Artikel

Umum

Taufik H. Mihardja

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Dulu wartawan peliput politik nasional dan internasional. Sekarang sehari-hari ikut 'ngurusin' harian Kompas, Kompas.com, dan Kompas TV.

Ledakan Strategis dan Efektif!


OPINI | 17 July 2009 | 19:27 Dibaca: 1714   Komentar: 3   Nihil

Berada di tengah newsroom seharian Jumat, dengan dikelilingi monitor TV dan online yang memberikan updating berita setiap menit, maka pada saat yang sama juga saya sempat membayangkan betapa si otak pengeboman itu tadi senang bukan main karena  mengebom JW Marriott dan Ritz-Carlton merupakan keputusan yang tepat. Tepat sasaran dan efektif.

Meski ledakannya tidak terlalu besar, tidak sampai membakar hotel, toh korbannya cukup signifikan juga. Sembilan orang tewas. Ada beberapa tokoh penting, seperti bos Holchim yang notabene orang asing berkulit putih. Aksi ini juga telah memancing reaksi yang sangat riuh dari para pimpinan negara Indonesia maupun asing.

CNN dan seluruh jaringan televisi nasional memperlakukan peristiwa ini sebagai breaking news. Media online, seperti Kompas.com, juga membuat “liputan khusus” sebagai upaya memberikan fokus kepada pembaca ke peristiwa pengeboman itu. Cerita-cerita dan berita  tentang pengeboman ini juga tidak akan habis dalam seminggu, dan pasti akan selalu menempati posisi headline atau berita utama di setiap surat kabar.

Tetapi yang lebih hebat, menurut saya, adalah efektivitas pengeboman ini. Sebab, selain dilakukan di tempat yang prestisius (sekali lagi, karena ini yang kedua) yang mewakili simbol Barat, tetapi juga dilaksanakan hanya beberapa jam sebelum perhatian dunia akan tertuju ke Jakarta, yakni saat kedatangan tim sepakbola termasyhur, Manchester United (MU).

Artinya pengeboman ini sudah direncanakan dengan begitu teliti, sehingga bahkan aparat keamanan hotel Marriott tidak bisa mendeteksi keberadaan tamunya yang sedang merakit peledak di lantai 18.

Ini sekali lagi menunjukkan bahwa pengeboman itu memang bisa saja dilakukan kapan saja. “Kalau saya mau, saya selalu bisa,” kira-kira begitulah pemikiran si otak tadi itu.

Si otak itu juga pasti tersenyum setelah mengevaluasi “hasil karyanya” itu karena ternyata  juga telah memancing debat politik antara pemenang pemilu dan yang kalah di pemilu. Seolah-olah pengeboman ini adalah perbuatan politik, sebagai exit daripada kekecewaan orang-orang yang kalah pemilu. Begitulah orang-orang menarik kesan dari pernyataan SBY tentang aksi pengeboman ini, sehingga memancing Prabowo, antara lain, untuk membantah SBY.

Pengeboman kemungkinan menjadi panggung politik yang agak panjang (kasihan para korban).

Mudah-mudahan saja polisi dan aparat penegak hukum lainnya bisa segera membuka tabir di balik pengeboman ini sehingga kita bisa menemukan jawaban yang benar.

Kita tidak ingin ada silih tuding antara elite politik, yang sungguh sangat menyebalkan itu, bukan?

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: