

Tulisan ini terinspirasi oleh ungkapan salah satu teman saya di kantor. “Iya dong, orang kaya,” itulah kata-kata favoritnya saat menanggapi orang yang menanyakannya kenapa sarapan pake roti tawar (PD atau narsis ya nih orang …).
Bisa jadi ungkapan ini hanya sekedar ungkapan spontan yang keluar begitu saja tanpa pikir panjang. Atau, bisa juga ungkapan untuk menghibur diri atas kekurangan yang ada pada diri kita. Atau, bisa juga sebuah obsesi dari orang yang mengucapkannya sebagai sebuah tujuan yang ingin dicapainya. Terkadang obsesi yang memenuhi pikiran kita akan secara spontan keluar dari lisan tanpa kita sadari.
sejujurnya, setiap orang pasti punya keinginan terpendam dalam hatinya, saya ingin menjadi orang kaya. Dan salah satu anggapan umum bahwa orang kaya haruslah mereka yang bekerja di perusahaan besar dengan gaji tinggi atau pengusaha yang memiliki usaha dengan omzet sangat besar. Mereka yang memiliki penghasilan yang tidak begitu besar harus mengubur impiannya untuk menjadi orang kaya yang memiliki banyak aset.
Benarkah demikian?
Pandangan ini tidak sepenuhnya benar. Setidaknya itulah yang dikatakan oleh Safir Senduk dalam bukunya yang berjudul sama dengan judul tulisan ini. Jadi, sebenarnya tulisan ini adalah review dari buku tersebut.
Selama ini beredar anggapan bahwa karyawan adalah status yang tidak memungkinkan orang menjadi kaya. Anggapan ini dilanjutkan dengan anggapan lain bahwa hanya dengan menjadi pengusaha sajalah orang bisa menjadi kaya. Berawal dari dua anggapan tadi, buku ini mencoba memberikan pandangan yang berbeda dan tegas bahwa seorang karyawan pun bisa menjadi kaya tanpa harus meninggalkan pekerjaan tetapnya dan beralih menjadi pengusaha.
Buku ini diawali dengan uraian yang mencoba mengubah cara pandang terhadap pendapatan yang selama ini diperoleh seorang karyawan, definisi tentang kekayaan yang tidak berhubungan dengan penghasilan tinggi, dan bagaimana seseorang dapat kaya berapapun penghasilan yang didapatnya. Untuk itu, penulis mengemukakan lima kiat praktis yang dapat dilakukan dalam mengelola gaji agar bisa kaya.
Pertama, dengan membeli dan memiliki sebanyak mungkin harta produktif. Harta produktif adalah harta yang dapat menghasilkan pendapatan yang dapat berupa deposito, reksadana, rumah dan lain-lain. Dengan memiliki harta produktif, ada kesempatan untuk mendapatkan penghasilan tambahan.
Kedua, mengatur pengeluaran, yaitu dengan melakukan pertimbangan dan menetapkan prioritas dalam memutuskan pengeluaran. Pengeluaran yang efektif memungkinkan kita mendapatkan tambahan modal untuk memperbanyak harta produktif.
Ketiga, berhati-hati dalam berutang.
Keempat, menyisihkan penghasilan untuk pos-pos pengeluaran di masa yang akan datang. Merencanakan dari jauh-jauh hari pengeluaran yang akan dilakukan di masa yang akan datang mempermudah mewujudkan keinginan tersebut tanpa harus mengorbankan harta produktif yang ada.
Kelima, memiliki proteksi seperti asuransi kesehatan, pendidikan anak, dan pensiun.
Dengan kelima kiat praktis ini, jika dilakukan dengan cermat dan disiplin, penulis yakin seorang karyawan tidak akan ragu lagi untuk berteriak, “siapa bilang jadi karyawan nggak bisa kaya?”
Von Mengwi 
Kenapa sih mesti bertujuan Kaya/Rich. Apakah dengan menjadi kaya kita pasti bahagia?
+1
-1
Ininnawa 
dengan kata lain, kalau karyawan mau kaya ya harus berhemat (pengeluaran sesuai skala prioritas, disiplin, plan proteksi dll) dan mempunyai usaha sampingan (harta produktif) gitukan mas? jadi kaya bukan karena karyawannya tapi dari upaya lainnya.
+1
-1

@von mengwi
kaya ngga identik dengan bahagia memang tapi tetap aja banyak orang yang mengidam-idamkannya.
@ininnawa
artinya kita ngga perlu beralih dari status kita sebagai karyawan untuk bisa memiliki banyak aset. asal bisa mengelolanya, kita bisa memiliki aset-aset itu
makasih atas komennya
+1
-1
Om Budi 
Intinya jadi orang kaya (duit) cuman satu = Jangan besar pasak dari pada tiang.
Plus yang paling utama = SEDEKAH.
Kenapa kita harus mengasuransi kan diri kita ke selain Allah? Syirik itu nama nya. Mengasuransi kan ke sesuatu yang tidak kekal. AIG sebagai perusahaan asuransi aja bangkrut, masak kita mengasuransi kan ke AIG?
Asuransi kan ke Yang Maha Kekal yaitu Allah dengan cara memperbanyak sedekah. Percaya lah itu…
+1
-1
andi 
@ Oom Budi,
Lalu, kenapa ada asuransi syariah ya?
+1
-1

@om budi
asuransi atau proteksi untuk jaga-jaga aja sebagai salah satu usaha aja. tentu saja kita semua berlindung atau menyerahkan segala urusan kepada Allah.
salam
+1
-1
Muhammad Ihsan 
Kaya memang lebih baik.Lebih baik meninggalkan kekayaan (halal) kepada ahli waris daripada meninggalkan kemiskinan sebab mereka akan menyusahkan orang lain.Namun kekayaan yang hakiki adalah kaya hati.
+1
-1
amril 
Mas Bayu,
Jadi Jongos pun bisa kaya. Tapi juragannya mesti orang Asing.
Contoh bekerjalah di perusahaan pertambang asing, emang sih kudu pinter, karena persainganya ketat. Sebenarnya bekerja dipertambangan lokal makmur juga, cuma mau masuknya perlu KKN.
Karena tuan asing suka foya-foya, istilah mumetnya “function”. Jadi Jongos ini juga suka ikut-ikutan lho, minum-minuman mahal, hidup bergaya borjouis. Tapi heran hidupnya tetep aja makmur terjamin. Tadinya saya berpikir, nanti kalo presidenya bukan SBY, baru lu… pada tau rasa, hidup bakalan irit dan pas-pasan… ehhh gak taunya SBY lanjut…………
Jadi kalo saran Mas Bayu, Karyawan mesti hemat bisa kaya. Tapi yang saya liat di Kantor saya, para jongos ini, walaupun hidup glamor, masih aja uangnya gak habis-habis….
Ayo Lanjutkan temen-temen ku di Kantor foya-foyanya. Hidup menjadi lebih mudah… Bersama SBY semua bisa diatur…
+1
-1
bayu 
@ amril
wah enak banget tuh kayaknya. jadi kepengen … (mupeng mode on)
@ m ihsan
kaya hati sekaligus kaya harta enak juga kayaknya …
+1
-1
Andri 
Kalo menurut saya, sebagai karyawan dengan gaji yang pas-pasan mau diatur bagaimana juga akan sulit. Paling solusinya ngutang ke sana ke mari. Bagaimana kita mau nambah aset. Orang untuk makan aja ga cukup. Jadi, menurut saya yang harus dilakukan adalah meningkatkan dari sisi penerimaannya. Ya ini perlu kerja sama dengan pasangan kita. Kita atau istri kita harus nyari tambahan pemasukan. Coba bagaimana ngatur gaji 2,5 juta dengan 3 anak. Sementara itu, anaknya sekolah di SMP, SD, dan TK.
+1
-1
Guest User