

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki.
(QS Ali Imran: 169)
Atas takdir Allah kaum muslimin di Madinah dihadapkan pada kenyataan bahwa mereka dipertemukan dengan musuh mereka (orang-orang kafir) dalam suatu peperangan besar. Tidak ada pilihan lain bagi kaum muslimin kecuali menghadapi peperangan ini, sebagai bagian dari komitmen mereka kepada Allah dan Rasul-Nya.
Tapi, ada sebagian dari kaum muslimin yang menolak perintah ini. Mereka adalah orang-orang munafik yang dengan segala macam alasan tidak ikut berperang menghadapi orang kafir.
Dan, pada perang Uhud itu, kaum muslimin mengalami kekalahan akibat kelalaian mereka sendiri.
Orang-orang munafik (yang tidak ikut berperang) ini kemudian dengan bangga dan sombongnya mengatakan kepada saudara-saudara mereka, “andaikan kalian tidak ikut berperang, tentu kalian tidak akan terbunuh dalam peperangan ini.” Mereka seolah-olah puas atas kekalahan kaum muslimin dan senang karena tidak ikut terbunuh dalam perang ini.
Maka Allah menjawab celaan orang-orang munafik ini melalui ayat di atas.
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki.”
Inilah sekelumit kisah dalam Al-quran yang mengandung banyak hikmah. Orang-orang munafik mengira bahwa orang-orang yang mati dalam peperangan (jihad) adalah sesuatu yang sia-sia. Dan, bisa jadi pola pikir seperti ini yang ada dalam pikiran kita semua. Tapi Allah yang Maha Besar memiliki pandangan lain dengan menyatakan bahwa sesungguhnya orang-orang yang gugur di jalan Allah tidaklah mati tetapi tetap hidup di sisi Allah dengan mendapatkan rizki dari Allah.
Tidakkah kita menginginkan hal ini, hidup di sisi Allah dengan segala kenikmatan dan rizki-Nya? Sesungguhnya inilah kenikmatan terbesar dan hakiki bagi kita. Dan Allah telah membuka jalan bagi kita semua untuk dapat meraihnya, yaitu dengan cara berjuang di jalan Allah.
Pada zaman rasul, ini bisa diwujudkan dengan berperang melawan musuh-musuh Allah, yaitu orang-orang kafir. Namun, bagaimana mewujudkan hal ini di zaman sekarang yang berbeda dengan kondisi pada zaman Rasul?
Tentu saja kita tidak bisa menyamakan kondisi pada zaman Rasul dengan kondisi sekarang. Kita tidak bisa melakukan perang secara terbuka dengan orang kafir sebagaimana Rasul bersama kaum muslimin melakukannya pada masa lalu. Kita tidak bisa menggunakan ayat ini untuk membuat legitimasi atas kekerasan atau peperangan atas nama agama (baca: Islam).
Perjuangan yang kita lakukan saat ini secara fisik tentu saja tidak sama dengan perjuangan dan jihad pada masa Rasul. Bagi mereka di Palestina, berjuang melawan penjajah Israel adalah jihad mereka. Dan, mereka wajib melakukannya. Tapi, bagi kaum muslimin di AS atau di Eropa, tentu saja tidak bisa melakukan perjuangannya dengan berperang melawan orang-orang kafir. Mereka melakukannya dengan syiar dan dakwah Islam. Bukankah demikian?
Begitu juga perjuangan umat Islam di Indonesia (seperti kita) tentu saja memiliki bentuk perjuangannya sendiri. Banyak yang bisa kita lakukan dalam memperjuangkan Islam.
Mari kita renungkan firman allah,
“… bekerjalah kamu maka Allah dan Rasul-Nya akan melihat pekerjaan kamu …”
Saat ini kita dituntut untuk menunjukkan sejauh mana kita berbuat bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa. Dengan “bekerja” itulah kita berjuang di jalan Allah. Tentu saja bekerja disini mempunyai makna yang sangat luas. Dengan bekerja kita dapat bermanfaat bagi orang lain.
Sebagaimana dalam suatu hadis “sebaik-baik kamu adalah yang paling bermanfaat buat manusia (baca: orang lain)”.
Tidakkah kita menginginkan menjadi orang atau hamba yang terbaik di mata Allah dan mendapatkan kenikmatan hidup di sisinya pada kedudukan yang mulia dengan mendapat berkah dan rizki-Nya?
Semoga! amin
suparno 
setuju bosssss
mari kita terapkan dalam hidup sehari-hari
+1
-1
handrini
prabu 
kita hidup di dunia hanya sementara,walaupun sementara kita di tuntut untuk hidup sejahtera dlm islam,sebab dalam kesejahteraan akan membawa ketenangan,ketenangan dalam berfikir beribadah danmasih banyak lg,tetapi di dlm menjalankan kehidupan hrs ada keseimbangan,seperti hadis rosullulloh saw,bekerjalah kamu seolah kamu hidup terus,dan beribadahlah kamu seolah km besok akan mati,di dlm hadist trsbut kita di tuntut untuk mebuat antara duniawi dan akhirat menjadi seimbang,dan untuk jihad di Indonesia tidaklah dengan cara2 seperti bom bunuh diri jelas2 haram hukumnya,karena tidak pas di terpkan di Indonesia,indonesia tidak seperti jaman nabi dulu,kita di sini jihad melawan kemiskinan dan ketertinggalan dengan bangsa lain,kita harus bekerja keras untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia dengan penduduk mayoritas muslim terbesar dunia tidak bodoh,dan tidak hanya menjadi kuli di negri sendiri,kita harus menciptakan technologi yang mampu memberi manfaat untuk masyarakat,itu lebih berpahala dr jihad yang tidak tahu dasarnya.
+1
-1
embete 
Bayangkan bila rumus itu dikopi paste dengan rumus yang sama, atau bagaimana kalau ini rumus mereka.
+1
-1

setuju. yg penting jgn terlalu dini ambil kesimpulan sebelum ada investigasi mendalam. kita perlu pahami substansinya mengapa mereka melakukan itu. tindakan preventif, represif, kutuk-mengutuk nyatanya tidak mampu menghentikan, akar permasalahannya lah yg perlu kita carikan jalan keluar. mdh2n ke depan Indonesia mampu menjadi bangsa yg bersatu, harmonis, sejahtera, dan bermartabat. amin.
+1
-1
Florensius Marsudi - Palembang
palawija 
sdh jelas setuju kita sdh bkn hidup di zamannya Nabi dulu pandai2 lah membumikan Al Qur’an sehingga bisa mencerahkan kita semua
+1
-1
Tert 
Buanglah sifat: iri, dengki, dan tidak menghormati sesama. Walaupun sakit hati, tetapi kalau menghormati kehidupan orang lain maka tidak akan ada kekerasan terhadap sesama. Wahai para pemuka agama, didiklah umatmu untuk menghormati sesama. Sesama itu ialah semua ras manusia apapun golongannya. Jangan dibelokkan bahwa sesama itu ialah yang satu golongan saja. Jujurlah dan hormatilah orang lain.
+1
-1
ponakan baasyir 
..sesudah apa yg terjadi dan membaca tulisan ini, makin ga simpatik saya dengan jenis agama ini..lihatlah komentar yang masuk umumny..setujuuuuuu…
maaf, saya tidak simpatik dengan agama anda
+1
-1
Guest User