Artikel

Umum

Taufik H. Mihardja

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Dulu wartawan peliput politik nasional dan internasional. Sekarang sehari-hari ikut 'ngurusin' harian Kompas, Kompas.com, dan Kompas TV.

Fotografer: Wisdom dan Akal Sehat (2)


OPINI | 29 July 2009 | 03:52 Dibaca: 1004   Komentar: 3   Nihil

Apa yang akan Anda lakukan selaku fotografer jika menghadapi situasi seperti dalam foto ini?

Apa yang akan Anda lakukan selaku fotografer jika menghadapi situasi seperti dalam foto ini?

Permohonan untuk menjawab pertanyaan sekitar apa yang Anda akan lakukan sebagai seorang fotografer jika melihat langsung suatu peristiwa di mana seseorang dalam situasi gawat, kritis seperti dalam foto di samping ini, ternyata mendapat tanggapan baik. Komentar-komentar itu bahkan bisa berkembang sebagai sebuah diskusi yang makin menarik antarsesama penulis di blog Kompasiana ini.

Sekilas barangkali saya bisa menarik benang merah dari pernyataan para komentator tersebut, yakni bahwa seorang fotografer itu bisa dilihat dari dua kacamata, yakni dari kacamata dia sebagai seorang fotografer yang menjalankan tugas jurnalistik, dan dari kacamata dia sebagai manusia yang harus memiliki rasa toleran. Dalam sisi baiknya, manusia itu antara lain memiliki aspek toleransi dan karakter welas asih, membantu sesama dan lain-lain, tetapi dari sisi buruknya, manusia itu juga sekaligus memiliki karakter “predator”.

Tetapi dalam setiap kali terdapat pandangan yang saling bertabrakan itu, selalu ada saja, selalu saja ditemukan suatu exit. Simaklah rangkaian komentar dari para komentator di bawah ini.

Ntanuriao3 yang mengaku sebagai seorang pelaku fotografi dan sangat tertarik dengan fotografi jurnalistik, berpendapat, diperlukan suatu “wisdom” ketika orang menemui peristiwa dramatis seperti itu. Sayang, menurut dia, wisdom itu jarang digunakan sehingga apa yang ada di benak kepala fotografer sering kali semata-mata hanya ingin mendapat uang, terkenal, dan sensasi.

“Tentunya ada konsep dan tujuan utama dulu, apa tujuan menjadi seorang fotografer. Untuk membagi ilmu pengetahuan kepada duniakah? Untuk membeberkan fakta yang sebenarnyakah? Untuk sekedar mencari uang dan prestasikah? Buat saya sebuah gambar atau foto bertujuan untuk mengungkapkan fakta yang seharusnya serta memberi pengaruh supaya dunia atau lingkungan ini menjadi lebih baik, bukannya sebaliknya,” kata Ntanuriao3.

Bagaimana tentang potret-potret kesengsaraan manusia yang selama ini justru dimanfaatkan fotografer, sehingga mereka bisa memenangkan hadiah Pulitzer? Semacam mendapatkan keuntungan di atas penderitaan obyek fotonya?

“Mengambil potret-potret itu tidak ada salahnya. Itu untuk menarik mata dunia supaya ‘melek’ dan kalau bisa melakukan sesuatu bagi perdamaian dunia dan penderitaan yang masih dialami sebagian manusia di berbagai belahan bumi. Ketika mengambil gambar-gambar tragedi kemanusiaan yang dramatis, selain berpikir untuk oplah koran dan eksklusivitas tayangan mereka, tentunya harus juga berpikir tentang dampak dan tujuannya. Selama tujuannya masih dalam “core” idealisme sebuah media, maka gambar-gambar itu tentu dibutuhkan,” tutur Ntanuriao3.

Sebaliknya, katanya, ketika seorang fotografer atau kameramen hanya sibuk merekam gambar korban bom, misalnya, tanpa menolong korban itu sendiri (apalagi waktu itu tidak ada yang menolong), sungguh itu merupakan suatu bentuk egoisme, tidak berperikemanusiaan. Paling tidak, fotografer itu dapat berusaha melakukan keduanya meski bukan dengan tangan sendiri. Sayangnya, sebagian orang hanya memikirkan dirinya sendiri sehingga “memilih” untuk menjadi penjahat kemanusiaan.

Jadi, menurut dia, “wisdom” dalam berjurnalistik ini merupakan hal penting. Namun, sudahkah para pelaku jurnalistik itu dihargai? Apakah mereka dihargai hanya karena gambar yang sensasional itu? Seandainya ia mengabaikan liputan dan memilih menolong korban, adakah penghargaan dari perusahaan tempat dia bekerja? Begitu sulit menjalankan idealisme kalau semua lingkungannya tidak mendukung.

Namun dengan kreativitas tertentu, seorang fotografer mungkin bisa saja kehilangan “hot news” akibat memilih menolong orang, tetapi ia tetap saja seharusnya bisa menghasilkan “soft news” yang bagus juga.

Koswara, komentator lain, mengingatkan, Abdullah Alammudi, anggota Dewan Pers Divisi Pengaduan, mengatakan bahwa dalam melaksanakan peliputan peristiwa bom di hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton di Mega Kuningan dengan cara menampilkan, bahkan men-zoom wajah berdarah-darah para korban itu merupakan pelanggaran kode etik. Bahkan Koswara menyebut tindakan yang melanggar kode etik tersebut sebagai HORROR JURNALISM (dengan huruf besar).

Lalu apa yang bisa dia perbuat kalau menyaksikan suasana seperti terjadi dalam foto di atas itu? “Ya, rekamlah kejadian itu. Cuma ketika menampilkannya di media, gambar itu haruslah dipertimbangkan masak-masak. Perlu editing dan pengaburan gambar pada bagian yang dianggap menakutkan,” tutur Koswara, memberikan gambaran secara teknis.

Demikian juga dalam memilih kata-kata, menurut dia, harus selektif sehingga tidak menambah timbulnya  suasana makin seram. “Narator jangan membuat kalimat, ‘inilah potongan kepala .. ’ karena kata-kata ini sudah menambah tingkat horor dari berita itu.”

Karakter PREDATOR

Predator!

Predator!

Hal menarik lainnya diberikan komentator Micky. Ia secara ringkas menyimpulkan manusia merupakan predator terganas di muka bumi ini. Ia memberikan ilustrasi: “Rantai makanan telah tercipta sedemikian rupa untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Kalau semua binatang lemah dalam sebuah ekosistem (misalkan rusa) diselamatkan dari predator (misalnya singa), maka populasi rusa akan meledak dan menghabiskan semua rumput yang ada, sehingga tanah menjadi gersang dan tandus, dan pada akhirnya kehidupan jadi tidak (seimbang?) sama sekali. Justru campur tangan manusialah yang telah menciptakan kerusakan terbesar di bumi.”

Predator!

Predator!

Pendapat Micky ini sebagai respons terhadap pernyataan bahwa kadang-kadang kita melihat seorang kameramen seperti semata-mata asyik menikmati gambar dramatis dari suatu peristiwa mengenaskan, misalnya, ketika singa mengejar, menyantap rusa. Padahal kalau mau, seorang kameramen bisa mencegah si kuat itu untuk memangsa si lemah dengan cara mengusirnya.

Mengenai hal ini, Ntanuriao3 juga berpendapat bahwa gambar binatang yang saling memangsa di habitatnya itu boleh saja diambil demi pengetahuan. Dan, sependapat dengan Micky, Ntanuriao3 melihat bahwa suasana seperti itu merupakan siklus alami rantai makanan di alam bebas. “Justru ketika pengambil gambar mengintervensi dengan ‘asumsi heroiknya sendiri’, mungkin hal itu malah akan mengacaukan siklus alami tersebut. Dan hal ini malah bertentangan dengan konsep idealisme di atas.”

Iskandar, komentator lainnya yang juga salah seorang admin Kompasiana, secara sinikal yakin sekali bahwa fotografer itu adalah manusia juga. Dan, dari sisi yang buram, katanya, karakter dasar manusia itu antara lain  mementingkan diri-sendiri, khususnya terkait urusan duniawi, yakni harta, karir dan jabatan. “Nah, ketika ada pilihan apakah menolong orang yang sedang menyelamatkan diri dari banjir atau memotret peristiwa itu, sebagai manusia fotografer pasti mengambil pilihan kedua.”

Apalagi di era teknologi fotografi yang semakin canggih ini, Iskandar menjelaskan, bahwa gambar bisa diambil dalam sekejap kedipan mata. Begitu dinyalakan, kamera sudah langsung bisa bekerja. Autofokusnya bergerak cepat dengan ketajaman yang memukau. Sehingga, sebetulnya tidak perlu waktu lama untuk mengambil gambar orang yang sedang berjuang mati-matian dari terjangan air bah. Setelah itu, barulah upaya menyelamatkan si obyek gambar tadi dimulai. Kamera bisa diletakkan di sembarang tempat karena tahan banting dan tahan air. Tidak perlu takut kamera cepat rusak karena bodinya dilengkapi dengan materi yang kuat dan kokoh.

Memang Iskandar mengakui ada kemungkinan misi penyelamatan itu gagal total, tetapi itu tidak menjadi beban karena misi utama fotografer ada memotret, bukan menolong. “Kalau dia memilih menolong, begitu sampai di kantor, dia akan dicaci-maki atasannya: ‘Memangnya kamu ini tim SAR apa?’ Setelah itu, karir fotografi yang bersangkutan bisa meredup bahkan buyar sama sekali.”

Akal SEHAT

Namun menurut Richard, komentator lain, “semuanya itu tergantung situasi dan kondisi. Dan, akal sehat harus digunakan dalam saat-saat genting tersebut.”

A sexy fotographer!

A sexy fotographer!

“Setiap orang mempunyai tugas masing-masing. Tugas fotografer ya menyampaikan suatu kejadian pada dunia. Hal ini agar dunia tahu apa yang terjadi, dan lalu melakukan perbaikan untuk ke depannya.”

Dalam pandangan Richard, fotografer mengambil karier sebagai fotografer bukan karena ingin menjadi tim SAR atau polisi atau tentara. Mereka adalah orang-orang yang tidak tahu bagaimana cara yang benar untuk menyelamatkan atau menolong orang, selain keahliannya untuk mengabadikan kejadian tersebut. Bisa saja maksudnya mau menolong, tetapi malah mencelakakan karena kekurangannya itu.
Contoh: Ingin mengevakuasi korban kebakaran, tetapi karena tidak kuat mengangkat korban, tangan korban ditarik begitu saja, itu malah menambah luka di punggung korban. Atau, ingin menolong orang yang hanyut terkena banjir tapi malah ikut hanyut.

Di satu sisi, katanya, memang ada baiknya bila sang fotografer lantas menolong semampunya bila menurut akal sehat pertolongan yang seadanya tersebut akan berakibat signifikan bagi suatu nyawa. Di sisi yang lain, orang Indonesia memang sedikit aneh. Suatu tragedi malah dijadikan obyek wisata dan hiburan.

Lihat saja sekarang, JW Marriott dan Ritz-Carlton malah jadi obyek wisata. Kalau ada kebakaran juga bukannya ikut menolong tetapi malah pada nonton dari kejauhan, seperti menonton layar tancap.

Mengenai komentar yang berhubungan dengan mata rantai makanan, menurut Richard, itu benar. Kesadisan (binatang buas) tersebut adalah bagian dari ekosistem yang tidak boleh diubah. Kalau mau berpikir seperti demikian, artinya ingin membebaskan si lemah (kijang) dari si kuat (singa), sekalian saja berpikir untuk menjadi vegetarian.

“Sudah pernah berkunjung ke rumah pemotongan ayam dan sapi? Pernah lihat bagaimana sadisnya ikan yang akan dikonsumsi itu digeprak dengan palu, lalu dikuliti sisiknya dalam keadaan setengah hidup?” demikian Richard mengakhiri kalimatnya.

Rangkaian pendapat di atas, yang saya coba susun dalam satu tarikan nafas jurnalistik, sungguh menarik. Ini sekali lagi menunjukkan intelektualitas para blogger Kompasiana. Sungguh sangat menggembirakan.

Tulisan ini masih akan berlanjut dengan mendapatkan komentar dari para pelaku atau fotografer sendiri. Supaya semuanya menjadi berimbang.

Nah, kalau Anda benar-benar fotografer profesional atau kameramen profesional dan mau sharing di sini, silakan. Kami akan dengan senang hati merangkainya kembali sebagai sebuah bentuk laporan.

Salam Kompasiana

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: