Kompasiana
Jumat, 10 Pebruari 2012

Umum

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Taufik H. Mihardja

Dulu wartawan peliput politik nasional dan internasional. Sekarang sehari-hari ikut 'ngurusin' harian Kompas, Kompas.com, dan Kompas TV.

Reformasi Digital: Tak Ada yang Bisa Mengelak Lagi

OPINI | 14 July 2009 | 09:14 592 3 Nihil

Berbagai inisiatif digitall tidak bisa lagi dihindarkan oleh media massa cetak maupun elektronik, kalau mereka tidak mau ketinggalan zaman.

Berbagai inisiatif digitall tidak bisa lagi dihindarkan oleh media massa cetak maupun elektronik, kalau mereka tidak mau ketinggalan zaman.

Ini waktu yang sangat menarik dan kita beruntung berada di dalamnya. Begitu keras situasi hari ini sehingga tidak ada jalan lain bagi kita untuk selalu berpikir keras, berkreasi, berinovasi, supaya kita tidak lekas mati.

Begitu pesan dari ”Newsroom Summit Asia” yang berlangsung dua hari di Kuala Lumpur, pada 8-9 Juli 2009. Diskusi yang menghadirkan para pemimpin redaksi, CEO media massa, serta para pengembang teknologi media massa itu memberikan gambaran yang makin jelas bahwa kita berada pada zaman “pergolakan antara emosi dan nalar”.

Di satu sisi kita tidak bisa menerima surutnya tradisi membaca melalui media kertas yang telah berjalan sejak ditemukannya mesin tik. Di sisi yang lain, kita juga tidak ingin menolak mentah-mentah hadirnya tradisi baru membaca melalui media digital yang serba cepat dan praktis itu. Maka pilihan yang realistis adalah kita mengikuti zaman.

Kita sekarang praktis sudah memasuki keadaan di mana audiens bisa sekaligus berperan sebagai broadcaster, publisher dan researcher. Kita berada di zaman everybody can be in the news melalui media koran yang sangat lokal, situs berita yang hiperlokal, dan melalui media blogging. Intinya, kita berada di saat seorang consumer juga bisa menjadi producer.

Apa yang salah dengan semua itu? Tidak ada yang salah karena kehadiran internet telah mendorong terciptanya situasi itu tadi, suka atau tidak suka. Ditambah dengan sebaran pemakaian telepon genggam, termasuk telepon pintar, yang begitu dahsyat dan bahkan kini telah menjelma menjadi salah satu kebutuhan dasar kita, maka penyebaran informasi atau berita tidak lagi harus selalu bergerak secara vertikal, tetapi juga horisontal, dari pembaca ke pembaca.

Sebab itulah, seorang penulis atau reporter tidak bisa lagi berpikiran bahwa dia lebih tahu daripada pembacanya. Sebab pembaca hari ini bisa mendapatkan informasi begitu cepat, melalui radio, TV, serta melalui apa yang sekarang dikenal dengan istilah social media.

Facebook merupakan salah satu bentuk sosial media yang begitu populer sehingga ia menempati posisi nomor (1), menurut pemeringkat Alexa.com, sebagai situs paling populer diakses di Indonesia, mengalahkan Google, Yahoo! dan YouTube.

Dr Stephen Quinn, Associate Professor of Journalism, Deakin University, Australia, dalam diskusi di KL itu bertanya kepada audiens ”apakah di antara Anda ada yang sudah memiliki account Facebook? Twitter? Twitterdeck? Qik? Bambuster?” Ia menyebut serangkaian nama media sosial lainnya yang jumlahnya sampai belasan. Tentu saja tidak semua orang mengenal seluruh nama media sosial yang disebut profesor itu, kecuali Facebook dan Twitter. Sebagian ada juga yang punya account Twitterdeck.

Artinya betapa banyaknya media yang bisa dipakai oleh siapa saja untuk melaporkan tentang apa saja, kapan saja, dari mana saja. Keterbatasan ruang dan waktu dibongkar habis. Selain informasi itu datang dari berbagai platform, penyajiannya juga sudah multimedia, tidak lagi hanya terbatas teks, foto, atau video secara sendiri-sendiri, tetapi sering merupakan gabungan dari ketiganya. Selain itu, interaktif pula. Inilah yang disebut dengan informasi bergerak secara horisontal tadi.

Aksi demonstrasi besar-besaran menentang hasil pemilu di Iran tetap saja bisa menjadi laporan utama koran-koran, majalah dan jaringan TV internasional meskipun wartawan asing diusir dari Teheran. Itu terjadi karena warga Iran melaporkan apa yang mereka lihat, apa yang mereka lakukan, melalui Twitter yang kini makin hari makin terkenal, menyaingi Facebook.

Media massa arus utama, yakni koran, majalah dan TV tampaknya tidak bisa lagi meremehkan kehadiran apa yang kini dikenal dengan sebutan media baru itu. Secara emosional kita bisa menyebut media baru adalah kompetitornya media arus utama. Tetapi secara logika, media baru itu justru merupakan mitra media arus utama.

“Kekuatan media sosial ini memang kurang disadari oleh media arus utama,” kata Thomas Crampton, Direktur 360 Digital Influence Asia Pasifik, Ogilvy, Hongkong. Namun, menurut mantan wartawan The International Herald Tribune dan The New York Times itu, media massa belum terlambat untuk memanfaatkan kekuatan media sosial itu.

Kompas, salah satu media massa cetak di Indonesia yang berupaya meng-update penyebaran kontennya melalui berbagai macam platform.

Kompas, salah satu media massa cetak di Indonesia yang berupaya meng-update penyebaran kontennya melalui berbagai macam platform.

Seorang peserta pertemuan bertanya kepada Pemimpin Redaksi The Bangkok Post. Mengapa seorang wartawan boleh menjelaskan apa isi berita utama koran besok dalam acara di radio yang mengulas isi koran itu pada malam hari sebelum koran terbit.

“Mereka sudah mengetahui berita itu meski Anda tidak menjelaskannya. Mereka sudah tahu dari TV, dari internet, dari mana-mana. Apa yang kami lakukan itu merupakan upaya kita untuk membangun trust. Ini penting untuk membangun brand,” kata Pichai Chuensuksawadi.

Pemimpin Redaksi The Strait Times, Singapura, Patrick Daniel, secara terus terang mengatakan ia tidak begitu peduli dulu dengan penerapan konvergensi dan integrasi di kelompok penerbitannya. ”Yang penting kami manfaatkan dulu semua platform yang ada. Berbagai produk harus keluar dulu. Sebab, bagaimanapun kita tidak bisa sembunyi dari reformasi digital ini,” katanya.

Berbagai cara orang untuk mendapatkan informasi secara cepat terus dikembangkan. Kemasan juga semakin menarik, semakin multimedia. Maka ada semacam kesimpulan yang disepakati para peserta pertemuan dua hari itu bahwa kita harus ”lead the change, bukan let the change leads us.”

Siapapun hari ini memang tidak bisa lagi mengelak dari arus reformasi digital. Siapa lebih cepat dan lebih siap memanfaatkannya, dialah yang akan meraih kesempatan.


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User



SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012