Back to Kompasiana
Artikel

Umum

Elha

Lahir di Dzakarta, n hidup di tengah kaum dhua'afa. Ingin menjadi Inpirite for Dhua'fa Communities. Bercita2 selengkapnya

Tujuh Belasan yang Unik

OPINI | 18 August 2009 | 02:54    Dibaca: 1254   Komentar: 4   0

Mantan Pengedar Narkoba itu turut aktif dalam kepanitiaan. Mempersiapkan lomba dan karnaval. Tidak ada yang protes. Tidak juga rasa keberatan. Semua …Ejoy aja.

—oooOooo—

.

Tujuh belasan adalah sarana pesta rakyat. Sikap tegap dan penuh penghayatan dalam menapaktilasi hari Kemerdekaan (Dirgahayu) RI ke 64 begitu hikmat. Penuh haru. Hutang moral dan amanah yang amat besar dari para Founding Father. Dari para Pahlawan kita.

.

Sedangkan hiburan rakyat adalah salah satu bentuk pembangunan sosial, yang dirajut untuk mengakrabkan diri dalam lingkungan, sesama warga dan tentu saja kebahagiaan anak-anak, generasi Indonesia kelak.

.

Aneka lomba disajikan dalam berbagai bentuk, agar anak terbiasa berkompetisi dalam mencapai harapannya. Suasana riang, penuh gelak tawa dan saling menghargai mengiringi acara tsb.

.

Sesuatu yang unik terlihat di wilayah kami. Seorang mantan pengedar narkoba, yang sudah menjalani masa hukuman di Lapas Salemba, terlihat aktif membantu panitia tujuh belasan. Hiasan lomba dan karnaval dibuat olehnya. Dia juga duduk dalam kepanitiaan bersama. Rapat bersama. Makan bersama.

.

Tidak ada protes dari warga. Tidak ada rasa keberatan. Semua menerima dengan tangan terbuka. Bahkan banyolan dan joke-joke segar mengalir cukup deras, seolah mengilangkan sekat pembatas antara mereka yang berstatus sebagai Pegawai Pertamina, Petinggi Telkom, Petinggi Pengadilan HAKI, Pegawai Bank, Petinggi BAKN dan para pedagang Tempe. Semua menjadi satu. Termasuk dengan mantan pengedear narkoba.

.

Anak-anak juga tertawa riang mengikuti berbagai lomba. Ada yangterjatuh saat berlari. Ada yang ’marah-marah’ karena tidak bisa memasukan bole ke dalam kaus kaki….hehehehe…ada juga yang ikut lomba hanya karena ingin mendapatkan snack….wuih..pokoke uanyik banget deh.

.

Ada lagi seorang bocah yang mengikuti lomba karena faktor nenek. Sehingga setiap kali berlari matanya tertuju pada sang nenek…akibatnya…hehehehe..selalu nabrak lawannya…

hehehe..apalagi lomba remaja yang memukul bola di atas kepalanya. namun sbeelumnya mereka diputar2. kemudian mata mereka ditutup rapat dan…mereka jalan ngelantur…

.

Oh, seandainya kehidupan Indonesia seperti ini. Tidak ada sekat sosial yang membatasi. Tidak ada perbedaan antara Ustadz, pendeta, mantan pengedar narkoba yang sudah insyaf, warga kelas atas dan pedagang tempe. Indonesia pastu jaya.

.

Jayalah Indonesia

Salam ukhuwah elha

By elha – pengamat social pinggiran

18.08.2009

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mencari Perawan di Pulau Derawan …

Yusran Darmawan | | 26 May 2015 | 06:10

Sekali Lagi tentang Beras Plastik …

Shalahuddin Ahmad | | 26 May 2015 | 22:21

Lomba Blog Harapan serta Tantangan Industri …

Kompasiana | | 26 May 2015 | 18:59

Menilik Cara Kerja Antivirus & Tips …

Edy Susanto | | 27 May 2015 | 05:53

[Nangkring] Bedah Copa América 2015 Bersama …

Kompasiana | | 25 May 2015 | 18:44


TRENDING ARTICLES

KPK Kalah Praperadilan, Hadi Poernomo Jangan …

Pakde Kartono | 11 jam lalu

Senjata Pamungkas Jokowi Memberangus Korupsi …

Bambang Setyawan | 13 jam lalu

Ical - Kalla Islah, Kisruh PSSI Selesai? …

Asaaro Lahagu | 16 jam lalu

Undangan Kompasianers ke Istana, Jokowi: …

Ninoy N Karundeng | 17 jam lalu

Akankah Jalan Terjal Menpora Menuju Revolusi …

Nicol4us | 20 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: