Tayangan di Discovery Channel itu sangat menarik. Misalnya tentang binatang buas menerkam binatang lain. Sering kali kita berpikir, kenapa si kameramen tidak menolong binatang yang lemah itu, dengan cara mengusir binatang buas pemakan daging itu. Kameramen sepertinya malah menikmati adegan yang sedang berlangsung, yakni ketika singa, misalnya, merobek-robek kijang yang baru ditangkapnya. Dengan efek yang amat dramatis, seperti darah, suara dari cara singa merobek dan mengunyah daging segar itu, makin baguslah gambar itu. Maka, makin sukses pulalah kameramen itu, baik di mata bosnya maupun di mata pamirsa.
Beberapa foto pemenang Pulitzer juga sering kali menampilkan kesengsaraan orang, apakah sengsara akibat perang, akibat kemiskinan, atau akibat penyakit. Dengan meraih Pulitzer, maka fotografer itu dinilai sangat sukses. Makin banyak Pulitzer yang ia dapatkan, tentu makin baik, apapun obyek yang dijepretnya, seberapa besar pun penderitaan orang yang menjadi obyek fotonya.
Berkaitan dengan pengeboman hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton tempo hari itu muncul kecaman dari beberapa pihak tentang tindakan kameramen TV, juga fotografer, yang seolah-olah hanya ingin mengabadikan korban bom yang sedang berdarah-darah tanpa melakukan upaya pemberian pertolongan pertama. Kamera fokus kepada orang tua bule yang sekujur tubuhnya berdarah-darah. Tampak ia pun sulit untuk menggerakkan tangannya, apalagi berdiri untuk berlari. Sementara seseorang berusaha memberikan pertolongan yang sia-sia. Orang tua itu akhirnya meninggal. Ia adalah big bos sebuah perusahaan semen di Indonesia.
Karena itu, kameramen maupun fotografer lalu dicaci sebagai tidak manusiawi, picik, mementingkan diri-sendiri dan lain-lain sebutan yang sungguh menyeramkan.
Karena foto ataupun filmnya ditayangkan berulang-ulang di TV, maka seolah-olah media massa juga ingin memanfaatkan penderitaan para korban bom itu untuk semata-mata meningkatkan rating acara berita TV tersebut. Berbagai jaringan TV tidak terlalu peduli terhadap perasaan keluarga korban, manakala rekan atau saudaranya itu ditayangulang berkali-kali sebagai pelengkap dari suatu narasi berita yang berkaitan dengan aksi pengeboman itu. Apalagi gambar itu tentang orang yang sudah mati.
Suatu saat pernah kita melihat tayangan berulang-ulang tentang salah seorang anggota Pam Swakarsa yang dirajang dan diseret-seret untuk dibuang ke tempat sampah oleh warga. Warga begitu benci terhadap anggota Pam Swakarsa yang ketika itu beraksi mendukung pemerintah, sementara warga dan mahasiswa berdemo untuk menurunkan presiden dari kekuasaannya.
Saya juga pernah melihat rekan wartawan (bukan fotografer) memperlihatkan kepala-kepala orang yang ditancapkan ke pagar kayu di depan rumah-rumah adat saat berkecamuknya “perang” antara suku pribumi dengan suku pendatang di Kalimantan. Ia bercerita makin banyak kepala orang di rumahnya, maka penghuni rumah itu dianggap makin digdaya dan makin berpengaruh.
Menyaksikan kedua gambar itu dalam kesempatan yang berbeda, saya merasa mual. Ketika ditanyakan kepada rekan wartawan tentang apa perasaan dia sewaktu mengambil gambar dan sekarang, ia mengatakan sekarang ia merasa pusing kalau melihat foto itu. Tetapi ketika peristiwa sedang terjadi, ia merasa enjoy karena mendapatkan gambar-gambar dramatis tentang nasib manusia. “Adrenalin gue memuncak sewaktu mendapat gambar ini,” katanya.
Dalam catatan sejarah, ada cerita tentang ditemukannya seseorang yang puluhan tahun lalu tampak sebagai seorang anak kecil berlari tunggang langgang karena takut akan perang yang sedang berkecamuk. Dalam kasus ini, kehadiran foto dramatis menjadi bermanfaat ( di kemudian hari ) bagi obyek fotonya tersebut. Meski kehadiran foto itu, bagi yang bersangkutan, mungkin bisa menjadi benda yang membuat dirinya trauma.
Kita tidak bisa membayangkan apa yang ada di benak kepala pada fotografer ketika menyaksikan obyek foto favorit mereka tewas mengenaskan bersama pacarnya dalam tabrakan kendaraan yang ironisnya sedang berusaha menghindari para fotografer, yang sekarang terkenal dengan sebutan paparazi itu. Dalam kasus ini, apakah paparazi itu menangisi Lady Di karena ia akan hilang, lenyap ditelan tanah, ataukah mereka bersuka cita karena mendapatkan foto yang dramatis tentang tokoh yang sangat termashur dan dipuja banyak manusia bumi itu.
Memang mudah menuduh para fotografer dan kameramen itu sebagai manusia yang tidak manusiawi, egois, hanya mementingkan rating dan lain-lain yang suram-suram, yang jelek-jelek. Sumpah serapah boleh dilayangkan kepada mereka.Tetapi mereka mengenal istilah bad news is good news. Makin hancur kepala orang, makin baik untuk kamera. Lebih dramatis!
Mereka bisa mengatakan “untung ada bom Marriott, sehingga kita punya obyek bagus lagi sehabis pemilu presiden”. Gila!
Tulisan ini (kemungkinan) masih akan berlanjut. Misalnya, dengan mewawancara para fotografer. Kita akan tanya, apakah mereka senang mengabadikan orang yang berada pada titik sedang meregang nyawa. Kita juga akan tanyakan apa yang akan mereka lakukan setelah mengambil foto orang yang kakinya terpotong dan tercerai-berai akibat bom. Apa yang akan mereka lakukan ketika melihat orang yang hendak bunuh diri dari lantai 20?
Kalau saya sebagai fotografer atau kameramen ditanya bagaimana pendapatnya tentang semua itu, terus terang saya juga bingung menjawabnya! Apakah tindakan saya mengambil gambar-gambar dramatis itu semata-mata sebagai pekerjaan belaka, atau ada aspek-aspek lain yang bersentuhan dengan kemanusiaan dan toleransi. Sebelum bisa menjawab pertanyaan itu, ada baiknya kita menampung komentar para pembaca Kompasiana. Apa yang akan Anda lakukan kalau Anda seorang fotografer menyaksikan suasana seperti terjadi dalam foto di atas?
Bulan Februari adalah bulan cinta dan kasih sayang. Begitu kurang lebih yang dirayakan banyak orang,
