
Dulu wartawan peliput politik nasional dan internasional. Sekarang sehari-hari ikut 'ngurusin' harian Kompas, Kompas.com, dan Kompas TV.
Dibaca: 1145
Komentar: 2
Nihil
Ketika orang takut akan kematian, termasuk ketika jantungnya diserang secara mendadak, pilihan menjadi amat terbatas baginya: mengerahkan segala daya (termasuk berutang) untuk memperpanjang nyawanya. Atau, pasrah saja dan tidak perlu mendapatkan tindakan medis karena ia tahu resiko ongkosnya yang amat mahal itu.
Tulisan ini muncul karena di kaca depan mobil yang diparkir di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita pekan lalu, ada secarik kertas yang mempromosikan jasa peminjaman uang untuk ‘nasabah’ berpenyakit jantung. Tidak disebutkan berapa besar batas pinjaman itu, juga tidak ada persentase bunga perbulannya. “Kami bisa melayani dengan cepat,” itulah pesan yang paling penting.
Menarik juga ada orang yang berpikiran praktis demikian. Menyediakan jasa pinjaman kepada orang yang benar-benar kepepet!
Ongkos tindakan dokter untuk meladeni “serangan” di jantung itu memang amat mahal. Untuk tindakan kateterisasi untuk membuka saluran pembuluh yang sedang tersumbat: apakah dengan cara menyedot darah yang mengental itu, atau dengan pemanfaatan balon, atau dengan pemasangan cincin, bisa mencapai puluhan, bahkan ratusan juta rupiah. Apalagi kalau sampai harus by pass (bedah).
Bayangkan hari begini mendapatkan uang cash dengan cepat memang tidak gampang, kecuali kita orang kaya yang memiliki tabungan cukup banyak. Apalagi kalau yang bersangkutan tidak memiliki aset yang bisa segera cepat dilego, seperti kendaraan. Aset rumah memang bisa digadekan, kalau rumah itu sudah lunas cicilannya. Kalau belum? Wassalam!
Beruntung bagi orang mendapat surat jaminan dari kantor, sehingga ia tidak perlu mengeluarkan uang cash. Cukup dengan secarik surat dari kantor itu, ia sudah bisa pulang dari rumah sakit, dengan tenang. Tinggal berapa besar gajinya dipotong nanti untuk mengganti kelebihan biaya rumah sakit tersebut.
Maka terlintas dalam benak saya: beruntung juga ya orang yang mati akibat serangan jantung, tetapi tidak sempat dirawat di rumah sakit. Sebab, ia tidak dibebani biaya rumat sakit, apalagi kalau biaya itu nanti menjadi beban utang keluarga yang ditinggalkannya. Selain itu, sakitnya juga, katanya, sebentar saja, kan? Tidak berlama-lama. Dan, tidak merepotkan orang!
Dalam hal-hal tertentu, di antara anggota keluarga juga mungkin ada yang merasa “beruntung” dengan kematian mendadak akibat serangan jantung itu, yakni harta warisan.
Saya tidak ingin berpanjang-panjang mengenai hal ini. Tentunya kita tetap memilih hidup dan sehat ya! Supaya kita tidak sampai ketemu “si pemberi jasa penyambung nyawa” itu tadi. Caranya? Kata dokter, hidup dengan cara sehat dan … sering-sering berdoa.
Salam Kompasiana, semoga seluruh kru dan member Kompasiana selalu dalam keadaan sehat walafiat!