Apa yang ada di benak para fotografer atau yang akan mereka lakukan manakala menyaksikan orang sedang mendapat musibah, berlumuran darah, meregang nyawa?
Memotret, terus memotret, klik, klik, klik dan segera berlari untuk mengirimkan gambarnya ke kantor? Lalu kalau masih ada kesempatan, kembali memotret lagi, terus memotret! Setelah itu, korban semata-mata urusan orang lain? Atau ia akan memotret, lalu memberikan pertolongan terhadap korban, meski hal itu beresiko bahwa fotonya tidak bakal menjadi yang pertama ditayangkan di media massa? (Misalnya saja kalau fotografer itu bekerja di media online, TV atau kantor berita yang harus berkompetisi untuk merilis berita/foto secepat mungkin. Lebih cepat daripada kompetitor)
Urgensi bagi seorang fotografer untuk segera mengirimkan hasil karyanya bisa menyebabkan terbengkalainya pertolongan pertama bagi si korban. Dalam situasi inilah, seorang fotografer dituduh tidak manusiawi. Secara sinikal, pamirsa TV menyebut kameramen yang menyorot korban bom Marriott dan Ritz-Carlton dengan sebutan “bukan manusia”, “jurnalis horor” dan sebutan-sebutan yang menyeramkan lainnya.
Sebagai sebuah bahan rujukan, maka mungkin menarik hal-hal yang diungkapkan fotografer Arbain Rambey, dengan mengacu kepada peristiwa penembakan Senator John F Kennedy, pada bulan Juni 1968 di Los Angeles, Amerika Serikat.
Pada saat Bob Kennedy ditembak Sirhan Sirhan di depan Hotel Ambassador, pada 5 Juni 1968 itu, seorang wanita menghalang-halangi Boris Yaro yang akan memotret adegan Bob yang terbaring berlumuran darah.
Wanita itu berteriak,” Dia berdarah, tapi kamu mau memotetnya!”
Boris tidak mundur. Dia malah mendorong wanita itu dan tetap memotret. “Damn lady, this is history…..,” bentak Boris yang sekilas seperti tidak punya hati nurani itu.
Hal seperti di atas tadi selalu muncul manakala ada adegan memilukan, lalu ada fotografer memotret. “Orang selalu menganggap bahwa hal yang menyedihkan itu terlarang untuk difoto. Padahal kita tahu bahwa foto Bob Kennedy terbaring di tanah berlumuran darah adalah salah satu foto jurnalistik terbaik untuk sejarah Amerika Serikat. Kalau saja Boris Yaro mundur dan tidak jadi memotret, sebuah sejarah gagal direkam,” kata Arbain.
Saat bom meledak di hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton di Jakarta Juli lalu, banyak yang mengatakan, bagaimana bisa para fotografer itu memotret penderitaan orang?
“Sesungguhnya, tindakan para fotografer itu bukanlah menari-nari di atas kesedihan orang lain. Hal yang mereka lakukan adalah ‘kesadaran merekam sejarah’. Dan itu harus dihargai, bukannya malah dihalang-halangi. Mereka sendiri kadang sampai mengorbankan keselamatan diri-sendiri dalam proses memotret itu,” kata Arbain.
Jawaban Arbain atas pertanyaan-pertanyaan seputar apa yang ada di benak fotografer itu cukup singkat, tetapi cukup menjelaskan juga. Secara logika benar dan entah siapa yang akan membantahnya sebab hal itu datang dari pikiran seorang fotografer sendiri.
Secara lebih ringkas berarti bahwa apapun yang dikerjakan fotografer, toh sejarah akan mencatatnya apakah itu sebagai sebuah tindakan yang heroik atau apapun. Yang jelas, salah satu peran mereka yang harus dihargai dalam kaitan ini adalah mereka telah mengisi sebuah ruang kosong, sebuah ‘missing link’, dalam suatu peristiwa bersejarah! Sebab, siapa tahu karya mereka yang dianggap sebagai karya dari suatu tidak manusiawi itu justru dapat membantu kita, misalnya, dalam proses penyelidikan oleh aparat berwajib.
Tulisan keempat (selanjutnya) dari seri artikel tentang fotografer ini akan mencoba menggali lebih dalam lagi pemikiran-pemikiran dari para pelaku fotografi, yang pernah mengalami suatu momen dramatis, suatu momen di mana ia dalam sepersekian detik harus menentukan untuk melakukan pekerjaan fotografi atau berbuat “sesuatu yang lain”.
Kita akan lihat apakah setiap kepala para fotografer memiliki pandangan yang sama? Atau berbeda sama sekali? Atau hanya semata-mata perbedaan nuansa saja dalam penyampaian pikiran mereka itu? Let see!
Salam Kompasiana!
Bulan Februari adalah bulan cinta dan kasih sayang. Begitu kurang lebih yang dirayakan banyak orang,
