Back to Kompasiana
Artikel

Umum

Prayitno Ramelan

Pray, sejak 2002 menjadi purnawirawan, mulai Sept. 2008 menulis di Kompasiana, "Old Soldier Never Die, selengkapnya

Presiden SBY Dan Sat-81 Gultor Kopassus

OPINI | 20 August 2009 | 17:32 Dibaca: 15297   Komentar: 38   0

Presiden SBY pada Kamis (20/8) menerima Brevet Komando Kehormatan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) di Markas Komando Kopassus, Cijantung, Jakarta. Penyematan Brevet Kehormatan Komando dilaksanakan oleh Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Agustadi Sasongko Purnomo. Acara tersebut dihadiri oleh Menhan Prof Juwono Sudarsono, Mensekab Sudi Silalahi, Kasum TNI  Laksamana Madya TNI Didiek Heru Purnomo, Komandan Jenderal Kopassus Mayjen TNI Pramono Edhie Wibowo, Dan Korpaskhas TNI AU Marsekal Pertama Harry Boediyono serta beberapa pejabat teras TNI.

Sebelum acara penyematan, Presiden Yudhoyono didampingi Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Agustadi Sasongko Purnomo dan Komandan Jenderal Kopassus Mayjen TNI Pramono Edhie Wibowo menyaksikan demonstrasi keterampilan prajurit Satuan Penanggulangan Teror-81 Kopassus. Peragaam kemampuan tempur itu bertujuan memberikan gambaran tentang kesiapan Kopassus menghadapi setiap ancaman yang dihadapi bangsa dan negara Indonesia. Kesiap siagaan Sat-81 Gultor  Kopassus merupakan kombinasi kemampuan teknis taktisyang dipadukan dalam wujud kerja sama antar unit yang terkoordinasi dengan baik dalam menyelesaikan setiap persoalan gangguan dan ancaman keamanan terutama terorisme.

Selesai penyematan brevet, Presiden SBY memberikan arahan kepada prajurit Komando, dimana Presiden menyatakan, TNI dapat dilibatkan dalam penanganan teror sesuai yang diamanatkan konstitusional yakni UU No 34/2004 tentang TNI. “Dalam UU tersebut, tugas pokok TNI meliputi operasi militer untuk perang dan operasi militer selain perang,” katanya. operasi militer selain perang meliputi penanganan  kelompok separatis, penanganan pemberontakan bersenjata dan terorisme. Selanjutnya Presiden SBY menegaskan, “Jadi, kalau ada yang berpendapat pelibatan TNI dalam penanganan teror memundurkan demokrasi, saya tidak paham. Itu pendapat keliru. Ini amanah UU, amanah konstitusi dimana TNI bisa dilibatkan dalam penanganan teror.”  

Selanjutnya dikatakannya  ”Negara tidak akan ragu-ragu dalam penanganan teror. Semua pihak, terutama TNI dan Polri harus dapat bersungguh-sungguh menjalankan peran dan tugas pokoknya dalam penanganan terorisme.” Kebijakan pemerintah dalam penanggulangan terorisme dilakukan dalam kerangka penegakan hukum. Karena itu, Polri menjadi garda terdepan dalam penanganan terorisme. “Hanya saja, dari waktu ke waktu karakter dan sifat terorisme itu makin beragam mulai dari Bom Bali hingga yang terakhir, perlu pelibatan dari TNI. Dan itu sudah diamanatkan UU,” katanya.  “Di negara mana pun, yang demokratis atau bahkan yang lebih demokratis, semua unsur baik polisi maupun militer dilibatkan dalam penanganan teror,” tuturnya.

Presiden meminta semua pihak untuk berpikir jernih dalam menyikapi kebijakan yang diambil pemerintah utamanya dalam penanganan teror. Presiden menyayangkan adanya pendapat bahwa dalam penanganan terorisme Polri cenderung melakukan aksi yang melanggar Hak Azasi Manusia (HAM).

Dari yang disampaikan Presiden, nampaknya satuan anti teror TNI seperti Sat-Gultor ini akan mulai dilibatkan secara lebih aktif. Untuk itu, kiranya kita  perlu juga sedikit mengetahui tentang satuan kebanggaan ini. Satuan 81/Penanggulangan Teror atau disingkat Sat-81 Gultor adalah satuan dalam  Kopassus yang komposisinya setingkat dengan Grup. Satuan ini dibentuk oleh Kabais ABRI  dan diresmikan pada 30 Juni 1982 dengan nama  Detasemen 81 (Den-81) Kopassandha. Satuan ini dibentuk setelah terjadinya pembajakan pesawat Garuda oleh teroris yang berasal dari Indonesia dan  berhasil dilumpuhkan oleh pasukan Komando TNI AD di Don Muang.

Dari perkembangan namanya kemudian dirubah menjadi Satuan 81 Penanggulangan Teror (Sat-81 Gultor). Dan pada periode 1995­ - 2001, Den-81 sempat dimekarkan jadi Group 5 Antiteror.  Satuan ini dilengkapi dengan berbagai macam senjata khusus seperti Minimi 5,56mm, MP5 9mm, Uzi 9mm, Beretta 9mm, Galil, Colt M16A1/A4, SIG-Sauer 9mm, SPR dan beberapa jenis lagi  sniper khusus. Selain keahlian penggunaan senjata, satuan juga dilengkapi dengan kemampuan perang biologi dan kimia, penanggulangan bahan peledak, bajak udara.

Penulis pada waktu masih aktif bertugas, suatu saat mendampingi Menteri Pertahanan dalam peninjauan ke Mako Kopassus. Sempat menyaksikan  peragaan serangan kilat Sat Gultor kesebuah gedung, penyelamatan sandera dan pelumpuhan kelompok teroris, yang dilakukan dari berbagai arah dengan personil yang terbatas, dan hanya dalam hitungan menit. Menggunakan bom kejut, peledakan akses masuk dan serangan mendadak. Selain itu dalam demo pada mock up  pesawat dimana penulis serta beberapa pejabat tinggi diperlakukan sebagai sandera. Saat penyelamatan, dilakukan uji ketepatan menembak yang sangat cepat dan tepat dikanan kiri tempat duduk dengan peluru tajam. Juga demo tembak runduk, oleh sniper yang tersembunyi pada jarak sekitar 400 meter, yang menembak sasaran berupa balon berdiameter 25 cm, semua langsung pecah dengan masing-masing satu tembakan, termasuk balon yang berada didalam lemari kaca.

Itulah beberapa kemampuan Sat-Gultor yang menggiriskan. Satuan ini selalu siap dioperasikan dalam 24 jam, baik untuk penanggulangan teror, operasi intelijen-kontra intelijen, perang kota serta juga bajak udara. Menurut Danjen Kopassus, Mayjen Pramono Edhi Wibowo yang juga putra salah satu sesepuh Kopassus Letjen TNI Sarwo Edhi Wibowo (alm), perlengkapan Gultor hampir 100% lengkap dan yang kini terus dilanjutkan adalah upaya pembinaan sumber daya manusia. Seperti diketahui, selain Sat-Gultor, TNI AL juga mempunyai pasukan anti teror khusus laut yang dikenal dengan nama Den Jaka (Detasemen Jala Mangkara). TNI AU memiliki pasukan anti teror khusus pembajakan udara yang diberi nama Detasemen Bravo-90.

Dari apa yang diamanatkan oleh Presiden, nampaknya detasemen anti teror TNI akan dilibatkan secara lebih aktif dalam penumpasan ancaman teror yang dirasa semakin mengganggu. Kadang penulispun heran dengan adanya pendapat wakil rakyat yang mengatakan bahwa Satuan Anti Teror TNI jangan dilibatkan dalam penanganan terorisme. Dalam hal ini Presiden kini sudah lebih jelas menekankan, bahwa Polri tetap sebagai garda terdepan, TNI membantu secara aktif. Pelibatan dalam bentuk BKO (Bawah Kendali Operasi) ataupun BP (Bawah Perintah), terhadap “troef”  yang dimiliki TNI ini sudah waktunya diturunkan. Penulis yakin pengejaran terhadap tokoh teror Noordin M Top akan lebih cepat tertangkap. Dengan adanya upaya bahu membahu antara TNI-Polri, mudah-mudahan ancaman teror yang sangat berbahaya itu akan segera dapat di eliminir.

Masyarakat hanya menginginkan sebuah kehidupan yang  tenang dan aman, agar pemerintah baru yang akan terbentuk bisa lebih fokus dalam melaksanakan pembangunan disegala bidang, khususnya ekonomi. Tidak “direcoki”  lagi oleh para bomber itu.

PRAYITNO RAMELAN, Guest Blogger Kompasiana

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Naik Mule di Grand Canyon …

Bonekpalsu | | 26 July 2014 | 08:46

Mudik Menyenangkan bersama Keluarga …

Cahyadi Takariawan | | 26 July 2014 | 06:56

ISIS: Dipuja atau Dihindari? …

Baskoro Endrawan | | 26 July 2014 | 02:00

ASI sebagai Suplemen Tambahan Para Body …

Andi Firmansyah | | 26 July 2014 | 08:20

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

[Surat untuk Jokowi] Dukung Dr. Ing. Jonatan …

Pither Yurhans Laka... | 5 jam lalu

Gaya Menjual ala Jokowi …

Abeka | 9 jam lalu

Jenderal Politisi? …

Hendi Setiawan | 9 jam lalu

Tuduhan Kecurangan Pilpres dan Konsekuensi …

Amirsyah | 9 jam lalu

Gugatan Prabowo-Hatta Tak Akan Jadi Apa-apa …

Badridduja Badriddu... | 10 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: