
Seseorang pria yang bukan termasuk golongannya rakyat 'Jelita', hanya seorang rakyat 'Jelata' saja, yang suka iseng, yang suka mengisi waktu nganggurnya untuk menghibur dirinya dengan membaca dan menuliskan uneg-unegnya yang dipostingkan di blog komunitas : Kompasiana, Politikana, serta di milis-milis yahoogroups.com : Forum Pembaca Kompas, Mediacare, Media Umat, Ekonomi Nasional, PPI-India, Indonesia Rising, Nongkrong Bareng Bareng, Wartawan Indonesia, Zamanku, Eramuslim, Sabili, Mencintai Islam, Syiar Islam, dengan nickname rifkyprdn@yahoo.com
Dibaca: 1312
Komentar: 0
Nihil
Krisis ekonomi terasa sekali amat hebat. Dimana-mana orang mengeluh, dimana-mana orang bercerita tentang sulitnya mendapatkan nafkah. Sementara itu, keadaan kaum buruh dan tani bertambah memburuk saja.
Kebalikannya, yang berkuasa bertambah kejam dengan teror kolonialnya. Rasa risau dan gelisah tak menentu menjadi penyakit umum. Dalam keadaan ini, hidup menjadi curiga mencurigai, pengkhianatan pun terdapat dimana-mana.
Suamiku berpendapat bahwa keadaan krisis ini dimulai dari krisis yang kronis di lapangan pertanian besar di Amerika Serikat dan Eropa Barat, dibarengi dengan krisis di lapangan industri. Tahun-tahun ini adalah tahun hidup matinya Kapitalisme Internasional, dan Kolonialisme Internasional.
“Pada waktunya apabila Perang Pasifik menggeledek dan menyambar-nyambar membelah angkasa, dan itu tidak akan lama lagi. Apabila Pasifik menjadi merah oleh darah dan bumi di sekelilingnya menggelegar oleh ledakan bom dan dinamit, disaat itu rakyat Indonesia melepaskan diri dari belenggu penjajahan, dan menjadi bangsa merdeka”, kata Kusno di berbagai tempat, dan pelbagai pertemuan.
Sementara itu kegiatan suamiku dalam bidang politik berjalan terus. PPPKI mengadakan konggres yang kedua. Konggres itu mengangkat Dr. Sutomo menjadi ketua.
Rencana kerja organisasi ini mengarah ke hal-hal yang praktis, seperti mendirikan Koperasi, mengikat Perusahaan-Perusahaan kaum Pribumi. Mencarikan jalan untuk memberi bantuan kepada Penggilingan-Penggilingan Beras kaum Pribumi, Perusahaan-Perusahaan Rokok Kretek Pribumi, dan yang serupa.
Pada suatu malam, dilangsungkan pertemuan, hadir para pemimpin partai-partai politik, mereka membulatkan tekad membentuk Badan Permufakatan. Aku menyaksikan kehadiran Husni Thamrin, Otto Iskandar Dinata, Dachlan Abdullah, Sartono, Bakri Suraatmadja, Sutisna Sendjaja, Kusumo Utoyo, Samsi, Iskaq, Anwari, Sukiman, Sjahbuddin Latif.
Mereka memeras otak, tidak mudah mempertemukan pikiran-pikiran para cerdik pandai ini. Malam itu, mereka tidak berhasil, pertemuan mesti dilanjutkan di tempat lain.
Esok harinya, subuh, suamiku bersama Maksum, Gatot, Mang Oyib, pergi menuju Solo. Kendaraan yang dipakai ialah taksi Chevrolet Touring milik Mang Suhada. Waktu tiba di Solo, kami dibawa dahulu ke sebuah restoran untuk makan. Setelah itu baru kami dibawa ke tempat penginapan.
Esok harinya dilangsungkan permusyawaratan PPKI. Yang tampak hadir Husni Thamrin, Sartono, Anwari, Singgih, Subroto, Ali Sastroamidjojo, Ruslan Wongsokusumo, Gondokusumo, Dachlan Abdullah, Oto Subrata, Kusumo Utoyo, Gatot Mangkupradja, Driyowongso, dan beberapa lainnya.
Dalam permusyawaratan itu terjadi perdebatan. Rupanya kata ‘mufakat’ itu dianggap mereka sebagai amat penting, karena hal itu diperbincangkan dalam hal-hal yang menentukan. Apakah suatu putusan itu ‘mengikat’ atau hanya sebagai pernyataan ‘mufakat’ saja ?.
Setelah pertemuan selesai, kami sempat singgah di rumah Ali Sastroamidjojo di Kadipolo. Setelah itu, rombongan kami menuju Jogja. Di Jogja, kami bermalam di rumah Mr. Sujudi.
Ada hal yang sama sekali tidak kami duga sebelumnya. Pada malam itu, ada pesta di Kraton Paku Alaman. Dan, rupanya kami mendapatkan kehormatan dari Sri Paku Alam, kami mendapat undangan untuk hadir di acara itu.
Esok harinya, atas usaha pengurus PNI di Yogyakarta, diadakan Rapat Umum di rumah seorang bangsawan, di Jalan Gondomanan. Seperti biasa, Kusno memberikan sambutan pada acara itu.
Kemudian kami kembali menginap di rumah Sujudi di jalan Tugu Kidul. Tiba-tiba, lewat beduk subuh, pintu rumah digedor dengan keras sekali. Seorang Komisaris Belanda mendorong pintu sambil membentak dan menodongkan pistolnya. Tujuh orang Polisi masuk kedalam rumah. Kemudian seorang Inspektur Polisi berkata kepada suamiku, “Atas nama Sri Baginda Ratu saya menangkap tuan”.
Suamiku kemudian dibawa ke Penjara untuk Orang Gila di Margangsan. Sore harinya Mang Ada dikeluarkan dari tahanan, dan disuruh pulang. Daripadanya kami mendapatkan kabar, bahwa suamiku dan yang lainnya akan dibawa ke Bandung.
Kemudian aku menetapkan rencanaku, mesti secepatnya ke Bandung. Sepanjang jalan aku hanya berdoa dan berdoa. Sesekali memejamkan mata dan jatuh tertidur, tapi kemudian ingat kepada mereka yang ditahan, aku berdoa lagi.
*
Setiba di rumah, badanku amat penat. Tapi aku atasi itu dengan semangat, aku suruh semua yang ada di rumah supaya mencari kabar apa yang terjadi dengan suamiku dan teman-temannya. Sorenya, lewat maghrib, kami mendapat kabar bahwa suamiku dibawa dari Yogyakarta ke Bandung dengan Kereta Api. Dari Cicalengka mereka diangkut dengan mobil touring dan dikawal ketat polisi untuk dibawa ke Bui Banceuy.
Sampai larut malam aku menerima sahabat-sahabat yang berdatangan. Beberapa orang mengabarkan bahwa polisi melakukan penangkapan di beberapa tempat. Penangkapan dan pengeledahan dilakukan serentak. Supriadinata telah ditangkap, begitu juga Murwoto, Inu Perbatasari, Suka, Subagio, Mr. Iskaq.
Subuh, aku berkemas untuk pergi ke Bui Banceuy. Aku berfikir, sebagai istrinya aku pantas diberi tahu bagaimana keadaan suamiku, dan apa yang boleh dan bisa aku perbuat.
Waktu tiba disana, aku suruh Kartawiria memukul gerbang. Tak aada yang membuka, tak ada tanda-tanda ada orang didalam. Terpaksa aku suruh Kartawiria memukul gerbang lagi.
Grek !, bunyi keras terdengar mengagetkan, jendela kecil dibuka orang. “Ada apa ?”, suara setengah membentak.
Aku tetap sopan, bertanya apakah benar Soekarno sudah ada di dalam, dan apakah kami bisa menemuinya.
Jawabannya, Soekarno sudah ada di dalam, tapi kami tidak diizinkan bertemu.
“Kapan kami bisa bertemu dengannya ?”, tanyaku dengan sopan.
“Tidak tahu. Sering-sering saja datang kemari untuk mendapatkan kabarnya”, kata orang didalam, dan Grek !, jendela ditutup.
Kami terpaksa meninggalkan Bui Banceuy tanpa keterangan lebih, selain kepastian bahwa Kusno sudah ada dalam tahanan.
*
Sampai di rumah, tak dinyana, rumah kami sudah dikepung polisi. Rupanya rumah kami sedang digeledah.
Diluar orang ramai, maklumlah jika kejadian seperti ini jika menjadi tontonan orang banyak. Aku maklum apa yang sedang terjadi. Bukankah ini semua resiko kami ?.
Aku sudah terlatih, bahwa kita mesti sabar menghadapi berbagai macam keadaan. Yang sedang berkuasa mengira, dengan seperti ini maka semangat kami akan padam, dan kami akan jadi ciut takut. Mereka telah salah terka !.
*
…Bersambung ke tulisan berikutnya : Kisah cinta Inggit dengan Soekarno [20] …
*
Catatan kaki :
Tulisan sebelumnya, Kisah Cinta Inggit dengan Soekarno [18] dapat dibaca dengan mengklik disini.
*