Back to Kompasiana
Artikel

Umum

Roy Hendroko

Roy adalah mania di bBH (jangan diartikan Bra Mania), atau dalam Bahasa Indonesia yang salah selengkapnya

Mie Sagu (100 Persen Asli Lho)

OPINI | 22 August 2009 | 14:40 Dibaca: 4848   Komentar: 15   0

Met jumpa Kompasianers. Kali ini kita refreshing, tidak bicara tentang “demam bioetanol” tapi tetap dalam kaitan BBN (bahan bakar nabati). Kita udah membahas 7 seri Bioetanol, 2 seri Jatropha,  2 seri Biodiesel/CPO,  yang semuanya tersaji di “lapak” saya di sini.  Kali ini, kita akan diskusi tentang sagu (Metroxylon sagu Rottb.), salah satu bahan baku bioetanol yang potensial di Indonesia, namun sayang belum terjamah. Sebagai intro, saya akan sumbang saran (bukan saran sumbang lho) tentang mie sagu. Dalam bahasa Indonesia, mana yang ”baik dan benar” …..mie atau mi?

Bocah nDeso
Mungkin kompasianers udah ngeh, tulisan ini melanjutkan postingan tentang “mie singkong” di tanggal 12 Juli 2009. Klik di sini untuk membaca mie bendo atau mie lethek (nama lokal di DI Yogyakarta). Nyuwun pangapunten, mohon maaf sebagian kompasianers mungkin buruk sangka alias suudzon, apakah Roy akan nyerang dan nyindir Mas Bocah nDeso yang dengan cantik telah mem-posting dan mempertanyakan “ Mie Instan Campuran Sagu, dan Singkong, serta Sukun itu memang Ada?” di Kompasiana, 29 Juni 2009. Sebuah postingan apik bersumber debat pilpres antara Pak Beye dan Pak JK di Juni lalu.

Enggak, saya tidak berniat nyindir dan nyerang. Udah kedalu warsa, saya malu di-tertawain rekan kompasianers karena kok muncul sekarang. Apalagi nih hari puasa pertama ! Saya posting tentang mie sagu karena di bulan ini (jelang puasa) sampai lebaran kebutuhan mie sagu meningkat. Lho, apa ada yang memproduksi mie sagu dan mengkonsumsinya ?

Fanatik Mie Gleser
Iya memang ada pabrik mie sagu (bukan mie instant sagu lho) dan juga konsumen fanatiknya. Bahkan komponen sagu dalam mie (basah) sagu bukan hanya sebagai campuran, tapi 100% berbahan tepung sagu dengan tambahan hanya 0,5 % binder berupa guar gum. Dimana ”pabrik” mie (basah) sagu ? Bila bicara tentang makanan khas kapurung/papeda pasti tidak heran, di Sulawesi dan Papua ada “pabrik” mie sagu. Tetapi apakah kompasianers terkejut atau heran, bila saya katakan pabrik mie sagu yang relatif gede berada di dekat Jakarta ? Ya, karena “masyarakat asli” Bogor amat menyukai mie sagu. Sebagian besar orang Bogor, Sukabumi dan sekitarnya, tidak afdol bila berbuka puasa tanpa mie sagu yang beken dengan nama lokal mie gleser atau mie leor, atau mie sorodot.

Konon sebuah “pabrik” mie sagu di Pancasan-Ciomas, Bogor di bulan puasa memproduksi lebih dari 10 ton mie sagu/hari, padahal di bulan selain puasa hanya sekitar 2-3 ton per hari. Mungkin kompasianers tidak sadar udah mencicipi mie sagu. Bila kita makan soto-mie di Bogor dapat dipastikan kita makan mie sagu. Rasanya kenyal-kenyal tidak seperti mie berbahan terigu. Tidak mudah hancur di kuah panas soto atau bakso, sehingga tetap charming.

Mie Sehat
Kenyal mie sagu mirip dengan bihun atau misoa jagung tapi tidak lentrek atau jemek (lentrek dan jemek itu boso Jowo….apa ya tepatnya terjemahan di bahasa Indonesia, ya…..mungkin ”basah”). Lho apa ada mie atau bihun atau misoa jagung ? Kan bihun biasanya terbuat dari beras dan mie atau misoa dari terigu alias tepung gandum? Ntar dikit saya paparkan. Informasi,bahwa isteri saya di Malang lebih memilih memasak bihun jagung dari pada bihun ”asli” yang dari beras .

Kenyal antara lain karena sagu mengandung resistant starch (jumlahnya 4-5 kali lipat dibanding mie instan terigu) yaitu fraksi pati yang tak tercerna oleh enzim-enzim dalam dalam saluran pencernaan. Adanya pati tidak tercerna memberi keuntungan bagi kesehatan, antara lain mencegah sembelit, mencegah kangker usus, mengikat asam empedu, tidak cepat meningkatkan kadar glukosa darah (mie sagu termasuk dalam kelompok pangan berindeks glikemik rendah) sehingga cocok bagi penderita Diabetes Melitus, dan memberi efek mengenyangkan sehingga cocok untuk program diet.

Jelang HUT-RI ke-64
Minggu lalu, saya menghadiri 2 kegiatan terkait inovasi. Pertama, di Ritech Expo dalam rangka Hari Kebangkitan Teknologi Nasional di GOR Bung Karno di Senayan, Jakarta. Kedua, di Pekan Agro Inovasi III dalam rangka HUT ke-35 Badan Litbang Pertanian di Kampus Penelitian Cimanggu, Bogor. Di dua expo tersebut dipamerkan antara lain kesiapan Kementrian Ristek & SEAFAST Center IPB dan Departemen Pertanian (Balai Besar Pasca Panen) untuk mensubstitusi gandum sebagai bahan mie. Bahkan saya menghadiri dialog interaktif ”Menggapai Pertanian Masa Depan – Saran Kebijakan bagi Pemerintahan Era 2010-2014” dengan salah satu pembicara, Franky Welirang, Indofood.

Stan IPB di Ritech Expo menawarkan antara lain teknologi mie (kering) jagung dengan harga pokok Rp 2.432 per kg dan harga jual Rp 3.500 per kg dalam kemasan kantong plastik satu kg. IPB menawarkan pelatihan dan bimbingan bagi para investor mie jagung.

Photobucket

Balai Besar Pasca Panen di Pekan Agro Inovasi III, menawarkan teknologi tepung pisang yang menurut Pak Franky Welirang berprospek cerah di Ngada, NTT. Demikian juga teknologi tepung labu kuning, teknologi pati batatas, teknologi tepung kasava alias singkong, dan teknologi tepung kasava Bimo yang mirip dengan tepung mocal yang pernah kita bahas. Diperagakan pula pembuatan bolu kukus, roti, dan donat dari tepung ubi jalar, serta pembuatan mie dari sukun.

Photobucket

Lho, ternyata ada toh…mie sukun ? Kompasianers layak tahu di daerah Pasifik, sukun adalah penghasil karbohidrat penting –pada tahun 1780-an digunakan sebagai makanan murah bagi para budak- dengan nama lokal kuru,ulu, atau uru. Sukun dalam bahasa Jawa artinya tanpa biji, karena memang buah ini tidak berbiji. Nama latin atau ilmiahnya Artocarpus altilis dan dalam bahasa Inggris disebut bread fuit alias buah roti, karena bagian karbohidratnya empuk. Sedang dalam bahasa Belanda dinamai brood vrucht. Mungkin kompasianers juga tahu, bertanam sukun adalah salah program yang diintroduksi ibu-ibu SIKIB (Solidaritas Isteri Kabinet Indonesia Bersatu) yang dikomandani Bu Ani Beye.

Pesantren Al Qur’an Wal Hadis.
Di seminar bersama Pak Franky tersebut di atas, saya jumpa dan ngobrol dengan sekelompok anak muda dari Maqdis. Apa kegiatan kelompok ABG ini ? Saya kagum dan …..malu karena para ABG ini action tidak hanya berteriak, mencaci maki, berseminar, atau hanya menulis di buku atau blog. ABG ini dikoordinasi LM3 pesantren Al Qur’an Wal Hadis, Situgede, Bogor mendirikan pabrik mie (basah) sagu dengan merk Metro.
Photobucket

Mereka prihatin melihat masyarakat Bogor ”fanatik” terhadap mie sagu padahal mie gleser yang beredar di Bogor dan sekitarnya diberi pewarna dan pengawet. Para ABG ini khawatir dampak negatif mie leor terhadap generasi masyarakat Bogor yang akan datang. Mie Sagu Metro dilengkapi label halal MUI dan Dinas Kesehatan serta tanggal kadalu warsa ( 7 hari di suhu kamar dan 1 bulan di kulkas). Dilengkapi pula alamat email, webside, dan 2 buah nomor telpun sebagai pertanggungan jawab mutu.

PhotobucketNamun sayang, harga produksi Maqdis relatif mahal dibanding mie sorodot yang udah beredar. Mie Metro dijual dalam kemasan 500 gram dengan harga Rp 5.000, dua kali lipat dibanding produksi pabrik Pancasan, Ciomas. Ya, karena produksinya relatif kecil sehingga belum mampu bersaing, namun kan mie sehat karena tanpa tambahan bahan kimia ”berbahaya”. Tapi insya Allah, kalangan menengah ke atas akan membeli karena di kemasannya tertulis …. dengan membeli mie sagu metro ini, anda telah berinfaq karena sebagian keuntungan digunakan untuk membantu kegiatan pendidikan santri dhu’afa di Pesantren Quran Wal Hadis.

PhotobucketKompasianers dapat melihat alat pencetak mie yang dimiliki Maqdis di foto paling kiri (berkapasiatas 2 kg tiap 7 menit proses), meski dilengkapi hidrolik namun relatif sederhana. Sedang disebelahnya adalah tepung sagu yang bila diaduk dengan air dan binder….. selanjutnya adonan dicetak, maka jadilah Mie Sagu Metro.

Melihat potensi pemasaran yang relatif besar, bahaya penggunaan bahan pengawet, binder dan pewarna (non pangan) di mie gleser, teknologi yang relatif sederhana, membuka lapangan pekerjaan, mandiri pangan, substitusi gandum impor, dan lain-lain seyogianya pemerintah turun tangan memfasilitasi Maqdis dan UKM lain. Termasuk menjadikan Mie Sagu Metro menjadi ”mie kering” agar daya tahannya meningkat…..dan selanjutnya meningkat ke mie instan (tapi ingat, tanpa garam natrium berlebihan lho). Adakah saran lain dari kompasianers, khususnya untuk mewujudkan produk masal Mie Singkong, Mie Sukun, dan Mie Sagu Pak Beye?

Potensi Tersembunyi
Pustaka mengemukakan Indonesia ditengarai asal dari tanaman sagu, yang diperkirakan dari sekitar Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua. Hal ini ditunjukkan dengan nama dalam bahasa Inggris : Sago dan nama Latin yang mengadopsi nama dalam bahasa Indonesia. Di daerah Papua dan Papua Nugini, areal tanaman sagu mencapai luas 1,2 juta hektar. Sebanyak 95,9% areal tanaman sagu tersebar di wilayah timur Indonesia, sedangkan sisanya sebanyak 4,1% tersebar di wilayah barat Indonesia. Daerah hutan sagu antara lain di Provinsi Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Kalimantan Tengah, Sumatera Barat, Nanggroe Aceh Darussalam, Riau, dan Kepulauan Riau. Keunikan khusus pada sagu, mampu tumbuh dan berproduksi di tanah marginal bergambut, rawa, payau, atau daerah tergenang. Potensi positif lain…ya saat ini butuh panen doang, tanpa susah payah tanam!

Sagu adalah penghasil karbohidrat tertinggi. Dalam 100 gr pati sagu terdapat 85,9 gram karbohidrat dibanding di beras=80,4 gr, jagung= 71,7 gr, singkong=23,7 gr, dan kentang = 23,7 gr. Produktivitasnya mencapai 200-500 kg sagu basah/pohon atau 10-15 ton/ha/tahun. Jauh lebih tinggi dibanding jagung=5 ton, singkong alias ubi kayu=5-6 ton, kentang=2,5 ton, dan ubi jalar=5,5 ton/ha/tahun.

Photobucket

Dengan data di atas, kompasianers dapat membayangkan potensi sagu sebagai tanaman pangan, termasuk bila akan akan digunakan sebagai bahan baku mie. Sebagai bahan baku bioetanol, penelitian menunjukkan 1 kg pati sagu kering mampu menjadi 0,56 etanol. Sehingga dengan produktivitas 15 ton/ha/tahun maka akan diperoleh 7,5 ton bioetanol. Produktivitas ini melebihi singkong yang hanya 3-5 ton per ha atau molases tebu yang mencapai lebih kurang 6 ton per ha.

Produtivitas bioetanol di atas, hanya dihitung dari pati sagu. Dengan teknologi mengolah total empulur, yakni kita mengolah 3 sumber bahan baku berupa pati, gula, dan serat sagu diperkirakan akan diperoleh 10 ton bioetanol/ha/ tahun. Betapa hebat potensi ini ! Departemen Pertanian mengklaim tabungan karbohidrat di hutan sagu Indonesia mencapai 5 juta ton pati kering per tahun, setara 3 juta kiloliter bioetanol, klik di sini.

Namun sebagai BBN-mania khususnya bioetanolist, saya harus jujur mengatakan bahwa masih terdapat permasalahan pada pemisahan atau pemurnian etanol dari fermented broth sagu. Pemurnian menggunakan distilasi yang lazim digunakan tidak efektif, karena masih kental atau berbentuk solid state destilation. Tapi insya Allah, kemajuan teknologi pasti mampu mengatasi permasalahan ini.

Akhirnya kepada rekan kompasianers, perkenan saya sampaikan “Marhaban Ya Ramadhan. Selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga segala amal ibadah kita diterima Allah. Mohon maaf lahir & batin atas segala khilaf ” . Khusus untuk kompasianers di Bogor dan sekitarnya, utamanya rekan sejawat di SBRC-IPB dan Lab. Biotek SMART…..selamat menikmati buka puasa hari pertama dengan mie gleser (tapi tanpa pengawet dan pewarna lho).

Bekasi, 21 Agustus 2009
Salam Energi Hijau
Roy Hendroko

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kurikulum 2013: Buku, Seminggu Dibagikan …

Khoeri Abdul Muid | | 20 August 2014 | 17:25

Hati-hati, Cara Mengutip Seperti Ini Pun …

Nararya | | 20 August 2014 | 20:09

Anak Sering Kencing (Bukan Anyang-anyangan) …

Ariyani Na | | 20 August 2014 | 18:03

Obat Benjut Ajaib Bernama Beras Kencur …

Gaganawati | | 20 August 2014 | 14:45

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58


TRENDING ARTICLES

Inilah Nama-nama Anggota Paskibraka 2014 …

Veronika Nainggolan | 12 jam lalu

Nikita Willy Memukul KO Julia Perez …

Arief Firhanusa | 16 jam lalu

Kalau Tidak Bisa Legowo, Setidaknya Jangan …

Giri Lumakto | 17 jam lalu

Di Balik Beningnya Kolang-kaling …

Hastira | 17 jam lalu

Menebak Putusan Akhir MK di Judgment Day …

Jusman Dalle | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: