Artikel

Umum

Pepih Nugraha

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Gemar catur namun tak pernah juara. Disalurkan dengan mengoleksi papan/bidak catur dan menulis artikel catur. Hari-hari diisi membaca, menulis, dan bersosialisasi. Selain sharing menulis virtual di halaman "Nulis bareng Pepih" di Facebook, mempraktikkan Citizen Journalism tentang peristiwa remeh-temeh. Juga membuat projek Hybrid Journalism, dimana jurnalisme warga menjadi berita mainstream lewat keterlibatan jurnalis/editor. Bermimpi melahirkan para jurnslis/penulis kreatif anak negeri yang andal di masa mendatang sebagai sebuah obsesi.

Perkara Netiquette: Ingatlah Orang! (3)


OPINI | 15 July 2009 | 10:40 Dibaca: 1107   Komentar: 13   Nihil

Seperti saya janjikan dalam postingan sebelumnya, saya lanjutkan sedikit pembahasan mengenai elaborasi dari “Ten Commandmends” Netiquette yang perlu diketahui dan menjadi pegangan para blogger dan netter. Pertama mengenai diktum ingat orang. Yang harus kamu sadari saat berinternet atau berinteraksi secara online melalui internet, entah itu menulis e-mail, berada di satu forum atau ngeblog, yang harus kamu sadari adalah: yang kamu hadapi tidak semata-mata teks, gambar, foto, grafis, suara, sampai video sebagai “benda mati” semata. Di balik itu semua, kamu sedang berhadapan dengan manusia, dengan orang lain. Manusia seperti kamu juga. Jangan coba-coba sakiti hati mereka!

Kamu sudah harus pandai memainkan empati di sini. Paling sederhana, gunakan rumus ini: jangan kamu lakukan perbuatan yang kamu tidak suka orang lain melakukannya kepadamu! Sebaliknya, jangan kamu mencap orang lain itu “setan” atau “sialan” hanya karena tidak setuju dengan pendapatmu. Berbeda pendapat, itu biasa, di dunia nyata maupun di dunia maya.

Di dunia nyata, jika tidak cukup punya nyali sulit bagimu untuk menyembunyikan identitas jika tidak sependapat dengan orang lain. Keberanianmu mungkin surut saat kamu “ngata-ngatain” orang yang tidak sependapat denganmu.  Celakanya, di dunia maya (internet) dengan mudahnya kamu menyembunyikan identitas untuk menyerang (pendapat) orang lain. Kamu juga bisa menyerang orang lain terang-terangan, tetapi terus menyembunyikan identitasmu tanpa ampun. Di internet ini memang banyak pilihan, dan itu suka-suka: kamu mau jadi kstaria atau jadi pengecut, boleh-boleh aja…. tinggal pilih.

Hanya saja, diktum pertama dari sepuluh Netiquette itu mengingatkan bahwa yang kamu hadapi di jagat maya (internet) itu bukan semata-mata mesin, grafis, teks, gambar, suara, maupun video yang tidak bernyawa. Yang kamu hadapi adalah orang, yaitu manusia sepertimu juga. So, ingatlah resep mujarab yang biasa saya pegang sebelum Netiquette ini lahir: jangan kamu lakukan perbuatan yang kamu tidak suka orang lain melakukannya kepadamu!

Dari diktum pertama Netiquette ini, kamu sekarang mulai menghormati pendapat orang lain di internet, entah itu imel, milis, forum maupun blog seperti di Kompasiana ini. Biarkan orang lain tampil dengan kreasi berpikirnya (sebagian besar inrternet berisi teks). Kita hormati pendapatnya jika pendapatnya itu disampaikan secara santun. Kalau berkenan, kita komentari apa yang dia tulis (bukan mengeritik penulisnya). Jika tidak berkenan, ya biarkan saja dia lewat. Tidak usah memaksakan diri berkomentar. Sebab, komentar yang keluar pastilah sebuah komentar nyinyir karena sudah diawali dengan ketidaksukaan.

Semudah itulah kita bergaul di internet. Harap diingat, kamu tidak sendirian di internet! (Bersambung)

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: