari pernyataan beliau itu bertentangan dengan logika penyataan “ada saatnya masing masing”.
Logika pernyataan seperti ini, bahwa untuk menentukan siapa yang akan jadi Presiden republik ini diatur bergiliran. Jadi dengan logika beliau seperti itu maka berarti pada 2009 orang Jawa, 2014 orang Bugis, 2019 Dayak, 2024 Asmat, 2029 Aceh, 2034 Minang, 2039 Batak…dan seterusnya.

Timur :

coba sedikit tenang, inilah keragaman berdemokrasi…………..
buka mata
buka hati
buka pikiran

tidak memilih berdasarkan suku
tidak memilih berdasarkan ras
tidak memilih berdasarkan golongan

maaf pilihan kami SBY-BUDIONO
maaf pilihan kami no 2

lanjutkan……!

Antonius :

Pernyataan AM tsb disampaikan dalam masa kampanye “sekarang”, yang kandidat capresnya juga sudah ada, tentu yang mendengar juga paham dan jelas maksud dan sasarannya (paling baik, bukan berarti yang lain jelek). Tapi kalo yang mendengarnya adalah orang2 yang sudah mempunyai “pilihan hati”…, tentu akan menjadi lain!
AM mengeluarkan pernyataan itu didepan pendukungnya…., apakah pendukungnya yang di sana dan berasal dari sana tersinggung????? Sepertinya mereka menerima dan tertawa, bahkan bertepuk tangan (liat di TV).
Fakta: Sekarang kandidat dari bugis ya JK, tidak ada yang lain.
Kalo pernyataan itu diberikan sebelum ada kandidat dari bugis…., sah2 aja tersinggung.
Statemen2 saat kampanye:
Prabowo mengatakan pemimpin sekarang maling semua…., adakah yang marah????
JK mengatakan saya selama ini yang paling berperan, semua tidak ada yg berani dan bisa memecahkan masalah bangsa, hanya saya, yang lain tidak berani….., adakah yang marah???
Marilah senua suku bangsa yang ada di RI ini untuk bijak…., jangan larut emosi dalam suasana kampanye ini, tetap berpikir jernih dan sehat.
Janganlah “karakter seseorang” menggiring kita berpikir dan bersikap seperti yang dikehendaki”nya”.
Janganlah kita mau digiring mengikuti cara berpikir”nya”.
Gunakan hati, pikiran dan akal yang sehat.
DAMAI ITU INDAH.

Satrio piningit :

Coba kita baca lagi pernyataan AM…nah kalu saja capres sekarang tidak ada orang Bugis maka pernyataan itu menjadi penyemangat mungkin 2014 dari bugis…Tapi karena sekarang ini ada capres ada dari Suku Bugis yaitu JK maka tentulah penrnyataan AM itu menyinggung Orang Bugis secara keseluruhan…saya saja bukan org bugis merasakan Pernyataan itu KASAR sekali dan sangat tidak pintar dilontarkan…So saya tidak milih SBY muaaakkk

Eddo :

Indonesia memilih

SBY-Boediono = 64%
Mega-Prabowo = 22%
JK-Wiranto = 14%

Kupukuwat :

@Syarifudin

mungkin kurang tepat kalo AA dianggap kutu loncat.. karena yg membawa dia ke lingkaran SBY, justru pak JK sendiri. bahwa hari ini dia berseberangan dengan pak JK, itulah jalan politik yg dia ambil…

sebagai anak bangsa, saya hanya bisa berharap untuk keluarga Malarangeng, untuk tidak selalu mengeluarkan pernyataan2 yg cenderung menimbulkan pertentangan di kalangan anak bangsa ini.. terlalu sayang jika energi kita habis untuk mendebatkan kalimat2 seperti ini…

ayo bangkit wahai seluruh anak negeri untuk indonesia yg sejahtera..

salam damai indonesia-ku

SBY Presidenku :

Apapun komentar anda semua di dalam hati sebagian besar orang Bugis Makassar telah tertanam begitu mendalam bahwa AAM telah Mappakasiri’ orang Sulawesi Selatan, khususnya suku Bugis dan Makassar … bagi penulis dan pembaca Kompasiana silahkan berdebat secara politis namun kami juga memiliki penilaian lain karena hal ini sudah berada dalam dunia yang lain … ini mappakasiri’ bung dan hanya mappakasiri’ pula yang akan mencairkannya …

Ariel BTP :

Pernyataan Alifian Mallarangeng yg rasialis, diskriminatif, terhadap suku bangsa di Sulawesi (hakekatnya Sulawesi hanya representasi )
Harapan saya Sebagai anak bangsa yg tentu mencintai NKRI, agar pernyataan Alifian Mallarangeng adalah yang pertama dan yang terakhir. Semoga tidak ada lagi Mallarangeng lain yang berfikir picik, sempit dan rasialis.
Kami Tidak Rela Indonesia Tercabik-cabik oleh orang-orang yang tdk bertanggungjawab. Semoga NKRI tatap jaya.
Presiden dan Wakil Presiden boleh berganti datang dan pergi seiring bergulirnya waktu, tetapi GARUDA PANCASILA, sebagai simbol PEMERSATU dari kebinekaan suku bangsa INDONESIA harus abadi sampai akhir zaman, spirit ungkapan JK pada Debat Capres terakhir, harus menjadi renungan kita semua.

Saya setuju dengan pendapat saudara SYAMSUDDIN B USUP, karena dalam demokrasi, setiap orang mempunyai hak dan kewajiban. Setiap CAPRES dari tiap golongan mempunyai hak yang sama untuk dipilih, mempunyai kewajiban mematuhi setiap aturan yang ada dalam “laga” Pilpres. Jadi pernyataan seperti “belum waktunya” bisa dimaknai bahwa untuk jadi presiden harus tunggu jatah dulu.

Tapi disini saya lebih menitikberatkan pada sudut pandang bahwa kanda AAM (maaf jika memakai inisial, karena namanya panjang..hehehe) meragukan bahwa etnis sulsel belum pantas menjadi pemimpin. Ini bisa berarti juga etnis sulsel itu kemampuannya masih dipandang sebelah mata, masih kurang, atau malah sangat kurang, meskipun bisa juga sangat baik tapi bukan yang terbaik (seperti yang disebut dalam komentar saudara ANTONIUS, bukan berarti yang lain jelek). Yang menjadi bahan pertanyaan, tolok ukurnya darimana…?? Apakah karena kanda AAM menilai diri sendiri (sebagai bagian dari etnis sulsel) belum capable sehingga berpendapat bahwa seluruh etnis sulsel belum saatnya untuk memimpin…?? Kalau begitu sama seperti survey dong, ambil sample lalu mengklaim bahwa “Indonesia memilih” seperti yang ditulis saudara EDDO, padahal politik itu tidak bisa dihitung melalui rumus….politik itu sekarang A, besok bisa B kan…belum pemilihan koq sudah berani bilang Indonesia memilih (hati-hati….kalo ramalannya salah nggak bisa jadi peramal lagi lho…hehehe).

FAKTA : kita sedang membicarakan pernyataan tentang isu SARA bukan tentang JK, saya mengambil contoh JK sebagai putra terbaik sulsel, soalnya kalo saya ambil contoh Datuk Seri Najib Tun Razak, mungkin masih sedikit yang tahu kalau tetangga sebelah itu PM nya orang berdarah makassar, yang notabene etnis sulsel. Logika saja, masa diantara etnis sulsel yang tersebar di penjuru dunia ini 1 orang pun nggak ada yang lebih baik dari 3 CAPRES 2009…?? Jadi penekanan saya disini bukan karena JK, tapi karena yang didiskreditkan itu sukunya JK. Lha wong judulnya aja “Komentar SARA Andi Alifian Mallarangeng”, bukan “pendiskreditan nama JK di orasi Andi Alifian Mallarangeng karena suku bugis”.

Saudara ku ANTONIUS, disini saya mencoba untuk menggali lebih dalam, apakah pernyataan kanda AAM adalah termasuk SARA….?? Saudara ANTONIUS lebih lanjut menyebutkan Pernyataan kanda AAM tsb disampaikan dalam masa kampanye “sekarang”, yang kandidat capresnya juga sudah ada, tentu yang mendengar juga paham dan jelas maksud dan sasarannya (paling baik, bukan berarti yang lain jelek). Tapi kalo yang mendengarnya adalah orang2 yang sudah mempunyai “pilihan hati”…, tentu akan menjadi lain!AM mengeluarkan pernyataan itu didepan pendukungnya…., apakah pendukungnya yang di sana dan berasal dari sana tersinggung????? Sepertinya mereka menerima dan tertawa, bahkan bertepuk tangan (liat di TV).

Fakta: Sekarang kandidat dari bugis ya JK, tidak ada yang lain.

Kalo pernyataan itu diberikan sebelum ada kandidat dari bugis…., sah2 aja tersinggung.

FAKTA : jika anda bisa melihat tayangan ulangnya, apakah anda bisa mendengar dengan jelas, karena suasana di GOR Mattoanging akustiknya jelek lho. Mereka juga barangkali tertawa karena belum memahami esensi dari pernyataan tersebut, apalagi kalau kita cermati, kanda AAM mengangkat dan memuji dulu, baru menjatuhkan setelah diangkat (orang bugis merdeka. Hanya adat yang dipertuan, hanya hukum yang dipertuan, hanya prinsip dan nilai objektivitas yang dipertuan, bukan kekuasaan, bukan perorangan. Apakah orang Bugis bisa menjadi presiden RI? Bisa, dan banyak orang Bugis yang bisa menjadi pemimpin bangsa. Ada banyak anak muda Sulsel yang punya potensi dan bisa menjadi pemimpin bangsa ini.). lalu baru keluar pernyataan tunggu dulu, belum saatnya…

Barangkali ada juga yang berasumsi dari pernyataan tersebut bahwa “Ada banyak anak muda Sulsel yang punya potensi dan bisa menjadi pemimpin bangsa ini (seperti saya, AAM). Tapi semua itu ada waktunya (karena saya menggalang massa dulu dan saya masih dibilang hijau)” (maaf kanda ini hanya asumsi lho, salah satu sudut pandang), makanya mereka tertawa (kepala orang siapa yang tahu…???hehehe)

Dan jikalau saudara ANTONIUS berkata : Fakta: Sekarang kandidat dari bugis ya JK, tidak ada yang lain. Kalo pernyataan itu diberikan sebelum ada kandidat dari bugis…., sah2 aja tersinggung. Itu berarti anda menganggap bahwa etnis sulsel bukan bagian dari kebangsaan saudara. Anda merasa bahwa hal tersebut bukan merupakan masalah anda seperti saya yang merasa bahwa hal tersebut merupakan masalah saya meskipun berbeda suku. Sekarang kita balik, jika saudara ANTONIUS adalah etnis jawa, dan JK mengeluarkan pernyataan “sekarang saatnya orang bugis jadi presiden, karena sudah lewat masa nya etnis jawa” apa tanggapan saudara….?? Kalau saya, sudah pasti saya tersinggung, meskipun saya tinggal disini, saya akan menulis hal yang sama.

Jika berbicara tentang keragaman demokrasi seperti yang diungkapkan saudara TIMUR, ini menurut saya bukan keragaman demokrasi, pernyataan seperti ini merupakan kebablasan demokrasi, karena hak untuk berbicara dipakai untuk bicara sebebas-bebasnya tanpa memikirkan apakah pernyataan tersebut mendiskreditkan salah satu suku, agama dan ras.

Lalu tentang statemen2 dalam kampanye, yang diungkapkan saudara ANTONIUS, barangkali anda lebih tahu daripada saya, apakah statemen2 tersebut termasuk dalam SARA…..?? apakah menyangkut tentang suku, agama dan ras….??

Saya juga sangat setuju dengan komentar KUPUKUWAT dan ARIEL BTP, semoga hal ini tidak terjadi lagi, ini merupakan yang terakhir (karena saya tidak tahu yang pertama, apakah sebelum kanda AAM sudah ada yang ngomong seperti itu…hehehe). Meskipun saya mengerti bahwa etnis sulsel memegang teguh prinsip sirri’na pacce. Seperti yang ditulis saudara SBY Presidenku, jadi pemecahannya harus dengan besar hati mengakui kesalahan untuk mendapat kehormatan lagi. Untuk komentar lainnya saya tidak komentari karena di luar konteks….masih ada tulisan lain kalau mau memilih salah satu calon, tapi seperti yang sudah saya kemukakan, disini saya hanya membahas tentang pernyataan yang dinilai SARA. Mohon maaf kalau ada kesalahan saudaraku, kita cuma sharing disini.

Wallahu ‘Alam Bishawab

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jejak Indonesia di Israel …

Andre Jayaprana | | 03 September 2014 | 00:57

Ironi Hukuman Ratu Atut dan Hukuman Mati …

Muhammad | | 03 September 2014 | 05:28

Persiapan Menuju Wukuf Arafah …

Dr.ari F Syam | | 03 September 2014 | 06:31

Si Biru Sayang, Si Biru yang Malang …

Ikrom Zain | | 02 September 2014 | 21:31

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Awasi Jokowi, Kita Bukan Kerbau Dungu …

Mas Wahyu | 3 jam lalu

Kekuatan Jokowi di Balik Manuver SBY di …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Subsidi BBM: Menkeu Harus Legowo Melepas …

Suheri Adi | 11 jam lalu

Jokowi, Berhentilah Bersandiwara! …

Bang Pilot | 13 jam lalu

Menerka Langkah Politik Hatta …

Arnold Adoe | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Tiga Resensi Terbaik Buku Tanoto Foundation …

Kompasiana | 7 jam lalu

Si Bintang yang Pindah …

Fityan Maulid Al Mu... | 8 jam lalu

Oase untuk Anak Indonesia …

Agung Han | 8 jam lalu

Jokowi Mirip Ahmadinejad …

Rushans Novaly | 8 jam lalu

Alternatif Solusi Problem BBM Bersubsidi …

Olivia | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: